Kamis, 05 Februari 2015

Batasan Memuji Nabi

Sebagian kaum wahabi sering melontarkan tuduhan berlebihan kepada mayoritas umat Muslim yang memuji-muji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di majlis-majlis maulid atau majlis lainnya. Entah kenapa mereka begitu alergi jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji-puji, seolah telinga-telinga mereka merasakan kepanasan yang luar biasa saat mendengar pujian yang indah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga tak peduli lagi menuduh kaum muslimin telah melakukan ghuluw atau berlebihan (kultus) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tak mampu membedakan mana ghuluw dan mana pujian yang memang patut dipuji untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal Allah Ta’alaa sendiri telah memuji Nabi-Nya itu dengan pujian-pujian agung.



Lalu apa dan bagaimana batas pujian yang berlebihan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menjawabnya dan memberikan penjelasan tentang batasan pujian yang berlebihan, beliau bersabda :



لا تطروني كما اطرت النصارىابن مريم فانما انا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

“ Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum Nashrani yang berlebihan dalam memuji putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah (mengenaiku) “ Hamba Allah dan Rasul-Nya “ (HR. Bukhari)



Nabi tidak menggunakan lafaz “ Laa tamdahuuni “ atau “ Laa tahmaduuni “ yang artinya “ janganlah kalian memujiku “. Akan tetapi Nabi menggunakan kalimat “ Laa tathruuni “ dengan kata ihtraa yang bermakna al-mubalagah fil madhi[1] yakni berlebihan di dalam pujian, artinya Nabi mengatakan, “ Janganlah kalian berlebihan di dalam memujiku “. Lalu apa dan bagaimana batasan pujian yang berlebihan ? Nabi sudah memberikan batasan yang jelas mengenai pujian yang berlebihan kepada beliau, kita perhatikan lanjutan haditsnya :



كما اطرت النصارىابن مريم فانما انا عبده فقولوا عبد الله ورسوله

“…seperti kaum Nashrani yang berlebihan dalam memuji putra Maryam. Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah (mengenaiku) “ Hamba Allah dan Rasul-Nya “



Artinya kita dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji beliau dengan pujian seperti pujian kaum Nashrani kepada Nabi Isa yaitu menganggap anak Tuhan atau Tuhan, akan tetapi pujilah Nabi Saw dengan pujian yang tidak sampai mencerabut (memutuskan) beliau shallallahu ‘alahi wa sallam dari hamba Allah (kemanusiawiannya) dan kerasulannya, oleh karenanya beliau setelah itu bersabda “Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah (mengenaiku) “ Hamba Allah dan Rasul-Nya “.



Artinya kita diperbolehkan memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pujian-pujian indah yang tidak sampai mengganggap beliau sebagai tuhan atau anak tuhan sebagaimana pujian berlebihan kaum Nashara kepada nabi Isa bin Maryam alaihimas salam. Apalagi jika pujian-pujian yang dilantunkan kaum muslimin dalam majlis-majlis maulidnya atau lainnya itu sudah sesuai dengan kelayakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bagaimana bisa dituduh telah berlebihan di dalam memuji beliau ??



Tidakkah mereka tahu dan merenungkan bahwa Allah Ta’ala sang pencipta seluruh makhluk telah memuji beliau dengan kata-kata yang indah dalam al-Quran ??



Perhatikan, Allah Ta’ala berfirman :



وما ارسلناك الا رحمة للعالمين



“ Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam “ ( QS. Al-Qalam : 4)

Dan juga Allah berfirman  :



وانك لعلى خلق عظيم

“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung “



Dan ayat :



وانك لتهدي الى صراط مستقيم



“ Dan sesungguhnya kamu benar-benar menunjukkan pada jalan yang lurus “ (QS. Al-Ahzab : 52)



Kata-kata “agung” dari Allah yang Maha Agung, memiliki makna yang besar dan tak bisa dijangkau batasnya dengan pikiran kita. Artinya kita bebas untuk menisbatkan sifat-sifat kesempurnaan makhluk bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa batas (kecuali menjadikan beliau sebagai tuhan) karena setinggi apapun pujian kita, tak akan mampu menandingi pujian Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.



Bahkan Allah Ta’ala sendiri melabelkan beberapa sifat-Nya kepada Nabi Saw. Dalam al-Quran Allah Swt berfirman :



لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم



“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, terasa berat baginya penderitaan kalian, ia sangat mengharapkan kebaikan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang bagi umat mukmin (QS at-taubah 128).



Lihat bagaimana Allah Ta’alaa menyematkan dua asma-Nya untuk Rasulullah Saw yaitu Rauuf dan Rahiim (pengasih dan penyayang). Bukan berarti sifat kasih dan sayang Nabi itu sama dengan sifat kasih dan sayang Allah Ta’alaa. Namun sifat kasih dan sayang dalam batas kemanusiawiaan tidak sampai batas ketuhanan.



Para sahabat dan ulama salaf, memahami hal ini dengan baik sehingga tidak sedikit para sahabat yang memuji-muji Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam dengan pujian indah dan tinggi. Di antaranya adalah pujian yang disampaikan sahabat Hassan bin Tsabit :



واحسن منك لم تر قط عيني   #  واجمل منك لم تلد النساء

خلقت مبرأ من كل عيب    #   كأنك قد خلقت كما تشاء



Yang lebih baik darimu, belum pernah mataku memandangnya

Yang lebih indah darimu, belum pernah pernah dilahirkan oleh para wanita

Engkau diciptakan terbebas dari segala kekurangan

Seolah engkau tercipta dengan sekehendakmu sendiri[2]



Sahabat Sariyah pun pernah memuji Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam :



فما حملت من ناقة فوق ظهرها … أبر وأوفى ذمة من محمد



“ Tidak ada seeokor unta pun yang membawa seseorang di atas punggungnya, yang lebih baik dan menepati janjinya daripada Muhammad “[3]



Dan masih banyak lagi pujian para sahabat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga membuat Nabi senang dan terkadang Nabi pun memberikan hadiah pada yang memujinya. Ini semua membuktikan mengenai bolehnya memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pujian setinggi-tingginya.



Nama beliau sendiri yaitu Muhammad, merupakan bentuk isim maf’ul dari kata HammadaYuhammidu Tahmiidan, yang secara bahasa artinya adalah yang banyak dipuji. Ini merupakan isyarat bahwa memang beliau pantas untuk selalu dipuji.



