Tampilkan postingan dengan label Tashowuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tashowuf. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juli 2019

Renungan Abuya Syakur

Renungan Spiritual KH. Abd Syakur Yasin, MA. Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, Indramayu

(1) Serahkan segala urusanmu kepada-Ku. Engkau tidak bisa apa-apa. Aku yang menyelesaikan. Karena Akulah yang paling berkuasa.

(2) Tandanya Aku memberi ampunan dalam cobaan, ketika-Ku jadikan sebagai batu loncatan untuk mendapat pengalaman.

(3) Ketahuilah wahai hamba-Ku ketika engkau berdo’a kepada-Ku, berarti engkau mengakui Aku adalah Tuhanmu. Dan bahwasannya pengakuanmu itu adalah inti penghambaanmu kepada-Ku

(4) Jangan sampai lupa kontrak “MONOLOYALITAS” yang sudah engkau tanda tangani bahwa engkau hanya mengabdi kepada-Ku dan minta imbalan hanya kepada-Ku.

(5) Diantara tanda adanya keyakinan, adalah adanya kemantapan. Diantara tanda adanya kemantapan, adalah adanya ketenangan dalam menghadapi tantangan.

(6) Wahai hamba-Ku engkau tidak akan dapat jadi orang perkasa tanpa keperkasaan-Ku. Engkau tidak akan dapat abadi tanpa keabadian-Ku, karena engkau bukan apa-apa. Engkau hanyalah bayang-bayang-Ku.

(7) Wahai hamba-Ku, ketika Aku membertitahu kepadamu, betapa indahnya perjumpaan dengan-Ku. Pasti engkau akan sangat bersedih hati ketika engkau Ku suruh masuk surga-Ku.

(8) Datanglah bersimpuh menghadap-Ku dengan sepenuh hatimu, pasti-Ku beri apapun yang kau minta. Jangan hanya mementingkan permintaanmu, pasti Aku bersembunyi dan tidak akan Ku beri.

(9) Barangsiapa menghamba kepada-Ku karena wajah-Ku, pasti penghambaannya akan langgeng. Tetapi bila karena takut kepada siksa-Ku, pasti akan mengendur. Dan bila karena mengharapkan nikmat-Ku, tentu penghambaannya itu akan terhenti.

(10) Semua yang ada adalah milik-Ku, termasuk dirimu. Sejak kapan engkau merasa memiliki? Ketahuilah, sejak engkau tidak mengakui lagi kepemilikan-Ku terhadap alam semesta ini.

(11) Wahai hamba-Ku, semua ini Ku cipta adalah untukmu. Tetapi mengapa engkau tergila-gila kepada ciptaan-Ku, sehingga engkau tidak pernah berterimakasih kepada-Ku.

(12) Aku tidak suka engkau mengagumi apapun, sekalipun surga, karena Aku cemburu kepadamu. Engkau Ku cipta supaya selalu bersama-Ku. Supaya engkau menjadi tempat tampilan-Ku dan sebagai wadah Inayah-Ku.

(13) Aku selalu menatapi dirimu tanpa tabir, tanpa batas dan jarak. Antara Aku dan engkau tak ada antara. Aku lebih dekat kepadamu dari pada dirimu. Tataplah Aku, sungguh Aku suka menatapi dirimu. Alam seluas ini adalah cermin untukmu. Tataplah yang sering cermin itu, nanti engkau akan mengenali dirimu.

(14) Jasad itu pasti fana, sengaja Ku cipta untuk menguji roh yang ada dalam dirimu. Nafsu, syahwat dan ambisi, juga suatu ujian terhadap kesetiaan rohmu. Sifat manusiawi bukan sifat asli tetapi hanyalah godaan untuk menguji roh supaya mengetahui posisinya sendiri, sebagai apa ?. Dalam tatanan semesta ini.

(15) Kubangun disekelilingmu tembok-tembok benteng. Karena Aku cemburu kepadamu, lalu Ku buat celah dan lubang itu, ingin melihat yang indah dan menawan ?, kalau ternyata iya, berarti betapa engkau sangat bodoh, tidak mengerti bahwa Akulah Yang Maha Indah.

(16) Aku bukan benda yang dapat dilihat. Aku bukan pengetahuan yang dapat dicari. Aku bukan sesuatu yang dapat digapai. Aku tidak dapat ditelusuri dengan sifat-sifat. Aku tidak seperti apa-apa. Aku tidak dapat diuraikan dan diterangkan.

(17) Wahai hamba-Ku, tidak usah engkau menyebutkan maksud dan tujuanmu kepada-Ku, karena Aku tahu segalanya. Malah yang penting seharusnya engkau mampu menguraikan dosa-dosa mu kepada-Ku. Setelah itu baru meminta kepada-Ku untuk memilihkan apa yang terbaik untuk dirimu.

(18) Kucipta engkau bukan untuk siapapun, melainkan untuk-Ku sendiri. Kusayang engkau, jangan meminta kepada siapapun. Ku perkenankan engkau duduk bersanding bersama-Ku, jangan berkata lancang, nanti Ku usir engkau dari sini.

(19) Wahai hamba-Ku, ketahuilah. Engkau siapa sebenarnya?. Fikirkan dulu yang dalam. Tanyakan dulu yang jelas. Jangan tebak-tebakan, dugaan, kira-kira dan barangkali, nanti keliru. Sebaiknya yang sering tataplah wajahmu dilangit yang sangat luas ini. Nah, setelah engkau mengenali dirimu, baru engkau mengenali Aku. 

(20) Engkau adalah hamba-Ku, dari roh-Ku yang Ku tiupkan ke dalam jasadmu. Kucipta dunia dan Ku tundukan kepadamu, supaya engkau tidak usah repot, hanya selalu bersimpuh di kehadiratan-Ku. Untuk itu Aku menuntut janji setiamu kepada-Ku.

(21) Wahai hamba-Ku, janganlah berputusasa, sekalipun engkau datang menghadap-Ku dengan membawa daftar dosa yang sangat panjang. Ketahuilah ampunan-Ku sangat besar. Tetapi sebaliknya engkau jangan lancang, sombong, dan congkak, karena engkau membawa kebaikan yang sangat banyak. Ketahuilah Aku Maha Kaya tidak membutuhkan kebaikan-kebaikanmu.

(22) Wahai hamba-Ku, darimana makananmu, minumanmu dan pakaianmu ?. Ingatlah baik-baik. Apabila pakaianmu hasil jahitan-Ku, dirimu akan terlindung dari teriknya dosa. Apabila minumanmu hasil perasan tangan-Ku, dirimu akan terhindar dari dahaga nafsu. Apabila makananmu dari suapan tangan-Ku, anggota badanmu akan berontak ketika diajak melakukan maksiat terhadap-Ku.

(23) Wahai hamba-Ku, tutuplah yang rapat semua pintu hatimu. Jangan sampai ada yang masuk, apapun dan siapapun. Ketahuilah bahwasanya hatimu adalah rumah-Ku. Bila ternyata ada yang menginap di hatimu, berarti engkau telah berselingkuh.

(24) Tak usah engkau banggakan kebaikan-kebaikanmu, karena tidak menambah luasnya kerajaan-Ku. Sebaiknya engkau sembunyikan saja di bawah onggokan dosa-dosamu.

(25) Tundukan wajahmu. Konsentrasikan fikiranmu. Dengarkan degupan jantungmu. Ketika engkau telah jelas mendengar degupan itu bertasbih, maka ketika engkau berbicara, sebenarnya Akulah yang berbicara, dan ketika engkau memutuskan perkara, sebenarnya Akulah yang memutuskan.

(26) Wahai hamba-Ku, jangan putus asa mengharap kasih sayang-Ku. Jangan bingung mengambil keputusan. Cobalah konfirmasikan dengan juru bicara-Ku yang berkantor dihati.

(27) Wahai hamba-Ku bila engkau bersimpuh di kehadirattan-Ku, kuputus interdependensimu dengan alam ini. Lalu engkau tidak lagi tergantung kepada siapapun dan tidak membutuhkan apapun. Dan engkau tidak lagi bersukaria mendapat apapun, tidak lagi berduka cita kehilangan apapun.

(28) Wahai hamba-Ku, ketika nafsumu membuat ulah atas dirimu, serahkan saja nafsumu kepada-Ku berikut segala ulahnya. Karena Aku sayang kepadamu, maka Akulah yang menjinakannya. Kalau tidak demikian, pertempuranmu dengan nafsumu tidak akan pernah berakhir.

(29) Peta yang telah Kutitipkan kepadamu, harus selalu engkau lihat supaya jangan tersesat. Adapun Jalan dan lorong mana yang paling baik, silahkan pilih sendiri, disesuaikan dengan kondisimu. Yang penting jangan ditukar dengan apapun, karena tidak mungkin ada gantinya.

(30) Wahai hamba-Ku, Aku tidak suka melihat kesombonganmu, karena engkau berhasil meraih sukes. Untuk itu hancurkanlah apa saja yang telah dibangun oleh tanganmu. Setelah itu, silahkan menghadap kepada-Ku dan tidak usah gelisah tanpa membawa prestasi apapun. Karena yang Ku periksa nanti adalah hanya kebaikan hatimu.

(31) Wahai hamba-Ku, tidak mungkin terjadi dua orang bercakap-cakap, kecuali yang satu bicara dan yang lain diam. Bila diam semua berarti tidak ada komunikasi, bila serempak bicara semua berarti perang bicara. Oleh karena itu, diamlah wahai hamba-Ku, supaya engkau dapat mendengarkan percakapan-Ku.

