Selasa, 29 November 2016

I'irob Hati


I'ROBNYA HATI MENURUT IMAM HUJJATUL ISLAM AL-GHAZALI

Dinukil dari kitab Minhajul 'Arifin karya Imam Al Ghazzali
باب الأحكام و إعراب القلوب على أربعة أنواع : رفع , و فتح , و خفض ,و وقف .-
I'robnya hati ada empat macam :
1. rofa' (terangkat)
2. fath (terbuka)
3. khofadz (turun)
4. waqf (berhenti/mati)

فرفع القلب : في ذكر الله .و فتح القلب : في الرضاء عن الله تعالى .و خفض القلب : في الاشتغال بغير الله تعالى .و وقف القلب : في الغفلة عن الله تعالى .
Rofa' (terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kpd Allah, Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridho kepada Allah, Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah, Waqof (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah swt .

فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , و فقد المخالفة , و دوام الشوق .
Tanda rofa' nya hati ada 3 :
1. ada kecocokan
2. hilangnya penyimpangan
3. kerinduan-

و علامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , و الصدق , و اليقين .-
Tanda fath nya hati ada 3 :
1. kepasrahan
2. kejujuran
3. keyakinan

و علامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , و الرياء , و الحرص و هو مرعاة الدنيا .
Tanda khofadz nya hati ada 3 :
1. bangga diri
2. pamer
3. tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.-

و علامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , و عدم مرارة المعصية , و التباس الحلال-
Tanda waqof nya hati ada 3 :
1. hilangnya rasa manis dlm ketaatan
2. tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan
3. ketidak jelasan kehalalan.

Wallohu a'lam.
منهاج العارفين للامام أبي حامد الغزالي
Yaa Allah..Semoga Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rob Rofa' dan beri'rob Fath, janganlah Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rob Khofadl

Jumat, 18 November 2016

Mengenal Ilmu Kalam Ahlussunnah


MENGAPA KITAB-KITAB AQIDAH ASY'ARIYYAH YG DIAJARKAN DI PONDOK PESANTREN LEBIH MENGACU KEPADA PENDEKATAN 'AQLI (RASIONAL)... ?????

Kitab-kitab yg diajarkan di ponpes seperti Tijanud Darariy, Jawahirul Kalamiyyah, Fathul Majid, Kifayatul 'Awwam, Jawahirul Kalamiyyah, Ummu Barahin dll dalam memaparkan aqidah materinya lebih didasarkan dengan menggunakan argumen-argumen dan pendekatan rasional, jarang sekali melalui pendekatan tekstual, dimana pemaparan materinya berdasarkan dalil-dalil Al Quran dan hadis. Hal tersebut dikarenakan untuk menghadapi hujjah-hujjah dari golongan non muslim, seperti filosof, atheis, Yahudi, Kristen, dll, juga menghadapi aliran-aliran Islam di luar Ahlus Sunnah seperti Mu'tazilah yg sangat rasional, dimana sudah dimaklumi bahwa mereka menolak mentah-mentah Al Quran dan hadis (bagi Muktzilah, maka hadis sahih yg tidak sesuai dg kefahaman mereka, maka ditolak mentah-mentah, sedang Al Quran mereka palingkan dari maksud literalnya tanpa mengindahkan kaidah ilmiyyah dalam tafsir/takwilnya).

Kita diajarkan untuk berdialog dg orang lain sesuai dg kadar isi otak mereka :

كلموا الناس بقدر عقولهم

Berbicaralah kepada para manusia menurut kadar akal mereka....!!!

Lalu apa gunanya bagi mereka ucapan Allah berfirman, Nabi Saw bersabda begini begini, kalau mereka tidak/belum beriman kepada keduanya ??? Lalu apa kita harus mati kutu dan mendiamkan hujjah-hujjah mereka ???

Maka diperlukan argumentasi rasional yang kuat dan tidak bertentangan dengan kaidah dan prinsip-prinsip syariat yg dibawa oleh Nabi kita Muhammad Saw. Dan jawaban serta solusi tanggap yg diambil oleh para ulama Asy'ariyyah adalah sebagaimana yg tertera di dalam kitab-kitab diatas. Sehingga Madzhab Asy'ariy yg dianut oleh Mayoritas umat Islam dari masa  ke masa itu, tercatat sebagai madzhab yg kokoh dan selalu unggul dalam beragumentasi dan berdialog dalam masalah aqidah, baik berhadapan dg golongan di luar Islam maupun menghadapai sekte-sekte di luar Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Mereka terbukti mampu mengislamkan jutaan umat manusia di dunia dan mampu menyingkirkan sekte-sekte di luar ahlus sunnah yg pernah bercokol dan menjadi madzhab resmi di pemerintahan-pemerintahan Islam hingga sekarang.