Fakta yang terjadi di kalangan wahabi-salafi, justru mereka kenyataannya ghuluw (berlebihan) di dalam memuji syaikh mereka sendiri dan seolah biasa-biasa saja ketika menyebut nama mulia Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikut buktinya :



Di dalam muqaddimah kitab at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab[4], oleh Shaleh bin Abdul Aziz Aalu Syaikh mengatakan :



فهذا الكتاب – كتاب التوحيد – من مؤلفات الإمام المصلح المجدد شيخ الإسلام والمسلمين، محمد بن عبد الوهاب، وهو- رحمه الله- غني عن التعريف؛ لما جعل الله – جل وعلا – لدعوته من أثر ظاهر النفع في جميع أنحاء الأرض: شرقا وغربا، جنوبا وشمالا، ولا غرو في ذلك فإن دعوته -رحمه الله- إحياء لدعوة محمد بن عبد الله، عليه أفضل الصلاة والسلام.



“ Kitab ini –kitab Tauhid- di Antara karya seorang imam, yang memperbaiki, sang pembaharu, guru Islam dan kaum muslimin, Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah merahmatinya- cukup dari pengenalan, dikeranakan Allah Ta’ala telah menjadikan dakwahnya pengaruh manfaat bagi seluruh pelosok di muka bumi ini, sama ada di Timur, Barat, Utara ataupun Selata. Hal ini tidak diragukan lagi, karena dakwah beliau –semoga Allah merahmatinya adalah untuk menghidupkan dakwah Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[5]



Coba anda perhatikan perilaku wahabi ini, menyebutkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan sebutan pangkat yang begitu hebat dan tinggi, dan juga menyebutkan –Rahimahullah- berulang-ulang tiap kali namanya disebut. Akan tetapi coba anda perhatikan, ketika wahabi ini menyebut Nama makhluk Allah yang paling mulia ini, mereka tidak menyebutnya sebelumnya dengan sebutan pangkat-pangkat Nabi yang tinggi dan mulia bahkan lebih tinggi dan mulia dari pangkat Muhammad bin Abdil Wahhab. Padahal Allah sendiri telah memerintahkan kita agar tidak menyebut Nama Nabi Muhammad seperti sebutan atau panggilan kita dengan sesama kita yang lainnya. Naudzu billahi min dzaalika…





Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 1-04-2014





[1] Kamus al-Ma’ani bab ithra’.

[2] Diwan Hassan bin Tsabit :1/2

[3] Bahjah al-Majalis wa Unsu al-Majalis, Ibnu Abdil Barr : 1/129. Ada yang mengatakan pujian itu berasal dari Umru al-Qais.

[4] Silakan anda download kitabnya di : http://www.islamhouse.com/2415/ar/ar/books/%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%85%D9%87%D9%8A%D8%AF_%D9%84%D8%B4%D8%B1%D8%AD_%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8_%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%88%D8%AD%D9%8A%D8%AF_%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%8A_%D9%87%D9%88_%D8%AD%D9%82_%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87_%D8%B9%D9%84%D9%89_%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%A8%D9%8A%D8%AF



