Jumat, 08 Mei 2015
Nadzom Usul Fiqh ( Lathoiful isyarot )
ﻧﻈﻢ ﻟﻄﺌﻒ ﺍﻻﺷﺎﺭﺍﺕ
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﻣﻘﺪﻣﺔ
P E N D A H U L U A N
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﺍﻟﺸﺮﻑ ﺍﻟﻌﻤﺮﻳﻄﻰ
ﺫﻭ ﺍﻟﻌﺠﺰ ﻭﺍﻟﺘﻘﺼﻴﺮ ﻭﺍﻟﺘﻔﺮﻳﻂ
Telah berkata Syiekh Syarifudin Yahya
Yang membutuhkan kepada Dzat yang Esa
Yang memiliki kelemahannya jiwa
Serta ceroboh menancap dalam rasa
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻯ ﻗﺪ ﺍﻇﻬﺮﺍ
ﻋﻠﻢ ﺍﻻﺻﻮﻝ ﻟﻠﻮﺭﺍ ﻭﺍﺷﻬﺮﺍ
Sgala puji bagi Allah Dzat yang Ghofur
Yang tlah menjadikan ilmu Usul masyhur
Serta menjadikan Ilmu Usul masyhur
Bagi segenap manusia tuk tafakur
ﻋﻠﻰ ﻟﺴﺎﻥ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻭﻫﻮﻧﺎ
ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺬﻯ ﻟﻪ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﺩﻭﻧﺎ
Melewati lisan Imam As- Syiafi’i
Alloh memasyhurkan Ilmu Usuli
Imam As-Syiafi’i yang pertama memulai
Smoga Allah memudahkan jalan kami
ﻭﺗﺎﺑﻌﺘﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺘﻰ ﺻﺎﺭﺍ
ﻛﺘﺒﺎ ﺻﻐﺎﺭ ﺍﻟﺤﺠﻢ ﺍﻭ ﻛﺒﺎﺭﺍ
Dan para Ulama tlah mengikutinya
Hingga terbentuklah kitab-kitabnya
Dari ukuran besar hingga yang kecil
Itulah karya Ulama yang berhasil
ﻭﺧﻴﺮ ﻛﺘﺒﻪ ﺍﻟﺼﻐﺎﺭ ﻣﺎﺳﻤﻰ
ﺑﺎﻟﻮﺍﺭﻗﺎﺕ ﻟﻼﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺮﻣﻰ
Kitab terbaik milik Imam Harmain
Kecil mungil Waraqatlah dinamakan
ﻭﻗﺪ ﺳﺌﻠﺖ ﻣﺪﺓ ﻓﻰ ﻧﻈﻤﻪ
ﻣﺴﻬﻼﻟﺤﻔﻈﻪ ﻭﻓﻬﻤﻪ
Telah datang permintaan kepadaku
Untuk mensya’irkan Waraqat yang lalu
Untuk mempermudah cara penalaran
Serta mempermudah tekhnis pemahaman
ﻓﻠﻢ ﺍﺟﺪ ﻣﻤﺎ ﺳﺌﻠﺖ ﺑﺪﺍ
ﻭﻗﺪ ﺷﺮﻋﺖ ﻓﻴﻪ ﻣﺴﺘﻤﺪﺍ
Kemudian aku tidak menemukan
Sebuah kecapean dari permintaan
Lalu ku bermaksud pada sya’irnya
Dengan memohon pertolongan dari-Nya
ﻣﻦ ﺭﺑﻨﺎ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻟﻠﺼﻮﺍﺏ
ﻭﺍﻟﻨﻔﻊ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﺍﺭﻳﻦ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ
Dengan taufiq yang membuka kebenaran
Moga kitab ini penuh kemanfaatan
Di Dunia dan Akhirat selamanya
Untuk dijadikan bekal hidupnya
(ﺑﺎﺏ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﻔﻘﻪ)
BAB I USUL FIQIH
ﻫﺎﻙ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻟﻔﻈﺎﻟﻘﺒﺎ
ﻟﻠﻔﻦ ﻣﻦ ﺟﺰﺍﻳﻦ ﻗﺪ ﺗﺮﻛﺒﺎ
Lafdz usul fiqih digunakan nama
Untuk sebuah warna ilmu yang mulia
ﺍﻻﻭﻝ ﺍﻻﺻﻮﻝ ﺛﻢ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ
ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻭﺍﻟﺠﺰﺍﻥ ﻣﻔﺮﺩﺍﻥ
Usul fiqih tersusun dua bagian
Satu usul, dua fiqih almufrodain
ﻓﺎﻻﺻﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻏﻴﺮﻩ ﺑﻨﻰ
ﻭﺍﻟﻔﺮﻉ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺳﻮﺍﻩ ﻳﻨﺒﻨﻰ
Asal ialah sesuatu yang ada Tempat untuk bersandar dzat yang lainnya
Ranting ialah sesuatu yang dibangun
Tempat untuk bersandar pada yang lain
ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻢ ﻛﻞ ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻰ
ﺟﺎﺀ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩﺍ ﺩﻭﻥ ﺣﻜﻢ ﻗﻄﻌﻰ
Fiqih ialah ilmunya hukum syar’i
Yang hasil ijtihad bukan hukum pasti
ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ ﻭﺍﺟﺐ ﻭﻣﻨﺪﻭﺏ ﻭﻣﺎ
ﺍﺑﻴﺢ ﻭﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻣﻊ ﻣﺎ ﺣﺮﻣﺎ
ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﺍﻟﻔﺎﺳﺪ
ﻣﻦ ﻗﺎﻋﺪ ﻫﺬﺍﻥ ﺍﻭ ﻣﻦ ﻋﺎﺑﺪ
Hukum syara terediri wajib pertama
Mandub, mubah, makruh, haram yang ke lima
Enam mutlak shohih serta fasid yang ke tujuh
Dari orang yang duduk atau ibadah
ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻟﻤﺤﻜﻮﻡ ﺑﺎﻟﺜﻮﺍﺏ
ﻓﻰ ﻓﻌﻠﻪ ﻭﺍﻟﺘﺮﻙ ﺑﺎﻟﻌﻘﺎﺏ
Wajib diberi pahala yang melakukan
Dengan siksaan bagi yang meninggalkan
ﻭﺍﻟﻨﺪﺏ ﻣﺎ ﻓﻰ ﻓﻌﻠﻪ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ
ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﻰ ﺗﺮﻛﻪ ﻋﻘﺎﺏ
Mandub itu berpahla bagi pelaku
Jika di tinggalkan siksa tak berlaku
ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺒﺎﺡ ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺏ
ﻓﻌﻼ ﻭﺗﺮﻛﺎ ﺑﻞ ﻭﻻ ﻋﻘﺎﺏ
Pada mubah tak ada siksa pahala
Dikerjakan ditinggalkan semua sama
ﻭﺿﺎﺑﻂ ﺍﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻋﻜﺲ ﻣﺎ ﻧﺪﺏ
ﻛﺬﺍﻟﻚ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻋﻜﺲ ﻣﺎ ﻳﺠﺐ
Pengertian makruh sebaliknya mandub
Pengertian haram sebaliknya wajib
ﻭﺿﺎﺑﻂ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﺎﺗﻌﻠﻘﺎ
ﺑﻪ ﻧﻔﻮﺩ ﻭﺍﻋﺘﺪﺍﺩ ﻣﻄﻠﻘﺎ
Shohih itu yang ada kaitan nufud I’tidad dalam ibadah atau akad
ﻭﺍﻟﻔﺎﺳﺪ ﺍﻟﺬﻯ ﺑﻪ ﻟﻢ ﺗﻌﺘﺪﺩ
ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﻨﺎﻓﺪ ﺍﺫﺍ ﻋﻘﺪ
Sesuatu yang tak ada kaitannya
Nufud serta I’tidad fasid namaya
ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻔﻆ ﻟﻠﻌﻤﻮﻡ ﻟﻢ ﻳﺨﺺ
ﺑﺎﻟﻔﻘﻪ ﻣﻔﻬﻮﻣﺎ ﺑﻞ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﺧﺺ
Ilmu itu lafad umum yang tak tentu
Tapi fiqih lebih khusus dan tertuju
ﻭﻋﻠﻤﻨﺎ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ
ﺍﻥ ﻃﺎﺑﻘﺖ ﻟﻮﺻﻔﻪ ﺍﻟﻤﺤﺘﻮﻡ
Ilmu kita mengetahui sesuatu
Bila ada persamaan yang tlah tentu
ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ ﻗﻞ ﺗﺼﻮﺭ ﺍﻟﺸﻴﺊ ﻋﻠﻰ
ﺧﻼﻑ ﻭﺻﻔﻪ ﺍﻟﺬﻯ ﺑﻪ ﻋﻼ
Dan bodoh itu mengidentifikasi
Sesuatu yang nyatanya tak sesuai
ﻭﻗﻴﻞ ﺣﺪ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﻓﻘﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ
ﺑﺴﻴﻄﺎ ﺍﻭ ﻣﺮﻛﺒﺎ ﻗﺪ ﺳﻤﻰ
Dan menurut qil tentang kebodohan
Yaitu tidak ada pengetehuan
Kebodohan terbagi dua bagian
Satu basith dua murokab tinggalkan
ﺑﺴﻴﻄﻪ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻣﺎﺗﺤﺖ ﺍﻟﺜﺮﻯ
ﺗﺮﻛﻴﺒﻪ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻣﺎﺗﺼﻮﺭﺍ
Basith itu adalah kebodohan akan
Sesuatu di bawah darat lautan
Orang yang tak tahu akan sesuatu
Tapi merasakan ia tidak tahu
Orang yang tak tahu akan sesuatu
Tapi tak merasakan ia tak tahu
Itulah kebodohan berlipat lipat
Kebodohan murokab harus di ingat
ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻣﺎ ﺑﺎﺿﻄﺮﺍﺭﻳﺤﺼﻞ
ﺍﻭﺑﺎﻛﺘﺴﺎﺏ ﺣﺎﺻﻞ ﻓﺎﻻﻭﻝ
Ilmu itu hasil dengan dua cara
Pertama idhthirar, iktisab ke dua
Ilmu idhtirar yang tidak membutuhkan
Tuk mencari dalil serta pemikiran
ﻛﺎﻟﻤﺴﺘﻔﺎﺩ ﺑﺎﻟﺤﻮﺍﺱ ﺍﻟﺨﻤﺲ
ﺑﺎﻟﺸﻢ ﺍﻭ ﺑﺎﻟﺬﻭﻕ ﺍﻭ ﺑﺎﻟﻠﻤﺲ
ﻭﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻻﺑﺼﺎﺭ ﺛﻢ ﺍﻟﺘﺎﻟﻰ
ﻣﺎﻛﺎﻥ ﻣﻮﻗﻮﻓﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﺘﺪﻻﻝ
Seperti tahunya hasil panca indra
Indra pencium, perasa dan peraba
Dan indra pendengar serta penglihatan
Tentu tahu satu persatu hafalkan
Ilmu iktisab yang slalu membutuhkan
Tuk mencari dalil serta pemikiran
Bak tahu tentang alam semesta baru
Berfikir dan realita brubah slalu
ﻭﺣﺪ ﺍﻻﺳﺘﺪﻻﻝ ﻗﻞ ﻣﺎ ﻳﺠﺘﻠﺐ
ﻟﻨﺎ ﺩﻟﻴﻼ ﻣﺮﺷﺪﺍ ﻟﻤﺎ ﻃﻠﺐ
Definisi dari istidlal yaitu
Suatu proses pemikiran yang tertuju
Natijah sbagai puncak tujuan itu
Alam berubah itulah hal yang baru
ﻭﺍﻟﻈﻦ ﺗﺠﻮﻳﺰ ﺍﻣﺮﺉ ﺍﻣﺮﻳﻦ
ﻣﺮﺟﺤﺎ ﻻﺣﺪ ﺍﻻﻣﺮﻳﻦ
Dan dzon itu sesuatu di unggulkan
Dari dua perkara yang berlawanan
ﻓﺎﻟﺮﺍﺟﺢ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻇﻨﺎ ﻳﺴﻤﻰ
ﻭﺍﻟﻄﺮﻑ ﺍﻟﻤﺮﺟﻮﺡ ﻳﺴﻤﻰ ﻭﻫﻤﺎ
Waham itu sesuatu dilemahkan
Dari dua perkara yang berlawanan
ﻭﺍﻟﺸﻚ ﺗﺤﺮﻳﺮ ﺑﻼ ﺭﺟﻬﺎﻥ
ﻟﻮﺍﺣﺪ ﺣﻴﺚ ﺍﺳﺘﻮﻯ ﺍﻻﻣﺮﺍﻥ
Syak yaitu menemukan persamaan
Antara dua perkara berlawanan
ﺍﻣﺎ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻣﻌﻨﻰ ﺑﺎﻟﻨﻈﺮ
ﻟﻠﻔﻦ ﻓﻰ ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﻓﺎﻟﻤﻌﺘﺒﺮ
Usulfiqh ditinjau dari ma’nanya
Terdapat tiga bahasan yang utama
ﻓﻰ ﺫﺍﻙ ﻃﺮﻕ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻋﻨﻰ ﺍﻟﻤﺠﻤﻠﻪ
ﻛﺎﻻﻣﺮ ﺍﻭ ﻛﺎﻟﻨﻬﻰ ﻻ ﺍﻟﻤﻔﺼﻠﻪ
Satu perjalanan dalil fiqih mujmal
Dua praktik cara mendapatkan dalil
ﻭﻛﻴﻒ ﻳﺴﺘﺪﻝ ﺑﺎﻻﺻﻮﻝ
ﻭﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﺬﻯ ﻫﻮ ﺍﻻﺻﻮﻟﻰ
Ketika terjadi kontradiksi dalil
Yang manakah dalil yang harus diambil
Ataukah kedua dalil di gabungkan
Tiga sifat mujtahid di ceritakan
(ﺍﺑﻮﺍﺏ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﻔﻘﻪ)
BAB II BAB-BAB USUL FIQH
ﺍﺑﻮﺍﺑﻮﺍﺑﻬﺎ ﻋﺸﺮﻭﻥ ﺑﺎﺑﺎ ﺗﺴﺮﺩ
ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻛﻠﻬﺎ ﺳﺘﻮﺭﺩ
Usul fiqih terdiri dua puluh bab
Seluruhnya kan di bahas dalam kitab
ﻭﺗﻠﻚ ﺍﻗﺴﺎﻡ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺛﻤﺎ
ﺍﻣﺮ ﻭﻧﻬﻰ ﺛﻢ ﻟﻔﻆ ﻋﻤﺎ
Satu pembagian kalam di awal bab
Dua amar, nahyi, selanjutnya lafadz
ﻭﺧﺺ ﺍﻭ ﻣﺒﻴﻦ ﺍﻭ ﻣﺠﻤﻞ
ﺍﻭﻇﺎﻫﺮ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺍﻭﻣﻮﺀﻭﻝ
Lafadz umum serta khos itu ke empat
Lima mujmal enam mubayin kau ingat
Lafadz dzohir, muawal yang ke delapan
Muthlaqul af’ali Nabi ke sembilan
ﻭﻣﻄﻠﻖ ﺍﻻﻓﻌﺎﻝ ﺛﻢ ﻣﺎﻧﺴﺦ
ﺣﻜﻤﺎ ﺳﻮﺍﻩ ﺛﻢ ﻣﺎ ﺑﻪ ﺍﻧﺘﺴﺦ
ﻛﺬﺍﻟﻚ ﺍﻻﺟﻤﺎﻉ ﻭﺍﻻﺧﺒﺎﺭ ﻣﻊ
ﺣﻈﺮ ﻭﻣﻊ ﺍﺑﺎﺣﺔ ﻛﻞ ﻭﻗﻊ
ﻛﺬﺍ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻣﻄﻠﻖ ﻟﻌﻠﺔ
ﻓﻰ الأﺻﻞ ﻭﺍﻟﺘﺮﺗﻴﺐ ﻟﻼﺩﻟﻪ
Nasih, mansuh ayolah kita hafalkan
Ijma’ tiga belas khobar demikian
Hadzrul ibahah ba’da bi-tsah lima belas
Selanjutnya qias yang ke enam belas
Tartibuddalil itu tujuh belas
Sifat mujtahid itu delapan belas
ﻭﺍﻟﻮﺻﻒ ﻓﻰ ﻣﻔﺖ ﻭﻣﺴﺘﻔﺖ ﻋﻬﺪ
ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺍﺣﻜﺎﻡ ﻛﻞ ﻣﺠﺘﻬﺪ
Yang ke sembilan belas sifat muqollid
Yang terakhir ahkamu kuli mujtahid
Ayo berfikir biar nggak stufid
Meski di perbolehkan untuk bertaqlid