(32) Wahai hamba-Ku, ketika engkau melihat-Ku, berarti engkau berada di sisi-Ku. Tetapi bila engkau tidak melihat-Ku, berarti engkau berada pada dirimu. Dan ketika engkau masih melihat sesuatu selain Aku, berarti engkau belum melihatku. Tetapi ketika engkau sudah tidak lagi melihat apapun, selain Aku, berarti engkau benar-benar melihat-Ku.

(33) Wahai hamba-Ku, bila engkau masih yakin punya kemampuan dan kekuatan, maka bila yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanmu, engkau selalu menyalahkan Aku. Lalu sebaliknya, bila engkau berhasil, engkau tidak pernah berterimakasih kepada-Ku. Untuk itu, hancurkanlah kerajaan angan-anganmu dan binasakanlah segala kemampuan dan kekuatanmu. Setelah itu baru engkau tidak akan berani lagi bersaing melawan kekuasaan-Ku. Ketahuilah dan ingat selalu siapapun yang merasa punya kekuatan dan kemampuan, adalah pesaing-Ku.

(34) Wahai hamba-Ku, serahkan saja kepada-Ku untuk memilihkan apa saja yang engkau inginkan, engkau tidak usah memilih, pasti akan Ku-pilihkan yang terbaik untukmu dan kelak engkau tidak akan Ku-tuntut. Tetapi bila engkau sendiri yang memilih, pasti akan Ku pertanyakan sebagai klarifikasi dalam pengadilan-Ku :”Mengapa engkau memilih itu?”.

(35) Wahai hamba-Ku, ketahuilah bahwa sejak engkau telah melihat-Ku, apapun yang kau lihat selain Aku, adalah dosa-dosa. Terlebih lagi ketika engkau mengagumi, adalah merupakan penghianatan besar.

(36) Wahai hamba-Ku, apabila engkau benar-benar telah mengenal Aku, maka jangan biarkan ada sesuatu yang terrangkut dalam fikiranmu, jangan biarkan ada yang menginap di dalam hatimu. Boleh, tapi hanya numpang lewat dan hanya sekejap.

(37) Wahai hamba-Ku, mengapa engkau begitu lancang menuntut keadilan-Ku. Itu adalah kedurhakaanmu kepada-Ku, karena berarti engkau masih meragukan bahwa Aku Maha Adil. Kalau engkau menuntut keadilan-Ku, lalu Ku terapkan atas dirimu, pasti engkau binasa. Makanya yang Ku berlakukan atas dirimu adalah kasih sayang-Ku.

(38) Wahai hamba-Ku, ketika engkau telah bersendiri, baru Aku datang mendampingimu.

(39) Wahai hamba-Ku, engkau adalah makna alam yang paling penting, karena engkau ibaratnya ensiklopedia dan alam ini adalah halaman-halamanmu.

(40) Wahai hamba-Ku, ketika Aku marah kepadamu, lalu Ku-beri sangsi dengan cobaan, itu adalah karena Aku cemburu kepadamu. Makanya Aku melarangmu jauh dari-Ku, supaya engkau selalu dekat dengan-Ku.

Rabu, 10 April 2019

Istilah2 Tashowuf

Dina kitab-kitab Tashowwuf aya istilah-istiah khusus anu sering dianggo, diantawisna;

1.  RIYADLOTUNNAFSI (رِيَاضَةُ النَّفْسِ)

Riyadloh, hartosna olahraga, tapi anu dimaksad ku Riyadloh dina elmu Tasowuf nyaeta ngalatih jiwa sina biasa patuh sareng ta'at kana aturan Alloh sarta tebih tina paharaman, alias ngalatih jiwa sangkan istiqomah dina ibadah ka Alloh anu ngaping ka urang siang wengi, malah mandar diri urang salamina aya dina rohmat sareng ridlo Mantena.

2. MA'RIFAT  ( مَعْرِفَةٌ )

Hartosna numutkeun ahli Tashowuf; iman hiji jalmi anu parantos dugi kana rasa, minimal rasa ditingali sareng di teuteup ku Alloh, rasa dipayuneun Alloh. Jalmina disebat 'Arif/'Arifin.

3. THORIQOH/TOREKAT ( طَرِيْقَةٌ )

Hartosna; jalan ningkatkeun kaimanan, supados ngahontal darajat kawalian dugi kana tingkat ma'rifat ku mangrupi dzikir, nyeueurkeun amal soleh, sareng sajabina.

4. GHOFIL/GHOFILUN ( الغَافِلُ – الغَافِلُوْنَ )

Hartosna: Jalmi anu ibadah ka Alloh tapi manahna malaweung, manahna teu ngiring ibadah, hilap kanu nyiptakeun, henteu gaduh rasa diteuteup sareng di tingal ku Alloh, jongjon tonggoy ngumbar rasa, ari badan mayun ka Alloh tapi manahna cuscos kaditu kadieu.

5. MUBTADI/MUBTADIUN ( المُبْتَدِئُ – المُبْتَدِئُوْنَ )

Hartosna; Jalmi anu diajar ibadah, tur ibadahna ikhlas karana Alloh, namung aya kasieun, upami dirina henteu ibadah sieun henteu di rohmat ku Alloh di dunya, pedah sok aya karaosna, upami henteu tahajud teh sok rada seuseut rizki sareng sajabina, janten ku ibadahna aya maksad sejen nyaeta hoyong hasil maksad dina masalah dunya.

6. 'ABID/'ABIDUN ( العَابِدُ – العَابِدُوْنَ)

Hartosna; Jalmi ahli ibadah tur ibadahna ikhlas karana Alloh, namung dibalik eta dirina miharep kana ganjaran ukhrowi, sapertos hoyong ganjaran surga sareng sieun siksa naraka.

7. 'ARIF/'ARIFUN ( العَارِفُ – العَارِفُوْنَ )

Hartosna; Jalmi anu ma'rifat anu imana tos dugi kana salah sawios tingkatan iman anu tilu nyaeta:

1)   Iman 'Ilmul Yaqin.

Nyaeta jalmi anu ngayakinkeun kana sifat 'Ilmu, sifat Sama', sareng Bashorna Alloh, dugika eta kayakinan ngajantenkeun rasa, tegesna jalmi anu gaduh rasa yen dirina di sarengan ku Alloh, manahna teu lesot tina rasa di teuteup sareng di dangu ku Alloh, dugika ngaraoskeun yen dirina asa dihadiran ku Alloh (asa papayun-payun paduduaan), sanaos dirina campur gaul sareng batur tapi hatena henteu tagiwur.

Jalmi anu imana dugi kana iman 'Ilmul Yaqin maqomna disebat maqom MUROQOBAH, hartosna rasa di tingali di intip ku Alloh.

2)   Iman Haqqul Yaqin.

Nyaeta jalmi anu ngayakinkeun kana sifat Qudrot sareng Irodat Alloh, tegesna titingalian ladang soca, kukupingan ladang cepil, sareng sagala rupi anu karaos ku anggota badan dianggo jembatan emas kanggo muhadloroh sareng musyahadah ka Alloh, dina hartos soca ningal makhluk tapi manahna malatas dugi kanu ngadamel eta makhluk (Alloh), socana ningali kana tapak Qudrot Alloh, sapertos ningali gunung, ningali tatangkalan sareng sajabina, tapi manahna malatas tafakur dugi ka Alloh nu ngadamelna. Jalmi anu kieu, maqomna disebat maqom MUSYAHADAH, hartosna; rasa di payunan, papayun-payun sareng Alloh.

3)   Iman 'Ainul Yaqin.

Nyaeta jalmi anu ngayakinkeun kana sifat Hayatna Alloh dugika gaduh rasa anu hirup teh mung Alloh wungkul, sadaya makhluk teu aya (teu kabandungan ku hatena), da anu aya mah ngan Alloh wungkul, tegesna manahna henteu tiasa ngabandungan kana gerak gerik makhluk margi kahalangan ku eling ka Kholiqna. Jalmi anu karanjingan ku sifat Hayat calik dina maqom FANA, (disebat Wali Majdub).

Sadaya mu'minin kedah ngusahakeun sangkan imanna ningkat dugi kana tingkat ma'rifat, boh dugi kana iman 'Ilmul Yaqin (maqom Muroqobah) atanapi iman Haqqul Yaqin (maqom Musyahadah), namung teu kenging  (haram) ngusahakan dugika Iman 'Ainul Yaqin (Maqom Fana) alias janten Wali Majdub, margi Wali Majdub mah tos teu emut kana syare'at kahalang ku eling ka Kholiqna, tapi nu haram teh ngusahakeunana, atuh upami dipasihan langsung ku Alloh mah sae kabina-bina.

8. SALIK / SALIKUN ( السَّالِكُ – السَّالِكُوْنَ )

Hartosna, Jalmi anu nyukcruk kana jalur ka ma'rifatan, boh ku jalan istiqomah dina ngalakonan amal ibadah, atanapi ku jalan tafakkur sareng tadzakkur (dzikir) bari dirina miharep hoyong dipasihan ma'rifat ku Alloh.

9. MURID/MURIDUN  (المُرِيْدَ – المُرِيْدُوْنَ  )

Hartosna, teu benten sareng Salikun, nyaeta; "anu ngalakonan amal bari ikhlas karana Alloh". Namung Muridun mah henteu gaduh maksad sareng tujuan anging palay rido Alloh wungkul, sanes palay ma'rifat. Da kama'rifatan mah mangrupikeun nugraha nu dipasihkeun ku Alloh langsung ka abdina anu dipicinta ku Anjeuna. Atuh teu ma'rifat teh teu doraka, anu doraka mah nu teu istiqomah dina ngalakonan ibadah, janten anu di penting keun ku para Muridun mah ngusahakeun sangkan dirina istiqomah dina ngalaksanakeun tugas sareng parentah.