[5] At-Tamhid li Syarh kitab at-Tauhid : 3

Rabu, 04 Februari 2015

مبادئ العشرة لعلم أصول الفقه


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله جعل صحة الاستنباط منوطا بمعرفة الأصول ، والصلاة والسلام على من بين الأحكام بالمنقول والمعقول ، وعلى آله وأصحابه العدول.
وبعد فإنني اطلعت على المواضيع المنشورة في منتدى أصول الفقه ولم أجد تعريفا بهذا العلم ، ومعلوم أن الحكم على الشيء فرع عن تصوره ، وكيف ندرك مواضيع هذا العلم دون أن نفهم مبادئه ، ولذلك رأيت من الضرورة نشر هذا الموضوع ويفترض أن يفتتح به هذا المنتدى الأصولى كما أرجو تثبيته.
مبادئ علم أصول الفقه :
المبادئ في كل علم عشرة هي : ( حد العلم ، وموضوعه ، وثمرته ، وفضله ، ونسبته ، وواضعه ، واسمه ، واستمداده ، وحكمه شرعا ، ومسائله ) .
قال الناظم :
إن مبادئ كل فن عشرة الحد والموضوع ثم الثمرة
وفضله ونسبة والواضع الاسم لاستمداد حكم الشارع
مسائل والبعض بالبعض اكتفى ومن درى الجميع حاز الشرفا
1/ أسم هذا العلم : علم أصول الفقه
2/حد أصول الفقه :
أ/تعريف أصول الفقه بالمعنى الإضافي:
تعريف معنى أصول الفقه التركيبي قبل التسمية ولا بد في ذلك من تعريف المضاف والمضاف إليه والإضافة لأن العلم بالمركب يتوقف على العلم بالمفرد ونبدأ ذلك بتعريف المضاف فنقول:
تعريف أصول لغة:
الأصول جمع وتعرفه بتعريف مفرده وهو الأصل والأصل لغة :
1/ ما يتفرع عنه غيره.
2/ والمحتاج إليه".
3/ ما يبنى عليه غيره.
وكل هذه التعريفات للأصل بحسب اللغة وإن كان أهل اللغة لم يذكروها في كتبهم وهو مما ينبهنا على أن الأصوليين يتعرضون لأشياء لم يتعرض لها أهل اللغة.
وأما في الاصطلاح فالأصل يطلقونه على أشياء:
أحدهما: الدليل يقولون الأصل في وجوب الصلاة قوله تعالى ( وأقيموا الصلاة ).
والثاني : القاعدة المستمرة يقولون الأصل في الميتة التحريم أي القاعدة المستمرة.
الثالث : الاستصحاب على اليقين السابق يقولون الأصل العدم.
الرابع : الواقعة المقيس عليها في القياس وهي ما ورد النص بحكمه . مثلا جاء النص بتحريم الخمر وهي شراب العنب خاصة فيقاس عليها كل مسكر فالأصل هنا هو الخمر وكل مسكر هو الفرع.
الخامس : الراجح .
تعريف الفقه :
أ/الفقه لغةً:
1/ مطلق الفهم وهو الراجح.
2/ فهم الأشياء الدقيقة
3/ فهم غرض المتكلم من كلامه.
ب/ تعريف الفقه اصطلاحاً:
1/( العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسبة من أدلتها التفصيلية)
2/ (الأحكام الشرعية العملية المكتسبة من أدلتها التفصيلية)
ب/تعريف معنى أصول الفقه اللقبي( لقبا للفن المعروف) :
( معرفة دلائل الفقه إجمالاً وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد )
فالشرط في الأصولي معرفة أدلة الفقه من حيث دلالتها على الفقه خاصة وقد يكون لها عوارض أخرى لا يجب معرفته بها ثم معرفة الأدلة من حيث كونها أدلة لا بد معه من كيفية الاستدلال ومعظمها يذكر في باب التعارض والترجيح فجعلت جزءا آخر من أصول الفقه لتوقف الفقه عليها وليس كل أحد يتمكن من الاستدلال ولا يحصل له الفقه بمجرد علم تلك الأدلة وكيفية الاستدلال لأنها أدلة ظنية ليس بينها وبين مدلولاتها ربط عقلي فلا بد من اجتهاد يحصل به ظن الحكم فالفقه موقوف على الاجتهاد والاجتهاد له شروط يحتاج إلى بيانها فجعلت جزءا ثالثا من أصول الفقه لتوقف الفقه عليها.
وهذا مجموع ما يذكر في أصول الفقه الأدلة وكيفية الاستدلال وكيفية حال المستدل فالمعارف الثلاثة هي أصول الفقه .
فقوله (دلائل الفقه إجمالاً) إنما قيد دلائله بالإجمال ليخرج الفقه لأن دلائله مفصلة والمراد بالدلائل ما يتوصل بها إلى إثبات الأحكام كالإجماع والقياس والأخبار
فقولنا : ( وكيفية الاستفادة) معطوف على دلائل الفقه أي ومعرفة كيفية الاستفادة من الأدلة يشير إلى حال المجتهد إلى أنه مع معرفة الأدلة لا بد له من معرفة كيفية الاستدلال كحمل المطلق على المقيد وتقديم الخاص على العام والنظر في المسائل الغامضة وقوله حال المستفيد) أي ومعرفة حال المستفيد والمراد بالمستفيد المجتهد لأنه الذي يستفيد الأحكام من أدلتها.
3/واضع علم أصول الفقه :
من المسلم به أن أصول الفقه باعتباره قواعد ونظريات وكيفية استنباط الأحكام من الأدلة بوجه عام، نشأ في عصر الصحابة -رضي الله عنهم- حيث كان مصاحباً للفقه، فإن من الصحابة من كان يتصدر للفتيا والقضاء بين الناس، كعمر بن الخطاب، وابن مسعود، وعلي بن أبي طالب وغيرهم، وكانوا على دراية تامة بقواعد اللغة العربية، التي نزل بها القرآن الكريم، وبأسباب النزول، وبالناسخ والمنسوخ، والمطلق والمقيد، والعام والخاص، وسائر المباحث التي تكفل ببيانها علم "أصول الفقه" فيما بعد. وهكذا كان لكل إمام من الأئمة المجتهدين قواعده وأصوله التي يسير عليها في اجتهاده، إلا أنه كان هناك خلاف حاد بين اتجاه أهل الحديث بالحجاز، وأهل الرأي بالعراق، حتى أخذ كل فريق في الطعن على طريقة الفريق الآخر، فأهل الرأي يعيبون على أهل الحديث الإكثار من الرواية التي تدل على عدم الفهم والتدبر، كما أن أهل الحديث يعيبون على أهل الرأي بأنهم يأخذون في دينهم بالظن ويحكمون العقل في الدين.
وظهر المتعصبون لكلا الفريقين، فاتسع الخلاف واحتدم النزاع، حتى قيض الله لهذا الأمة من أخذ بيدها إلى الطريق السوي، ويبين القواعد القوانين التي يحتكم إليها الجميع، وهو الإمام الشافعي رضي الله عنه -بعد أن كتب له الإمام الحافظ عبد الرحمن بن مهدي المتوفى سنة 198هـ. وهو أحد أئمة الحديث في الحجاز، أرسل إلى الإمام الشافعي أن يضع له كتاباً يبين فيه معاني القرآن، ويجمع قبول الأخبار فيه، وحجة الإجماع، وبيان الناسخ والمنسوخ من القرآن والسنة، فوضع له كتاب "الرسالة".
قال علي بن المديني: قلت لمحمد بن إدريس: أجب عبد الرحمن بن مهدي عن كتابه، فقد كتب إليك وهو متشوق إلى جوابك، قال: فأجابه الشافعي. وأرسل الكتاب إلى الإمام ابن مهدي مع الحارث بن سريج النقال الخوارزمي، ثم البغدادي وبسبب ذلك سمي النقال.
وعلى ذلك يتبين عدم صحة ما ينقله بعض العلماء من أن هناك من سبق الإمام الشافعي في التأليف في علم الأصول، كالإمام محمد الباقر بن علي زين العابدين، المتوفى سنة 114هـ. وكالإمامين أبي يوسف، ومحمد بن الحسن صاحبي أبي حنيفة رضي الله تعالى عنهم. فإن هذا من قبيل القواعد والمناهج التي كان يسير عليها الأئمة، والتي سبق أن أشرنا إليها، وأنها كانت موجودة حتى في عصر الصحابة رضي الله عنهم.
فالتحقيق أن أول من ألف في ذلك كتاباً مستقلا متكاملاً هو الإمام الشافعي رضي الله عنه، كما قال الإمام السبكي وكما هو المتفق عليه بين الأئمة.
فالشافعي رضي الله عنه أول من صنف في أصول الفقه صنف فيه كتاب الرسالة، وكتاب أحكام القرآن، واختلاف الحديث، وإبطال الاستحسان وكتاب جماع العلم وكتاب القياس الذي ذكر فيه تضليل المعتزلة ورجوعه عن قبول شهادتهم، ثم تبعه المصنفون في الأصول. قال الإمام أحمد بن حنبل: لم نكن نعرف الخصوص والعموم حتى ورد الشافعي. وقال الجويني في شرح الرسالة: لم يسبق الشافعي أحد في تصانيف الأصول ومعرفتها.

