Minggu, 05 Februari 2017

PEMBAGIAN WAKTU SHOLAT

Pembagian waktu shalat fardu, diangkat dari kitab I’anathuth-Thalibin, sebagai berikut :

وَلِلظُّهْرِ سِتَّةُ أَوْقاَتٍ ؛ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ : وَهُوَ أَوَّلُ الوَقْتِ بِمِقْدَارِ ماَ يُؤَذِنُ وَيَتَوَضَأُ وَيَسْتَرُ العَوْرَةَ وَيُصَلِّيْهاَ مَعَ رَاتِبَتِهاَ وَيَأْكُلُ لَقِيْماَتٍ , وَوَقْتُ اِخْتِياَرٍ: وَهُوَ يَسْتَمِرُ بَعْدَ فِرَاغِ وَقْتِ الفَضِيْلَةِ وَإِنْ دَخَلَ مَعَهُ إِلىَ أَنْ يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ ماَ يَسَعُهاَ فَيَكُوْنُ مُسَاوِياً لِوَقْتِ الجَوَازِ الآَتِى وَقِيْلَ يَسْتَمِرُ إِلىَ رُبْعِهِ أَوْنِصْفِهِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ: وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ ماَ يَسَعُهاَ , وَوَقْتُ حُرْمَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى ماَ لاَ يَسَعُهاَ , وَوَقْتُ ضَرُوْرَةٍ : وَهُوَ آَخِرُ الوَقْتِ إِذاَ زَالَتْ المَوَانِعُ وَالباَقِيْ مِنَ الوَقْتِ قَدْرَ التَّكْبِيْرَةِ فَأَكْثَرَ , وَوَقْتُ عُذْرٍ: وَهُوَ وَقْتُ العَصْرِ لِمَنْ يَجْمَعُ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ
Dzuhur ada enam bagian waktu ;
(1) Waktu FADILAH(UTAMA), yaitu awal waktu kira-kira selama melakukan adzan, wudlu, berpakaian, shalat qobliyah-nya dan makan.
(2) Waktu IKHTIAR, yaitu dari selesai waktu padilah meskipun masuk bersamanya sampai tersisa waktu untuk melakukan shalat, hal ini menyamai Waktu Jawaz yang nanti dijelaskan. Dari pendapat lain Waktu Ikhtiar ialah sampai seperempat atau separuh waktu dzuhur.
(3) Waktu JAWAZ, yaitu tersisa waktu cukup melaksanakan shalat.
(4) Waktu HARAM, yaitu tersisa waktu tidak cukup melaksanakan shalat.
(5) Waktu DARURAT, yaitu akhir waktu yang jika telah hilang larangan shalat dan waktu masih tersisa kira-kira untuk Takbiratul-ikhram atau lebih.
(6) Waktu UDZUR, yaitu waktu Asar, ini bagi orang yang melakukan jama’ takhir.

وَلِلْعَصْرِ سَبْعَةُ أَوْقاَتٍ ؛ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ : وَهُوَ أَوَّلُ الوَقْتِ , وَوَقْتُ اِخْتِياَرٍ: وَهُوَ وَقْتُ الفَضِيْلَةِ وَيَسْتَمِرُ إِلىَ مَصِيْرِ الظِّلِّ مِثْلَيْنِ بَعْدَ ظِلِّ الاِسْتِوَاءِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِلاَ كَرَاهَةٍ : وَهُوَ إِلىَ الاِصْفِرَارِ , ثُمَّ بِهاَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ ماَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ حُرْمَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ ماَ لاَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ ضَرُوْرَةٍ : وَهُوَ آَخِرُ الوَقْتِ بِحَيْثُ تَزُوْلُ المَوَانِعُ وَالباَقِيْ مِنْهُ قَدْرَ التَّكْبِيْرَةِ فَأَكْثَرَ ، فَتَجِبُ هِيَ وَماَ قَبْلَهاَ ِلاَنَّهاَ تَجْمَعُ مَعَهاَ , وَوَقْتُ عُذْرٍ: وَهُوَ وَقْتُ الظُّهْرِ لِمَنْ يَجْمَعُ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ
Asar ada tujuh bagian waktu ;
(1) Waktu FADILAH(UTAMA), yaitu awal waktu.
(2) Waktu IKHTIAR, yaitu waktu padilah sampai terjadi bayang-bayang dua kali lipat dari bendanya setelah tengah hari.
(3) Waktu JAWAZ TIDAK MAKRUH, yaitu sampai terjadi mega kuning.
(4) Waktu JAWAZ MAKRUH, sampai tersisa waktu cukup melaksanaan shalat.
(5) Waktu HARAM, yaitu tersisa waktu tidak cukup untuk melaksanakan shalat.
(6) Waktu DARURAT, yaitu akhir waktu yang ketika hilang larangan shalat dan waktu masih tersisa kira-kira untuk Takbiratul-ikhram atau lebih, maka wajib shalat termasuk hal yang dilakukan sebelum shalat, karena itu satu paket shalat.
(7) Waktu UDZUR, yaitu waktu dzuhur, ini bagi orang yang melakukan jama’ taqdim.