Lalu ada sebagian kalangan (diantaranya adalah sekte Wahabi Salafi cabe-cabean) yg berpandangan negatif terhadap methode penalaran rasional dalam aqidah diatas (mereka menyebutnya dengan ilmu kalam yg identik dengan filasafat) dengan berasumsi bahwa argumen rasional tsb mengikuti mainstream dan manhaj filsof Yunani, bukan di dasarkan pada dalil-dalil Al Quran dan hadis. BENARKAH ??

Jawabannya tentu TIDAK BENAR. Asumsi negatif ini berawal dari ketidaktahuan mereka tentang pembagian ilmu kalam yg di cela oleh para ulama dan ilmu kalam yg dipuji oleh ulama, yaitu ilmu kalam yang membantu menegakkan hujjah sunnah dan agama. Sebagaimana kita ketahui dalam kisah-kisah Nabi jaman dahulu di dalam Al Quran, mereka berhadapan dg kaum yg tidak beriman, kaum atheis, paganis penyembah berhala, mereka menghadapinya justru dengan dalil-dalil rasional, bukan dalil- dalil naqli.
Jadi secara global, perbedaan antara ilmu kalam yg tidak dicela oleh ulama dan ilmu filsafat yg dicela oleh ulama meliputi tiga aspek sebagaimana karya ilmiyyah : methodologi (manhaj), karakter penelitian, obyek dan tujuan.

Dari sisi Manhaj dan karakter penelitian, para filosof membahas eksistensi Tuhan, para Malaikat dll hanya murni berlandaskan rasio. Jadi akal adalah acuan pokok dan harga mati bagi keyakinan mereka tanpa pertimbangan dan ikatan syariat sama sekali. Sedang para ulama ilmu kalam (tauhid) melakukan rekonsiliasi dan sinkronisasi antara rasio dan syariat. Mereka menempatkan akal sebagai perangkat untuk membuktikan kebenaran syariat bukan menjadikan akal  berkedudukan sebagai fondasi bagi aqidah.

Dari segi obyek (maudhu') materi yg dikaji oleh para ulama ilmu kalam adalah keyakinan (aqidah) yg bisa diterima atau sesuai dg syariat, jadi aqidah yg memang sudah diterima oleh syariat itulah yg dianggap sebagai suatu aksioma yg menjadi titik permulaan kajian. Sedang para filosof memulai kajiannya dari hal-hal aksioma, karena dalam asumsi mereka, kebenaran itu masih sangat relatif, misterius dan belum pasti ketika memulai kajian, bahkan tidak jarang ada ungkapan tidak ada kata final walaupun pasca kajian. Oleh karena itu mereka membuat perangkat rasional yg mungkin terjadi untuk menelusuri kebenaran versi mereka.

Dari sisi Tujuan, Ahli ilmu kalam memiliki tujuan konkrit yaitu memperkokoh akidah agama, menegakkan sunnah dan menghancurkan pondasi akidah kaum non agamis maupun ahli bid'ah. Sedang para filosof belum jelas tujuannya, mereka hanya mencari dan meneliti kebenaran dari sisi rasionalis yg relatif dan terbatas, seperti apapun bentuknya.

BEDA KHAN ?????

Walohu A'lam.........

By: Dodi Elhasyimi

Jumat, 28 Oktober 2016

Nasehat Buya Hamka


NILAI-NILAI DALAM BERDA'WAH

▫Da'wah itu membina, bukan menghina
▫Da'wah itu mendidik, bukan 'membidik'
▫Da'wah itu mengobati, bukan melukai
▫Da'wah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan
▫Da'wah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan
▫Da'wah itu mengajak, bukan mengejek
▫Da'wah itu menyejukkan, bukan memojokkan
▫Da'wah itu mengajar, bukan menghajar
▫Da'wah itu saling belajar, bukan saling bertengkar
▫Da'wah itu menasehati, bukan mencaci maki
▫Da'wah itu merangkul, bukan memukul
▫Da'wah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar
▫Da'wah itu argumentative, bukan provokatif
▫Da'wah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat
▫Da'wah itu realistis, bukan fantastis
▫Da'wah itu mencerdaskan, bukan membodohkan
▫Da'wah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji
▫Da'wah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan
▫Da'wah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat
▫Da'wah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru
▫Da'wah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan
▫Da'wah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat
▫Da'wah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan
▫Da'wah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya
▫Da'wah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran
▫Da'wah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan
▫Da'wah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis
▫Da'wah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat
▫Da'wah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan
▫Da'wah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran
▫Da'wah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh
▫Da'wah itu mencari teman, bukan mencari lawan
▫Da'wah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran
▫Da'wah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian
▫Da'wah itu menyatukan semua lapisan, bukan memecah belah persatuan
▫Da'wah itu "Saling Islah" bukan "Saling Salah
▫Da'wah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, bukan hanya di pengajian
▫Da'wah itu dengan "Cara Nabi" bukan dengan "Cara Sendiri"

Mari kita coba praktekkan

Selasa, 20 Oktober 2015

Sutroh Sholat


[ إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين / جزء الأول ]