رد مع اقتباس
09-09-2012, 05:02 PM #2
المحب الفوزوي
عضو نشيط

رقم العضوية : 11
تاريخ التسجيل : Jul 2012
المشاركات : 395
التقييم: 10
الجنـس : Morocco
الأسباب التي حملت الإمام الشافعي على تدوين علم أصول الفقه :
هناك أسباب حملت الإمام الشافعي على تدوين علم أصول الفقه هي :
أ/ ظهور مدرستي أهل الرأي ( الحنفية) والحديث ( المالكية والشافعية والحنابلة) واحتدام الجدل بينهما.
ب/ اختلاط اللسان العربي بالعجمي لكثرة الفتوحات الأسلامية فأراد أن يضع قواعد في اللغة العربية لضبط سلامة الاستنباط.
ج/ بعد العهد بين زمن النبي صلى الله عليه وسلم وزمن الإمام الشافعي.
د/ ظهور وقائع تحتاج إلى أحكام ولا سبيل لذلك إلاَّ بالقياس فأراد أن يبين القياس وشروطه وأركانه وأنواعه وحجيته.
4/موضوع علم أصول الفقه:
موضوع العلم ما يبحث فيه من أعراضه الذاتية. والمراد بالعرض هنا المحمول على الشيء الخارج عنه. وإنما يقال له العرض الذاتي؛ لأنه يلحق الشيء لذاته، كالإدراك للإنسان، أو بواسطة أمر يساويه كالضحك للإنسان بواسطة تعجبه، أو بواسطة أمر أعم منه داخل فيه كالتحرك للإنسان بواسطة كونه حيوانا.
والمراد بالبحث عن الأعراض الذاتية: حملها على موضع العلم، كقولنا: الكتاب يثبت به الحكم، أو على أنواعه، كقولنا: الأمر يفيد الوجوب، أو على أعراضه الذاتية، كقولنا: النص يدل على مدلوله دلالة قطعية، أو على أنواع أعراضه الذاتية، كقولنا: العام الذي خص منه البعض، يدل على بقية أفراده دلالة ظنية.
وجميع مباحث أصول الفقه راجعة إلى إثبات أعراض ذاتية للأدلة والأحكام، من حيث إثبات الأدلة للأحكام، وثبوت الأحكام بالأدلة، بمعنى أن جميع مسائل هذا الفن هو الإثبات، والثبوت.
وقيل: موضوع علم أصول الفقه هو الدليل السمعي الكلي فقط، من حيث إنه يوصل العلم بأحواله إلى قدرة إثبات الأحكام لأفعال المكلفين، أخذًا من شخصياته.
وبناء على هذا: فالفقيه يبحث في فعل المكلف لمعرفة الحكم الشرعي فيه. ودليله الجزئي والأصولي يبحث في الدليل الكلي الموصل إلى ذلك الحكم الفقهي ودليله الجزئي ونوع ذلك الدليل الكلي وأعراضه وأنواع تلك الأعراض.
فموضوع أصول الفقه : الأدلة الموصلة إلى معرفة الأحكام الشرعية وأقسامها. واختلاف مراتبها. وكيفية الاستدلا بها، مع معرفة حال المستدل.
5/فائدة علم الأصول وثمرته:
وأما فائدة هذا العلم: فهي العلم بأحكام الله سبحانه أو الظن بها.
ولما كانت هذه الغاية بهذه المنزلة من الشرف، كان علم طالبه بها ووقوفه عليها مقتضيًا لمزيد عنايته به، وتوفر رغبته فيه؛ لأنها سبب الفوز بسعادة الدارين.
فثمرته وفائدته: القدرة على استنباط الأحكام الشرعية على أسس سليمة.
6/استمداد علم أصول الفقه:
وأما استمداده فمن أشياء:
الأول:علم الكلام، لتوقف الأدلة الشرعية على معرفة الباري سبحانه، وصدق المبلغ، وهما مبنيان فيه، مقررة أدلتهما من مباحثه.
الثاني: اللغة العربية؛ لأن فهم الكتاب والسنة، والاستدلال بهما متوقفان عليها، إذ هما عربيان.
الثالث: الكتاب والسنة.
الرابع :الأحكام الشرعية من حيث تصورها؛ لأن المقصود إثباتها أو نفيها، كقولنا:الأمر للوجوب، والنهي للتحري، والصلاة واجبة، والربا حرام.
7/ حكم تعلمه : فرض كفاية
8/نسبة هذا العلم من العلوم: ونسبته إلى غيره من العلوم التباين؛ فهو علم مستقل من وجه، وإن تداخلت بعض مباحثه ومسائله في علومٍ أخرى
9/فضله : فضله عظيم لتعلقه بمعرفة حكم الله تعالى والعلوم ثلاثة أصناف:
الأول : عقلي محض، كالحساب والهندسة.
والثاني : لغوي، كعلم اللغة والنحو والصرف والمعاني والبيان والعروض.
والثالث : الشرعي وهو علم القرآن والسنة، ولا شك أنه أشرف الأصناف، ثم أشرف العلوم بعد الاعتقاد الصحيح معرفة الأحكام العملية، ومعرفة ذلك بالتقليد ونقل الفروع المجردة يستفرغ جمام الذهن ولا ينشرح بها الصدر، لعدم أخذه بالدليل، وشتان بين من يأتي بالعبادة تقليدا لإمامه بمعقوله وبين من يأتي بها وقد ثلج صدره عن الله ورسوله، وهذا لا يحصل إلا بالاجتهاد، والناس في حضيض عن ذلك، إلا من تغلغل بأصول الفقه، وكرع من مناهله الصافية، وأدرع ملابسه الضافية، وسبح في بحره، وربح من مكنون دره. قال إمام الحرمين في كتاب المدارك وهو من أنفس كتبه: والوجه لكل متصد للإقلال بأعباء الشريعة أن يجعل الإحاطة بالأصول شوقه الآكد، وينص مسائل الفقه عليها نص من يحاول بإيرادها تهذيب الأصول، ولا ينزف جمام الذهن في وضع الوقائع مع العلم بأنها لا تنحصر مع الذهول عن الأصول. وقال الغزالي في "المستصفى: خير العلم ما ازدوج فيه العقل والسمع واصطحب فيه الرأي والشرع علم الفقه، وأصول الفقه من هذا القبيل، فإنه يأخذ من صفو العقل والشرع سواء السبيل، فلا هو تصرف بمحض العقول بحيث لا يتلقاه الشرع بالقبول، ولا هو مبني على التقليد الذي لا يشهد له العقل بالتأييد والتسديد، ولأجل شرف علم أصول الفقه ورفعته وفر الله دواعي الخلق على طلبته، وكان العلماء به أرفع مكانا، وأجلهم شأنا، وأكثرهم أتباعا وأعوانا. وقال أبو بكر القفال الشاشي في كتابه الأصول: اعلم أن النص على حكم كل حادثة عينا معدوم، وأن للأحكام أصولا وفروعا، وأن الفروع لا تدرك إلا بأصولها، وأن النتائج لا تعرف حقائقها إلا بعد تحصيل العلم بمقدماتها.
10/مسائل علم أصول الفقه :
مسائل كل علم ما يذكر في كل فصل من فصوله وباب من أبوابه ومباحث أصول الفقه هي :
الأحكام والأدلة المتفق عليها الكتاب والسنة والإجماع والقياس والأدلة المختلف فيها وهذه الأدلة التي تضمنها المعرفة الأولى من أصول الفقه.
والتعادل والتراجيح المقصود بالمعرفة الثانية. الاجتهاد المقصود بالمعرفة الثالثة.
وهذا جملة أصول الفقه.
ومن أبواب أصول الفقه أقسام الكلام و الأمر و النهي و العام و الخاص والمجمل و المبين و الظاهر و المؤول و الأفعال و الناسخ والمنسوخ و الإجماع و القياس و الأخبار و الحظر و الإباحة و ترتيب الأدلة و صفة المفتي والمستفتي و أحكام المجتهدين.
منقول من منتدى الصوفية

مبادئ علم الفقه

الفقه هو :
لغة: الفهم
اصطلاحا: العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

الاحكام الشرعيه :
هي الاحكام الخمسة
الواجب
المستحب
المباح
المحرم
المكروه

موضوع علم الفقه : أفعال المكلفين

من هم المكلفون ؟
المكلف هو العاقل البالغ
والكافر مخاطب بأصول الشريعة ( إتفاقا) و فروعها ( اختلافا) والشرع يكلفه حسب قدرته

فمثلا غير القادر على القيام في الصلاة هو مكلف أيضا بحسب قدرته
وغير القادر على استعمال الماء مكلف أيضا و لكن بالتيمم

ما يشترط في المكلف لصحة تكليفه شرعا؟
العقل و البلوغ

 الإستمداد (مصادر الأحكام):
الكتاب
السنة
الإجماع
القياس

بمعنى أنه يستمد أحكامه من هذه المصادر

والدليل على المصادر:
أما كتاب الله فأدلة الأستمداد منه كثيرة و منها (... و نزلنا إليك الكتاب تبيانا لكل شيء و هدى و موعظة ... )

وأما السنة فدليلها ( و ما آتاكم الرسول فخذوه و ما نهاكم عنه فانتهوا )

ودليل الإجماع قوله ( و من يشاقق الرسول من بعد ماتبين له الهدى و يتبع غير سبيل المؤمنين نوله ماتولى و نصله جهنم ...)