10. AHLI HIKMAH/HUKAMA (الحِكْمَةُ – اَلْحُكَمَاءُ  )

Ari hartos "hikmah" nyaeta;  adil, hilim, jatnika, ari Ahli Hikmah anu aya dina Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 269, nyaeta; jalmi anu terang kana hukum-hukum Fiqh, terang kana ma'na Alquran sareng Alhadits, disebatna HUKAMA, darajatna saluhureun 'ULAMA, saur Alloh;

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًاط وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو اْلأَلْبَابِ

"Alloh masihkeun al-hikmah (faham pisan kana eusi quran sareng hadits) ka saha bae sakersana, jeung saha anu dipasihan al-hikmah maka nyata parantos dipasihan kahadean anu seueur, jeung teu pati-pati ngarti (kana dawuh Alloh) kajaba jalma anu boga akal".

Sabtu, 09 Maret 2019

Tafsir Sufi Al-Kafirun

Direktur Sufi Center KH M. Luqman Hakim menjelaskan tafsir Surat Al-Kafirun dalam perspektif sufi. Hal ini untuk memberikan pemahaman bahwa perilaku kafir juga harus menjadi cerminan diri setiap Muslim, bukan justru untuk menuding orang lain.

Kiai Luqman tidak memungkiri bahwa banyak kata Kafirun, Musyrikun di dalam Al-Qur'an. Tetapi hal itu untuk tataran teologis, bukan pada tataran Kewarganegaraan. Bahkan konsep Tata Negara dalam Al-Qur'an tidak ada.

“Apalagi menyebut Negara Islam. Justru inilah universalitasnya Islam yang memberi ruang peradaban secara kreatif dinamis,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Selasa (5/3) lewat twitternya.

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kelompok yang masuk kategori kafir dalam tataran teologis, cukup sebut mereka sebagai warga negara non-Muslim. Hal ini menurut Kiai Luqman sama sekali tidak mengubah sebutan kafir di dalam Al-Qur’an menjadi non-Muslim.

“Tidak boleh diganti (sebutan kafir dalam Al-Qur’an),” tegas Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu.

Karena definisi kafir itu apa? Kalau Allah menyebut, “Katakan, hai orang-orang kafir...”  Ayat itu, menurut Kiai Luqman, juga bermakna kekafiran hati manusia yang selama ini menyembah hawa nafsu, dunia, dan makhluk.

Sebab itu, Kiai Luqman mengungkapkan tafsir sufi dari Surat Al-Kafirun untuk menjadi cerminan bagi setiap Muslim, sebagai berikut:

Tafsir Sufi Al-Kafirun 1

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ
.
Katakan, wahai orang-orang yang hatinya kufur karena terhijab dari Allah, hingga matahatinya buta, lalu hanya memihak hawa nafsu, setan, dunia, dan segala hal selain Allah.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 2

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ
.
Aku tidak menyembahmu, karena yang kamu sembah bukanlah Tuhan. Tetapi ilusi tentang Tuhan, atas nama Tuhan, sehingga jadi berhala-berhala kegelapan. Aku adalah Qalbu yang kemilau Cahaya-Nya, tak mau memihak gairah nafsumu pada kegelapan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 3

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ
.
Kamu pun tak akan pernah menuhankan apa yang aku sembah, karena jika dirimu memasuki Cahaya-Nya, akan terbakar dalam siksa hijab di neraka kegelapanmu. Akulah dilimpahi Cahaya hingga bersambung dengan-Nya. Kamu tidak.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 4

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ
.
Dan aku tidak menyembah dalam perbudakan nafsumu sebagaimana perbudakanmu. Mustahil aku menyembah pada yang sesungguhnya tidak ada. Ilusimu hijab yang memblokir dirimu, hingga bayangan kau sembah sebagai kenyataan.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 5

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ
.
Kamu dengan segala dusta kegelapanmu jangan pernah mengklaim telah menyembah apa yang aku sembah. Jangan lihat Cahaya-Ku dengan mata gelap tertutupmu.

Tafsir Sufi Al-Kafirun 6

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
.
Bagimu agamamu yang memperbudak dirimu dalam siksa hijab, dengan kesesatan hawa nafsumu. Dan bagiku agamaku dengan limpahan Cahaya Ridho, Fadhal dan Rahmat-Nya, sehingga aku menyembah-Nya, Dari-Nya, Kepada-Nya, Bersama-Nya, Bagi-Nya.

“Tafsir Sufi Al-Kafirun di atas untuk mendidik hawa nafsu kita sendiri. Bukan menuding orang lain. Tengoklah diri kita sendiri isinya hanya full  kegelapan (Robbanaa dzolamnaa anfusana). Apa yang kita sombongkan? Banggakan? Andalkan?” tandas Kiai Luqman.

Minggu, 16 Desember 2018

WALI QUTHUB DAN SANG PENDOSA

خرج سيدي الشيخ عبد القادر الجيلاني من منزله ومعه مريديه ، ، ،

ومروا على رجل نائم على الأرض وقد غلب عليه الخمر فوقف الشيخ على رأسه والسكران ينظر إليه ...

فقال : ياشيخ عبد القادر أليس الله بقادر فابتسم الشيخ وقال نعم قادر !!

فقال السكران : ياعبد القادر أليس الله بقادر !!!

فقال الشيخ : نعم قادر فقال السكران يا عبد القادر أليس الله بقادر فارتعد الشيخ وسقط على الأرض مغمى عليه والمريدون لا يفقهون شيا وبعد أن إستفاق الشيخ سأله مريديه على ما حصل بينه وذلك السكران ...

فقال : سألني في الأولى  وكان يعني في باطنه هل يقبل الله توبته  فقلت نعم قادر ، والثانية يعني هل يجعلني الله مثلك فقلت نعم قادر ، وفي الثالثة  كان يعني هل يجعلك الله مثلي فخفت من مكر الله وسوء الخاتمة فسقطت على الأرض .. 
اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها ''

               •┈┈┈••✦✿✦••┈┈┈•

Alkisah Syekh Abdul Qadir Al Jailaniy keluar rumah beserta murid-murid beliau hingga mereka bertemu dengan seorang laki-laki yang tidur terlentang di atas tanah, mabuk berat karena pengaruh khomer. Beliau berdiri di atas kepala laki-laki tsb sedangkan laki-laki tsb memandangi beliau lalu bertanya :

"Wahai Syekh  Abdul Qadir, bukankah Allah Maha Kuasa ??"

Syekh Abdul Qadir tersenyum dan menjawab: "Ya, Benar. Allah Maha Kuasa."

Lalu si pemabuk tadi melanjutkan pertanyaannya:
"Wahai Syekh  Abdul Qadir, bukankah Allah Maha Kuasa ??"

Syekh Abdul Qadir menjawab: "Ya, Benar. Allah Maha Kuasa."

Lalu si pemabuk bertanya lagi :"Wahai Syekh  Abdul Qadir, bukankah Allah Maha Kuasa ??"

(Namun kali ini) Beliau menggigil gemetar lalu roboh ke bumi dan pingsan. Murid-murid beliau panik, tidak faham apa yg sedang terjadi.

Setelah beliau bangun dan sadar, para murid menanyakan tentang apa yg telah terjadi antara beliau dan si pemabuk tadi. Lalu beliau bercerita :

"Pada pertanyaan pertama tadi si pemabuk tadi, di dalam hatinya, menanyakan kepadaku: "Apakah Allah bisa menerima taubat dia...??" Jawabku: "Ya, benar. Allah Maha Kuasa (untuk menerima taubat Anda)."

"Pada pertanyaan kedua, dia bertanya: "Bisakah Allah menjadikan Aku sepertimu (menjadi orang Sholih dan Wali Quthub)..?? Jawabku: "Ya, Benar. Allah Maha Kuasa."

"Pada pertanyaan yang ketiga dia bertanya: "Mampukan Allah menjadikan Engkau seperti Aku (ahli fasiq/tukang mabuk)...???"

"(Ketika mendengar pertanyan ketiga ini) Maka aku sangat mengkhawatirkan makar Allah dan takut mati dalam keadaan su-ul khotimah hingga aku pingsan roboh ke bumi."

SEMOGA ALLAH MEMPERBAIKI SEMUA HASIL PERBUATAN KITA....

WALLAHU A'LAM....

Selasa, 28 November 2017

RIYA Penghambat Perjalanan Menuju Allah

.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
Dalam menempuh perjalanan menuju Allah (suluk), kendaraan yang digunakan oleh para salik (yang melakukan perjalanan menuju Allah) adalah ibadah, baik ibadah mahdloh seperti dzikir, sholat, shaum, haji dll. Ataupun ibadah ghoir mahdloh seperti shodaqoh, silaturahmi, menjamu tamu dll.....

Apabila qalbu diibaratkan sopirnya, maka kalbu inilah yang memegang kendali terhadap laju ibadah kita.
Ibadah yang salik lakukan akan membawanya kepada Allah ketika qalbu bersih dari segala sifat-sifat yang dapat menghambat atau bahkan memalingkannya dari perjalanan tersebut.

Diantara sifat qalbu yang dapat memalingkan kendaraan ibadah dari jalan Allah adalah riya. Riya ini merupakan musuh bagi para pencari pahala, apalagi mereka para pencari Tuhan. Karena dengan riya, pahala akan hangus, dari Tuhanpun jauh.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi : 110)

Menurut imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hakikat riya adalah mencari kedudukan di qalbu manusia dengan cara menampakkan ibadah dan kebaikan-kebaikan. Pengertian ini bukanlah larangan untuk menampakkan ibadah, namun lebih kepada larangan agar jangan mencari kedudukan di qalbu manusia, jangan ingin dihargai dan dipuji.....
Selanjutnya Imam Al-Ghazali menyebutkan sebagian besar sarana riya berasal dari 5 hal, yaitu : badan, ucapan, keadaan dan pakaian, amal, serta banyaknya murid atau pengikut.