(ﺑﺎﺏ ﺍﻗﺴﺎﻡ ﺍﻟﻜﻼﻡ)
BAB III P E M B A G I A N K A L A M
ﺍﻗﻞ ﻣﺎ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺭﻛﺒﻮﺍ
ﺍﺳﻤﺎﻥ ﺍﻭ ﺍﺳﻢ ﻭﻓﻌﻞ ﻛﺎﺭﻛﺒﻮﺍ
ﻛﺬﺍﻙ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﻭﺣﺮﻑ ﻭﺟﺪﺍ
ﻭﺟﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﺳﻢ ﻭﺣﺮﻑ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﺪﺍ
Suatu lafadz yang bisa menjadi kalam
Itu terdapat empat macam gabungan
Isim dengan isim zaedun qa-imun
Dua lafadz irkabu fiil dan isim
Yang ketiga gabungan huruf dan isim
Qad qa-ma contohnya silahkan difaham
Yang keempat fiil dan huruf bersatu
Dalam munada seperti ya-zaedu
ﻭﻗﺴﻢ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻟﻼﺀ ﺧﺒﺎﺭ
ﻭﺍﻻﻣﺮ ﻭﺍﻟﻨﻬﻰ ﻭﺍﻻﺳﺘﺨﺒﺎﺭ
Dari segi lafadz pembagian kalam
Itu semuanya ada empat macam
Khobariyah, amar, nahyi dan istifham
Mari satu persatu kita hafalkan
ﺛﻢ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺛﺎﻧﻴﺎ ﻗﺪ ﺍﻧﻘﺴﻢ
ﺍﻟﻰ ﺗﻤﻦ ﻭﻟﻌﺮﺽ ﻭﻗﺴﻢ
Dari segi makna pembagian kalam
Itu semuanya ada tiga macam
Satu tamani, irid ketiga qasam
Hati-hati contohnya jangan lupakan
ﻭﺛﺎﻟﺜﺎ ﺍﻟﻰ ﻣﺠﺎﺯ ﻭﺍﻟﻰ
ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺣﺪﻫﺎ ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﻼ
Pembagian kalam yang ketiga kalinya
Dari segi lafadz terhadap maknanya
Yang pertama kalam hakikat namanya
Yang kedua bagian majaz namanya
Hakikat ialah lafadz yang digunakan
Sebagai objektifitas harfiah ucapkan
ﻣﻦ ﺫﺍﻙ ﻓﻰ ﻣﻮﺿﻮﻋﻪ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﺎ
ﻳﺠﺮﻯ ﺧﻄﺎﺑﺎ ﻓﻰ ﺍﺻﻄﻼﺡ ﻗﺪﻡ
Seperti definisi sholat dikatakan
Sebagai do’a-do’a untuk kebaikan
Pendapat yang lain mengatakan
Bahwa hakikat lafadz yang digunakan
Dalam istilah yang lebih tepat
Ucapan dan pekerjaan dalam sholat
ﺍﻗﺴﺎﻣﻬﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﺷﺮﻋﻰ
ﻭﺍﻟﻠﻐﻮﻯ ﺍﻟﻮﺿﻊ ﻭﺍﻟﻌﺮﻓﻰ
Lafadz hakikat terbagi tiga buah
Syiar’iah, lughowiah, ’urfiyah
ﺛﻢ ﺍﻟﻤﺠﺎﺯ ﻣﺎﺑﻪ ﺗﺠﻮﺯﺍ
ﻓﻰ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻋﻦ ﻣﻮﺿﻮﻋﻪ ﺗﺠﻮﺯﺍ
Selanjutnya majaz itu sebuah kata
Yang tidak menggunakan keaslian makna
Seperti aku telah melihat bulan
Di mushola saat aku berjalan
ﺑﻨﻘﺺ ﺍﻭ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﺍﻭ ﻧﻘﻞ
ﺍﻭ ﺍﺳﺘﻌﺎﺭﺓ ﻛﻨﻘﺺ ﺍﻫﻞ
Majaz terbagi ke dalam empat buah
Majaz bihadzfi dua majaz bizziyadah
Majaz binnaqli dan empat isti’arah
Ayo terus berjuang pantang menyerah
ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺮﺩ ﻓﻰ ﺳﺆﺍﻝ ﺍﻟﻘﺮﻳﺔ
ﻛﻤﺎ ﺍﺗﻰ ﻓﻰ ﺫﻛﺮ ﺩﻭﻥ ﻣﺮﻳﺔ
Coba tanyakan pada rumah sebelah
Yang dimaksud adalah penghuni rumah
Awas ingat dan jangan engkau gegabah
Itu contoh bihadzfi engkau tela-ah
Seperti yang tercantum dalam Al-dzikru
Yang pasti kebenarannya jangan ragu
ﻭﻛﺎﺯﺩﻳﺎﺩ ﺍﻟﻜﺎﻑ ﻓﻰ ﻛﻤﺜﻠﻪ
ﻭﺍﻟﻐﺎﺋﻂ ﺍﻟﻤﻨﻘﻮﻝ ﻋﻦ ﻣﺤﺎﻟﻪ
Lalu contoh dari majaz bil-ziyyadah
Menambah huruf kaf dalam lafadz mitslih
Lafadz gho-ith itu hasil perpindahan
Dari tempat gho-ith itu di pindahkan
Sesuatu yang keluar dari insan
Itulah majaz binnaqli kau jelaskan
ﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
ﻳﺰﻳﺪ ﺍﻥ ﻳﻨﻘﺾ ﻳﻌﻨﻰ ﻣﺎﻻ
Yang ke empat contoh majaz isti’arah
Seperti terdapat dalam firman Allah
( ﺑﺎﺏ ﺍﻻﻣﺮ )
BAB IV P E R I N T A H
ﻭﺣﺪﻩ ﺍﺳﺘﺪﻋﺎﺀ ﻓﻌﻞ ﻭﺍﺟﺐ
ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻣﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ
Amar yaitu perintah kerjaan wajib
Dengan ucapan terhadap si mukhatab
Tepatnya dari atasan ke bawahan
Dari segi martabatnya dinyatakan
ﺑﺼﻴﻐﺔ ﺍﻓﻌﻞ ﻓﺎﻟﻮﺟﻮﺏ ﺣﻘﻘﺎ
ﺣﻴﺚ ﺍﻟﻘﺮﻳﻨﺔ ﺍﻧﺘﻔﺖ ﻭﺍﻃﻠﻘﺎ
Amar wajib hakiki yang dinyatakan
Dengan shighat if’al itu menunjukan
Bila ada qorinah yanng menunjukan
Terhadap sesuatu yang diwajibkan
ﻻ ﻣﻊ ﺩﻟﻴﻞ ﺩﻟﻨﺎ ﺷﺮﻋﺎ ﻋﻠﻰ
ﺍﺑﺎﺣﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﺍﻭ ﻧﺪﺏ ﻓﻼ
ﺑﻞ ﺻﺮﻓﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﺧﺘﻤﺎ
ﺑﺤﻤﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻨﻬﻤﺎ
Jika terdapat dalil yang menunjukan
Pada ibahah dan nudbu dipantaskan
Maka bukanlah sebagai amar wajib
Tapi pantas untuk mubah atau mandub
ﻭﻟﻢ ﻳﻔﺪ ﻓﻮﺭﺍ ﻭﻻ ﺗﻜﺮﺍﺭﺍ
ﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻣﺎ ﻳﻘﺘﺾ ﺍﻟﺘﻜﺮﺍﺭﺍ
Dan tidaklah berguna suatu amar
Dengan segera melaksanakan amar
Dan tidak pula terdapat pengulangan
Jika telah tiba akan kewajiban
ﻭﺍﻻﻣﺮ ﺑﺎﻟﻔﻌﻞ ﺍﻟﻤﻬﻢ ﺍﻟﻤﻨﺤﺘﻢ
ﺍﻣﺮ ﺑﻪ ﻭﺑﺎﻟﺬﻯ ﺑﻪ ﻳﺘﻢ
Dan perintah terhadap suatu pekerjaan
Perintah pula pelantara pekerjaan
ﻛﺎﻻﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﺍﻣﺮ ﺑﺎﻟﻮﺿﻮ
ﻭﻛﻞ ﺷﻴﺊ ﻟﻠﺼﻼﺓ ﻳﻔﺮﺽ
Seperti perintah melaksankan shalat
Maka mencakup terhadap wudlu itu tepat
ﻭﺣﻴﺜﻤﺎ ﺍﻥ ﺟﻰﺀ ﺑﺎﻟﻤﻄﻠﻮﺏ
ﻳﺨﺮﺝ ﺑﻪ ﻋﻦ ﻋﻬﺪﺓ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ
Jika kewajiban telah ditunaikan
Maka terbebaslah dari kewajiban
Jika tiba kembali kewajiban lain
Maka wajib lagi tuk dilaksanakan
( ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻨﻬﻰ )
BAB V L A R A N G A N
ﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺍﺳﺘﺪﻋﺎﺀ ﺗﺮﻙ ﻗﺪ ﻭﺟﺐ
ﺑﺎﻟﻘﻮﻝ ﻣﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﺩﻭﻥ ﻣﻦ ﻃﻠﺐ
Nahyi itu printah untuk meninggalkan
Suatu kewajiban dengan ucapan
Tepatnya dari atasan ke bawahan
Dari segi martabatnya dinyatakan
ﻭﺍﻣﺮﻧﺎ ﺑﺎﻟﺸﻴﺊ ﻧﻬﻰ ﻣﺎﻧﻊ
ﻣﻦ ﺿﺪﻩ ﻭﺍﻟﻌﻜﺲ ﺍﻳﻀﺎ ﻭﺍﻗﻊ
Perintah terhadap suatu pekerjaan
Maka itu pula suatu larangan
Dari pekerjaan yang bertolak belakang
Berdirilah berarti duduk dilarang
ﻭﺻﻴﻐﺔ ﺍﻻﻣﺮ ﺍﻟﺘﻰ ﻣﻀﺖ ﺗﺮﺩ
ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻥ ﻳﺒﺎﺡ ﻣﺎ ﻭﺟﺪ
Dalam shighat amar ada empat makna
Satu ibahah dan taswiyah kedua
Ibahah itu berarti kebolehan
Taswiyah itu berarti persamaan
ﻛﻤﺎ ﺍﺗﺖ ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﺘﺴﻮﻳﻪ
ﻛﺬﺍ ﻟﺘﻬﺪﻳﺪ ﻭﺗﻜﻮﻳﻦ ﻫﻴﻪ
Selanjutnya makna tahdid yang ketiga
Empat makna takwin janganlah kau lupa
Tahdid itu berarti menakut-nakuti
Takwin itu mengadakan dengan pasti
FASAL ORANG YANG TERMASUK PADA KHITOB TAKLIF DAN ORANG YANG TIDAK TERMASUK PADA KHITOB TAKLIF
ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﻓﻰ ﺧﻄﺎﺏ ﺍﻟﻠﻪ
ﻗﺪ ﺩﺧﻠﻮﺍ ﺍﻻ ﺍﻟﺼﺒﻰ ﻭﺍﻟﺴﺎﻫﻰ
Orang yang termasuk pada khitob allah
Itu ada dua janganlah kau salah
Satu mu’min dua kafir diperintah
Kecuali orang yang lupa dan bocah
ﻭﺫﺍ ﺍﻟﺠﻨﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻠﻮﺍ
ﻭﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ ﻓﻰ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺩﺧﻠﻮﺍ
Orang yang lupa sampai ingat kembali
Orang yang gila sampai sadar kembali
Serta bocah kecil hingga mukalaf
Semua tak termasuk pada khitob taklif
ﻓﻰ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻟﻠﺸﺮﻳﻌﺔ
ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﺑﺪﻭﻧﻪ ﻣﻤﻨﻮﻋﻪ
Kafir disuruh mengerjakan syari’at
Tapi tak kan ditrima tanpa syahadat
ﻭﺫﻟﻚ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻓﺎﻟﻔﺮﻭﻉ
ﺗﺼﺤﻴﺤﻬﺎ ﺑﺪﻭﻧﻪ ﻣﻤﻨﻮﻉ
Disamping syari’at harus di kerjakan
Maka kafir masuk islam diprintahkan
Karna syari’at berjalan tanpa iman
Sama halnya berdasi tanpa pakaian
(ﺑﺎ ﺏ ﺍﻟﻌﺎﻡ )
BAB VI LAFADZ UMUM
ﻭﺣﺪﻩ ﻟﻔﻆ ﻳﻌﻢ ﺍﻛﺜﺮﺍ
ﻣﻦ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻣﺎ ﺣﺼﺮ ﻳﺮﻯ
Ta’rif lafadz umum ialah sesuatu
Yang mencakup lebih dari pada satu
Membutuhkan perincian selanjutnya
Lafadz kaum dirinci zaedun contohnya
ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻋﻤﻤﺘﻬﻢ ﺑﻤﺎ ﻣﻌﻰ
ﻭﻟﺘﻨﺤﺼﺮ ﺍﻟﻔﺎﻇﻪ ﻓﻰ ﺍﺭﺑﻊ
Lalu ringkasan lafadz umum terbagi
Empat bagian silahkan buka lagi
ﺍﻟﺠﻤﻊ ﻭﺍﻟﻔﺮﺩ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻓﺎﻥ
ﺑﺎﻟﻼﻡ ﻛﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺍﻻﻧﺴﺎﻥ
Satu kalimat jamak dima’rifatkan
Dengan alif lam contohnya dituliskan
Al-abroro itu golongan kebaikan
Al-fujjaro itu golongan keburukan
Dua kalimat mufrad dima’rifatkan
Dengan alif lam contohnya dihafalkan
Al-insan dan al-kafir itulah contoh
Ayo buka Al-Qur’an biar gak bodoh
ﻭﻛﻞ ﻣﺒﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻻﺳﻤﺎﺀ
ﻣﻦ ﺫﺍﻙ ﻣﺎ ﻟﻠﺸﺮﻁ ﻣﻦ ﺟﺰﺍﺀ
Yang ketiga tiap-tiap isim mubham
Atau maa syarthiyyah ayolah dipaham
ﻭﻟﻔﻆ ﻣﻦ ﻓﻰ ﻋﺎﻗﻞ ﻭﻟﻔﻆ ﻣﺎ
ﻓﻰ ﻏﻴﺮﻩ ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻯ ﻓﻴﻬﻤﺎ
Lafadz ”man” digunakan tuk yang berakal
Dan lafadz ”ma-“ untuk yang tak punya akal
Inilah “man” syarthiyah serta istifham
Juga “ma-“ syartiyah serta ma- istifham
Kemudian lafadz “ayun” digunakan
Yang berakal, tak berakal digunakan
ﻭﻟﻔﻆ ﺍﻳﻦ ﻭﻫﻮ ﻟﻠﻤﻜﺎﻥ
ﻛﺬﺍ ﻣﺘﻰ ﺍﻟﻤﻮﺿﻮﻉ ﻟﻠﺰﻣﺎﻥ
Serta “aina” menunjukan tempat itu
Begitupun “mata” menunjukan waktu
ﻭﻟﻔﻆ ﻻ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻜﺮﺍﺕ ﺛﻢ ﻣﺎ
ﻓﻰ ﻟﻔﻆ ﻣﻦ ﺍﺗﻰ ﺑﻬﺎ ﻣﺴﺘﻔﻬﻤﺎ
Yang ke empat lafadz “la-“ dalam nakirah
Tak seorang lelaki di dalam rumah
ﺛﻢ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﺑﻄﻠﺖ ﺩﻋﻮﺍﻩ
ﻓﻰ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﺑﻞ ﻭﻣﺎ ﺟﺮﻯ ﻣﺠﺮﺍﻩ
Lafadz umum dalam fiil dibatalkan
Karena hanya dalam “mantuq” diamalkan
( ﺑﺎ ﺏ ﺍﻟﺨﺎﺹ )
BAB VII LAFADZ KHUSUS
ﻭﺍﻟﺨﺎﺹ ﻟﻔﻆ ﻻ ﻳﻌﻢ ﺍﻛﺜﺮﺍ
ﻣﻦ ﻭﺍﺣﺪ ﺍﻭ ﻋﻢ ﻣﻊ ﺣﺼﺮ
Ta’rif lafadz khusus ialah sesuatu
Tak mencakup lebih dari pada satu
ﻭﺍﻟﻘﺼﺪ ﺑﺎﻟﺘﺨﺼﻴﺺ ﺣﻴﺜﻤﺎ ﺣﺼﻞ
ﺗﻤﻴﻴﺰ ﺑﻌﺾ ﺟﻤﻠﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺩﺧﻞ
Maksud takhis ialah pengecualian
Dari lafadz umum pada sebagian
ﻭﻣﺎ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺨﺼﻴﺺ ﺍﻣﺎ ﻣﺘﺼﻞ
ﻛﻤﺎ ﺳﻴﺎﺀﺗﻰ ﺍﻧﻔﺎ ﺍﻭ ﻣﻨﻔﺼﻞ
Takhsis itu ada dua klasifikasi
Takhsis mutasil munfasil bervariasi
Takhsis mutasil ”mukhosis” yang bersatu
Dengan “ ’am makhsus” pasti slalu menyatu
Sedangkan takhsis “munfasil” itu beda
Sebaliknya takhsis “mutasil” yang beda
Seperti “mukhosis”nya dalam Al-Qur’an
“ ‘Am makhsus”nya dalam hadits dinyatakan
ﻓﺎﻟﺸﺮﻁ ﻭﺍﻟﺘﻘﻴﻴﺪ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﺍﺗﺼﻞ
ﻛﺬﺍﻙ ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﺍﻧﻔﺼﻞ
Yang termasuk takhsis muttasil ialah
Syarat, qoyyid bil-sifat, istisna ghoyah
Badal ba’di min al-kul itu tambahan
Selain itu semua munfasil namakan
ﻭﺣﺪ ﺍﻻﺳﺘﺜﻨﺎﺀ ﻣﺎ ﺑﻪ ﺧﺮﺝ
ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺑﻌﺾ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﺍﻧﺪﺭﺝ
Istisna itu menngeluarkan sesuatu
Sebagian dari kalam yang bersatu
Seperti lafadz “zaidun” dikeluarkan
Dari satu kelompok atau golongan
ﻭﺷﺮﻃﻪ ﺍﻥ ﻻ ﻳﺮﻯ ﻣﻨﻔﺼﻼ
ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺴﺘﻐﺮﻗﺎ ﻟﻤﺎ ﺧﻼ
Syarat istisna itu ada empat warna
Satu jangan terpisah antar “mustasna”
Dengan “mustasna minhu” yang disebutkan
Dua “mustasna”nya janngan menghabiskan
ﻭﺍﻟﻨﻄﻖ ﻣﻊ ﺍﺳﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺑﻘﺮﺑﻪ
ﻭﻗﺼﺪﻩ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻧﻄﻘﻪ ﺑﻪ
Pada “mustasna minhu” tiga ucapkan
Dan orang terdekat dapat mendengarkan
Empat istisna dimaksud ”mutakallim”
Sebelum diucapkan si”mutakallim”
ﻭﺍﻻﺻﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻥ ﻣﺴﺘﺜﻨﺎﻩ
ﻣﻦ ﺟﻨﺴﻪ ﻭﺟﺎﺯ ﻣﻦ ﺳﻮﺍﻩ
Yang jadi asal dalam istisna itu
Ditempatkan di jenis “mustasna minhu”
Seperti halnya kaum telah berdiri
Kecuali pak zaed tidak berdiri
Dibolehkan istisna di tempatkannya
Bukan pada jenis “mustasna minhu”nya
ﻭﺟﺎﺯ ﺍﻥ ﻳﻘﺪﻡ ﺍﻟﻤﺴﺘﺜﻨﻰ
ﻭﺍﻟﺸﺮﻁ ﺍﻳﻀﺎ ﻟﻈﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ
Dibolehkan istisna di tempatkannya
Bukan pada jenis “mustasna minhu”nya
Dibolehkan istisna lebih dahulu
Daripada “mustasna minhu” dahulu
Begitupun syarat yang di dahulukan
Sedangkan jawabnya itu di akhirkan
ﻭﻣﺎﻟﻰ ﺍﻻ ﺍﻟﻰ ﺍﺣﻤﺪ ﺷﻴﺌﺔ
ﻭﻣﺎﻟﻰ ﺍﻻ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺤﻖ ﻣﺬﻫﺐ
“Tak ada bagiku kecuali pada
Keluarga Ahmad suatu kesejahteraan"
Asalnya: "tak ada bagiku suatu kesejahteraan
Kecuali pada keluarga Ahmad”
“Tak ada bagiku kecuali pada
Madzhab yang benar suatu madzhab”
Asalnya: “tak ada bagiku suatu
Madzhab kecuali pada madzhab yang benar”
ﻭﻳﺤﻤﻞ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻣﻬﻤﺎ ﻭﺟﺪﺍ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻨﻪ ﻗﻴﺪﺍ
Jika mutlak dan muqayad bertolakan
Maka mutlak pada muqayad pantaskan
Keumuman di dalam kifarat sumpah
Kekhususan dalam kifarat membunuh
ﻓﻤﻄﻠﻖ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺮ ﻓﻰ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ
ﻣﻘﻴﺪ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﺑﺎﻻﻳﻤﺎﻥ
Mutlak memerdekakan budak belian
Dipantaskan pada budak yang beriman
Inilah gambaran dari takhsis munfashil
Al-Qur’an ditakhsis al-Qur’an berhasil
Antara “mukhosis’ dengan ‘am makhsus”nya
Berbeda pada tempat atau suratnya
ﻓﻴﺤﻤﻞ ﺍﻟﻤﻄﻠﻖ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﺮ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﻗﻴﺪ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﺮ
Dalam kifarat sumpah mutlak memerdekakan
Budak belian beriman atau bukan
Dalam kifarat qotlu memerdekakan
Jika kontradiksi mutlak dan muqayyad
Muqayyad budak belian yang beriman
Pantaskanlah pada lafadz yang muqayyad
ﺛﻢ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﺧﺼﺼﻮﺍ
ﻭﺳﻨﺔ ﺑﺴﻨﺔ ﻳﺨﺼﺺ
Lalu al-Qur’an dengan al- Qur’an di takhsis
Serta Hadits ditakhsisnya dengan hadits
ﻭﺧﺼﺼﻮﺍ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺎ
ﻭﻋﻜﺴﻪ ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻳﻜﻦ ﺻﻮﺍﺑﺎ
Dan para Ulama menakhsis al-Qur’an
Dengan Hadits coba engkau balikan
ﻭﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﻛﻤﺎ
ﻗﺪ ﺧﺺ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﺱ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ
Dan al-Qur’an di takhsis ijma Ulama
Begitupun ditakhsis qias berguna
Hadits ditakhsis qias jangan lupakan
Beri contoh satu persatu hafalkan
( ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻤﺠﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻤﺒﻴﻦ )
BAB VIII LAFADZ MUJMAL dan MUBAYAN
ﻣﺎﻛﺎﻥ ﻣﺤﺘﺎﺟﺎ ﺍﻟﻰ ﺑﻴﺎﻥ
ﻓﻤﺠﻤﻞ ﻭﺿﺎﺑﻂ ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ
Yang disebut lafadz mujmal sesuatu
Yang membutuhkan penjelasan yang tentu
ﺍﺧﺮﺍﺟﻪ ﻣﻦ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻻﺷﻜﺎﻝ
ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺘﺠﺎﻟﻰ ﻭﺍﺗﻀﺎﺡ ﺍﻟﺤﺎﻝ
Penjelasan ialah mengeluarkan
Sesuatu dari suatu kesulitan
ﻛﺎﻟﻘﺮﺀ ﻭﻫﻮ ﻭﺍﺟﺪ ﺍﻻﻗﺮﺍﺀ
ﻓﻰ ﺍﻟﺤﻴﺾ ﻭﺍﻟﻄﻬﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ
Seperti qur-u dari jamak aqro-u
Pantas pada haid serta suci berlaku
ﻭﺍﻟﻨﺺ ﻋﺮﻓﺎ ﻛﻞ ﻟﻔﻆ ﻭﺍﺭﺩ
ﻟﻢ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺍﻻ ﻟﻤﻌﻨﻰ ﻭﺍﺣﺪ
Lafadz Nash menurutkan para Ulama
Yaitu lafadz yang punya satu makna
ﻛﻘﺪ ﺭﺍﻳﺖ ﺟﻌﻔﺮﺍ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﺎ
ﺗﺎﻭﻳﻠﻪ ﺗﻨﺰﻳﻠﻪ ﻓﻠﻴﻌﻠﻤﺎ
Nyata aku telah melihat Pak Ja’far
Itulah contohnya janganlah kau lempar
Pendapat qiil lafadz yang di ucapkannya
Langsung dapat dimengerti maknanya
ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻔﻴﺪ ﻣﺎ ﺳﻤﻊ
ﻣﻌﻨﻰ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﻟﻪ ﻭﺿﻊ
Lafadz dzohir menurut para Ulama
Tiap lafadz yang mengandung dua makna
Satu makna rojih yang diunggulkannya
Dua makna marjuh yang dilemahkannya
ﻛﺎﻻﺳﺪ ﺍﺳﻢ ﻭﺍﺣﺪ ﺍﻟﺴﺒﺎﻉ
ﻭﻗﺪ ﻳﺮﻯ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺍﻟﺸﺠﺎﻉ
“Asad” itu suatu nama hewan ganas
Digunakan tuk pria yang gagah pantas
Lafadz “asad” itu rojih bermakna
Suatu nama hewan yang ganas utama
Lafadz “asad” itu marjuh bermakna
Untuk nama seorang pria yang perkasa
ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺣﻴﺚ ﺍﺷﻜﻼ
ﻣﻔﻬﻮﻣﻪ ﻓﺒﺎﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻭﻻ
Dan lafadz dzohir yang tlah diceritakan
Jika maknanya sulit tuk diartikan
ﻭﺻﺎﺭ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺘﺎﻭﻳﻞ
ﻣﻘﻴﺪﺍ ﻓﻰ ﺍﻻﺳﻢ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ
Maka gunakanlah ta’wil dengan dalil
Maka jadi” dzohir muqayad bid dalil”
( ﺑﺎﺏ ﺍﻻﻓﻌﺎﻝ )
BAB IX PERBUATAN - PERBUATAN NABI
ﺍﻓﻌﺎﻟﻪ ﻃﻪ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ
ﺟﻤﻴﻌﻬﺎ ﻣﺮﺿﻴﺔ ﺑﺪﻳﻌﺔ
Pekerjaan Nabi pemilik aturan
Seluruhnya di ridloi kebenaran
Karena Nabi itu berpredikat
ma’sum
Tak kan melakukan dosa kesalahan
ﻭﻛﻠﻬﺎ ﺍﻣﺎ ﺗﺴﻤﻰ ﻗﺮﺑﻪ
ﻓﻄﺎﻋﺔ ﺍﻭﻻ ﻓﻔﻌﻞ ﺍﻟﻘﺮﺑﻪ
Segala pekerjaan Nabi terbagi
Qurbah, ghoer qurbah dua terbagi
Fi’lul qurbah disebutnya ketaatan
Ghoer qurbah disebutnya kebolehan
ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺼﻮﺻﻴﺎﺕ ﺣﻴﺚ ﻗﺎﻣﺎ
ﺩﻟﻴﻠﻬﺎ ﻛﻮﺻﻠﻪ ﺍﻟﺼﻴﺎﻣﺎ
Jika pada fi’lul qurbah ada dalil
Khusus Nabi, maka umat harus tinggal
Seperti berpuasanya siang malam
Puasa wishol bagi umat itu haram
ﻭﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻘﻢ ﺩﻟﻴﻠﻬﺎ ﻭﺟﺐ
ﻭﻗﻴﻞ ﻣﻮﻗﻮﻑ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﺴﺘﺤﺐ
Jika tidak terdapat suatu dalil
Jawabannya itu ada tiga qaul
Pertama wajib di Nabi dan umatnya
Dua di mauquf wajib atau sunatnya
ﻓﻰ ﺣﻘﻪ ﻭﺣﻘﻨﺎ ﻭﺍﻣﺎ
ﻣﺎﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺑﻘﺮﺑﺔ ﻳﺴﻤﻰ
Qaul ketiga mustahab di hak Nabi
Serta berlaku tuk seluruh umat Nabi
Pekerjaan Nabi dengan ghoer qurbah
Dinamakan dengan sesuatu yang mubah
ﻓﺎﻧﻪ ﻓﻰ ﺣﻘﻪ ﻣﺒﺎﺡ
ﻭﻓﻌﻠﻪ ﺍﻳﻀﺎ ﻟﻨﺎ ﻳﺒﺎﺡ
Mubah pada haknya Nabi dan umatnya
Begitupun berlaku bagi umatnya
Seperti istirahat, makan dan minum
Begitupun umatnya makan dan minum
ﻭﺍﻥ ﺍﻗﺮ ﻗﻮﻝ ﻏﻴﺮﻩ ﺟﻌﻞ
ﻛﻘﻮﻟﻪ ﻛﺬﺍﻙ ﻓﻌﻞ ﻗﺪ ﻓﻌﻞ
Jika ada ucapan sahabat Nabi
Kemudian dibiarkan oleh Nabi
Maka jadikan halnya ucapan Nabi
Penjelasan akan kebolehan ini
Jika ada prilaku sahabat Nabi
Kemudian dibiarkan oleh Nabi
Maka itu seperti prilaku Nabi
Seperti biyawak pasir dikonsumsi
ﻭﻣﺎ ﺟﺮﻯ ﻓﻰ ﻋﺼﺮﻩ ﺛﻢ ﺍﻃﻠﻊ
ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻥ ﺍﻗﺮﻩ ﻓﻠﻴﺘﺒﻊ
Prilaku dan ucapan sahabat Nabi
Yang menjadi kabar pada zaman Nabi
Jika Nabi membiarkan semua ini
Boleh diikuti disebut taqriri
( ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻨﺴﺦ )
BAB X ( NASAKH / SALINAN )
ﺍﻟﻨﺴﺦ ﻧﻘﻞ ﺍﻭ ﺍﺯﺍﻟﺔ ﻛﻤﺎ
ﺣﻜﻮﻩ ﻋﻦ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻓﻴﻬﻤﺎ
Pengertian Nasakh secara bahasa
Perpindahan atau penghapusan kata
ﻭﺣﺪﻩ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺍﻟﻼﺣﻖ
ﺛﺒﻮﺕ ﺣﻜﻢ ﺑﺎﻟﺨﻄﺎﺏ ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ
Nasakh menurut istilah hukum syara’
Itu menghilangkan khitab yang pertama
Serta menetapkan khitab yang kedua
Itu pun jika khitab kedua ada
ﺭﻓﻌﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﺗﻰ ﻟﻮﻻﻩ