وأما القياس فقوله ( ولو ردوه إلى الرسول و إلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم )

فائدته : امتثال أوامر الله و اجتناب نواهيه
وفائدة الفقه تسمى ثمرته أيضا

✏ ماهو الإجماع؟
الإجماع إصطلاحا هو إتفاق المجتهدين من أمة محمد - صلى الله عليه و سلم - بعد وفاته في عصر من العصور على حكم شرعي

✒ القياس؟
و أما القياس فهو إلحاق مالانص فيه بالمنصوص عليه لعلة جامعة

مثال الإجماع :
الإجماع على أن الصلوات الخمس فرائض
و الإجماع على أن صلاة الصبح ركعتان حضرا و سفرا
و آجماع الصحابة على مصحف عثمان
و هكذا

من أمثلة القياس : قياس حكم المخدرات و النبيذ على حكم الخمر من حيث الحرمة

قياس الرهن وقت النداء الثاني يوم الجمعة على
البيع

واضع علم الفقه : الرسول ﷺ

حكمه : فرض عين على كل مكلف بقدر مايعرف تصحيح عبادته
و ماسواه ففرض كقاية

اسمه : علم الفقه أو علم الفروع

مسائله : الأحكام الشرعية

نسبته : ينسب للعلوم الشرعية
و هو خلاصتها

فضله : فوقيته على العلوم العملية من حيث معرفة الحلال من الحرام ، و الصحيح من القاسد

وبهذا نكون قد استكملنا مبادئ علم الفقه
و التي جمعها الناظم بقوله :

إن مبادئ كل علم عشرة
الحد و الموضوع ثم الثمرة
و نسبة و فضله و الواضع
والاسم الاستمداد حكم الشار

المبادئ العشرة لعلم التصوف

قال شمس الزمان سيف الله الصقيل الشيخ طارق السعدي حفظه الله:
بسم الله الحَمِيْد المَجِيد، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله محمد خير العبيد، ثم على المُبَشِّرينَ به وآله وصحبه وخلفائه وورثته إلى يوم المَزيد.
وبعد: فإنَّ التَّصوف الإسلامي: هو مجموعة الأحكام المُتَعَلِّقة بنُفُوسِ الناس تَزكيَةً؛ قال الله تعالى: { ونَفْسٍ وما سَوَّاها * فألهمها فجورها وتقواها * قد أفلَح مَنْ زكَّاها * وقَد خابَ مَن دَسَّاها }[الشمس:7-10]، مُثْبِتاً التَّصوف: الذي يبحث في أعمال النَّفْسِ من حيث تزكيتها، ثمَّ أوحى إلى سيدنا رسول الله محمد صلى الله عليه وآله وسلم: { الإحسان: أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك }، مبيِّناً أنَّه: ركن الدِّين الثالث؛ لأن الإحسان ثمرة التزكيَة.
وإن المَبادئَ تُمَكِّن الناسَ من تصَوُّر الشيءَ قبل الشُّروعِ فيه؛ لِيَضْبطوا مسائلَه الكثيرة، ويكونوا في تطلُّبِها على بصِيرَة. وهي عشرة مبادئ:

الاسم: وهو: تَصَوُّف؛ مِنَ ( الصَّفَاء )، اصطلاحاً لا اشتقاقاً؛ فإن العلماءَ المتخصّصين أطلقوا اسمَ ( صُوْفِي ) على العَبدِ المُتَحقِّق من تَزْكِيَة النّفْس؛ نِسْبَةً للفعل إلى الله تعالى، أي: صَفَّاه اللهُ تعالى وصَافَاه؛ قال الله U: { والذين جاهَدوا فينا لَنَهْدِيَنَّهُم سُبُلَنا }، ثمّ إنهم جعلوا ذلك مَصْدَراً اشتَقُّوا منه اسمَ (تَصَوُّف) للعِلْم، و(مُتَصَوِّف) للمُرِيْد: وهو المُجاهِدُ لنَفسِه طلباً للتزكيَةِ ابتغاءَ وجهِ الله تعالى.

الحَـدّ:  وهو: أعْمَالُ الظَّاهِرِ وَالبَاطِنِ الْمُزَكِّيَة للنَّفْسِ.
والظاهر: الآداب، وهي: الأعمال الظَّاهِرَة ( أي: أعمال الجوارح )، كالذِّكْر.
والباطن: الأخلاق، وهي: الأعمال الباطِنَةِ، كالتَّقوى ( من حيث هي خُلُق باطِن ).
المَوضُوع:  وهو: أعمالُ النُّفوس ظاهِراً وباطِناً مِنْ حَيْث التَّزكية.

الوَاضِـع:  وهو: اللهُ تعالى: أوحاه إلى رُسُله وأنبيائِه، وألهَمَهُ خَوَاصَّ أوليائه.

الاستمداد:  وهو: مِنَ القرآن الكريم والسُّنَّة الشَّريفة.
تنبيه: فالمخالفات المَنْسُوبَة إلى التَّصوفِ أو المُشَاهدة عند المُنْتَسِبِيْنَ إليه: إنما هي منهم لا منه، مردودة عليهم بكتاب الله تعالى وسنَّة نبيِّه المُصطفى صلى الله عليه وآله وسلم؛ قال الله تعالى: { وما أُمِروا إلا لِيَعبدوا اللهَ مُخْلِصِيْن له الدِّيْنَ }، وإخلاص الدِّين: إنما يتحقَّقُ بالوقوف على حُكم الله تعالى، قال سيدنا رسول الله محمد صلى الله عليه وآله وسلم: { ما أَحَلَّ اللهُ في كتابه فهو حلال، وما حَرَّمَ فهو حَرَام، وما سَكَتَ عنه فهو عفو }، ثم قال صلى الله عليه وآله وسلم: { مَن أحْدَثَ في ديننا ما ليس مِنْه فهو رَدّ }.
فائدة: وحذَّر صلى الله عليه وآله وسلم المبتدعين والجُهال من الإنكار على الحكم الثابت لمخالفتهم له أو جهلهم به فقال: { أعظم المسلمين في المسلمين جُرْماً: مَن سأل عن شيء لم يكن قد حُرِّمَ، فحُرِّم من أجل مسألته }، فيا لله ما نقول فيمن حرَّم التَّصوّفَ وشدَّدَ النكارة عليه مع ما ثَبَتَ من طَلَبَ اللهُ تعالى له، بل ما عُلِمَ بالبديهة من شَرْعِيَّته وقَدْرِه، حتى قال الإمام أحمد بن حنبل رضي الله تعالى عنه:" لا أعلم على وجه الأرض أقواماً أفضل من الصُّوفيَّة "اهـ؟! حسبنا الله ونِعم الوكيل.
الحُكـم: وهو: الوجوب العَيْنِي في غير القُرُبات؛ قال الله تعالى: { فاستَقِم كما أمرت }، مبيِّناً وجوبه على كل مسلم مُكلَّفٍ، فلا يسعه تركه، إلا ( القُرُبات )، وهي الأعمال التي طلب فعلَها على وجه الندب والاستحباب، لا الفرض والإيجاب؛ بحيث تكون سبباً للرِّفْعَة والزِّيَادة، وتَمَام العَمَل بالعبادة.