Bentuk-bentuk riya dari ke-5 sarana di atas sangat banyak sekali, diantaranya:

1. Badan;
- menampakkan keletihan, kepucatan supaya dikira banyak memikirkan urusan agama, kurang tidur karena tugas da'wah dan ibadah malam.
- memperlihatkan keringnya bibir agar diketahui sedang shaum
- bagi sebagian pengamal tarekat ada yg suka menggerak-gerakan telunjuknya, apabila dalam hal itu terselip tujuan ingin diketahui orang lain bahwa qalbunya snantiasa dzikir khofi, maka termasuk kategori riya
- menundukkan kepala saat duduk bersama orang lain agar dikira sedang bermusyahadah
- dan lain-lain

2. Suara/ucapan;
- mengucapkan kata-kata mengandung hikmah supaya disangka luas wawasan dan ma'rifatnya
- berbicara pelan, agar dikira waro' 
- cepat-cepat mengatakan hadits ini shahih atau palsu agar dikira banyak ilmu
- mengucapkan subhanallah atau dzikir lain saat menemukan musibah atau hal-hal yang mengagumkan agar disangka orang shaleh yang paling mengamalkan sunah.
- menjerit ketika berdzikir supaya dianggap dzikirnya khusyu, tembus kedalam rasa.
- dan lain sebagainya

3. Keadaan dan pakaian;
- memanjangkan janggut dan mencukur kumis agar diduga paling berpegang pada sunnah
- memakai pakaian lusuh supaya disangka waro' dan qona'ah
- ada keinginan disebut ahli sujud dengan adanya bekas sujud di jidat
- dll

4. Amal perbuatan;
- lama ketika berdiri, sujud dan ruku dalam sholat karena ingin disebut khusyu
- banyak puasa karena ingin disebut ahli ibadah
- menundukkan kepala ketika berjalan karena ingin dikenal sebagai orang yang khusyu
- melaksanakan haji dan ada keinginan dihargai manusia lain
- dll

5. Banyak murid dan pengikut;
- ingin dihargai orang lain dengan menampakkan banyak tamu yang berkunjung
- menceritakan santrinya banyak supaya orang lain mengakui kehebatan ilmu dan pengaruhnya
- dll

Lalu bagaimana jika dalam amal kita ternyata masih ada riya?
- sadari itu keliru dan mohon ampunan Allah
- lanjutkan beramal, kemudian setiap terlintas keinginan untuk dihargai dan disanjung manusia, cepat-cepat putuskan keinginan itu dengan dzikir khofi. Atau luruskan niat, bahwa kita beramal semata-mata hanya karena Allah.

والله اعلم بالصواب

Selasa, 14 November 2017

SIFAT NYA DUNIA

��Nasihat Ibnu 'Athoillah: Sifatnya Dunia��

لا تستغرب وقوع الأكدار مادمت في هذه الدار فإنها ما أبرزت إلا ما هو مستحق وصفها و واجب نعتها
"Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni menjadi sifatnya."

Jangan merasa aneh dengan berbagai macam kesusahan selagi engkau masih hidup di dunia.... Tidak selayaknya seseorang yang masih hidup di dunia ini mengharap rehat dan ketenangan hati (jiwa). karena, Allah sudah menciptakan dunia sebagai tempatnya ujian dan cobaan, maka pastilah kesusahan itu masih tetap ada selama engkau masih berada di dunia. jangan mengharapkan ada istirahat (dari kesusahan).
Kalian gemar mencari dua perkara, padahal kalian tidak akan mendapatkannya: yakni, istirahat dan bahagia di dunia, sementara keduanya hanya ada di surga. Rosulullah bersabda: "Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir."

Sungguh tidak ada yang ditampakkan di dunia, kecuali kesusahan. Karena kesusahan sudah dijadikan sifatnya dan ditetapkan sebagai yang layak baginya.

  Abdulloh bin Mas'ud rodhiyallohu 'anhu berkata: "Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan."

Syeikh  Jafar As-shoddiq rodhiyallohu 'anhu berkata:
من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ
"Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Alloh, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia."

Syeikh  Junaid al-Baghdadi rodhiyallohu anhu berkata: "Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambutku dengan segala kesulitan dan penderitaan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan, maka itu adalah suatu karunia dan kelebihan.

" Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam berkata kepada Abdulloh bin Abbas: Jika engkau dapat beramal karena Alloh dengan ikhlas dan keyakinan, maka laksanakanlah dan jika tidak dapat, maka sabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesulitan itu suatu keuntungan yang besar."

  Umar bin Khottob radhiyallohu 'anhu berkata kepada orang yang dinasehatinya: "Jika engkau sabar, maka hukum [ketentuan - takdir] Alloh tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Alloh sedang engkau berdosa."

Maka apapun yang menimpa dirimu tetaplah berserah diri kepada Alloh dengan penuh kesabaran, sebab ketentuan Alloh pasti akan terjadi padamu.

والله اعلم بالصواب

Kamis, 12 Oktober 2017

Jangan meremehkan kebaikan sekecil apapun

Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah... barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia... barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu.. yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI.... SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».
“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)

Senin, 09 Oktober 2017

JANGAN GALAU, DUNIA INI INDAH

Bumi selalu disebut dengan dunia, sehingga bila disebut dunia maka yang dimaksud adalah bumi, seperti penjuru dunia yang berarti penjuru bumi. Walaupun tak seindah Surga, tapi dunia sudah cukup indah untuk membuat hati siapapun nyaman tinggal di situ. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ
“Sesungguhnya dunia ini nikmat dan indah. Dan Allah SWT menjadikan kalian khalifah di dunia ini, maka Allah SWT memperhatikan bagaimana kalian beramal (di dunia ini).” [HR. Muslim]

Manusia identik dengan hawa nafsu, sedangkan hawa nafsu itu sama dengan penyakit badan yang cenderung mengganggu kepekaan panca indra, maka barangsiapa yang dikendalikan oleh hawa nafsunya iapun akan kehilangan kepekaan terhadap manis dan indahnya dunia, sehingga hidupnya dipenuhi dengan kegelisahan dan kesedihan. Keidentikan manusia dengan hawa nafsu kemudian merubah presepsi kebanyakan manusia terhadap dunia, seolah-olah dunia ini tempat keresahan dan kesusahan, sehingga sering kita dengar orang berkata: “Kalau nggak mau susah ya jangan hidup di dunia!” Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya menyenangkan, kemudian hawa nafsu mematikan kepekaan kebanyakan manusia sehingga mereka mudah gelisah walaupun keperluan hidup serba cukup.

Ketika hidup di dunia kemudian identik dengan kegelisahan dan kesedihan, maka Al-Qur’an menawarkan sebuah tip untuk lepas dari kegelisahan dan kesedihan itu. Ketika menceritakan proses turunnya Nabi Adam ke bumi yang kemudian dianggap sebagai tempat kesusahan, Allah SWT berfirman:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berkata: Turunlah kalian semua. Sungguh, nanti akan datang pada kalian sebuah petunjuk, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.” [QS. Al-Baqarah : 38]

Yang dimaksud “kalian semua” adalah  Nabi Adam, Siti Hawwa dan semua keturunan yang akan dilahirkannya. Maka yang dituju oleh firman Allah SWT ini adalah semua manusia. Maksud ayat ini adalah bahwa manusia dihadapkan pada kehidupan dunia yang dipenuhi dengan godaan hawa nafsu, sedangkan hawa nafsu menjebak manusia pada jeratan rasa cemas dan sedih; cemas akan masa depan dan sedih atas masa lalu. Namun Allah SWT menyediakan sebuah petunjuk agar manusia bisa selamat atau terlepas dari jebakan itu, petunjuk itu adalah Nabi dan syari’atnya, yang untuk manusia saat ini adalah Al-Qur’an.

SYARAT BAHAGIA DI DUNIA

Kebanyakan orang berlebihan didalam memberi syarat untuk menjadi orang yang sangat bahagia, setidaknya mereka mencatat harus berbadan sehat, banyak harta, jabatan tinggi dan keluarga besar yang menyenangkan. Ketahuilah bahwa semua itu adalah bagian utama dari rekayasa syetan. Mereka mau kita pesimis dari awal, maka mereka menggambarkan kebahagian dengan sesuatu yang banyak syarat dan susah dicapai. Padahal, syarat untuk selalu bahagia hanya dua saja, yaitu asal tidak cemas dan tidak sedih. Dalam keadaan apapun, baik sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, berpangkat maupun menjelata, keluarga baik-baik maupun tidak sesuai harapan, asalkan tidak ada rasa cemas dan sedih maka nikmat dan indahannya dunia ini tidak kurang membuatnya bahagia.

Bukti bahwa kesehatan, kekayaan dan pangkat bukanlah syarat cukup untuk mencapai bahagia, adalah betapa banyaknya orang penting yang sehat dan kaya raya, tapi mereka susah untuk menikmati hidupnya, untuk bisa tidur pulas saja mereka harus mengkonsumsi obat tidur, bahkan ada diantara mereka yang ingin melupakan hidupnya dengan mengkonsumsi narkoba.

Bukti bahwa bahagia itu cukup asal tidak takut dan tidak sedih, adalah kita sendiri ketika dulu sebelum baligh. Seorang bayi sudah tertawa lebar hanya dengan gantungan mainan, seorang anak TK sudah sangat ceria hanya dengan bermain ayunan, seorang anak SD sudah sangat gembira hanya dengan bermain kelereng.