ﻟﻜﺎﻥ ﺫﺍﻙ ﺛﺒﺘﺎ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ
Tapi jika khitab kedua tak ada
Maka ketetapan pada yang pertama
ﻣﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﺍﺫﺍ ﺗﺮﺍﺧﻰ ﻋﻨﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ
Cara nasakh jika khitab yang kedua Lebih akhir dari khitab yang pertama Asbab an nuzul jika dalam al-Qur’an Asbab al wurud pada hadits demikian
ﻭﺟﺎﺯ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﺮﺳﻢ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺤﻜﻢ
ﻛﺬﺍﻙ ﻧﺴﺦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺮﺳﻢ
Dibolehkan nasakh tulisan tak hukum
Begitupun sebaliknya harap maklum
ﻭﻧﺴﺦ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺍﻟﻰ ﺑﺪﻝ
ﻭﺩﻭﻧﻪ ﻭﺫﺍﻙ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺣﺼﻞ
Serta dinasakh tulisan dan hukumnya
Mari kita lihat perbandingannya
ﻭﺟﺎﺯ ﺍﻳﻀﺎ ﻛﻮﻧﻪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺒﺪﻝ
ﺍﺧﻒ ﺍﻭ ﺍﺷﺪ ﻣﻤﺎ ﻗﺪ ﺑﻄﻞ
Antara naasikh dan mansukh itu beda
Mansukh berat tapi naasikh sebaliknya
Ayat mushabarah sebagai contohnya
Satu mukmin lawan sepuluh kafirnya
Kemudian dinasakh menjadi ringan
Satu mukmin lawan dua itu ringan
ﺛﻢ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻳﻨﺴﺦ
ﻛﺴﻨﺔ ﺑﺴﻨﺔ ﻓﺘﻨﺴﺦ
Al Qur’an oleh al Qur’an dinasakh
Seperti sunnah dinasakh oleh sunnah
ﻭﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺍﻥ ﻳﻨﺴﺦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ
ﺑﺴﻨﺔ ﺑﻞ ﻋﻜﺴﻪ ﺻﻮﺍﺏ
Dan tak dibolehkan menasakh al-Qur’an
Dengan sunnah karena janganlah dilawan
Karena pangkat al-Qur’an itu yakin
Sedangkan assunah itu berpangkat dzon
Tapi jika sunnah dinasakh al-Qur’an
Hal seperti itu dapat dibenarkan
ﻭﺫﻭ ﺗﻮﺍﺗﺮ ﺑﻤﺜﻠﻪ ﻧﺴﺦ
ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻓﻠﻴﻨﺘﺴﺦ
Hadits mutawatir dinasakh sejenisnya
Ghaer mutawatir dinasakh sejenisnya
ﻭﺍﺧﺘﺎﺭ ﻗﻮﻡ ﻧﺴﺦ ﻣﺎ ﺗﻮﺍﺗﺮﺍ
ﺑﻐﻴﺮﻩ ﻭﻋﻜﺴﻪ ﺣﺘﻤﺎ ﻳﺮﻯ
Pendapat kaum membolehkan menasakh
Mutawatir dengan beda jenis dinasakh
Dan ghaer mutawatir itu dinasakh
Oleh hadits yang mutawatir dinasakh
( ﺑﺎﺏ ﻓﻰ ﺑﻴﺎﻥ ﻣﺎﻳﻔﻌﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﺘﻌﺎﺭﺽ )
BAB XI KONTRADIKSI DALIL
ﺗﻌﺎﺭﺽ ﺍﻟﻨﻄﻘﻴﻦ ﻓﻰ ﺍﻻﺣﻜﺎﻡ
ﻳﺎﺗﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﻗﺴﺎﻡ
Warna kontra dua mantuq dalam hukum
Itu terdapat empat bagian maklum
ﺍﻣﺎ ﻋﻤﻮﻡ ﻭﺧﺼﻮﺹ ﻓﻴﻬﺎ
ﺍﻭﻛﻞ ﻧﻄﻖ ﻓﻴﻪ ﻭﺻﻒ ﻣﻨﻬﺎ
Dua mantuq yang sama umum pertama
Dua mantuq yang sama khusus kedua
Mantuq pertama itu umum yang ketiga
Diikuti mantuq khusus yang kedua
ﺍﻭ ﻓﻴﻪ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻭﻳﻌﺘﺒﺮ
ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺻﻔﻴﻦ ﻓﻰ ﻭﺟﻪ ﻇﻬﺮ
Empat mantuq pertama umum dan khusus
Mantuq selanjutnya juga umum khusus
ﻓﻰ ﺍﻻﻭﻟﻴﻦ ﻭﺍﺟﺐ ﺍﻥ ﺍﻣﻜﻨﺎ
ﻓﺎﻟﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﺗﻌﺎﺭﺿﺎ ﻫﻨﺎ
Gabungkanlah dua lafadz bertentangan
Yang semuanya memiliki keumuman
Hal itu pun jika mungkin dikumpulkan
Jika tidak sya’ir berikut lanjutkan
ﻭﺣﻴﺚ ﻻ ﺍﻣﻜﺎﻥ ﻓﺎﻟﺘﻮﺍﻗﻒ
ﻣﺎﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺗﺎﺭﻳﺦ ﻛﻞ ﻳﻌﺮﻑ
Namun jika tidak mungkin dikumpulkan
Maka solusinya itu ditangguhkan
Sehingga ada yang mampu mengunggulkan
Terhadap salah satu yang bertentangan
ﻓﺎﻥ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻭﻗﺖ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ
ﻓﺎﻟﺜﺎﻥ ﻧﺎﺳﺦ ﻟﻤﺎ ﺗﻘﺪﻣﺎ ﻓﺎﻥ
Jika terdapat dua lafadz bertentangan
Yang pertama menunjukan kehalalan
Yang kedua menunjukan keharaman
Maka yang kedualah yang digunakan
ﻭﺧﺼﺼﻮﺍ ﻓﻰ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻤﻌﻠﻮﻡ
ﺑﺬﻯ ﺍﻟﺨﺼﻮﺹ ﻟﻔﻆ ﺫﻯ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ
Jika terdapat dua lafadz bertentangan
Yang pertama menunjukan keumuman
Dan kedua menunjukan kekhususan
Maka yang kedua yang diutamakan
ﻭﻓﻰ ﺍﻻﺧﻴﺮ ﺷﻄﺮ ﻛﻞ ﻧﻄﻖ
ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻖ ﺣﻜﻢ ﺫﺍﻙ ﺍﻟﻨﻄﻖ
ﻓﺎﺧﺼﺺ ﻋﻤﻮﻡ ﻛﻞ ﻧﻄﻖ ﻣﻨﻬﻤﺎ
ﺑﺎﻟﻀﺪ ﻣﻦ ﻗﺴﻤﻴﻪ ﻭﺍﻋﺮﻓﻨﻬﻤﺎ
Jika dalil pertama umum dan khusus
Dalil yang kedua juga umum khusus
Maka keumuman dalil yang pertama
Ditakhsis kehususan dalil kedua
Serta keumuman dalil yang dua
Ditakhsis kekhususan dalil pertama
( ﺑﺎﺏ ﺍﻻﺟﻤﺎﻉ )
BAB XII IJMA’
ﻫﻮ ﺍﺗﻔﺎﻕ ﻛﻞ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﻌﺼﺮ
ﺍﻯ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺩﻭﻥ ﻧﻜﺮ
ﻋﻠﻰ ﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺣﻜﻢ ﺍﻣﺮ ﻗﺪ ﺣﺪﺙ
ﺷﺮﻋﺎ ﻛﺤﺮﻣﺔ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺎﻟﺤﺪﺙ
Ijma’ yaitu suatu kesepakatan
Para ulama fiqih yang menetapkan
Pada hukum syara’ menetapkan
Shalat bagi yang berhadats diharamkan
ﻭﺍﺣﺘﺞ ﺑﺎﻻﺟﻤﺎﻉ ﻣﻦ ﺫﻯ ﺍﻻﻣﺔ
ﻻ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﺍﺫ ﺧﺼﺼﺖ ﺑﺎﻟﻌﺼﻤﺔ
Dan ijma’ itu dapat dijadikan
Bagi umat nabi dijadikan alasan
Tetapi bukan umat yang lainnya
Ijma’nya tak dapat dijadikan alasan
ﻭﻛﻞ ﺍﺟﻤﺎﻉ ﻓﺤﺠﺔ ﻋﻠﻰ
ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻓﻰ ﻛﻞ ﻋﺼﺮ ﺍﻗﺒﻼ
Dapat di pakai alasan setiap ijma’nya
Bagi generasi umat selanjntnya
Seperti ijma’ para sahabat Nabi
Di pakai oleh pengikut sahabat Nabi
ﺛﻢ ﺍﻧﻘﺮﺍﺽ ﻋﺼﺮﻩ ﻟﻢ ﻳﺸﺘﺮﻁ
ﺍﻯ ﻓﻰ ﺍﻧﻌﻘﺎﺩﻩ ﻭﻗﻴﻞ ﻣﺸﺘﺮﻁ
Dan tak disyaratkan bagi sahnya ijma’
Dengan wafat para ahli zaman ijma’
Jadi meski ahli ijma’ masih ada
Maka ijma’ tersebut masih berguna
Itulah pendapat qoul yang pertama
Dan sebaliknya menurut qoul kedua
ﻭﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﻻﻫﻠﻪ ﺍﻥ ﻳﺮﺟﻌﻮﺍ
ﺍﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﻓﻠﻴﺲ ﻳﻤﻨﻊ
Bagi mujmi’in tidak diperbolehkan
Hal yang telah disepakati dibatalkan
ﻭﻟﻴﻌﺘﺒﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻮﻝ ﻣﻦ ﻭﻟﺪ
ﻭﺻﺎﺭ ﻣﺜﻠﻬﻢ ﻓﻘﻴﻬﺎ ﻣﺠﺘﻬﺪ
Qoul ke dua juga memperhitungkan
Ucapan orang yang dilahirkan
Pada saat hidupnya ahli Ijma’
Dan dia tumbuh menjadi ahli Ijma’
Atau menjadi ahli Fiqih yang hebat
Atau menjadi ahli Ijtihad kuat
ﻭﻳﺤﺼﻞ ﺍﻻﺟﻤﺎﻉ ﺑﺎﻻﻗﻮﺍﻝ
ﻣﻦ ﻛﻞ ﺍﻫﻠﻪ ﻭﺑﺎﻻﻓﻌﺎﻝ
Dan Ijma’ dihasilkan dengan ucapan
Tiap ahli serta dengan pekerjaan
ﻭﻗﻮﻝ ﺑﻌﺾ ﺣﻴﺚ ﺑﺎﻗﻴﻬﻢ ﻓﻌﻞ
ﻭﺑﺎﻧﺘﺸﺎﺭ ﻣﻊ ﺳﻜﻮﺗﻬﻢ ﺣﺼﻞ
Empat bagian ijma’ itu terbagi
Ijma’ qauli dua ijma’ af’ali
Ijma’ mukhtaliqat itu yang ketiga
Empat ijma’ sukuti semua berharga
ﺛﻢ ﺻﺤﺎﺑﻰ ﻗﻮﻟﻪ ﻋﻦ ﻣﺬﻫﺒﻪ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻓﻬﻮ ﻻ ﻳﺤﺘﺞ ﺑﻪ
ﻭﻓﻰ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺣﺠﺔ ﻟﻤﺎ ﻭﺭﺩ
ﻓﻰ ﺣﻘﻬﻢ ﻭﺿﻌﻔﻮﻩ ﻓﻠﻴﺮﺩ
Menurut qoul jadid Imam Syafi’i
Bisa dipake hujjah qoul shahabi
Oleh sahabat-sahabat yang lainnya
Tapi qoul Qadim itu sebaliknya
Jika hal itu terjadi kontradiksi
Utama qoul jadid Imam Syafi’i
( ﺑﺎﺏ ﺑﻴﺎﻥ ﺍﻻﺧﺒﺎﺭ )
BAB XIII AL-IKHBAR ( BERITA )
ﻭﺍﻟﺨﺒﺮ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﺍﻟﻤﻔﻴﺪ ﺍﻟﻤﺤﺘﻤﻞ
ﺻﺪﻗﺎ ﻭﻛﺬﺑﺎ ﻣﻨﻪ ﻧﻮﻉ ﻗﺪ ﻧﻘﻞ
Khobar yaitu lafadz yang dipantaskan
Pada kebenaran serta kebohongan
Namun ada khobariyah dipantaskan
Maqtu’un bil Sidqi pada kebenaran
Serta ada khobariyah dipantaskan
Maqtu’un bil Kidzbi pada kebohongan
Kalamullah contoh Maqtu’un bil Sidqi
Musailamah contoh Maqtu’un bil Kidzbi
ﺗﻮﺍﺗﺮﺍ ﻟﻠﻌﻠﻢ ﻗﺪ ﺍﻓﺎﺩﺍ
ﻭﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻋﺘﺒﺮ ﺍﺣﺎﺩﺍ
Khobariyah terbagi dua bagian
Khobar mutawatir, ahad kemudian
Khobar mutawatir itu menyakinkan
Sedang khobar ahad itu diragukan
ﻓﺎﻭﻝ ﺍﻟﻨﻮﻋﻴﻦ ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ
ﺟﻤﻊ ﻟﻨﺎ ﻋﻦ ﻣﺜﻠﻪ ﻋﺰﺍﻩ
Khobar mutawatir itu hasil panca indra
Yang diriwayatkan lebih dari dua
Yang mustahil dari kelompok pembohong
Karna itu janganlah engkau berbohong
ﻭﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﺬﻯ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺨﺒﺮ
ﻻ ﺑﺎﺟﺘﻬﺎﺩ ﺑﻞ ﺳﻤﺎﻉ ﺍﻭ ﻧﻈﺮ
ﻭﻛﻞ ﺟﻤﻊ ﺷﺮﻃﻪ ﺍﻥ ﻳﺴﻤﻌﻮﺍ
ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ ﻣﻨﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻮﺍﻃﻰ ﻳﻤﻨﻊ
Syarat mutawatir itu ada tiga
Beritanya harus hasil panca indera
Hasil penglihatan serta pendengaran
Diri sendiri bukan hasil yang lain
Jumlah rowi harus sampai ketetapan
Serta kelompok pembohong itu bukan
Adad mutawatir dari Abu Thoyib
Empat orang diqiyaskan pada syahid
Sedangkan menurut Ashab As-Syafi’i
Lima orang qiyas pada ulul azmi
Pendapat yang lain dua puluh orang
Ayat mushabarah al-Qur’an dipegang
Syarat ketiga ada keseimbangan
Adad mutawatir ditiap lapisan
Pembagian mutawatir itu dua
Mutawatir lafdzi, ma’nawi kedua
ﺛﺎﻧﻴﻬﻤﺎ ﺍﻻﺣﺎﺩ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﻌﻤﻞ
ﻻ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺍﻟﻈﻦ ﺣﺼﻞ
Khobar ahad itu wajib diamalkan
Meski khobar ahad itu diragukan
Karena hukum khobar dzon diutamakan
Yang utama itu wajib diamalkan
ﻟﻤﺮﺳﻞ ﻭﻣﺴﻨﺪ ﻗﺪ ﻗﺴﻤﺎ
ﻭﺳﻮﻑ ﻳﺎﺗﻰ ﺫﻛﺮ ﻛﻞ ﻣﻨﻬﻤﺎ
Pembagian khobar ahad ada dua
Pertama musnad serta mursal kedua
ﻓﺤﻴﺜﻤﺎ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ ﻳﻔﻘﺪ
ﻓﻤﺮﺳﻞ ﻭﻣﺎ ﻋﺪﺍﻩ ﻣﺴﻨﺪ
Hadits mursal yaitu yang sebagian
Dari para rowi itu digugurkan
Khobar ahad mursal itu ada tiga
Satu jali, khafi, shohabi ketiga
ﻟﻜﻦ ﻣﺮﺍﺳﻴﻞ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﻰ ﺗﻘﺒﻞ ﻟﻼﺣﺘﺠﺎﺝ ﺻﺎﻟﺢ ﻻ ﺍﻟﻤﺮﺳﻞ
Hadits musnad itu sah dipakai hujjah
Hadits mursal tidak sah dipakai hujjah