المَسَائل:  وهي: أعماله وآثارها والمصطلحات فيه.

النِّسْبَة:  وهي: الأصوليَّة؛ قال الله تعالى: { واتقوا الله ويُعلمكم الله }، مبيّناً أن التصوف: أصل للتحقّق من كُلِّ عِلْم وفنٍّ.

الفَضْل: وهو: الشَّرف الحقيقي؛ لتعلقه بالله تعالى، وتحقيقه معنى العبوديَّة. قال الله تعالى: { ومَن أحسَنُ دِيْناً مِمَّن أسْلَمَ وجهَهَ لله وهو محسن }، { ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون، الذين آمنوا وكانوا يتقون .. }، والصُّوفيَّة رضي الله تعالى عنهم: هم أولياء الله تعالى حقاً؛ إذ أسلموا له وجوهَهم، فكانوا معه في كلِّ عَمَلٍ ظاهر أو باطن.

الثَّمَرة:  وهي: التَّحَقُّق من الألوهيَّة والعُبُوديَّة كما قال الله تعالى: { فاعلم أنه لا إله إلا الله }، وتحصيل المعارف الدِّيْنِيَّة، والتحلي بالأخلاق المحمدية، فالإحسان بالعبوديَّة، والتنعم بالرَّحمة الأبديَّة، ونوال المكارم الدنيويَّة والأخرويَّة؛ قال الله تعالى: { والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سُبُلنا }، { للذين أحسنوا الحُسنى وزيادة }، { ما يزال عبدي يتقرّب إليّ بالنوافل حتى أحبَّه، فإذا أحببته: كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يُبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإن سألني أعطيته، ولإن استعاذني لأعيذنَّه }.

خاتمة:
قال الإمام أبو نعيم الأصبهاني رضي الله تعالى عنه:" الصوفية: أرباب القلوب، المتسوّرون بصائب فراستهم على الغيوب، المراقبون للمحبوب، التاركون للمسلوب، المحاربون للمحروب، سلكوا مسلك الصحابة والتابعين، ومَن نَحَى نحوَهم من المتقشِّفين والمتحققين، العالمين بالبقاء والفناء، والمميزين بين الإخلاص والرياء، والعارفين بالخطرة والهمة والعزيمة والنية، والمحاسبين للضمائر، والمحافظين للسرائر، المخالفين للنفوس، والمحاذرين من الخنوس، بدائم التفكر، وقائم التذكر؛ طلبا للتداني، وهربا من التواني.
لا يستهين بحُرمتهم إلا مارقٌ، ولا يَدَّعِي أحوالَهم إلا مائِق، ولا يعتقِد عقيدَتهم إلا فائِق، ولا يَحِنّ إلى مُوالاتهم إلا تائِق؛ فهم سُرُجُ الآفاق، والممدود إلى رؤيتهم بالأعناق.
بهم نقتدي، وإياهم نوالي إلى يوم التلاق "اهـ[الحلية:27–28].
والحمد لله رب العالمين

Tashowwuf Adalah Inti Agama

Jika kata mereka Tasawuf bukan berasal dari Islam, maka saya katakan bahwa Tasawuf adalah Puncak Rukun Agama (الدين). Bukankah Rasulullah Saw. pernah ditanya Jibril As:





يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ( رواه مسلم )





Setelah Jibril pergi Rasulullah SAW mengatakan kepada para Sahabat Ra:

فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ



Sangat jelas mantuq dari hadits di atas bahwa rukun Agama yang diajarkan oleh Jibril As. kepada Rasulullah Saw. adalah Iman, Islam dan Ihsan. Jika dari ketiganya ada yang kurang maka agama tidak sempurna dan tidak sah. Dan Tasawuf adalah Ihsan, sebab yang dibahas di dalam Tasawuf adalah Ihsan, yaitu bagaimana kita agar selalu dalam kondisi ibadah yang total, merasa selalu berada dalam pengawasan Allah Swt hingga seolah-olah kita melihat Allah Swt. dengan mata hati kita المشاهدة) (, atau jika tidak sanggup Allah Swt-lah yang melihat kita ( المراقبة ).



Iman telah dibahas di dalam tauhid, Islam menjadi garapan fikih dan begitu pula Ihsan dibahas habis-habisan oleh Tasawuf.



Jika kata mereka Tasawuf adalah ilmu baru dalam Islam yang hanya muncul di abad ketiga hijriyah, dimana pada waktu itu seluruh ilmu dari Yunani dan Persia diserap oleh Islam hingga mereka mengatakan bahwa Tasawuf adalah ilmu asing. Maka saya katakan bahwa Tasawuf adalah ilmu yang sudah ada jauh-jauh hari sebelum ilmu-ilmu lain muncul yang diajarkan langsung oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabat Ra. Bahkan substansi Tasawuf telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada umat-Nya. Bukankah sabar dan ikhlas adalah mata kuliah pertama yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada para sahabat ketika para sahabat merasakan penderitaan yang luar biasa dari orang-orang Quraisy yang menolak keras risalah Rasulullah Saw. Bukankah Rasulullah Saw. yang mengajarkan mahabbah ketika menyatukan kaum Muhajirin dan Anshor hingga mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, sampai-sampai kaum Anshor rela memberikan harta-harta dan rumah-rumah bahkan istri kepada kaum Muhajirin. Bukankah Rasulullah Saw. yang mengajarkan bahwasanya cara bersyukur itu adalah dengan menggunakan nikmat Allah Swt. tidak untuk memaksiati-Nya tetapi menggunakannya sesuai pada fungsinya. Jika kita telaah literatur-literatur tasawuf, kita akan melihat substansinya tidak lain dan tidak lari dari taubat, khauf, ar-raja’, jujur, ikhlas, sabar, wara’, zuhud, ridha, tawakkal dan syukur, dll. Bukankah itu semua amalan-amalan Rasulullah Saw., para sahabat beserta keluarganya radhiyallahu anhum.