Jadi, untuk bisa bahagia dan gembira, kita hanya perlu “tidak cemas” dan “tidak sedih”, asalkan tidak cemas dan tidak sedih maka semua benda di dunia ini dapat menghibur hati kita.

PENYEBAB CEMAS DAN SEDIH

Syarat untuk bahagia cukup asal tidak cemas dan tidak sedih. Lalu bagaimana agar tidak cemas dan tidak sedih? Atau apa penyebab rasa cemas dan sedih? Maka ketahuilah bahwa virus yang menyebabkan rasa cemas dan sedih adalah dosa karena menuruti hawa nafsu, hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa manusia mulai mengenal rasa galau setelah mereka baligh, karena setelah baligh itulah mereka mulai mengenal dosa! Semakin banyak dosa semakin susah untuk menikmati dunia. Didepan orang lain, para pendosa bisa menutupi kegalauan mereka, tapi ketika sendiri menjelang tidur, begitu payahnya mereka ketika harus minum obat tidur agar bisa tidur, sebagian mereka bahkan ingin tidur untuk selamanya.

Orang yang terlanjur galau sehingga dunia terlihat suram di hatinya, sama dengan orang yang terlanjur sakit sehingga gula terasa pahit di lidahnya. Cara untuk mengembalikan wajah asli dunia yang menawan sama dengan cara mengembalikan rasa asli gula yang manis, yaitu berobat. Maka obat untuk hati yang tidak dapat menikmati indahnya dunia adalah taubat dari dosa, sedangkan untuk mempertahankan kepekaan hati terhadap indahnya dunia maka harus selalu mengikuti petunjuk Allah; Al-Qur’an.

Terlepas dari agama apa yang dianut, fakta membuktikan bahwa siapapun yang terlatih mengendalikan hawa nafsu maka ia lebih mudah mempertahankan kepekaan terhadap indahnya dunia, ia lebih mudah bersikap arif dalam kondisi apapun. Hanya saja, terlalu sulit pelatihan itu tanpa bimbingan agama. Dan dari sekian agama yang yang menawarkan konsep bimbingan, Islam dengan Al-Qur’annya terbukti sebagai pilihan yang paling peduli terhadap bimbingan ruhani.

Dikutip dari Buku
Inspirasi Al-Qur'an Vol 2
(Jadikan Hidupmu Surga)
Inspirasi # 45
Tadabbur Surat Al-Baqarah [2] : ayat 38

Selasa, 19 September 2017

Cara mengetahui posisi kita di sisi Allah


‎قالوا : مقامك حيث أقامك
Para ulama' berkata: "Kedudukanmu disisi Allah sesuai dengan dimana engkau sekarang ini di dalam kesibukamu.

‎إذا أردت أن تعرف قدرك عند الله ، فانظر أين أقامك ؟
Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu disisi Allah maka lihatlah, dimanakah sekarang ini kesibukan aktifitasmu.

‎فإذا شغلت بالذكر فاعلم أنه يريد أن يذكرك
Jika engkau tersibukkan diri dengan dzikir, maka ketahuilah bahwasannya Allah menginginkan untuk mengingatmu..

‎إذا شغلت بالقرآن ، فاعلم أنه  يريد أن يحدثك
Jika engkau tersibukkan dengan Al-Qur'an maka ketahuilah bahwasannya Allah menginginkanmu untuk berbicara atau berinteraksi denganmu..

‎ إذا شغلت بالطاعات ، فاعلم أنه  قربك
Jika engkau tersibukkan dengan ketaatan-ketaatan, maka ketahuilah bahwasannya Allah mendekatimu..

‎إذا شغلت بالدنيا ، فاعلم أنه  أبعدك
Jika engkau tersibukkan dengan dunia, maka ketahuilah bahwasannya Allah menjauhimu..

‎ إذا شغلت بالناس ، فاعلم أنه  أهانك
Jika engkau tersibukkan dengan manusia, maka ketahuilah bahwasannya Allah menghinakanmu..

‎إذا شغلت بالدعاء ، فاعلم أنه  يريد أن يعطيك
Jika engkau tersibuk-kan dengan do'a, maka ketahuilah bahwasannya Allah menginginkan memberikan sesuatu kepada dirimu..

‎اللهم اعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Yaa Allah... bantulah kami agar selalu mengingat-MU, mensyukuri-MU dan agar mampu beribadah kepada-MU dengan sebaik-baiknya..

‎يالله بالتوفيق حتى نفيق ونلحق الفريق
Mudah-mudahan kita mendapat taufiq sehingga kita bisa di golongkan dengan orang-orang sholeh..

Jumat, 01 September 2017

Makna Takbir

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmengerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus antara kita dan dunia. Kita mi’raj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi “lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian”. Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Na’udzubillah

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, “disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?”

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Senin, 12 Juni 2017

Belajar Sabar


قال الفضيل بن عياض رحمه الله :
Berkata Al-Fudhail bin 'Iyaadh Ra

ﺗﻌﻠﻤﺖ ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻣﻦ ﺻﺒﻲ ﺻﻐﻴﺮ؛
Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil

ﺫﻫﺒﺖ ﻣﺮّﺓ ﻟﻤﺴﺠﺪ ، ﻓﻮﺟﺪﺕ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺩﺍﺧﻞ ﺩﺍﺭﻫﺎ ﺗﻀﺮﺏ ﺍﺑﻨﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﻳﺼﺮﺥ ،  ﻓﻔﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻭﻫﺮﺏ ، ﻓﺄﻏﻠﻘﺖ دونه ﺍﻟﺒﺎﺏ
Suatu saat aku berangkat ke masjid, aku mendapatkan seorang perempuan, didalam rumahnya memukul putranya, sehingga sang anak tersebut berteriak, sang anak langsung membuka pintu rumahnya dan lari... sang ibu-pun menurup pintu rumahnya begitu saja...

ﻓﻠﻘﻴﺖ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﺑﻌﺪﻣﺎ ﺑﻜﻰ ﻗﻠﻴﻼً ،،
Aku bertemu dengan sang anak tersebut setelah sedikit dari isak tangisnya

نظر يمينا ويسارا فلم يجد له مأوى ،
Sang anak menoleh ke kanan ke kiri, dia tidak mendapatkan tempat untuk beristirahat

فرجع إلى أمه فوجد الباب مغلقا ، فوضع خده على عتبة الباب ونام ..
Maka dia-pun kembali kepada ibunya, tapi dia mendapatkan pintu rumahnya sudah terkunci... dia pun bersimpuh di depan pintu sambil menempelkan pipinya di daun pintu, dia-pun tertidur

فلما خرجت أمه  ورأته على تلك الحال ,
Ketika sang ibu keluar, dia mendapatkan anaknya dalam keadaan itu

لم تمتلك إلا أن رمت بنفسها عليه وأخذت تقبله
Sang ibu tak kuasa melihat keadaan anaknya tersebut kecuali dia langsung memeluk sang anak dan menciumnya

وتقول : يا ولدي ، أين تذهب عني ؟ من يؤويك سواي ؟ ألم أقل لك لا تخالفني !!
Sang ibu berucap; wahai anak-ku... kemanakah engkau akan pergi meninggalkanku??? siapa yang akan engkau tuju selain aku??? Bukankah aku katakan padamu jangan engkau menentang perintah dan aturanku??

ثم ضمته إلى صدرها وأدخلته إلى بيتها
Sang ibu memeluk dengan erat didadanya dan sang ibu memasukkkan sang anak ke dalam rumahnya

ﻓﺒﻜﻰ ﺍﻟﻔﻀﻴﻞ ﺣﺘﻰ ﺍﺑﺘﻠﺖ ﻟﺤﻴﺘﻪ ﺑﺎﻟﺪﻣﻮﻉ ﻭﻗﺎﻝ:
Menangislah Al-Fudhail sampai membasahi jenggot beliau seraya berkata

ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻟﻮ ﺻﺒﺮ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻋﻠﻰ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ - ﻟﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ !
Maha suci ALLAH... andai seorang hamba bersabar didepan pintu ALLAH SWT, niscaya ALLAH akan membuka pintu rohmat untuk-nya

ﻗﺎﻝ " ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ " ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ :
Berkata Abud Darda' ra
"ﺟﺪّﻭﺍ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻣﻦ ﻳﻜﺜﺮ ﻗﺮﻉ ﺍﻟﺒﺎﺏ ، ﻳﻮﺷﻚ ﺃﻥ ﻳﻔﺘﺢ ﻟﻪ".
Bersemangatlah kamu sekalian didalam berdoa... maka sesungguhnya seseorang yang selalu mengetuk pintu ALLAH... maka ALLAH akan membuka pintu rohmat baginya..