(وندب) لمصل (توجه لنحو جدار) أو عمود من كل شاخص طول ارتفاعه ثلثا ذراع فأكثر.
وما بينه وبين عقب المصلي ثلاثة أذرع فأقل، ثم إن عجز عنه (ف) - لنحو (عصا مغروزة) كمتاع، (ف) - إن لم يجده ندب (بسط مصلى) كسجادة، ثم إن عجز عنه خط أمامه خطا في ثلاثة أذرع عرضا أو طولا، وهو أولى، لخبر أبي داود: إذا صلى أحدكم فليجعل أمام وجهه شيئا، فإن لم يجد فلينصب عصا، فإن لم يكن معه عصا فليخط خطا، ثم لا يضره ما مر أمامه.
وقيس بالخط المصلى، وقدم على الخط لانه أظهر في المراد.
والترتيب
وسنة الإحرام والطواف ونفل جالس للاعتكاف ونحو علمه لإحيا البقعة كذا الضحى ونفل يوم الجمعة وخائف الفوات بالتأخر وقادم ومنشئ للسفر ولاستخارة وللقبلية لمغرب ولا كذا البعديه وقوله: ونفل يوم الجمعة المراد به سنته القبلية، أما البعدية فصلاتها في البيت أفضل.
كما صرح به ع ش.
المذكور هو المعتمد، خلافا لما يوهمه كلام ابن المقري.
فمتى عدل عن رتبة إلى ما دونها مع القدرة عليها كانت كالعدم.
ويسن أن لا يجعل السترة تلقاء وجهه بل عن يمينه أو يساره، وكل صف سترة لمن خلفه إن قرب منه.
قال البغوي: سترة الامام سترة من خلفه.
انتهى.
ولو تعارضت السترة والقرب من الامام أو الصف الاول فما الذي يقدم؟ قال شيخنا: كل محتمل وظاهر قولهم يقدم الصف الاول في مسجده (ص) وإن كان خارج مسجده المختص بالمضاعفة تقديم نحو الصف الاول.
انتهى.
وإذا صلى إلى شئ منها فيسن له ولغيره دفع مار بينه وبين السترة المستوفية للشروط، وقد تعدى بمروره لكونه مكلفا.
ويحرم المرور بينه وبين السترة حين يسن له الدفع، وإن لم يجد المار سبيلا ما لم يقصر بوقوف في طريق أو في صف مع فرجة في صف آخر بين يديه فلداخل خرق الصفوف وإن كثرت حتى يسدها.
_______________________________