Tasawuf berasal dari Islam sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, seperti Fikih, Nahwu, Sharaf, Tafsir dan Tauhid. Hanyasaja istilah Tasawuf dan pembukuannya baru muncul belakangan. Sebagaimana fikih baru dibukukan dan diistilahkan oleh imam kita yang empat di abad ke 2 H, dan Nahwu baru diistilahkan dan dibukukan oleh Sibawaih di abad ke 3 H, begitu pula Tasawuf baru diistilahkan dan dibukukan oleh ulama-ulama zuhud di abad ke 2 H. Bukankah istilah-istilah fiqh, nahwu, sharaf, tafsir dan tasawuf belum dikenal di zaman Rasulullah Saw. sebagai sebuah disiplin ilmu ?



Jika kata mereka di dalam Tasawuf banyak terdapat bid’ah dan penyisipan (dussah). Maka saya katakan bahwa di dalam ilmu-ilmu lainpun juga banyak terdapat bid’ah dan dussah. Bukankan para ulama fiqh banyak yang menjual fatwa kepada umat?. Bukankah ini ‘ainul bid’ah yang Rasulullah Saw. berserta para sahabat tidak pernah melakukannya? Bukankah ini sangat menyimpang dari ajaran Islam?. Begitu juga dalam wilayah ilmu Tauhid, berapa banyak akidah-akidah menyimpang yang lahir didalam wilayah ilmu Tauhid sebagaimana yang terjadi pada mu’tazilah, murjiah, jabbariyah dan sebagainya. Pun begitu pula tafsir, banyak sekali dussah yang disisipkan berupa cerita-cerita israiliyat bathil yang sangat bertolak belakang dengan akidah islamiyyah. Ini terjadi karena banyaknya para rawi yang beristifadah terhadap ahlul kitab atau terhadap ahlul kitab yang sudah masuk Islam. Mereka menyisipkan kisah-kisah israiliyat dari keyakinan lama mereka, seperti mengatakan bahwasanya beberapa anbiya’ pernah melakukan maksiat, atau seperti Daud As. yang mencintai istri panglimanya dan merencanakan pembunuhan kepada panglimanya, dan seperti menisbahkan Yusuf As. Pada hal-hal yang kotor dan keji, na’udzubillah. Sungguh sangat jauh para anbiya’ dari hal yang demikian. Begitu juga ilmu hadits, banyak sekali dussah hingga terkadang banyak tambahan-tambahan matan yang pada hakikatnya bukan kalam Rasulullah Saw. Untunglah para ulama hadits seperti Bukhari dan Muslim telah mentahzib itu semua. Dan banyak sekali kita temukan hadits-hadits maudhu’ yang bukan kalam Rasulullah Saw. tetapi dinisbahkan kepada Rasulullah Saw. Begitu juga ilmu-ilmu yang lainnya seperti tarikh yang bisa jadi lebih banyak lagi dussahnya.



Maka begitu pulalah yang terjadi dalam ilmu Tasawuf, yang juga tidak selamat dari sisipan dan penyimpangan. Banyak sekali sisipan yang terjadi di dalam turats-turats Tasawuf. Mereka ingin memburuk-burukkan Tasawuf dan ulama-ulamanya agar umat jauh dari inti ajaran Rasulullah Saw. Mereka menisbahkan istilah-istilah tertentu seperti hulul dan ittihad kepada ulama-ulama Tasawuf, bahwasanya Khaliq Swt. adalah inti makhluk seperti yang terjadi pada Hallaj dan Ibnu Arabi. Padahal mereka jauh dari itu semua. Karena fitnah hulul dan Ittihad ini maka jutaan khazanah akhlaq dalam Tasawuf yang tependam dalam turats-turats dan dada para ulamanya dijauhi oleh umat.



Begitu pula orang-orang yang mengaku-ngaku bahwa dia ahli Tasawuf. Kemudian dia banyak melakukan bid’ah dan khurafat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang zindiq yang tidak shalat dan mengaku telah wushul kepada Allah Swt. hingga tidak lagi ditaklif oleh syariat karena telah mendapatkan hakekatnya. Sungguh ini sangat jauh dari ajaran Tasawuf yang tidak pernah kita temukan sepatah kalimatpun di dalam literatur-literatur turats. Begitu pula Tasawuf di tanah air kita, juga tidak luput dari ulah para mubtadi’ dan pelaku khurafat yang mengaku-ngaku telah memperdalam ilmu kebathinan hingga mampu menangkap ribuan jin dan ia menisbahkan dirinya kepada salah satu jamaah Tasawuf.



Tasawuf di tanah air sangat memprihatinkan. Umat Islam hanya mengenal bahwa bertasawuf adalah bersuluk, dan bersuluk adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan mengasingkan diri dalam beberapa hari tertentu dengan melakukan amalan-amalan zikir tertentu. Jika sudah khatam maka mereka sudah dapat dikatakan telah mejalani kehidupan yang bertasawuf. Padahal suluk adalah bagian dari Tasawuf dan tidak lain adalah tarbiyah diri untuk menuju jalan kepada Allah Swt. Artinya suluk yang mereka pahami sangat sempit dan tidak tepat, sebab suluk lebih luas dari itu. Tasawuf di tanah air juga lebih terkenal dengan madrasah perdukunan dan pengobatan, sebab banyak sekali dukun dan tabib yang menisbahkan ilmunya sebagai hasil dari tasawuf versi mereka. Terlebih-lebih di dunia akademis kampus tanah air lebih menyedihkan. Tasawuf lebih dikenal sebagai bagian dari ilmu filsafat, hanya saja para akademis itu mengistilahkannya dengan Tasawuf Falsafi. Mereka membaca turats-turats Tasawuf namun sangat disayangkan mereka hanya membaca terjemahannya, apakah terjemahan Inggris, Perancis dan sebagainya. Kemudian buku-buku ini diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan bahasa Indonesia inilah yang telah diterjemahkan bukan dari sumber aslinya, dibaca oleh para akademis kita di tanah air. Maka jangan heran jika para akademis itu mengatakan bahwa Tasawuf mengajarkan kemiskinan kepada umat Islam dan Tasawuf adalah biang kerok keterpurukan umat Islam, sebab mereka membaca terjemahan, bahwa fakir dalam terjemahan mereka adalah miskin dan melarat. Padahal fakir dalam Tasawuf adalah iftiqar yaitu “ihtiyaj” (merasa butuh kepada Allah Swt.) karena kita pada hakekatnya tidak memiliki apapun. Allah SWT berfirman:

“Hai manusia, kamu itu faqir kepada Allah; dan Allahlah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Fathir: 15).