*Fhoto hanya pemanis

Minggu, 21 Mei 2017

TETANGGA DI SURGA

(حكي) إن أبا يزيد البسطامي رحمة الله عليه يوما من الأيام ناجى ربه فطاب قلبه ورق فؤاده وطار عقله إلى العرش فقال في نفسه هذا مقام محمد سيد المرسلين عليه الصلاة والسلام عسى أن أكون جارا له في الجنة فلما أفاق نودي في سره فقال إن عبد فلان الشيخ الإمام في بلدة كذا يكون جارك في الجنة فلما أفاق ذهب في طلبه حتى يرى وجهه فمشى مائة فرسخ أو أكثر فلما بلغ إلى تلك البلدة وسأل عن عبد الشيخ فقالوا لماذا تسأل عن الفاسق شارب الخمر وأنت رجل في وجهك سيما الصالحين فلما سمع أبو يزيد هذه المقالة ندم واغتنم وقال لعل ذلك النداء كان من الشيطان فأراد أن يرجع إلى وطنه ثم تفكر وقال جئت إلى هنا ولم أر وجهه وأرجع فقال أين بيته وأين موضعه فأخبروه فقالوا إنه مشغول بالشرب في موضع كذا فذهب إلى ذلك الموضع فرأى أربعين رجلا اجتمعوا في موضع الشرب يشربون الخمر والعبد جالس بينهم فلما رأى هذه الحالة رجع آيسا فنادى العبد وقال يا أبا يزيد ياشيخ المسلمين لم لم تدخل الدار جئت إلينا من مكان بعيد بالتعب والمشقة لطلب جارك في الجنة فوجدته وترجع سريعا بلاسلام ولاكلام ولالقاء فتحير أبو يزيد وتعجب قال أبو يزيد في نفسه هذا سر كيف عرفه هذا فقال العبد ياشيخ لاتتفكر ولاتعجب الذي أرسلك إلي أعلمني عن قدومك ادخل ياشيخ واجلس معنا ساعة فدخل أبو يزيد وجلس عنده وقال يافلان ماهذه الحالة فقال العبد ليس من همة الرجل أن يدخل الجنة مع واحد وأن هؤلاء كانوا ثمانين رجلا فساقا فاجتهدت في أربعين فتابوا ورجعوا عن فسقهم وصاروا رفقائي في الجنة وجيراني وبقي هؤلاء الأربعون فعليك أن تجتهد فيهم وتمنعهم عن هذه الحالة لأجل قدومك فلما سمعوا هذه المقالة وعرفوا أن هذا الشيخ أبو يزيد البسطامي رحمة الله عليه تابوا كلهم وصاروا اثنين وثمانين رجلا رفقاء وجيرانا في الجنة.

Suatu hari, tatkala Syeh Abu Yazid Al-Busthomi begitu khusyu’ bermunajat kepada Alloh SWT , hatinya terasa begitu lapang. Tanpa sadar beliau terbawa suasana yang melambungkan akalnya hingga melayang sampai ke Arasy.
Sempat terbesit di hatinya: “Inilah tempat Muhammad SAW. Mungkin besok aku dapat hidup sebagai tetangganya di surga sana.”
Ketika kembali dapat menguasai diri, beliau lalu dikejutkan dengan datangnya suara tanpa wujud berucap sesungguhnya  si fulan yg tinggal di sebuah perkampungan sana adalah tetanggamu di surga nanti ,

Setelah itu, beliau segera beranjak untuk mencari si fulan sampai ketemu , beliau berjalan kaki sampai menempuh jarak lebih dari 100 farsakh ( sekitar 560 KM )

Sesampainya tempat yg dituju , Abu Yazid bertanya. “Apakah kalian kenal seseorang yang bernama si fulan ?” Lalu orang kampung menjawab dengan rada sinis, “Untuk apa engkau mencari orang yang fasik dan ahli minum itu, sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang di mukamu ada tanda-tanda kesholehan.”

Mendengar keterangan yang diberikan orang kampung tersebut membuat Abu Yazid menyesal , hatinya diselubungi rasa was-was. Beliau berbisik dalam hati, “Ah, barangkali suara gaib yang kudengar itu adalah suara syaithon

Lalu beliau ingin pulang namun beliau juga berfikir matang-matang , aku telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sekarang sudah berada di kampung di mana si fulan berada , kenapa harus pulang sedangkan aku belum ketemu,

Akhirnya, beliau memberanikan diri untuk bertanya lagi di mana si fulan berada. “Tahukah di mana rumah si fulan dan dimana ia berada ?”
Orang kampung kembali menjawab, “Saat ini si fulan sedang sibuk minum arak di sebuah kedai "

Berangkatlah Abu Yazid ke sebuah kedai yg dituju , beliau melihat sekumpulan 40 orang yg lagi asyik minum arak , juga ada  seseorang yg duduk diantara mereka.

Melihat kenyataan itu tentu saja membuat Abu Yazid terpana lalu pulang ,

tiba-tiba si fulan itu menyapanya, “Hai Abu Yazid Syaikhul Islam, kenapa engkau tidak suka masuk ke kedai ini ? Engkau datang dari jauh khusus untuk mencari seseorang yang akan menjadi tetanggamu besok di surga. Tapi setelah bertemu, kenapa engkau tinggalkan begitu saja tanpa salam , tanpa menyapa juga tanpa mau bertatap muka ?”

Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut si fulan, Abu Yazid tambah bingung dan heran. Hatinya pun bertanya-tanya, “Ini adalah misi rahasia  tapi kenapa si fulan ini benar-benar tahu maksud kedatanganku ?

Si fulan berkata

“Hai…Syaikhul Islam, tak perlu engkau heran dan berfikir , Dzat yg mengutusmu untuk menemuiku  Dialah yang telah memberitahu diriku akan maksud kedatanganmu. Maka masuk dan duduklah sejenak bersamaku.”

Abu Yazid berkata, “Hai fulan, apa maksudmu dengan semua ini?”

Si fulan menjawab dengan nada santai, “Bukanlah seorang laki-laki apabila bercita-cita masuk surga sendirian tanpa mengajak teman. Ketahuilah, sebenarnya yang berada di kedai ini semuanya berjumlah 80 orang pemabuk. Tetapi yang 40 orang telah kunasehati sehingga mereka bertobat memohon ampun kepada Alloh SWT dan merekalah yang jadi teman sekaligus tetanggaku disurga nanti .. karena kamu sudah datang maka 40 orang selebihnya yang masih senang bermabuk-mabukan di kedai ini merupakan kewajibanmu. Tugasmu sekarang menasehati mereka agar sadar dan bertobat.”

Ketika 40 orang yg tersisa mendengar perbincangan ini dan mengetahui bahwa sang syeh ini adalah Syaikhul Islam Abu Yazid Al-Busthomi Rahimahulloh , maka 40 orang pemabuk tersebut segera bertobat kepada Alloh SWT dan memohon ampun kepada-Nya , jadilah 82 orang menjadi teman dan tetangga kelak disurga nanti

Sumber : Syarah Ushfuriyyah

-------------------

Dari kisah di atas, hikmah apa saja yg kita petik ?

Kamis, 18 Mei 2017

Tingkatan-tingkatan Nafsu

Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :

(1) Nafsu Amaroh
Nafsu amaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi

(2) Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengupat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lupa

(3) Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab

(4) Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan

(5) Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji

(6) Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

(7) Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmu Al’Yaqiin
2. Ainul Yaqiin
3. Haqqul Yaqiin

Sabtu, 15 April 2017

Pengeling-ngeling ti Allah

Riyadloh Malam Kamis
Ponpes Miftahul Huda Manonjaya

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Caritakeun ku anjeun (muhammad): Saenyana maot anu maraneh mikasieun eta teh bakal ngajemput maraneh, tuluy maraneh dibalikeun ka dzat anu maha uninga kanu ghoib jeung kanu nemrak, tuluy anjeuna ngabejakeun ka maraneh kana kalakuan anu maraneh geus migawe".

Penjelasan :

Bejakeun ku anjeun muhammad supaya manusa-manusa hirup teh teu sa dalon-dalon, hirup teh teu kabawa kusakaba-kaba, hirup masing inget kana purwadaksi wiwitan jeung panungtungan, ulah nepika leubeung hirup kajongjonan,“yeuh saenyana maot paturaina nyawa jeung raga, papisahna rohani jeung jasmani, papisahna kuring anu jadi raga lembutna, jeung kurung anu jadi raga badagna. Kuring sukma sajatining insan ruh manusa bakal balik mayun ka Allah swt. Anu jadi kurungna badan sakujur bakal ngagoler aya dina jero beteng taneh, tah eteteh diri sarerea. Pinaggih jeung maot moal aya anu nyesa, da gening anu caricing di bumi teh istu si umbara anu bakal saling ganti, lain mangrupakeun lembur padumukan tapi mangrupakeun lembur pangumbaraan anu pada saliwat iwang, sagorelat laksana sakicep panon".

الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ
Anu maraneh teh mikasieun kana amprokna jeung maot, hayang ingkah kabur tina maot. Tapi maotmah sok sanajan dibenteng ku pager besi anu raksasa angger Azroilmah bakal nyampeurkeun.

فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ
Maotmah bakal nyamperkeun ngajemput. Dimana datangna moal bisa mungkir, ngageretak teu aya tempo datangna teu mere nyaho, itulah maot anu bakal katarima kusarerea. Sieun pinaggih jeung maot, hoream pinaggih jeung maot. Bakal paturay jeung anak jeung kulawarga, bakal paturay jeung banda cul kabeuh ditinggalkeun. Balikmah maot leos ngan nyorangan, anu sejeunmah ngan saukur titipan. Ladang cape akhirna oper kanu sejeun, angger dirimah tebisa babawaan iwalti amal pamolah sorangan.

Sanajan hoream angger we bakal datang, ku ayana kitu berarti isyarah ti Allah bahwa eta maot teh kudu di pieling sabab moal pati reuwas nalika pinanggih jeung maot. Sabab geus boga persiapan keur ngahadapi maot. Geus di jatah ku Allah jalma anu bakal maot, geus dicatetkeun di loh mahfudz. Anu mana bakal dicabut ku malaikat Azroil, ku cara naek ka loh mahfudz ningali daftaran saha anu bakal maraot dina poe ayeuna. Ahirna bakal diberik ku malaikat Azroil, moal bisa kabur da geus aya tulisanana di loh mahfudz, anu mana moal bisa dilawan.

ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dimana geus panggih jeung maot, bakal dibalikeun ka Allah dzat anu maha uninga kana perkara anu ghoib jeung perkara anu nemrak. Moal aya perkara anu samar pikeun Allah swt. Rahasia soteh cek urang anu teu apal, tapi pikeun Allahmah teu aya istilah rahasia

لا يخفى شيء الاالله
“Moal aya hiji perkara anu samar ka Allah”

Tah urangteh bakal amprok jeung eta, bakal dibalikeun ka dzat Allah. Anu matak dina surat al-Baqoroh ayat 28:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Cek Allah: Hey naha maneh gening kalahkah teu areling, malah kufur ka Allah. Kan maneh teh baheula areweh, tuluy ku Allah dihirupan, tuluy eungkena anjeun bakal paeuh.”

Nah anu paling riskan engke, Amal kalakuan ku Allah bakal dibewarakeun. Ari ayeuna mah di dunia menang satarna Allah. Tapi engke di aherat moal aya anu disumput-sumput ku Allah, kabeh bakal di bewarakeun jeung dibewarakeunna oge lain wungkul urang nu apal tapi sakabeh jalma apaleun kana laku lampah anu di pigawe ku urang.

Tah geus dibejakeun ku Allah, manehananan sadar, malah aya anu hayang protes ka Allah nampik kana eta laku goreng anu ditemrakeun ku Allah. Sanajan letah ulal-elol hayang ngomong nampik, moal bisa. Balikta sakabeh anggahota badan anu ngalakukeun gawe maksiat engke kabeh bakal ngaromong sakumaha allah ngadawuh dina surat yasin ayat 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Tah geus kitu mah bakal dibales ku Allah swt. Laku hade bakal dibales ku anu hade nyaeta ku kani’matan. Laku goreng oge bakal ditegur ku Allah, ku cara di siksa naudzubillahi min dzalik.

Ieu pangeling ti Allah sangkan urang ulah kajongjonan dina nalika hirup di alam dunya, hirup sadalon dalon, kabawa ku sakaba kaba. Kitu pangeling ti Allah sebagai tanda nyaah ka urang salaku mahlukna anu memang moal lepas tina sifat poho.

Wallahu alam

Selasa, 11 April 2017

Modal Amal Ditampi Dipayuneun Allah

Riyadhoh malam kemis KH. Khoeruman Azam
miftahul-huda.com

Petunjuk ti Kanjeng Rosululloh saw, anu eusina supaya amal lulus di tampi ku Gusti Allah aya 8:

1. Ulah sok daek ngupat batur (ngomongkeun kagorengan batur)

2. Motifna ulah hayang embel-embel dunia

3. Ulah takabur

4. Ulah uzub ku amal

5. Ulah hasud

6. Kudu asih kamanusa

7. Ulah sum’ah (hayang kamashur tukang amal)

8. Kudu karena Allah, ulah karena makhluk. Ngarasa butuh ku Allah lain ku mahkluk.

PENJELASAN

Saba’da pupus Kangjeng Rosulullah saw, sahabat Mu’adz disuhunkeun ku Kholid bin Ma’dan supados nyaurkeun hadits anu katampi ti Kangjeng Rosulullah saw.

حدثني حديثا سمعته من رسول الله

”Sahabat Mu’adz mugi salira nyaurkeun hadits anu tos kadangu ku pangersa ti kangjeung Rosul, anjeun anu parantos hapal hadits, anjeun anu sok tukang nyaurkeun hadits saban dinten”. kusahabat Mu’adz disanggeman”.
Teu acan oge nyaurkeun hadis sahabat Mu’ad anjeuna nangis, lami nangisna. Ditaros "kunaon sahabat Mu’adz, pangersa kalah nangis?". waler Mua’dz ”Kaula teh kangeun ka Rosulullah saw, tekuat kaula hoyong tepang sareng anjeuna. Kaula inget dina hiji waktu lumaku, kaula sareng kangjeung Rosul sakendaraan. Kaula dibonceng tukangeun anjeuna, anjeuna anu ngabonceng kaula. Ditengah perjalanan anjeuna ningali kalangit teras ngadawuh”

الحمد لله الذى يقضي في خلقه من يشاء
“Allhamdulillah anjeuna anu parantos maparin sakersaning anjeuna, naon wae anugrah anu katarima ku mahlukna”.
Disambut ku sahabat Mu’adz “leres hey dunungan sadaya para utusan”. Rosul ngadawuh “sahabat Mu’adz, kaula rek nyaritakeun hadis ka anjeun. Lamun seg anjeun apal kana eta hadis, hadis bakal manfaat pikeun anjeun. Ngan lamun anjeun ngamomorekeun, bakal putus anjeun, lengiteun hujah (dalil) dipayunen Allah”

يا معاذ ان الله تبارك وتعالى خلق سبعة املاك قبل ان يخلق السماوات والارض

“Mu’adz, Allah ngadamel tujuh malaikat samemeh diciptakeun langit jeung bumi. Ieu anu tujuh mawa tugas ti Allah pikeun jadi juru kunci, ngajaga dina pintuna eta langit. Tiap-tiap pintu langit anu tujuh aya juru kuncina (malaikat)”.
فتصعد الحفظة

Malaikat Hafadzoh anu tugasna ngajaga amal hamba, nuliskeun amal manusa yakni karomulkaatibun. Malaikat Hafadzoh sok mawa amal hamba, dibawa ka langit. Amal harian manusa ditulis dilaporkeun ka Allah melewati langit anu tujuh. Dibawa amalna eta hamba, eta amal ngandung cahaya, sinarna sumirat saperti cahayana panon poe. Nalika tepi kana langit dunia (langit kahiji), eta malaikat Hafadzoh bangga ka si hamba anu loba amalna. Na ari tepi kana pintu langit ka hiji malaikat juru kunci nyarita ka malaikat Hafadzoh:

اضربوا بهذا العمل وجه صاحبه

"Hey malaikat Hafadzoh tenggelkeun ku eta amal kana benget anu ngalakukeuna eta amal.
"Yeuh kaula ditugas ku Allah purah mengawasi, naluntik bisi manehanana hamba anu rek dilaporkeun teh sok ngupat. Sok daeuk ngomongkeun kagorenghan batur diharepeun batur. Tah eta sihamba, teu lepas tina panitenan kaula. Moal bisa ngaliwatan kaula, da manehna sok daek laku ngupat ka baturna”. Gagal murag atuh amal sihamba teh di langit kahiji, teu bisa nobros.

Kemudian di lain waktu, aya amal hamba anu bisa melewati langit kahiji da tara ngupat. Amal solehna di bawa ku malaikat Hafadoh rek dilaporkeun ka gustri Allah. Eta amal solehna loba, malaikat Hafadoh ngarasa bangga. Na ari teupi kalangit kadua, juru kunci malaikat langit ka dua nyarita “Hey malaikat Hafadoh cicing, anjeun moal bisa ngalangsungkeun perjalanan anjeun menuju Ilahi mawa amal eta hamba. Balikta tenggelkeun eta amal kana benget anu ngalakukeunana. Yeuh kaula geus naluntik nga analisa, manehanana amal teh hayang kasenganan dunia, moal ditarima ku Allah, tong ditaeukeun eta amal”. Balikta eta malaikat kalah ngalaknat ka jalma anu motif amalna karena dunia lain karena aherat, hayang kasengan kabagjaan dunia, ku amalna dipake meli dunia.

Di lain waktu malaikat Hafadoh mawa amal hamba, anu geus lulus bisa lewat langit ka hiji jeung bisa lewat langit ka dua. Tuluy naik, rek menerobos langit ka tilu mawa amal hamba nyatana amal sodaqohna, puasana jeung loba tina pirang-pirang kahadean. Malaikat ngarasa bangga ku loba amalna, diriksa ku malaikat eta amalna, tuluy rek mentas ka langit katilu. Menjelang masuk pintu, malaikat juru kunci langit ka tilu sumanggem “hey Hafadoh cicing anjeun, temenang anjeun ngalangsungkeun menuju Allah. Tenggelkeun eta amal kana benget anu ngalakukeunana. Kaulateh dikawasakeun pikeun naluntik ka jalma anu loba bedegong takaburna jeung papada kaula, oge jeung papada manusa. Anjeun moal bisa ngaliwatan ka kami. Yeuh eta si hambateh dina riung jeung pada baturna sok gumede, manehanana sok adigung, sombong, takabur”. Atuh malaikat teu bisa ngalangsungkeun perjalanana mawa amal eta hamba menuju Allah.

Kemudian di lain waktu, amal hamba Aya anu lulus bisa menerobos langit ka tilu. Tuluy rek ngalangsungkeun ka Allah menerobos langit anu ka opat. Eta si hamba istuning amalna lir ibarat bentang jeung lir ibarat planet anu bersinar, da manehanana tukang maca tasbih ka Allah getol puasana, rajin solatna, ibadah haji jeung umroh. Begitu sampai kana langit ka opat, di pintu langit ka opat malaikat anu ditugas ku Allah nyetop ka eta malaikat Hafadoh “Tenggelkeun eta amal kana benget anu ngalakukeunana. Kaula anu dikawasakeun pikeun naluntik, bisi eta hamba ujub dina amalna (ngarasa hade), ngarasa manehanana rek menang surgana Allah. Kaula di tugas, ternyata eta sihamba. dimana amal ujub nyeleket asup dina hatena eta si hamba”. Atuh malaikat Hafadoh teu bisa ngalangsungkeun eta amal.

Aya deui anu lulus bisa menerobos langit ka opat, da manehna ku amalna salamet tina ujub. Eta amal mangrupakeun papaeus kaendahan pikeun anu ngalakukeunana. Tah begitu nepi kana langit ka lima, amal si hamba anu dibawa ku malaikat Hafadoh nyaeta jihad bima’na qital, haji, umroh nyatana amalna bercahaya seperti halna cahaya panon poe. Tapi ku malaikat di stop “Anjeun tong ngalangsungkeun eta amal keur disaksikeun ka Allah. Kaula geus naluntik, manehna amal bari jeung boga hate sok hasud. Lamun batur dibere anugrah ti Allah manehna sok hasud, teu ngarasa betah ku batur narima nikmat, bahkan hatena gegerendul. Hey Mu’ad tong dilangsungkeun eta amal menuju Allah”.