Hadits mutawatir sah dipakai hujjah
Hanya mutawatir shohabi ayo melangkah
ﻛﺬﺍ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻤﺴﻴﺐ ﺍﻗﺒﻼ
ﻓﻰ ﺍﻻﺣﺘﺠﺎﺝ ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺮﺳﻼ
Hadits Sa’id bin Musayyab Diterima
Serta dijadikan hujjah juga bisa
ﻭﺍﻟﺤﻘﻮﺍ ﺑﺎﻟﻤﺴﻨﺪ ﺍﻟﻤﻌﻨﻌﻨﺎ
ﻓﻰ ﺣﻜﻤﻪ ﺍﻟﺬﻯ ﻟﻪ ﺗﺒﻴﺎﻥ
Dan para Ulama mengikutsertakan
Pada hadits musnad yaitu mu’an’an
Sama halnya dapat dipakai alasan
Serta sanad ittishal pada utusan
Syarat hadits mu’an’an yang disamakan
Dengan hadits musnad itu disyaratkan
Pertama mu’an’innya jangan keliru
Dua pernah bertemu dengan sang guru
Inilah pendapat Imam Al-Bukhori
Lain halnya dengan Imam Muslim sendiri
Antara mu’an’in dengan gurunya
Haruslah satu zaman dalam hidupnya
ﻭﻗﺎﻝ ﻣﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﻴﺨﻪ ﻗﺮﺍ
ﺣﺪﺛﻨﻰ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﺧﺒﺮﺍ
Apabila murid langsung mendengarkan
Tentang hadits dari guru dibacakan
Maka bagi murid bisa mengatakan
Akhbarani, hadatsani dikatakan
Ini penyampaian hadits yang pertama
Merupakan cara yang paling utama
ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﻓﻰ ﻋﻜﺴﻪ ﺣﺪﺛﻨﻰ
ﻟﻜﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺭﺍﻭﻳﺎ ﺍﺧﺒﺮﻧﻰ
Lafadz hadatsani jangan di ucapkan
Jika cara penyampaian dibacakan
Pada tulisan dan guru mendengarkan
Yang ini merupakan cara bandungan
ﻭﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻘﺮﺀ ﻭﻗﺪ ﺍﺟﺎﺯﻩ
ﻳﻘﻮﻝ ﻗﺪ ﺍﺧﺒﺮﻧﻰ ﺍﺟﺎﺯﻩ
Yang ke tiga sang guru mengijazahkan
Kepada murid untuk meriwayatkan
Maka bagi rawi harus menyatakan
Ajazanie, akhbaranie ijazatan
( ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ )
BAB XIV ( Q I Y A S )
ﺍﻣﺎ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ ﺍﻟﻔﺮﻉ
ﻟﻼﺻﻞ ﻓﻰ ﺣﻜﻢ ﺻﺤﻴﺢ ﺷﺮﻋﻰ
Qiyas itu menyamakan sesuatu
Dari maqies pada maqies ‘alaih itu
Qiyas inilah dalil syara’ ke empat
Al-Qur’an, al- Hadits, Ijma’ tepat
ﻟﻌﻠﺔ ﺟﺎﻣﻌﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﺤﻜﻢ
ﻭﺍﻟﻴﻌﺘﺒﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﺮﺳﻢ
Rukun qiyas semua empat bagian
Maqies, yang ke dua maqies ‘alaih dan
Tiga ‘illat ada titik persamaan
Antara yang disamakan, menyamakan
Akan kepastian pada satu hukum
Wajib atau haram itu jadi maklum
ﻟﻌﻠﺔ ﺍﺿﻔﻪ ﺍﻭ ﺩﻻﻟﺔ
ﺍﻭ ﺷﺒﻪ ﺛﻢ ﺍﻋﺘﺒﺮ ﺍﺣﻮﺍﻟﻪ
Pembagian qiyas itu ada tiga
Qiyas ‘illat, serta dilalah ke dua
Serta qiyas syibhu itu yang ke tiga
Mari perhatikan dengan penuh seksama
ﺍﻭﻟﻬﺎ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻌﻠﺔ
ﻣﻮﺟﺒﺔ ﻟﻠﺤﻜﻢ ﻣﺴﺘﻘﻠﺔ
ﻓﻀﺮﺑﻪ ﻟﻠﻮﺍﻟﺪﻳﻦ ﻣﻤﺘﻨﻊ
ﻛﻘﻮﻝ ﺍﻑ ﻭﻫﻮ ﻟﻼﻳﺬﺍ ﻣﻨﻊ
Qiyas ‘illat merupakan sesuatu ‘illat pada qiyas wajib yang dituju
Pada satu hukum seperti contohnya
Pukulan kepada orang tuanya
Dengan memakinya itu sama saja
Dengan menyakiti, maka haram hukumnya
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻰ ﻣﺎﻟﻢ ﻳﻮﺟﺐ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻞ
ﺣﻜﻤﺎ ﺑﻪ ﻟﻜﻨﻪ ﺩﻟﻴﻞ
ﻓﻴﺴﺘﺪﻝ ﺑﺎﻟﻨﻈﻴﺮ ﺍﻟﻤﻌﺘﺒﺮ
ﺷﺮﻋﺎ ﻋﻠﻰ ﻧﻈﻴﺮﻩ ﻓﻴﻌﺘﺒﺮ
ﻛﻘﻮﻟﻨﺎ ﻣﺎﻝ ﺍﻟﺼﺒﻰ ﺗﻠﺰﻡ
ﺯﻛﺎﺗﻪ ﻛﺒﺎﻟﻎ ﺍﻯ ﻟﻠﻨﻤﻮ
Serta yang ke dua qiyas dlilalah
Qiyas yang terdapat suatu ‘illah
Pada satu hukum ‘illat menunjukan
Tapi pada hukum tidak diwajibkan
Bak harta anak pada orang dewasa
Maka wajib zakat itu titik sama
ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﻟﻔﺮﻉ ﺍﻟﺬﻯ ﺗﺮﺩﺩﺍ
ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﺻﻠﻴﻦ ﺍﻋﺘﺒﺎﺭﺍ ﻭﺟﺪﺍ
Dan ke tiga maqies yang berbolak-balik
Antara dua asal mana yang baik
Seperti abid di rusak orang lain
Bolak-balik antara manusia hewan
Dari putra adam pandangan merdeka
Di pandang hewan abid adalah harta
ﻓﻠﻴﻠﺘﺤﻖ ﺑﺎﻯ ﺫﻳﻦ ﺍﻛﺜﺮﺍ
ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻰ ﻭﺻﻔﻪ ﺍﻟﺬﻯ ﻳﺮﻯ
ﻓﻠﻴﻠﺤﻖ ﺍﻟﺮﻗﻴﻖ ﻓﻰ ﺍﻻﺗﻼﻑ
ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ ﻻ ﺑﺎﻟﺤﺮﻓﻰ ﺍﻻﻭﺻﺎﻑ
Abid yang di persamakan pada harta
Itu lebih banyak dari pada satwa
Karena abid suka di jual belikan
Diwakafkan ataupun diwasiatkan
( ﻓﺼﻞ ﻓﻰ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﺭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ )
PASAL PERSYARATAN RUKUN QIYAS
ﻭﺍﻟﺸﺮﻁ ﻓﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﻛﻮﻥ ﺍﻟﻔﺮﻉ
ﻣﻨﺎﺳﺒﺎ ﻻﺻﻠﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻤﻊ
Ada empat syarat pada rukun qiyas
Munasabah maqies ‘alaih serta maqies
ﺑﺎﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻻﻣﺮﻳﻦ
ﻣﻨﺎﺳﺒﺎ ﻟﻠﺤﻜﻢ ﺩﻭﻥ ﻣﻴﻦ
Seperti adanya ’illat mengumpulkan
Maqies, maqies ‘alaih itu disatukan
Haruslah disamakan terhadap hukum
Yang terdapat pada maqies harap mafhum
ﻭﻛﻮﻥ ﺫﺍﻙ ﺍﻻﺻﻞ ﺛﺎﺑﺘﺎ ﺑﻤﺎ
ﻳﻮﺍﻓﻖ ﺍﻟﺨﺼﻤﻴﻦ ﻓﻰ ﺭﺍﻳﻬﻤﺎ
Maqies ‘alaih mestinya tlah ditentukan
Oleh hadits ataupun dalil al-Qur’an
Pendapat mudda’i serta mustadilnya
Haruslah sama ini yang ke duanya
ﻭﺷﺮﻁ ﻛﻞ ﻋﻠﺔ ﺍﻥ ﺗﻄﺮﺩ
ﻓﻰ ﻛﻞ ﻣﻌﻠﻮﻻﺗﻬﺎ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﺮﺩ
Yang ketiga muthorid pada ‘illatnya
Serta pada hukum seperti ‘illatnya
Yang terdapat pada sebuah surahnya
Hukum telah ada bersama ‘illatnya
Maka tidaklah boleh bagi ‘illatnya Berpisah dari hukum tuk selamanya
ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻘﺾ ﻟﻔﻈﺎ ﻭﻻ ﻣﻌﻨﻰ ﻓﻼ
ﻗﻴﺎﺱ ﻓﻰ ﺫﺍﺕ ﺍﻧﺘﻘﺎﺽ ﻣﺴﺠﻼ
‘illat tidaklah batal pada lafadznya
Dan maknanya, jika ada batal qiyasnya
Contoh ’illat yang batal pada lafadznya
Lafadz ‘illat pada surah tanpa hukumnya
Contoh ’illat yang batal pada maknanya
Makna yang dipakai ‘illat tanpa hukumnya
ﻭﺍﻟﺤﻜﻢ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻃﻪ ﺍﻥ ﻳﺘﺒﻌﺎ
ﻋﻠﺘﻪ ﻧﻔﻴﺎ ﻭﺍﺛﺒﺎﺗﺎ ﻣﻌﺎ
Syarat yang ke empat adalah hukumnya
Harus mengikuti terhadap ‘illatnya
Di dalam segi nafi serta itsbatnya
Hukum serta ‘illat harus bersamanya
Ada ‘illat, ada pula hukumnya
Begitupun jika ‘illat sebaliknya
ﻓﻬﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﻟﻪ ﺣﻘﻴﻘﺎ ﺗﺠﻠﺐ
ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻯ ﻟﻬﺎ ﻛﺬﺍﻙ ﻳﺠﻠﺐ
‘illat itu penyebab hukum adanya
Serta hukum ditarik ‘illat sebabnya
PASAL HARAM dan IBAHAH (LARANGAN dan KEBOLEHAN)
ﻻ ﺣﻜﻢ ﻗﺒﻞ ﺑﻌﺜﺔ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
ﺑﻞ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺑﻤﻘﺘﻀﻰ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
Tak ada hukum sebelum ada Rosul
Adanya hukum setelah ada Rosul
ﻭﺍﻻﺻﻞ ﻓﻰ ﺍﻻﺷﻴﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺸﺮﻉ
ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻻ ﺑﻌﺪ ﺣﻜﻢ ﺷﺮﻋﻰ
Sebelum syara’ sesuatu itu haram
Tapi setelahnya itu selain haram
Jika hukum itu tidak ditemukan
Haram atau halal itu kembalikan
Pada hukum haram engkau kembalikan
Karena asal sesuatu di haramkan
ﺑﻞ ﻣﺎ ﺍﺣﻞ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺣﻠﻠﻨﺎﻩ
ﻭﻣﺎ ﻧﻬﺎﻧﺎ ﻋﻨﻪ ﺣﺮﻣﻨﺎﻩ
Jika sesuatu di halalkan syara’
Maka sesuatu halal bagi kita
Jika sesuatu di haramkan syara’
Maka sesuatu haram bagi kita
ﻭﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻧﺠﺪ ﺩﻟﻴﻞ ﺣﻞ
ﺷﺮﻋﺎ ﺗﻤﺴﻜﻨﺎ ﺑﺤﻜﻢ ﺍﻻ ﺻﻞ
Tapi jika kita tidak menemukan
Dalil syara’ akan hukum kehalalan
Maka hukum asal itu kita pegang
Yaitu haram janganlah engkau tegang
ﻣﺴﺘﺼﺤﺒﻴﻦ ﺍﻻﺻﻞ ﻻ ﺳﻮﺍﻩ
ﻭﻗﺎﻝ ﻗﻮﻡ ﺿﺪ ﻣﺎ ﻗﻠﻨﺎﻩ
Hukum asal semua mengabadikan
Ketika dalil syara’ tak ditemukan
Seperti mujtahid tidak mendapatkan
Pada hukum puasa rajab di wajibkan
Kemudian mujtahidin mengatakan
Puasa rajab itu tidak di wajibkan
Berdasarkan pada istishabul halnya
Hal ini tentu bisa jadi hujjahnya
Karna istishab ada dua macamnya
Satu istishabul hal dua masyhurnya
Menurut pendapat kaum sebaliknya
Hukum asal sesuatu halalnya
ﺍﻯ ﺍﺻﻠﻬﺎ ﺍﻟﺘﺤﻠﻴﻞ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻭﺭﺩ
ﺗﺤﺮﻳﻤﻬﺎ ﻓﻰ ﺷﺮﻋﻨﺎ ﻓﻼ ﻳﺮﺩ
Kecuali dalil syara’ mengharamkan
Maka bagi kita juga mengharamkan
ﻭﻗﻴﻞ ﺍﻥ ﺍﻻﺻﻞ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻨﻔﻊ
ﺟﻮﺍﺯﻩ ﻭﻣﺎ ﻳﻀﺮ ﻳﻤﻨﻊ
Dan menurut pendapat qiil yang lainnya
Asal sesuatu ada manfaatnya
Maka itu diperbolehkan hukumnya
Lain halnya jika timbul madlaratnya
Maka itu di haramkan baginya
Semua ini berbagai pendapatnya
ﻭﺣﺪ ﺍﻻﺳﺘﺼﺤﺎﺏ ﺍﺧﺬ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ
ﺑﺎﻻﺻﻞ ﻋﻦ ﺩﻟﻴﻞ ﺣﻜﻢ ﻗﺪ ﻓﻘﺪ
Istishabul masyhur itu ketetapan
Sesuatu yang ke dua pada zaman
Dengan sebab ketetapan sesuatu
Yang terjadi pada waktu yang ke satu
( ﺑﺎﺏ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﺍﻻﺩﻟﺔ )
BAB XV (KETERTIBAN DALIL)
ﻭﻗﺪﻣﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻻﺩﻟﺔ ﺍﻟﺠﻠﻰ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻔﻰ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭﺍﻟﻌﻤﻠﻰ
Ketertiban dalam menggunakan dalil
Misalnya terjadi kontradiksi dalil
Yang pertama Ulama mendahulukan
Dalil jaliy serta khofiy di akhirkan
Begitupun dengan makna yang hakiki
Serta majazi dahulukan hakiki
ﻭﻗﺪﻣﻮﺍ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﻔﻴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻢ
ﻋﻠﻰ ﻣﻔﻴﺪ ﺍﻟﻈﻦ ﺍﻯ ﻟﻠﺤﻜﻢ
Dalil yaqin di dahulukan Ulama
Dan dalil dzoni di akhirkan Ulama
Seperti halnya hadits mutawatirnya
Maka di akhirkan hadits ahadnya
ﺍﻻ ﻣﻊ ﺍﻟﺨﺼﻮﺹ ﻭﺍﻟﻌﻤﻮﻡ
ﻓﻠﻴﺆﺕ ﺑﺎﻟﺘﺨﺼﻴﺺ ﻻ ﺍﻟﺘﻘﺪﻳﻢ
Kecuali lafadz mutawatir umum
Di takhsis hadits ahad menjadi maklum