Wallahu A’lam.



Ablecaire El-d’roy

Mahasiswa Al Azhar Kairo Kuliah Syariah Wal Qanun

Senin, 02 Februari 2015

Singkatan Nama-Nama Ulama, Judul Kitab dan Istilah-istilah Dalam Kitab Madzhab Syafi'i



Ketika membaca kitab fiqih madzhab syafi'i, mungkin sebagian sahabat-sahabat santri pernah mengalami kesulitan seperti yang pernah saya rasakan, yaitu memahami istilah, judul kitab dan nama ulama yang ditulis dengan singkatan. Dalam kitab i'anah ath-tholibin, misalnya, kita akan mendapatkan beberapa singkatan nama pengarang kitab yang ditulis dengan huruf hija'iyah seperti ع ش, ق ل dan sejenisnya.

Berikut ini perkenankan saya ingin berbagi kepada para sahabat beberapa singkatan nama pengarang, judul kitab dan istilah yang sering digunakan dalam kitab fiqih madzhab Syafi'i. Semoga bermanfaat.

Singkatan Nama Ulama Madzhab Syafi'i

1. خط : محمد الشربيني الخطيب
2. م ر : شمس الدين محمد بن أحمد الرملي
3. حج : شهاب الدين أحمد بن حجر الهيتمي
4. ع ش : علي الشبراملسي
5. سم : شهاب الدين أحمد بن قاسم العبادي
6. زي : علي الزيادي
7. طب : منصور الطبلاوي
8. ح ل : إبراهيم الحلبي
9. ق ل : احمد بن سلامة القليوبي
10. ش ق : عبد الله الشرقاوي

Singkatan Judul Kitab Madzhab Syafi'i

1. (المختصر : إسماعيل بن يحيى المزني (تلميذ الإمام الشافعي
2. الشرح : الشرح الكبير على متن العزيز للإمام الرافعي
3. الإيضاح : للإمام النووي
4. الشروح : شروح المنهاج الطالبين للنووي
5. المنهاج : منهاج الطالبين للنووي

Laqob (Gelar) Ulama Madzhab Syafi'i

1. الإمام : ضياء الدين أبو المعالي إمام الحرمين عبد المالك بن محمد الجويني
2. الإمامان : إمام الحرمين والرازي
3. الشيخان : الرافعي والنووي
4. الشيوخ : الرافعي والنووي وتقي الدين بن علي بن عبد الكافي السبكي
5. الشيخ : أبو إسحاق إبراهيم بن علي الشيرازي
6. القاضي : أبو علي حسين بن محمد المروزي
7. السبكي : تقي الدين بن علي بن عبد الكافي السبكي, والد عبد الوهاب تاج الدين السبكي
8. العراقي : زين الدين عبد الرحيم بن الحسين العراقي
9. القفال الصغير أو المطلق : القاضي أبو بكر عبد الله بن محمد القفال الصغير المروزي
10. القفال الكبير : القاسم بن محمد بن علي القفال الكبير الشاشي
11. حجة الإسلام : محمد بن محمد بن محمد الغزالي
12. شيخ الإسلام : أبو يحيى زكريا الأنصاري
13. البلقيني : سراج الدين عمر بن رسلان البلقيني
14. الفيروزابادي : مجد الدين محمد بن يعقوب الفيروزابادي الشيرازي

Istilah Kelompok yang Sering Digunakan

1. المتقدمون : من انتمى لأربع من المئين سنة
2. المتأخرون : من انتمى بعد أربع من المئين سنة
3. السلف : من كان لثلاثة القرون
4. الخلف : من كان بعد ثلاثة القرون
5. الأصحاب : المتقدمون أصحاب الوجوه الناقلون من الإمام الشافعي
6. المعتمد : الأظهر من القولين أو الأقوال
7. الأوجه : الأصح من الوجهين أو الوجوه

Sumber: Kitab Bayan al-Mubhamat karya al-Maghfurlah Raden K.H. Ma'mun Nawawi bin Raden K.H. Anwar Cibogo - Cibarusah

I'irob Hati dan 'Alamat I'irobnya


Dinukil dari kitab Minhajul 'Arifin karya Imam Al-Ghazzali

ﺑﺎﺏ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ
ﻭ ﺇﻋﺮﺍﺏ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻧﻮﺍﻉ : ﺭﻓﻊ , ﻭ ﻓﺘﺢ , ﻭ ﺧﻔﺾ , ﻭ ﻭﻗﻒ .

- I'rabnya hati ada empat macam :
1. rafa' (terangkat)
2. fatha (terbuka)
3. khafadz (turun)
4. waqaf (berhenti/mati)

ﻓﺮﻓﻊ ﺍﻟﻘﻠﺐ : ﻓﻲ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ .
ﻭ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﻠﺐ : ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺿﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .
ﻭ ﺧﻔﺾ ﺍﻟﻘﻠﺐ : ﻓﻲ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﻐﻴﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .
ﻭ ﻭﻗﻒ ﺍﻟﻘﻠﺐ : ﻓﻲ ﺍﻟﻐﻔﻠﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ .

Rafa' (terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kpd Allah,
Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridha kepada Allah,
Khofadh (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah,
Waqaf (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah.

ﻓﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺮﻓﻊ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﻭﺟﻮﺩ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ , ﻭ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺔ , ﻭ ﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﺸﻮﻕ .
ﻭ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﺘﻮﻛﻞ , ﻭ ﺍﻟﺼﺪﻕ , ﻭ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ .

- Tanda rafa' nya hati ada 3 :
1. ada kecocokan
2. hilangnya penyimpangan
3. lestarinya kerinduan
- Tanda fath nya hati ada 3 :
1. kepasrahan
2. kejujuran
3. keyakinan

ﻭ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﺨﻔﺾ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺍﻟﻌﺠﺐ , ﻭ ﺍﻟﺮﻳﺎﺀ , ﻭ ﺍﻟﺤﺮﺹ ﻭ ﻫﻮ ﻣﺮﻋﺎﺓ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ .
ﻭ ﻋﻼﻣﺔ ﺍﻟﻮﻗﻒ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ : ﺯﻭﺍﻝ ﺣﻼﻭﺓ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ , ﻭ ﻋﺪﻡ ﻣﺮﺍﺭﺓ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ , ﻭ ﺍﻟﺘﺒﺎﺱ
ﺍﻟﺤﻼﻝ

- Tanda khafadz nya hati ada 3 :
1. bangga diri
2. pamer
3. tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.
- Tanda waqaf nya hati ada 3 :
1. hilangnya rasa manis dlm ketaatan
2. tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan
3. ketidak jelasan kehalalan.

Wallahu a'lam.

ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ
ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﻣﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ

Yaa Allah..
Semoga Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rob Rafa' dan beri'rab Fath, janganlah Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rab Khofadh dan beri'rab Waqaf...
Aamiin..