Aya deui seorang hamba mulus bisa menerobos eta langit, sabab beres salamet tina hasud. Dibawa amal ku malaikat, amal cahayana anu pol sampurna, solatna anu loba, puasa haji umrohna salamet. Tapi begitu rek asup kana langit ka genep malaikat juru kunci sasauran ”Hey malaikat Hafadoh kaula shoohibu rohmat (anu ngawasa naluntik apakah manehanana aya rasa silih asih) rasa nyaah rasa asih ka manusa, ternyata manehanana eweh rasa asih kamanusa, Hafadoh tenggelkeun eta amalna. Malah lamun dibere musibah si eta hamba mehanana sok gegerendul.

Aya anu lulus tina langit ka genep rek menerobos langit ka tujuh. Hafadoh mawa amal hamba ladang nafaqohna, solatna, jihadna jeung dina ka apikan warona, malah aya sora saperti sorana gelap bari jeung caang ngaburinyah. tapi hajakal begitu sampai kana pintu langit ka tujuh juru kunci ”Anjeun ulah ngalangsungkeun eta amal hamba. kaula tukang nalutik, masalahna naha ku amal manehna hayang tenar, hayang mashur, hayang jadi buah bibir manusa, dikenal jadi jalma anu soleh, jalma anu loba amal hadena, ternyata manehanana boga panyakit sum’ah. Yeuh malaikat Hafadoh eta si jalma anu amal, ku amalnateh hayang ngajadi adzikru fil majaalis ngajadi gunam catur pembicaraan dina patempatanana, jeung hayang dipandang luhur diharepen babaturanana, malah hayang dipandang orang berkomara di harepen geugeuden. Anjeun moal bisa ngaliwatan kaula pikeun menerobos mayun ka Allah, ngalaporkeun jadi saksi eta hamba. Manehanana teu ikhlas, da manehanana ria, Allah moal narima kana amalna hamba anu ria”.

Aya anu ges lulus dina langit katujuh (nah ieu menjelang rek mayun ka Allah), ngalaporkeun amal hamba, siap malaikat ngajadi saksi Nyaksen eta si hamba dina solatna zakatna puasana hajina umrohna jeung pirang-pirang ahklah anu harade. Dijajapkeun ku malaikat, malaikat milu jajap nganter ka malaikat Hafadoh, malaikat anu tujuh ngabring, ges teu aya hahalang pikeun menuju Ilahi.

Eta malaikat Hafadzoh jeung malaikat anu tujuh anjeuna caricing dipayuneun Allah. Anjeuna nyaksen kana amal anu solih di pandangna ”Ya Allah ya robi, abdi sadaya bade ngalaporkeun amalna hamba. Abdi sadaya nyaksen eta hamba amalna solih, eta hamba istuning nu ikhlas karana gusti”. Diwaler ku gusti Allah:

”Anjeunmah malaikat purah ngajaga kana amal hamba kami. kami anu naluntikna, kami anu nga analisana kanakumaha kaayaan diri hatena eta sihamba. Yeuh malaikat manehanana amal teh lain maksud ka kami, Lain maksud rek deket ka kami, lain ngajugjug kami, tapi manehanana maksudna gajugjug lianti kami. Lain butuh ku kami, tapi butuhhna ku mahluk anu salianti kami. Manehanana hente ihklas amalna kakaula. Kaulamah apal kana maksud amalna eta sihamba”.

Ku Allah diputuskeun:

“Laknat kami anu bakal katarima ku maranehana. Manehna geus nipu ka makhluk, nepika makhluk mah tebisa ngabaca kana kotoran hatena, termasuk anjeun. Eta hamba geus nipu ka aranjeun, tapi manehanana moal bisa nipu ka kaula, da kaulamah anu apal kanu goib. Kaula anu bisa nempo, anu bisa nalingakeun kana kaayaan eusi hatena. Moal aya anu samar kakaula, maol aya anu bisa nyumputkeun kana kanyaho kaula. Kaula apal kamanehanana kana perkara anu bakal bukti jeung kana perkara anu ges kaliwat, kanyahoan ku kaula. Kaula nayaho kanu tiharela saperti halna kaula nyaho kanu palaneri. Kaula nyaho kanu samar jeung kanu negrak. Rek kumaha manehanana bisa nipu ka kaula. Makhluk bisa ditipu, tapi kaula anu apal kanu goib”.

Harita keneh Allah ngadawuh “Hey malaikat laknat kami ka manehanana”. Malaikat anu tujuh malah di tambah 3000 anu ges ngajajapkeun eta amal ngajadi saksen. Ku ayana ketok ti Allah: ‘Alaihi laknati. Aranjeuna nyambut ”Nun gusti ka manehanana, laknat gusti sareng laknat ti abdi sadayana”. Ahli pirang-pirang langit nyambut “Laknat Allah jeung anu ngaralaknat katarima ku maranehanana”.

Saba’da Rosulullah nyaurkeun ‘Alaihi laknatullah walaknatul malaak. Harita sahabat Mu’ad nangis kalayan nagisna inghak-inghakan anu tarik “Nun gusti Rosul, bade kumaha salametna abdi tina naon anu disaurkeun ku dampal gusti. Abdi ngarasa risih kana anu didawuhkeun ku dampal gusti. Mana jalan kanggo kasalmetan abdi, naon kanggo jalan pisalameten abdi?”.

Rosul ngawaler “Ya Mu’adz tuturkeun nabi anjeun dina kayakinan”. Mu’adz ngawaler “Gusti teh utusan Allah, gusti diriksa tina sadaya dosa. Abdi teh Mu’adz bin jabal, manusa biasa. Abdimah teu dijamin diriksa ku Allah tina dosa, bade kumaha pikeun abdi tiasa salametna sareng aya dina ikhlas”.

Nabi ngawaler:

”Ya Mu’adz lamun anjeun amal teh, tetela teu lalawora. Pepejeuh perhatikeun putuskeun lisan anjeun, ulah wani ngomongkeun tina tumiba anu matak pikaperiheun di manusa. Tegesna tina ngupat, tina nyarekan batur, sing bisa ngerem diri. Malah kudu lewih diperhatikeun terutama ulah neupika daek ngupat nyarekan ti jalma anu katalar quran, etamah anu dimulyakeun ku Allah. Naon kalamullah anu didawuhkeun ku Allah ngancik ngampih dina hatena. Balikta Mu’adz nyarekanmah ka diri sorangan. Ngupatmah kana kagorengan sorangan. Sing bisa maca tina kacacadan diri anjeun. Ulah sok anjeun ngarasa bersih, nganggap bersih kana diri anjeun neupika daeuk nyacad ka dulur anjeun. Ulah nepika anjeun ngaluhurkeun diri bari mepeyeh batur. Rendahkeun mah balikta diri sorangan. Pepejeuh amal ulah ria, ulah malar hayang dikenal ku manusa. Pepejeuh anjeun ulah rek asup dina lautan dunia, kusabab anjeun ahirna mopohokeun kana urusan aherat. Ulah rek berkecimpung dina urusan dunia anu matak mohokeun kana urusan aherat. Mu’adz ulah sok haharewosan ngomong ka hiji lalaki bari deketen manehteh aya lalaki anu sejen, anu teu dibawa ngobrol, etateh matak periheun hatena. Ulah sok ngarasa agung diri ngelehkeun kanu sejeun. Lamun anjeun boga hate kitu, bakal putus kaalusan dunia jeung ahirat. Jeung anjeun ulah sok gawe goreng dina tempat diuk anjeun anu matak picacadeun, pi’aebeun ku omongan jeung ku lampah, dihawatirkeun ahirna anjeun bakal jadi goreng ahklak. Jeung anjeun ulah sok ngagonggorokan lamun barang bere kabatur, tuluy di gonggorokan, kituteh ulah. Yeuh ulah sok mepejet batur, ulah sok anjeun mepeye batur ku lisan anjeun. Lamun anjeun mepejet batur, bakal mepejet ka anjeun anjing jahanam , bakal dipepejet danging anjeun dicabutan tina tulang”.

Sahabat Mu’adz ngajerit “Ya Rosulullah saha jalmana anu pimampueun berupaya dina ieu pirang-pirang perkara, anu sangkan mulus rahayu salamet amalna ditampi ku Allah. Abdi ngaraos te sanggem?”. Rosul ngawaler:

“Ya Mu’adz sing gede hate, naon anu ges dicaritakeun ku kaula etateh gampang. Gampangeun pikeun jalma anu dibere kagampangan ku Allah. Yeuh cukup ka anjeun modalna supaya hayang kana naon anu geus disipatan ku kaula: Anjeun sing kudu resep ka diri batur saperti anjeun mikaresep ka diri sorangan. Anjeun lamun arek nyacad batur, cacad heula diri sorangan. naon anu dihawatirkeun ka diri, sing ngarasa hawatir ka diri batur. Tah dimana anjeun boga bebekelan kunu bieu maka bakal salamet anjeun”.

Nah ieu dawuhan kangjeung Rosulullah anu katampi ku sohabat Mu’adz manfaatna bekel pikeun urang sadaya. Amal ditampi ku gusti Allah, ulah neupika amal ditolak ku gusti Allah. Maka modalna sakumaha anu tadi. Justru kudu amal mutlak karena Allah, baru eta amal bakal lulus mulus rahayu, Cape bakal katarima. Ngan lamun teu kitu cape gawe teu katarima, rugi naudzubillah.