ﻭﺍﻟﻨﻄﻖ ﻗﺪﻡ ﻋﻦ ﻗﻴﺎﺳﻬﻢ ﺗﻒ
ﻭﻗﺪﻣﻮﺍ ﺟﻠﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻔﻰ
Lafadz al-Qur’an as-sunah dahulu
Baru pergunakan qiyas jika perlu
Tapi kecuali jika lafadz umum
Di takhsis qiyas agar menjadi mafhum
Dan Ulama pun slalu mendahulukan
Qiyas jaliy, qiyas khofiy di akhirkan
Seperti qiyas ‘illat di dahulukan
Serta qiyas syibhu itu diakhirkan
ﻭﺍﻥ ﻳﻜﻦ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻄﻖ ﻣﻦ ﻛﺘﺎﺏ
ﺍﻭ ﺳﻨﺔ ﺗﻐﻴﻴﺮ ﺍﻻﺳﺘﺼﺤﺎﺏ
ﻓﺎﻟﻨﻄﻖ ﺣﺠﺔ ﺍﺫﺍ ﻭﺍﻻ
ﻓﻜﻦ ﺑﺎﻻﺳﺘﺼﺤﺎﺏ ﻣﺴﺘﺪﻻ
Dan jika ada lafadz dalam al-Qur’an
Ataupun hadits yang bisa merubahkan
Pada istishabul hal maka gunakan
Maka jelas Qur’an hadits digunakan
Dan jika tidak ada yang merubahkan
Maka istishabul halnya digunakan
( ﺑﺎﺏ ﺍﻯ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻔﺘﻰ ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﻔﺘﻰ ﻭﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ )
BAB XVI ( MUFTI, MUSTAFTI dan TAQLID )
ﻭﺍﻟﺸﺮﻁ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﻔﺘﻰ ﺍﺟﺘﻬﺎﺩ ﻭﻫﻮ ﺍﻥ
ﻳﻌﺮﻑ ﻣﻦ ﺍﻯ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﻦ
Dan syarat menjadi seorang mujtahid
Harus tahu hadits serta ayat kitab
ﻭﺍﻟﻔﻘﻪ ﻓﻰ ﻓﺮﻭﻋﻪ ﺍﻟﺸﻮﺍﺭﺩ
ﻭﻛﻞ ﻣﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻮﺍﻋﺪ
Dan tahu asal fiqih serta furu’nya
Detilnya serta kaidah fiqihnya
ﻣﻊ ﻣﺎ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻟﺘﻰ
ﺗﻘﺮﺭﺕ ﻭﻣﻦ ﺧﻼﻑ ﻣﺜﺒﺖ
Serta tahu madzhab yang tlah di tentukan
Dan mengetahui akan perbedaan
ﻭﺍﻟﻨﺤﻮ ﻭﺍﻻﺻﻮﻝ ﻣﻊ ﻋﻠﻢ ﺍﻻﺩﺏ
ﻭﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﺘﻰ ﺍﺗﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺮﺏ
ﻗﺪﺭﺍ ﺑﻪ ﻳﺴﺘﻨﺒﻂ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻼ
ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻟﻤﻦ ﻳﻜﻦ ﺳﺎﺋﻼ
Tahu ilmu nahwu, usul serta adab
Serta tahu mufradat bahasa arab
Ilmu yang dibutuhkan tuk menetapkan
Hukum oleh mujtahid kan ditetapkan
ﻣﻊ ﻋﻠﻤﻪ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻓﻰ ﺍﻻﻳﺎﺕ
ﻭﻓﻰ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺮﻭﺍﺓ
Ilmu tafsir ayatnya diketahui
Dan pada hadits, rawi diketahui
Begitupun dengan asbab an-nuzulnya
Serta asbab al-wurud pada haditsnya
ﻭﻣﻮﺿﻊ ﺍﻻﺟﻤﺎﻉ ﻭﺍﻟﺨﻼﻑ
ﻓﻌﻠﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻴﻪ ﻛﺎﻓﻰ
Serta tahu tempat ijma’ ikhtilafnya
Semua ini cukup bagi mujtahidnya
ﻭﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﺴﺎﺋﻞ ﺍﻟﻤﺴﺘﻔﺘﻰ
ﺍﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻛﺎﻟﻤﻔﺘﻰ
Dan syarat orang yang meminta fatwanya
Itu dari kelompok ahli taqlidnya
Maka bagi mustafti harus taqlidnya
Terhadap mufti di dalam fatwanya
ﻓﺤﻴﺚ ﻛﺎﻥ ﻣﺜﻠﻪ ﻣﺠﺘﻬﺪﺍ
ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻘﻠﺪﺍ
Kalau bukan dari kelompok taqlidnya
Seperti dari kelompok mujtahidnya
Maka baginya tidak di perbolehkan
Untuk meminta fatwa dari yang lain
( ﻓﺮﻉ )
CABANG / RANTING
ﺗﻘﻠﻴﺪﻧﺎ ﻗﺒﻮﻝ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺋﻞ
ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺫﻛﺮ ﺣﺠﺔ ﻟﻠﺴﺎﺋﻞ
Taqlid itu penerimaan ucapan
Tanpa ada hujjah yang diceritakan
ﻭﻗﻴﻞ ﺑﻞ ﻗﺒﻮﻟﻨﺎ ﻣﻘﺎﻟﻪ
ﻣﻊ ﺟﻬﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻳﻦ ﺫﺍﻙ ﻗﺎﻟﻪ
Menurut qiil, penerimaan ucapan
Orang lain tanpa ada pengetahuan
Serta dari mana sumber pengambilan
Yang diucapkan taqlidlah dinamakan
ﻓﻔﻰ ﻗﺒﻮﻝ ﻗﻮﻝ ﻃﻪ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ
ﺑﺎﻟﺤﻜﻢ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻟﻪ ﺑﻼ ﺧﻔﺎ
Maka penerimaan ucapan Nabi
Pada hukum yang diceritakan Nabi
Nabi tidak menceritakan dalilnya
Dan umatnya tidak mengetahuinya
ﻭﻗﻴﻞ ﻻ ﻻﻥ ﻣﺎ ﻗﺪ ﻗﺎﻟﻪ
ﺟﻤﻴﻌﻪ ﺑﺎﻟﻮﺣﻰ ﻗﺪ ﺍﺗﻰ ﻟﻪ
Maka hal ini di sebut taqlidnya
Lain halnya menurut pendapat qiilnya
Tidaklah disebut dengan taqlidnya
Karna smua ucapan Nabi wahyunya
( ﻓﺼﻞ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ )
PASAL IJTIHAD
ﻭﺣﺪﻩ ﺍﻥ ﻳﺒﺬﻝ ﺍﻟﺬﻯ ﺍﺟﺘﻬﺪ
ﻣﺠﻬﻮﺩﻩ ﻓﻰ ﻧﻴﻞ ﺍﻣﺮ ﻗﺪ ﻗﺼﺪ
Pengertian ijtihad itu mengerahkan
Daya kemampuan untuk menghasilkan
Yang dimaksud dari sebuah tujuan
Bagi mujtahidin satu pengetahuan
ﻭﻟﻴﻨﻘﺴﻢ ﺍﻟﻰ ﺻﻮﺍﺏ ﻭﺧﻄﺎ
ﻭﻗﻴﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻟﺨﻄﺎ
Dan ijtihad terbagi dua bagian
Satu ijtihad benar dan kesalahan
Dan menurut pandapat qiil mengatakan
Ijtihad bidang furu’ di mustahilkan
Ijtihadnya akan satu kesalahan
Kebenaran ijtihadnya dipastikan
ﻭﻓﻰ ﺍﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺫﺍ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻣﺘﻨﻊ
ﺍﺫ ﻓﻴﻪ ﺗﺼﻮﻳﺐ ﻻﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﺒﺪﻉ
Ijtihad pada bidang ilmu aqidah
Atau I’tikad itu sangat di cegah
Karna akan terjadi faham yang salah
Dan membenarkan pada ahli dlolalah
ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺣﻴﺚ ﻛﻔﺮﺍ ﺛﻠﺜﻮﺍ
ﻭﺍﻟﺰﺍﻋﻤﻴﻦ ﺍﻧﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﺒﻌﺜﻮﺍ
Dari I’tikad orang-orang Nasrani
Bahwa Tuhan itu adalah trimurti
Dan dari orang yang menyangkakan kubur
Tidak akan bangkit dari alam kubur
ﺍﻭ ﻻ ﻳﺮﻭﻥ ﺭﺑﻬﻢ ﺑﺎﻟﻌﻴﻦ
ﻛﺬﺍ ﺍﻟﻤﺠﻮﺱ ﻓﻰ ﺍﺩﻋﺎﺀ ﺍﻻﺻﻠﻴﻦ
Dan makhluk tidak dapat melihat
Allah
Dengan mata padahal kuasa Allah
Begitupun dari pendapat majusi
Alam itu dari dua unsur terdiri
Dari nur atau cahaya penerangan
Serta unsur dzulmah atau kegelapan
ﻭﻣﻦ ﺍﺻﺎﺏ ﻓﻰ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ ﻳﻌﻄﻰ
ﺍﺟﺮﻳﻦ ﻭﺍﺟﻌﻞ ﻧﺼﻔﻪ ﻣﻦ ﺍﺧﻄﺎ
Dan yang ijtihad dalam masalah furu’
Dan ijtihadnya benar tidaklah ragu
Maka akan diberi dua pahala
Karna ijtihadnya karna benar pula
Dan yang ijtihad dalam masalah furu’
Dan ijtihadnya salah tidaklah ragu
Hanya satu pahala yang kan diberi
Karna ijtihadnya oleh Allah pasti
ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻭﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺍﻟﻬﺎﺩﻯ
ﻓﻰ ﺫﺍﻙ ﻣﻦ ﺗﻘﺴﻴﻢ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ
Hal ini karena ada hadits Nabi
Tentang pembagian ijtihad terbagi
ﻭﺗﻢ ﻧﻈﻢ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻘﺪﻣﻪ
ﺍﺑﻴﺎﺗﻬﺎﻓﻰ ﺍﻟﻌﺬ ( ﺩﺭ ) ﻣﺤﻜﻤﻪ
Muqadimah nadzom tlah disempurnakan
Dua ratus empat bait tlah di nadzomkan
ﻓﻰ ﻋﺎﻡ ﻃﺎﺀ ﺛﻢ ﻇﺎﺀ ﺛﻢ ﻓﺎ
ﺛﺎﻧﻰ ﺭﺑﻴﻊ ﺷﻬﺮ ﻭﺿﻊ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ
Pada tahun sembilan dlapan sembilan
Bertepatan dengan Nabi dilahirkan
ﻓﺎﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﻤﺎﻣﻪ
ﺛﻢ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻊ ﺳﻼﻣﻪ
Segala puji bagi Allah yang sempurna
Yang tlah menyempurnakan nadzom yang mulia
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﻭﺣﺰﺑﻪ ﻭﻛﻞ ﻣﺆﻣﻦ ﺑﻪ
Beserta rahmat dan keselamatanNya
Smoga pada Nabi dan keluarganya
Serta sahabat pula golongan Nabi
Dan bagi yang beriman terhadap Nabi
Selasa, 05 Mei 2015
Makna Istiwa dalam kitab tafsir Ibnu Katsir
Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”
Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT. Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab
A. Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA
I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :
1. Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)
Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah) :
{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya) (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”
Wahai mujasimmah wahhaby!!
lihatlah ibnu katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!
bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!
Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :
““Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”
Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :
– Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!
– ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.
– disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya tidak melarang ta’wil.
“…dan selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”
sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!
2. Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:
1- Tafsir al Qurtubi
(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan
2- Tafsir al-Jalalain
(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya
3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:
makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…
4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):
(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi
Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.
II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf
Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:
1-masak (boleh di makan) contoh:
قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak
2- التمام: sempurna, lengkap
3- الاعتدال : lurus
4- جلس: duduk / bersemayam,
contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil
5- استولى : menguasai,
contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق
Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.
Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?
sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):
ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر
Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:
ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته
Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.
Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.
III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda
*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.
Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.
Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).
Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.
As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
III. ulamak 4 mazhab tentang aqidah
1- Imam Abu hanifah:
لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه
Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.
IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :
“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.
Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.
Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.
2-Imam Syafie:
انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير
Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23
3-Imam Ahmad bin Hanbal :
-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر
Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.
وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه
Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami
4- Imam Malik :
الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.
lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..
Bersambung ….
https://salafytobat.wordpress.com
Senin, 04 Mei 2015
Beda Ibnu al-Jauzi dengan Ibnu Qoyyim al-Jauzi
Kitab ini berjudul "Talbis Iblis", [ artinya Membongkar Tipu Daya Iblis ], karya al Imam al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi (w 579 H), salah seorang ulama terkemuka (--bahkan rujukan--) dalam madzhab Hanbali.
Terjemahan yang diberi tanda:
"Mereka yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi ada beberapa golongan. Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya, jika DIA turun (dari arsy) maka DIA pindah dan bergerak. Mereka menetapkan ukuran penghabisan (bentuk) bagi-NYA. Mereka mengharuskan bahwa Allah memiliki jarak dan ukuran. Mereka mengambil dalil bahwa Dzat Allah bertempat di atas arsy [--dengan pemahaman yang salah--] dari hadits nabi: "Yanzil Allah Ila Sama' ad Dunya", mereka berkata: "Pengertian turun (yanzil) itu adalah dari arah atas ke arah bawah".
Mereka memahami makna "nuzul" (dalam hadits tersebut) dalam pengertian indrawi yang padahal itu hanya khusus sebagai sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum Musyabbihah yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi (meterial). Dan Telah kami paparkan perkataan-perkataan mereka dalam kitab karya kami berjudul "Minhaj al Wushul Ila 'Ilm al Ushul".
Imam Ibn al Jawzi al Hanbali menegaskan bahwa KEYAKINAN ALLAH BERTEMPAT DI ATAS ARSY ADALAH KEYAKINAN MUSYABBIHAH. Lihat, beliau adalah ulama besar dalam madzhab Hanbali, hidup jauh sebelum datangnya Ibnu Taimiyah dengan faham-faham Tasybih-nya. Ratusan tahun sebelum datang Muhammad bin Abdil Wahhab dengan faham-faham Tajsim-nya.......
Orang2 wahabi berkeyakinan Allah bertempat di atas arsy dan mereka mengaku AHLUSSUNNAH, mereka mengaku BERMADZHAB HANBALI.. heh.. dari mana "nyambungnya"???? Biar jelas yaaaa; aqidah Wahabi itu sama dengan aqidah Hasyawiyyah, Karramiyyah, Mujassimah, Bayaniyyah, dan sekte-sekte kaum Musyabbihah lainnya...
Catatan Penting:
Ibn al-Jauzi adalah al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi (w 597 H), Imam Ahlussunnah terkemuka, ahli hadits, ahli tafsir, dan seorang teolog (ahli ushul) terdepan. Beliau bermadzhab Hanbali.
Awas salah; beda antara Ibn al-Jauzi dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Adapun ibn Qayyim al-Jauziyyah ini adalah Muhammad ibn Abi Bakr az-Zar’i (w 751 H) murid dari Ibn Taimiyah yang dalam keyakinannya persis sama dengan Ibn Taimiyah sendiri; dua-duanya orang sesat dan menyesatkan.
Ingat-ingat neeeh...!!! Keduanya jauh berbeda; yang pertama (Ibn al-Jauzi) Imam Ahlussunnah terkemuka, sementara yang kedua (Ibn Qayyim al-Jauziyyah) adalah murid Ibn Taimiyah; yang dalam keyakinannya persis sama dengan kayakinan tasybih Ibn Taimiyah.
sekali lagi... Awas salah!! Ibn Qayyim; murid Ibn Taimiyah ini di antara keyakinannya yang juga persis keyakinan gurunya; 1. Orang yang tawassul dengan Nabi atau orang-orang saleh adalah orang musyrik, 2. Perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah adalah perjanan maksiat, 3. Berkeyakinan Allah duduk di atas arsy, 4. Berkeyakinan bahwa neraka akan punah dan siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya akan habis, dan berbagai lainnya. Bukan isapan jempol, ini semua ada datanya, bahkan dia tuliskan dalam karya-karyanya sendiri...
Ingat... Aqidah Rasulullah, para sahabatnya, dan aqidah mayoritas umat Islam, kaum Ahlussunnah wal Jama'ah adalah ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH
TAQORRUB KA ALLAH
بسم الله الرحمن الرحيم
Alloh parantos ngadawuh dina Hadits Qudsi anu dimuat dina Hadits Arba'in :
مَنْ تَقَرَّبَ إِليَّ شِبْراً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعاً، وَمَنْ تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعاً تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعاً
“Saha jalma anu ngadeukeutkeun diri ka Kami sajeungkal, Kami bakal ngadeukeutan ka manehna sasiku, jeung saha jalma anu ngadeukeutan ka Kami sasiku, Kami bakal ngadeukeutan ka manehna sadeupa.”
Lafadz Taqorrub anu kahiji mangrupakeun jumlah, anu kadua oge jumlah. Sedengkeun nurutkeun ilmu Nahwu, ari jumlah teh kaasup kana nakiroh, nurutkeun ilmu Bilaghoh, lamun aya lafadz nokiroh di tikror, anu kahiji lain anu kadua,
وَمَا مِنَ الْقَوَاعِدِ الْمُشْتَهَرَةْ * إِذَا أَتَتْ نَكِرَةٌ مُكَرَّرَةْ
تَغَـايَرَا وَ إِنْ يُعَـرَّفْ ثَانِيْ * تَوَافَقَا كَــــذَا الْمُعَرَّفَانِ
Jadi Taqorrubna makhkluq beda jeung taqorrubna Alloh. Ari taqorrubna manusa ka Alloh nyaeta kujalan :
1. Tafakkur,
2. Migawe amal sholeh,
3. Ridlo kana papasten jeung taqdir ti Alloh.
1. Tafakkur,
Ari tafakkur nyaeta mikir atawa inget kana pimaoteun. Inget yen diri teh moal lana hirup didunya, tapi awal akhir pasti bakal mulih ka jati mulang ka asal. Diri asalna tina taneuh engke ge rek balik deui kana taneuh, ayeuna aya di alam dunya teh keur ngumbara, keur neangan bekel bawaeun mulang sabab diri bakal dihadapkeun ka Alloh, bakal ditanya tina sagala kalakuan anu dilakukeun diwaktu keur kumelendang di alam pawenangan.
2. Amal sholeh
Ari amal sholeh nyaeta migawe amal, rek anu mahdloh atawa anu ghoer mahdloh bari diberangan ku 3 perkara :
1) Migawe didorong ku rasa bakti ka Alloh,
2) Karna ngalaksanakeun parentah jeung tugas Alloh, ibadahna lain kupedah betah, lain ku pedah hayang dipikanyaah, lain pedah aya pangbibita atawa ka dorong ku perkara sejen, tapi estu pedah ngalaksanakeun tugas jeung parentah Alloh. Tugasna mah rek mangrupakeun tugas pribadi atawa tugas umum.
3) Tujuannana karena Alloh, hayang meunang ridlo Alloh, lain kana Hubbud Dunya, Hubbul Jah (neangan dunya, pangkat) jsb.
Lamun kumpul ieu syarat anu tilu kakara jadi amal sholeh, atuh lamun henteu kumpul anu tilu, lain amal sholeh. Sanajan nincak dina parentah Alloh ari henteu diniatan 'ibadah jeung henteu dibarengan ku hate hayang meunang ridlo Alloh eta lain amal sholeh. Saperti anu Sholat, ku Sholatna hayang meunang pujian ti batur, atawa anu pahili nempatkeun Maa Dlumin (urusan Alloh /perkara anu ditanggung jawab ku Alloh), saperti hasilna ganjaran ladang wadah jeung hasilna rizqi ladang usaha. Jeung Maa Thulib (tugas diri), saperti dagang karena hayang bati, tani hayang hasil pare, da hasil jeung henteuna mah eta urusan Alloh (Maa dlumin). Ari Maa Thulib na (tugas diri) mah usahana. Lain anu dagang ulah hayang bati, anu tani ulah hayang pare, da pangna dagang oge hayang meunang bati, pangna tani oge hayang aya hasilna, ngan eta kahayang ulah matak mohokeun jeung ulah matak ngelehkeun kana hayang meunang ridlona Alloh. Oge kudu diniatan seja 'ibadah, niat pikeun nganafakahan anak pamajikan, da sanajan bentukna dagang atawa tani lamun dicantelkeun kana wajib jadi wajib. Ari mere nafakah ka anak pamajikan teh hukumna wajib, sedengkeun moal bisa mere nafakah lamun henteu usaha. Atuh eta usaha teh jadi wajib, ngan sok sanajan usaha wajib ulah matak mohokeun jeung ninggalkeun kawajiban anu sejen anu leuwih poko, saperti Sholat, zakat jsb.
3. Ridlo kana papasten jeung taqdir ti Alloh
Sakabeh kajadian anu tumiba kadiri rek hasil usaha atawa lain, rek dihaja atawa henteu eta mangrupa taqdir Alloh anu kudu ditarima diri. Sabab sanajan henteu ditarimakeun tetep eta taqdir moal robah. Da taqdir teu bisa punglir kadar teu meunang di singlar.
مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Moal aya anu bisa nyengker kana Rohmat anu dipasihkeun ku Alloh kamanusa, jeung moal aya nu bisa muka kana Rohmat anu di sengker ku Alloh saba'dana. Jeung ari Alloh eta anu gagah tur pengkuh.” (QS. Fathir : 2)
Lamun jalma anu geus bisa taqorrub ka Alloh kujalan ngalakonan anu tilu, maka Alloh bakal ngadeukeutan ka eta jalma. Ari ngadeukeutannana Alloh ku opat jalan :
1) Ku du’a, sakumaha dawuhannana :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dimana abdi Kami nanyakeun masalah Kami ka anjeun, saenyana Kami eta deukeut, Kami ngaijabah du'ana jalma anu ngadu'a ka Kami, maka kudu ngagugu kana parentah kami jeung kudu ariman ka kami, supaya salawasna meunang pituduh” . (QS. Al-Baqoroh : 186)
2) Ku Ma'unah / pitulung,
3) Ku dikifaratan dosa, dawuhannana :
وَالَّذِينَ آٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Jeung ari jalma-jalma anu ariman jeung migawe kana amal sholeh, pasti Kami bakal ngifaratan kana sakabeh dosana jeung Kami bakal ngabales kunu leuwih hade tibatan amalna.”(QS. Al-Ankabut : 7)
4) Ku di bere kama'rifatan.
Kusabab kitu lamun diri hayang diijabah du'a sarta dibere pitulung jeung kama'rifatan geura taqorrubkeun diri ka Alloh kujalan anu tilu tadi.
Isro M'iroj
بسم الله الرحمن الرحيم
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرٰى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلٰى الْمَسْجِدِ الْأَقْصٰى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آٰيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Hartosna: “Maha Suci Dzat anu ngaleumpangkeun abdina dina waktu peuting ti Masjidil Harom ka Masjidil Aqsho anu di sakurilingna pinuh ku barokah, sabab Kami rek ningalikeun kana tanda-tanda (kakawasaan) Kami,. Saestuna Alloh eta dzat anu ngadangu tur anu ningali”. (QS. Al-Isro' ayat 1).
Ari percaya kana kajadian Isro Mi'roj ka asup kana 'Aqidah Sam'iyyat. Ari 'Aqidah Sam'iyyat nyaeta perkara anu wajib diteqadkeunnana ku sabab pasti buktina da' geus didawuhkeun ku Al Quran jeung Al-Hadits. Lamun jalma ragu-ragu atawa mangmang komo lamun teu percaya kana Isro Mi'raj maka batal 'Aqidah Sam'iyyatna. Lamun batal 'aqidah Sam'iyyatna maka batal imanna.
Ari Isro nyaeta leumpang ti Masjidil Harom di Mekkah ka Masjidil Aqsho di Palestina. Ari Mi'roj mah nyaeta ngapung ngawang-ngawang ngambah jomantara naek ka langit nincak alam Nashut, alam Malakut, alam Jabarut jeung alam Lahut.
Diluar Isro Mi'roj Alloh ngameunangkeun manusa jeung jin pikeun nembus langit, sakumaha dawuhannana dina surat Ar-Rohman 33 :
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوالَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
Hartosna : "He, golongan jin jeung manusa! lamun aranjeun kaduga kana nembus atsmosfhir langit jeung bumi, pek geura tembus ku aranjeun, tapi aranjeun moal bisa nembus kana eta atmoshfir kajaba kudu make eta kakawasaan". (QS. Ar-Rohman : 33.)
Ari Sulthon / kakawasaan hisi anu bisa dipake nembus langit nyaeta : 1.Kakawasaan anu gede, 2. Pangarti anu loba, 3. Modal anu gede, 4.Wawanen anu leber.
Ari Sulthon Ma'ani nyaeta: 1.Mu'jizat, 2.Karomat, 3. Ma'unat, 4.Istridraj.
Intipati anu dicandak ku Rosululloh SAW, anu jadi bekel pikeun naek ka langit saba'da di operasi, di piceun tempat syetan tina manahna teras dikumbah ku cai zamzam, lajeng dieusian ku :
· Iman, anu sabenerna iman (Haqiqotul Haqiqoh),
· Islam anu kuat,
· Mental sobar jeung hilim,
· Ilmu anu nyagara,
· Kayakinan anu kuat dina nyekel agama.
Urang salaku umatna moal bisa Mi'roj haqeqi nepika ka alam Lahut saperti Nabi, ngan lamun Mi'roj ma'ani (naekkeun tingkat jeung darajat dipayuneun Alloh ) bisa, nyaeta ku jalan anu lima, ngan ari Nabi mah langsung pamasihan langsung ti Alloh. Ari urang mah kudu ngusahakeun diri sorangan, nyatana :
1. Kudu bisa ningkatkeun kana iman, minimal iman Ilmu yaqin. Ari jalan ngami'rajkeun / naekkeun iman nyaeta aya tilu :
a. Muqorrobah, nyaeta ngahias diri ku amal hade. Ari carana Muqorrobah aya lima ;
1) Maca Qur'an bari mikir-mikir kana eusina lamun ngarti, lamun teu ngarti yakinkeun yen nu dibaca eta Kalam Alloh.
2) Beuteung ulah wareg teuing, ulah kosong teuing, sarta ulah di eusian ku barang anu haram.
3) Sholat Tahujjud tengah peuting.
4) Mindeng masamoan jeung jalma-jalma anu saroleh.
b. 'Uzlah, nyaeta ngasingkeun diri ti makhluq, rek 'uzlah Bidayah nyaeta ngajauhkeun diri ti makhluq nu sejen seja ngawungkulkeun diri ibadah ka Alloh, atawa 'uzlah Nihayah nyaeta awak mah tetep campur gaul jeung batur, tapi hate teu tagiwur, tetep reureujeungan jeung Alloh nu Maha Ghofur.
c. Tafakkur kana lima perkara ;
1) Tafakkur kana maot,
2) Tafakkur kana ni'mat jeung siksa kubur,
3) Tafakkur kana Surga jeung Naraka,
4) Tafakkur kana Sama' jeung Bashorna Alloh,
5) Tafakkur kana tapak Qudrotna Alloh.
2. Islam anu kuat.
Ari islam nyaeta :
"وَضْعٌ إِلٰهِيٌّ سَائِقٌ لِذَوِى الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ بِاخْتِيَارِهِمِ الْمَحْمُوْدِ إِلٰى مَا يَصْلُحُ مَعَادَهُمْ وَمَعَاشَهُمْ ".
Hartosna : “Aturan Alloh anu ngagiring ka manusa anu boga akal sampurna kalayan ku pamilihna anu alus, anu bisa nepikeun kana jalan pisalameteun dunya akherat”
3. Ngabogaan mental shobar jeung hilim atawa bijaksana, tegesna leuleus jeujeur liat tali, landung kandungan laer aisan tara getas harupateun.
4. kudu boga ilmu anu loba. Hingga teu aya poe anu kaliwat tanpa nambahan ilmu, teu boga rasa diri geus pinter, sabab nu boga rasa geus pinter eta ciri jalma bodo, malah beuki tambah ilmuna kudu beuki tambah rasa bodona (saperti pare beuki ngeusi beuki tungkul). Geuning Rosululloh anu sakitu luhur elmu penemuna jembar panalarna tur digayuh ku Alloh masih keneh diparentah ngadu'a:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
سورة طه ١١٤
“Ucapkeun ku anjeun (Rosul) mugi Gusti nambihan elmu ka abdi.”
5. Kayakinan nyekel agama anu kuat. Henteu unggut kalinduan henteu gedag kaanginan, henteu runtuh ku diasongan tahta, henteu leeh ku dibibita ku harta jeung wanita.
Ieu mental anu lima dimentalan/dibungkus ku polah anu opat. Nyaeta :
1) Shidiq, sanggup bener keur diri sorangan, bener dina tekad, bener dina niat jeung bener dina polah, henteu neangan kana meunang ngelehkeun bener.
2) Amanah, kapercaya dina nyekel agama anu dititpkeun ku Alloh kamanehna.
3) Tabligh, sanggup nepikeun jeung ngada'wahkeun agama anu nyampak dina dirina.
4) Fathonah, pinter dina sagala bidang, pinter nempatkeun diri dina shirot anu kudu dileumpangan, pinter dina nangtungkeun hujjah agama.
Lamun jalma geus bisa ngusahakeun jeung nerapkeun mental anu lima sarta dimantelan kunu opat, tangtu imanna bakal naek nepika alam Lahut. Bisa Muhadloroh jeung Alloh saperti Kanjeng Nabi sarta bakal meunang pangkat Wali Alloh.
Tafsir makna Yad dalam kitab Ibnu Katsir
Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (I)
– Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural).
– Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat
I. Wahhaby mengelirukan makna “tafsir” dengan “ta’wil”
Ilmu- yang harus dimilki oleh orang yang ingin menjadi ahli tafsir alqur’an. Disamping harus mengusai 14 cabang ilmu lainnya seperti ilmu lughah, nahwu, saraf, balaghah, isytiqoqo, ilmu alma’ani, badi’, bayan, fiqh, aqidah, asbabunuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat, ilmu hadits, usul fiqah ( hukum-hukum furu’) dan ilmu mauhub ( fadhilah alqur’an, syaikh maulana zakariyya).
Kenapa perlu ilmu aqidah dalam hal ini tahu sifat-siafat Allah yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang jaiz (boleh/harus) bagi Allah? Karena banyak ayat mutasyabihat yang tidak boleh mengambil makna dhahir (explisit) dari ayat itu, tapi menggunkan makna implisit dari lafadz tersebut. Jadi ta’wil adalah salah satu cara untuk mentafsir Al-qur’an.
apakah WAHABY masih bersikeras menggunakan makna dhahir pada ayat/hadist mutasyabihat ini ?
coba lihat tafsir ayat berikut
– ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),
Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),
– ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).
Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14)
Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :
”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)
II. Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat
Ahlusunnah TIDAK MENERIMA MAKNA DHOHIR ayat atau hadits mutasyabihat (ta’wil) tapi juga TIDAK MERUBAH LAFADZ AYAT/HADIST (TASHRIF) , karena merubah lafadz ayat atau hadits adalah haram dan dilarang. Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Ta’wil disni berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis mutasyabihat:
Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:
Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)
Masalah ayat/hadist mutasyabihat dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih (Ta’wil ijtimaly)
2.Pendapat Ta’wil (Ta’wil Tafsilly)
Keterangan :
1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd
Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan).
Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.
Pendapat ini dikenal juga dengan TA’WIL IJTIMALY iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. Sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.
dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.
2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah
swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.
Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah. Seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.
Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).
III. Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural)
ini adalah untuk membantah mufassir sesat dan palsu yang bernama Syaikh AsySyinqithy al wahaby (Guru syaikh Shalih Fauzan Al wahaby).
Bisa kita lihat dalam kamus manapun bahwa yad adalah bernakna tangan (untuk mufrad/tunggal). Sedangkan bentuk jamaknya (plural) adalah aidin. Lihat dalam kamus bahasa arab berikut :
Kemudian kita lihat lagi Tafsir Ibnu Katsir Surat AdzDzaariyaat ayat 47 (pada yang di line merah)
َ
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan (Tangan) dan sesungguhnya Kami benar-benar memperluasnya” (Surat AdzDzaariyaat ayat 47)
tarjamah (Scan kitab tafsir Ibnu katsir yang di line merah) :
Makna Lafadz ا بِأَيْدٍ (dengan Tangan ) adalah kekuatan. Yang mengatakan seperti ini adalah Ibnu abbas, mujahid, qatadah, atsauri dan selainnya”
jadi Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz د (biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.
Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar :
Dalam Tafsir Qurtuby:
لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى ” بِأَيْدٍ ” أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .
Dalam Tafsir Thobary :
الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 – حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.
Dalam Tafsir Jalalain
Biquwati (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ)
Tarjamahannya : Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUATAN-NYA
– kemudian dalam surat Al-Fath : 10
Lihat pada scan kitab yang di line merah :
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………
Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10).
Tidak ada yang menafsirkan “yad”dengan makna dhahir bahwa “tangan” . Disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.
Dalam Tafsir Ibnu katsir (lihat scan kitab yang di line merah) , beliau tidak mengambil makana dhahir tangan sebagaimana yang difahami mujasimmah wahhaby dan yahudi :
makna yadullah (Tangan Allah) bermakna : Allah menyaksikan (hadhir) bersama mereka, Allah mendengar percakapan mereka, allah melihat tempat mereka, Allah mengetahui kata Bathin (hati mereka) dan dhahir mereka maka dialah Allah Ta’ala Yang membai’at mereka dengan perantara Rasulullah SAW, seperti dalam firman Allah ta’ala:
[9:111] Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 111) )… (Tafsir Ibnu katsir, jilid 4, page 236).
Sedangkan dalam tafsir qurtubi :
Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :
قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ
Dalam Tafsir At-Thobary
وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.
Jadi tidak ada kitab tafsir mu’tabar yang menganbil makna dhahir dari ayat-ayat mutasyabihat!.
Jangan terkecoh antara lafadz ayd (dengan huruf ya disukun artinya tangan (jamak)) dengan lafadz ayyad (karena artinya menguatkan), karena dalam bahasa arab perbedaan satu huruf atau tanda baca satu bisa merusak makna, seperti dalam ayat :
[2:87] Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?
Ini bisa dilhat dalam kamus bahasa arab bahwa aid (tangan – jamak) berbeda dengan ayyad (mengatkan – fi’il/kata kerja) (lihat yang diline merah) :
Kesimpulan :
– Ibnu katsir menta’wil ayat bi aidin dengan makna kekuatan (padahal makna dhahirnya adalah dengan tangan, karena aid adalah jamak dari kata tangan).
– Bagi yang mengingkari lafadz “aid” adalah jamak dari kata tangan, silahkan buka kamus bahasa arab manapun dan lihat pula ayat : ”
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………
Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10). Disini jelas bahwa “أَيْدِ” adalah jamak dari “yad”/tangan.
– Ibnu katsir menta’wil ayat “yadu llah fauqa aidihim ” = beliau tidak mngambil arti dhahir “tangan” sebagaimana aqidah tajsim wahhaby dan yahudi.
InsyaAllah Bersambung…
Langganan:
Postingan (Atom)