(قوله: وندب لمصل) أي لمريد
الصلاة، ولو صلاة جنازة.
وينبغي أن يعد النعش ساترا إن قرب منه، فإن بعد منه اعتبر لحرمة المرور أمامه سترة بالشروط.
اه‍ ع ش.
(قوله: توجه لنحو جدار) نائب فاعل ندب.
(قوله: أو عمود) معطوف على جدار، وهو مما اندرج تحت نحو، ولو أخره عن البيان وجعله تمثيلا له لكان أولى.
(قوله: من كل شاخص) بيان لنحو الجدار، وهذا البيان أعم من المبين إذا لا يختص بنحو الجدار بل نحو العصا كذلك.
فلو أخره عن قوله فلنحو عصا، وجعله بيانا لهما لكان أولى.
(قوله: وما بينه) أي الشاخص.
والأولى حذف ما.
وقوله: وبين عقب المصلي قال الكردي: مثله من أحرم بسجود تلاوة أو شكر.
وقوله: ثلاثه أذرع فأقل قال في النهاية: وهل تحسب الثلاثة من رؤوس الأصابع أو من العقب؟ فيه احتمالان، والأوجه الأول.
اه‍.
وجزم حجر بالثاني، وما ذكر إذا كان المصلي قائما.
أما إذا كان جالسا فينبغي أن يكون من الأليتين.
كذا في ع ش.
(قوله: ثم إن عجز عنه) أي نحو الجدار.
والمراد بالعجز عدم السهولة.
كما في البجيرمي.
(قوله: فلنحو عصا) أي فندب له توجه لنحو ذلك.
وقوله: كمتاع تمثيل لنحو العصا.
والمراد يجمعه ويجعله كالسترة.
(قوله: فإن لم يجده) أي نحو العصا.
وقوله: ندب بسط مصلى أي فرشه، ومصلى يقرأ بصيغة اسم المفعول.
(قوله: كسجادة) هو بفتح السين.
اه‍ شرح المنهج.
(قوله: ثم إن عجز عنه) أي عن المصلى، خط أمامه خطا.
قال في شرح الروض: وكلامه كالأصل، والمنهاج يقتضي التخيير بينهما، أي بين المصلى والخط.
(قوله: في ثلاثة أذرع) لا معنى للظرفية إذا المراد - كما هو ظاهر العبارة - أن الخط يكون ثلاثة أذرع، فالأولى حذف في.
ويكون قوله ثلاثة أذرع بدلا من خطا.
ثم إن الثلاث الأذرع ليست بقيد، فيكفي أقل منها، وإن تخصيصه بالخط ليس بظاهر، بل مثله المصلى.
ولو أخره عن قوله وهو أولى لصح رجوعه لجميع ما قبله من نحو العصا والمصلى والخط، وتحسب هذه الثلاثة الأذرع فأقل من رؤوس الأصابع أو العقب على ما مر إلى أعلى الخط الذي من جهة القبلة.
ومثله المصلى - أي السجادة - كما نص عليه البجيرمي وعبارته: يعني أننا نحسب الثلاثة أذرع التي بين المصلي والمصلى، أو الخط من رؤوس الأصابع إلى آخر السجادة مثلا، حتى لو كان فارشها تحته كفت، لاأننا نحسبها من رؤوس الأصابع إلى أولها.
فلو وضعها قدامه وكان بينه وبين أولها ثلاثة أذرع لم يكف، كما قرره شيخنا.
اه‍.
(قوله: عرضا أو طولا) عبارة الروض: طولا.
وقال في شرحه: لا عرضا.
اه‍.
(قوله: وهو أولى) أي كون الخط طولا أولى من كونه عرضا.
(قوله: لخبر أبي دواد) تعليل لقوله: ندب الخ.
(قوله: ثم لا يضره ما مر أمامه) أي في كمال ثوابه.
اه‍ ع ش.
وقال الشوبري: أي في إذهابه خشوعه.
وقوله: ما مر، لم يقل: من مر، لأنه شيطان فأشبه غير العاقل.
اه بجيرمي.
(قوله: وقيس بالخط) أي على الخط الكائن في الخبر.
(قوله: وقدم على الخط) أي قدم المصلى على الخط في الترتيب.
والقياس أن يقدم الخط عليه لكون المصلى مقيسا عليه.
وقوله: لأنه أي المصلى.
وقوله: أظهر في المراد أي من الخط.
وذلك المراد هو منع مرور الناس عليه الذي هو سبب في التشويش.
(قوله: والترتيب المذكور) أي من تقديم نحو الجدار، ثم نحو العصا، ثم المصلى، ثم الخط.
(قوله: خلافا لما يوهمه كلام ابن المقري) أي من عدم ندب الترتيب، ونص عبارته: وجاز، بل ندب، لمصل دنا ثلاثة أذرع من شاخص أو مصلى أو خط دفع مار.
اه‍.
(قوله: فمتى عدل) أي المصلي.
وهو مفرع على اشتراط الترتيب المذكور في أداء سنية التوجه إلى السترة.
وقوله: عن رتبة إلى ما دونها أي كأن ترك التوجه لنحو الجدار وغرز عصا.
وقوله: مع القدرة عليها أي على الرتبة التي عدل عنها.
وفي الكردي ما نصه: قال في الإيعاب: لو رآه مستترا بالأدون، وشك في قدرته على ما فوقه، حرم المرور فيما يظهر إلخ.
ونحوه في الإمداد.
وقال الشوبري: وهو قريب إن قامت قرينة عليه أو لم تقم قرينة على خلافه.
اه‍.
(قوله: كانت) أي الرتبة الثانية التي عدل إليها.
وقوله: كالعدم أي فلا تحصل له سنة الاستتار، ولا يحرم المرور بين يديه.
(قوله: ويسن أن لا يجعل إلخ) وحينئذ يحتاج إلى الجواب عما تقدم في الخبر، وهو: إذا صلى أحدكم فليجعل أمام وجهه شيئا.
اه‍ ح ل.
إلا أن يقال المراد بالأمام ما قابل الخلف، فيصدق بجعلها عن يمينه أو شماله.
والأولى أن تكون على اليسار لأن الشيطان يأتي من جهتها.
وقال ع ش: الأولى عن يمينه لشرف اليمين.
اه‍ بجيرمي.
(قوله: وكل صف سترة لمن خلفه) خالف في ذلك م ر، وقال: الأوجه أن بعض الصفوف لا يكون سترة لبعض، كما هو ظاهر كلامهم.
اه‍.
(قوله: إن قرب منه) أي بحيث يكون بين الصفين ثلاثة أذرع فأقل.
(قوله: قال البغوي الخ) لم يتعرض له في التحفة والنهاية والأسنى وشرح المنهج.
(قوله: سترة من خلفه) وانظر هل المراد جميع من خلفه من المأمومين؟ أو الصف الذي يليه فقط؟ الظاهر الثاني.
(قوله: ولو تعارضت السترة والقرب من الإمام) يعني أنه لو قرب من الإمام لا يتسير له السترة، وإذا بعد عنه تيسرت له.
وقوله: أو الصف الأول أي أو تعارضت السترة والصف الأول، وكان الأولى أن يقول: أو والصف بزيادة الواو كما هو ظاهر.
وهي ثابتة في الكردي نقلا عن التحفة.
(قوله: فما الذي يقدم) أي هل السترة مع البعد عن الإمام أو مع كونه في غير الصف الأول أو القرب من الإمام أو الصف الأول مع عدم السترة؟ (قوله: كل محتمل) فيحتمل الأول، ويحتمل الثاني، إذا كل منهما مطلوب.
(قوله: وظاهر الخ) مبتدأ خبره قوله تقديم نحو الصف الأول.
(قوله: يقدم الصف الأول) مقول قولهم.
(قوله: في مسجده) المراد به هنا ما كان في عهده - صلى الله عليه وسلم - وما زيد عليه بدليل الغاية.
(قوله: وإن كان) أي الصف الأول.
وقوله: ارج مسجده المختص بالمضاعفة أي مضاعفة الثواب، وذلك لأنها مختصة بمسجده الذي كان في زمنه، لقوله عليه السلام: صلاة في مسجدي هذا أفضل من ألف صلاة فيما عداه إلا المسجد الحرام.
الحديث.
فاسم الإشارة يخصص المضاعفة بما كان في زمنه، وأما الزائد عليه فلا مضاعفة فيه.
وقوله: نحو الصف الأول هو القرب من الإمام.
(قوله: وإذا صلى إلى شئ منها) أي من الجدار فالعصا فالمصلى فالخط.
(قوله: فيسن له إلخ) وإنما لم يجب على خلاف القياس احتراما للصلاة، لأن وضعها عدم العبث ما أمكن، وتوفير الخشوع، والدفع ولو من غيره قد ينافيه.
اه‍ تحفة.
وقوله: ولغيره أي غير المصلي المتوجه للسترة المذكورة.
وشمل الغير من هو في صلاة وخارجها، وقيده ابن حجر بمن ليس في صلاة.
وقال ع ش: ومفهومه - أي القيد المذكور - أن من في صلاة لا يسن له ذلك.
لكن قضية قول الشارح في كف الشعر وغيره، ويسن لمن رآه كذلك ولو مصليا آخر إلخ، خلافه.
اللهم إلا أن يقال إن دفع المار فيه حركات، فربما يشوش خشوعه بخلاف حل الثوب ونحوه.
اه‍.
وقوله: دفع مار أي للخبر الصحيح: إذا صلى أحدكم إلى شئ ستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه، فإن أبى فليقاتله، فإنما هو شيطان.
أي معه شيطان، أو هو شيطان.
قال في النهاية: ويدفع بالتدريج كالصائل، وإن أدى دفعه إلى قتله.
ومحله إذا لم يأت بأفعال كثيرة وإلا بطلت.
وعليه يحمل قولهم: ولا يحل المشي إليه لدفعه لامره - صلى الله عليه وسلم - بذلك.
اه‍.
وقوله: المستوفية للشروط وهي أن يكون طول ارتفاعها ثلثي ذراع، وأن يكون ما بينه وبين السترة ثلاثة أذرع، وأن تكون على الترتيب المتقدم.
(قوله: وقد تعدى بمروره لكونه مكلفا) هكذا في التحفة، واعتمد م ر أنه لا فرق بين المكلف وغيره لأن هذا من باب دفع الصائل، وهو يدفع مطلقا.
اه‍.
(قوله: ويحرم المرور) أي على المكلف العالم، لقوله - صلى الله عليه وسلم -: لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم لكان أن يقف أربعين خريفا خيرا له من أن يمر بين يديه.
(قوله: حين يسن له الدفع) وذلك بأن وجدت شروط السترة، فإن لم توجد حرم الدفع، كما صرح به في التحفة.
وقيد الحرمة سم بما إذا حصل منه أذية، وإلا بأن خف وسومح به عادة لم يحرم.
(قوله: ما لم يقصر) أي المصلي.
وهو قيد لحرمة المرور وقوله: بوقوف بيان للتقصير، فالباء للتصوير أي ويتصور التقصير بوقوفه في الطريق - أي محل مرور الناس - أو في صف مع وجود فرجة في صف آخر أمامه.
(قوله: فلداخل) أي محل الصلاة.
(قوله: خرق الصفوف) أي لتقصيرهم بعدم سدها المفوت
لفضيلة الجماعة.
وقوله: وإن كثرت أي الصفوف.
وقوله: حتى يسدها أي الفرجة.
وحتى هنا تعليلية، أي لأجل أن يسدها.

إنتهى.


Senin, 19 Oktober 2015

Mencium tangan dan kaki



INI BUKAN STATUS GHULUW & LEBAY
_______________________________

وقال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله :
الحاصل : أن هذين الرجلين قبَّلا يدَ النبي صلى الله عليه وسلم ، ورِجْله ، فأقرهما على ذلك ، وفي هذا : جواز تقبيل اليد ، والرِّجْل ، للإنسان الكبير الشرَف والعلم ، كذلك تقبيل اليد ، والرِّجْل ، من الأب ، والأم ، وما أشبه ذلك ؛ لأن لهما حقّاً ، وهذا من التواضع .
"شرح رياض الصالحين" (4/451) .

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin (Ulama Wahhabi) rohimahullah berkata
KESIMPULANNYA:"Sesungguhnya kedua lelaki ini mencium tangan Nabi sholallahu alaihi wa sallam dan juga kaki beliau dan beliau-pun membiarkannya praktik tersebut (iqror)
Oleh sebab itu diperbolehkannya mencium tangan, kaki orang agung nan mulia yang memiliki ilmu
begitu juga mencium tangan dan kaki nya ayah, ibu dan orang yang menyerupainya, karena kedua orang tersebut BERHAK MENDAPATKAN PENGHORMATAN seperti itu
Dan hal ini termasuk bagian dari sifat TAWADLU

Semoga bermanfaat

Barokallahu fik
Salam Ta'dzim

Selasa, 29 September 2015

Sesama ahlul bid'ah menuduh bid'ah :)



"Kita ambil hikmahnya"
------------------------------------------------------------
Kisah Seorang Aswaja Lugu Yang Belajar Ngaji ke Seorang Wahabi alim
------------------------------------
Wahabi :
-
Saudaraku! Aku lihat kau masih ikut merayakan maulid nabi kemarin. Bukankah sudah kukatakan jika itu bid'ah sebab tidak ada dalilnya baik dalam al-Quran maupun dalam hadits dan nabi bersabda segala bid'ah itu sesat. Jadi kau itu sesat jika masih menerima maulid nabi.
-
Kuingatkan lagi kau, jika ajaran itu tidak ada dalilnya sama sekali baik dari al-Quran maupun hadits maka itu adalah bid'ah dan itu sesat.
-
Aswaja :
-
Aku ini orang bodoh dan aku hanya ikut-ikutan apa yang dilakukan oleh golonganku ustadz.
-
Wahabi :
-
Lebih baik kau belajar padaku agar kau menjadi alim sepertiku.
-
Aswaja :
-
Hmmm... baiklah, tapi aku mau belajar baca al-Quran dulu karena aku sangat ingin bisa membaca al-Quran dengan baik dan kutahu kau adalah orang yang pandai membaca al-Quran.
-
Wahabi :
-
Oh dengan senang hati, apalagi aku adalah orang yang paling bagus bacaannya diantara golonganku.
-
Aswaja :
-
Kapan aku bisa belajar padamu?
-
Wahabi :
-
Bagaimana kalau mulai besok tiap sore di majelis ta'limku.
-
Aswaja :
-
Baiklah aku setuju.
-
Keesokan harinya si Aswaja dengan sangat semangat berangkat mengaji. Dalam pikirannya dia membayangkan suatu hari nanti bisa membaca al-Quran sebaik si Wahabi.
-
Setelah mengucap salam dan dipersilahkan masuk ke ruang majelis ta'lim oleh si Wahabi, si Aswaja merasa grogi karena di dalam majelis tsb rupanya sudah sama berkumpul para murid si Wahabi.
-
Kemudian si Aswaja bersalaman kepada seluruh murid sekaligus kepada si Wahabi itu sendiri.
-
Wahabi :
-
Silahkan duduk saudaraku!
-
Aswaja :
-
(Melangkah maju dan duduk di hadapan si Wahabi).
-
Wahabi : Kita mulai pelajaran hari ini dari surah al-Fatihah ya?
-
Aswaja : Ya ustadz.
_
Wahabi : Aku baca dulu surahnya biar kau punya gambaran seperti apa bacaan al-Fatihah yang benar itu.
-
Bimillaahirrahmaanirrahiim, alhamdulillaahirabbil 'aalamiin............ dst sampai waladldloooooolliin.
-
Nah coba sekarang kamu tirukan bacaanku barusan, jika ada kesalahan akan aku betulkan.
-
Aswaja: Bismillahir... ‪#‎gugup‬
-
Wahabi : Salah, La-nya itu harus dibaca panjang karena itu bacaan mad thabi'i.
-
Aswaja : (Duh hebat banget nih ustadz, dia tahu hukum2 bacaan, pasti beliau juga hafal sampai ke dalilnya mad thabi'i) Bismillaaaahir...
-
Wahabi : Stop, jangan dibaca terlalu panjang, bacaan mad thabi'i itu cukup dibaca dua ketukan atau satu harakat.
-
Aswaja : (Subhanallah... Beliau juga faham harakat....pasti dia juga hafal dalil ketukan mad thabi'I. ? Bismil...
-
Wahabi: Kenapa berhenti? Ayo teruskan!
-
Aswaja: Hmmm... anu ustadz saya ragu-ragu baca La-nya itu dibaca panjang atau pendek ? Ada yg mengganggu pikiran saya, setelah saya mendengar penjelasan ustadz kemaren ?
-
Wahabi = apa yg mengganggu pikiranmu ?
-
Aswaja = supaya saya mantap dalam belajar membaca al qur'an ini,
Boleh saya tau dalilnya mad thabi'i itu ustadz,...biar saya tidak keliru atau melakukan bid'ah seperti kata ustadz kemaren ?
-
Wahabi: Ya tidak ada dalilnya.
-
Aswaja: loch kok bisa begitu, Dalam al-Quran tidak ada dalilnya?
-
Wahabi: Tidak ada.
-
Aswaja: Dari hadits mungkin ustadz ?
-
Wahabi: Sama sekali tidak ada.
-
Aswaja: Masa tidak ada dalilnya ustadz, kalau dari para sahabat gitu? (maksudnya adalah atsar).
-
Wahabi : Kan aku sudah bilang kalau tidak ada ya tidak ada. Yang buat mad thabi'i itu para ulama.
-
Aswaja :
-
ooow begitu....Terus kenapa ustadz mengajarkan mad thabi'i kepada saya yang jelas-jelas tidak ada dalilnya sama sekali.
-
Bukankah ustadz kemarin berkata bahwa ajaran yang tidak ada dalilnya baik dari al-Quran maupun hadits adalah bid'ah dan segala bid'ah itu sesat.
-
Berarti ustadz ngajarin ilmu sesat dong ke saya...
-
Wahabi :emmm bukan, bukan begitu maksudnya.....emmm gimana ya, susah menjelaskannya......
(Membatin = Waduh... mau jawab apa aku ini ? ....a... i... u... e... o... anu... itu... ini... ‪#‎sambil‬ menahan rasa malu kepada murid-muridnya yang lain.
-
Aswaja : Ah sudahlah ustadz, aku tak mau berguru pada orang yang munafik #(berdiri dan beranjak keluar).
-
Wahabi : Maksudmu aku seorang munafik?
-
Aswaja: Ya, kemarin kau melarang aku untuk merayakan maulid nabi yang katamu bid'ah karena tak ada dalilnya tapi hari ini kau malah mengajarkan aku sesuatu yang juga tidak ada dalilnya. Apa itu bukan munafik namanya?
-
Lalu si Aswaja bergegas meninggalkan si Wahabi yang termangu dan tak sanggup berkata apa-apa bak disambar petir.
-
Dengan serta merta dihadapan seluruh muridnya si Wahabi bersimpuh lalu bersujud sembari menyesali kesalahan keyakinannya selama ini.
-
Dalam sujudnya si Wahabi berdoa,
-
"Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Kuasa, telah berapa banyak alim ulama ahlu sunnah wal jamaah yang telah kuhadapi selama ini, yang meski kesemuanya mampu mematahkan argumen-argumenku mengenai masalah bid'ah, tak satupun dari mereka yang mampu meruntuhkan keyakinanku bahwa semua bid'ah itu sesat.
-
Hari ini melalui seorang hambamu yang bodoh lagi lugu Kau malah menghancurkan benteng-benteng kesesatan dalam hatiku ini.
-
Ya Allah benarlah ayat-Mu yang berbunyi
-
"innal hudaa hudallah".
-
Tiadalah yang mampu memberi hidayah kecuali Dirimu. Ya Allah ampunilah segala dosaku dan terimalah taubatku hari ini."
-
Demikian sekiranya kisah ini mampu memberi gambaran kepada kita bahwa manusia tak akan bisa lepas dari bid'ah (dalam hal ini yang dimaksud adalah bid'ah hasanah).
-
Dan alhamdulillah melaui bid'ah-bid'ah itulah kita umat muslim diseluruh dunia mampu membaca al-Quran, menghafal al-Quran, menghidupkan kembali kegembiraan atas lahirnya Rasulullah ke bumi dengan adanya maulid nabi, mampu menjaga ukhuwah islamiyah dengan saling mendoakan tetangga-tetangga kita yang telah wafat dengan tahlilan secara berjamaah, dan lain sebagainya.
-
Wallahu a'lam bisshawab
(Musyaffa' bin Ali bin Astawi bin Kafrawi al-Maduri)
-
Kiriman dari seorang Hamba Allah
-
“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”
-------


Minggu, 27 September 2015

Sholat Tasbih



ومنه صلاة التسابيح
وهي أربع ركعات بتسليمة واحدة وهو الأحسن نهارا أو بتسليمتين وهو الأحسن ليلا لحديث صلاة الليل مثنى مثنى وصفتها أن تحرم بها وتقرأ دعاء الافتتاح والفاتحة وشيئا من القرآن إن أردت والأولى في ذلك أوائل سورة الحديد والحشر والصف والتغابن للمناسبة في ذلك فإن لم يكن فسورة الزلزلة والعاديات وألهاكم والإخلاص ثم تقول بعد ذلك وقبل الركوع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم خمس عشرة مرة وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا وفي جلسة الاستراحة أو بعد التشهد عشرا فتلك خمسة وسبعون في كل ركعة منها فأربعة في خمسة وسبعين بثلاثمائة ويأتي قبل هذه التسبيحات بالذكر الوارد في هذه الأركان وهذه رواية ابن عباس وهي أرجح من رواية ابن مسعود وهي بعد التحرم وقبل القراءة خمس عشرة مرة وبعد القراءة وقبل الركوع عشرا وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا ولا شيء في جلوس الاستراحة ولا بعد التشهد وفيما عدا الركعة الأولى يقول الخمسة عشر بعد القيام وقبل القراءة فإن استطعت أن تصليها في كل يوم فافعل فإن لم تستطع ففي كل شهر مرة فإن لم تستطع ففي كل سنة مرة فإن لم تستطع ففي عمرك مرة فإن لم يفعلها أصلا دل ذلك على تكاسله في الدين
ويدعو بعد التشهد الأخير بهذا الدعاء : اللهم إني أسألك توفيق أهل الهدى وأعمال أهل اليقين ومناصحة أهل التوبة وعزم أهل الصبر ووجل أهل الخشية وطلب أهل الرغبة وتعبد أهل الورع وعرفان أهل العلم حتى أخافك اللهم إني أسألك مخافة تحجزني عن معاصيك حق أعمل بطاعتك عملا أستحق به رضاك وحتى أناصحك في التوبة وخوفا منك حتى أخلص لك النصيحة وحتى أتوكل عليك في الأمور كلها وحتى أكون حسن الظن بك سبحان خالق النور

Artinya :
Diantara sholat yang disunahkan adalah sholat TASBIH
Sholat TASBIH berjumlah 4 rokaat yang baik dengan sekali salam bila dilakukan di siang hari dan dengan dua kali salam bila di lakukan di malam hari berdasarkan hadits nabi “sholat malam dua rokaat, dua rokaat”

Tata cara sholat Tasbih :
Takbiratul Ihram (bersamaan niat)

Membaca doa iftitah

membaca Surat Alfaatihah

membaca surat-surat dari alquran bisa memakai surat permulaan surat alhadiid, surat alhasyri, surat shoff dan surat attaghoobun karena keempat surat ini memiliki kecocokan dengan sholat tasbih bila tidak boleh memakai surat azzalzalah, al’aadiyaat, attakaatsur dan al-ikhlas

Kemudian membaca
 سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×15
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 15 kali (sebelum ruku)

Ruku dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×10
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali

I’tidal dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×10
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali

Sujud dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×10
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali

Duduk diantara dua sujud dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×10
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali

Sujud yang kedua dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali

Duduk istirohah (sebelum bangun untuk berdiri) atau setelah tasyahud, dan membaca
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ×10
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Sebanyak 10 kali


Maka hitungan bacaan tasbih
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
“Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”
Dalam setiap rokaat menjadi 75 kali

Hitungan jumlah tasbih dan penempatannya seperti ini paling kuatnya pendapat diantara hadits riwayat Ibni mas’ud ra. :

”Setelah takbiratul ihram 15 kali, setelah membaca fatihah sebelum membaca surat 10 kali, dalam rukuk, I’tidal sujud awal dan ke dua serta duduk dianta dua sujud masing-masing 10 kali dengan tidak membaca tasbih pada duduk istirohat dan setelah tasyahhud, kemudian setelah berdiri membaca tasbih 15 kali begitu juga setelah selesai membaca fatihah sebelum membaca surat 15 kali”
Bila engkau mampu melakukan sholat tasbih tiap hari maka lakukan, bila tidak mampu boleh sebulan sekali, setahun sekali bahkan seumur hidup sekali, bila tidak berarti anda termasuk orang malas dalam menjalani agama,

Dan berdoalah setelah usai tasyahhud akhir *sebelum salam) dengan memakai doa

DOA SOLAT TASBIH

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ الهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ اليَقِيْنِ وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتَّى نَخَافَـكَ

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ مَخَافَةَ تُحْجِزُنَا عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى نَعْمَلَ بِطَاعَتِـكَ سُبْحَانَ خَالِقَ النُّوْرُ.
والصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ والحَمْدُ للهِ رَبِّ
العَالَمِيْنَ

" Ya Allah aku meminta padaMu pertolongan (melakukan kebaikan) sebagaimana yang
Engkau berikan kepada orang-orang yang mendapatkan petunjuk, amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai keyakinan tinggi, nasihat-nasihat orang yang ahli bertaubat, kemauan kuat yang dimiliki orang-orang yang ahli bersabar, kesungguhan orang-orang yang selalu takut (padaMu), permintaan orang-orang yang selalu cinta (padaMu), beribadahnya orang-orang yang ahli menjaga diri dari perkara subhat, pengetahuan orang-orang yang ahli dalam ilmu (agama) sehingga akupun dapat takut kepada Mu. Ya Allah sesungguhnya aku meminta padaMu rasa takut yang menjagaku dari melakukan kemaksiatan padaMu, sehingga dengan taat padaMu akupun bisa melakukan amal, yang dengannya bisa kuraih ridloMu dan dengan taubat aku dapat mengambil rasa takut kepada Engkau, dan kumurnikan padaMu nasehat karena malu pada Engkau. Dan aku pasrahkan segala urusan padaMu karena wujudnya prasangka baik kepadaMu. Maha Suci Allah Sang Pencipta Cahaya".

Nihaayah Azzain I/115