وَلِلْمَغْرِبِ خَمْسَةُ أَوْقاَتٍ ؛ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ وَاِخْتِياَرٍ وَجَوَازٍ بِلاَ كَرَاهَةٍ : وَهُوَ أَوَّلُ الوَقْتِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِكَرَاهَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى ماَ يَسَعُهاَ , وَوَقْتُ حُرْمَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى ماَلاَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ ضَرُوْرَةٍ : وَهُوَ لِمَنْ زَالَتْ مِنْهُ المَوَانِعُ , وَوَقْتُ عُذْرٍ: وَهُوَ وَقْتُ العِشاَءِ لِمَنْ يَجْمَعُ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ
Magrib ada lima bagian waktu ;
(1) AWAL WAKTU, yaitu mencakup Waktu Fadilah, Waktu ikhtiar dan Waktu jawaz yang tidak makruh
(2) Waktu JAWAZ MAKRUH, yaitu tersisa waktu cukup untuk melaksanakan shalat.
(3) Waktu HARAM, yaitu tersisa waktu yang tidak cukup untuk melaksanakan shalat.
(4) Waktu DARURAT, yaitu bagi orang yang hilang larangan shalat.
(5) Waktu UDZUR, yaitu waktu Isya, ini bagi orang yang melaksanakan jama’ takhir.

وَلِلْعِشاَءِ سَبْعَةُ أَوْقاَتٍ كاَلعَصْرِ ؛ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ : وَهُوَ بِمِقْداَرِ ماَ يَسَّعُهاَ وَماَ يَتَعَلَّقُ بِهاَ , وَوَقْتُ اِخْتِياَرٍ : وَهُوَ إِلىَ ثُلُثِ اللَّيْلِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِلاَ كَرَاهَةٍ : وَهُوَ إِلىَ الفَجْرِ الكاَذِبِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِكَرَاهَةٍ ، وَهُوَ ماَ بَعْدَ الفَجْرِ الاَوَّلِ حَتَّى يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ مَا يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ حُرْمَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى ماَ لاَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ ضَرُوْرَةٍ : وَهُوَ وَقْتُ زَوَالِ الماَنِعِ , وَوَقْتُ عُذْرٍ : وَهُوَ وَقْتُ المَغْرِبِ لِمَنْ يَجْمَعُ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ
Isya ada tujuh bagian waktu, sama seperti Asar ;
(1) Waktu PADILAH, yaitu waktu sekedar cukup melaksanakan shalat dan hal yang terkait dengan shalat.
(2) Waktu IKHTIAR, yaitu sampai sepertiga malam.
(3) Waktu JAWAZ TIDAK MAKRUH, yaitu sampai terbit fajar kadzib (dusta).
(4) Waktu JAWAZ MAKRUH, yaitu setelah terbit fajar awal (fajar kadzib) sampai waktu cukup untuk melaksanakan shalat.
(5) Waktu HARAM, yaitu sampai tersisa waktu yang tidak cukup untuk melaksanakan shalat.
(6) Waktu DARURAT, yaitu waktu yang pada saat hilang larangan shalat.
(7) Waktu UDZUR, yaitu waktu magrib, ini bagi orang yang melaksanakan jama’ taqdim.

وَلِلصُّبْحِ سِتَّةُ أَوْقاَتٍ ؛ وَقْتُ فَضِيْلَةٍ : وَهُوَ أَوَّلُ الوَقْتِ , وَوَقْتُ اِخْتِياَرٍ : وَهُوَ يَبْقَى إِلىَ الاَسْفاَرِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِلاَ كَرَاهَةٍ : وَهُوَ يَبْقَى إِلىَ طُلُوْعِ الحَمْرَةِ الَّتِيْ تَظْهَرُ قَبْلَ الشَّمْسِ , وَوَقْتُ جَوَازٍ بِكَرَاهَةٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَي مِنَ الوَقْتِ ماَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ تَحْرِيْمٍ : وَهُوَ إِلىَ أَنْ يَبْقَى مِنَ الوَقْتِ ماَ لاَ يَسَّعُهاَ , وَوَقْتُ ضَرُوْرَةٍ لِمَنْ زَالَتْ مِنْهُ المَوَانِعُ
Subuh ada enam bagian waktu ;
(1) Waktu FADILAH, yaitu awal waktu.
(2) Waktu IKHTIAR, yaitu sampai terjadi mega kuning.
(3) Waktu JAWAZ TIDAK MAKRUH, yaitu tersisa waktu sampai terbit mega merah, sebelum terbit Matahari.
(4) Waktu JAWAZ MAKRUH, yaitu sampai tersisa waktu cukup melaksanakan shalat.
(5) Waktu HARAM, yaitu sampai tersisa waktu yang tidak cukup melaksanakan shalat.
(6) Waktu DARURAT, yaitu waktu bagi orang yang hilang larangan shalat. —

Rabu, 11 Januari 2017

Tawakkal

Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.

Pada suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan laut dg sebuah kapal. Beberapa hari mereka berada di atas samudra. Tiba-tiba terjadi angin topan, kapal oleng digoncangkan oleh ombak yang menggulung-gulung.

Sang istri tidak mampu lagi menahan dirinya. Dia berteriak-teriak tanpa tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia segera menemui suaminya dengan harapan akan menemukan solusi bagaimana menyelamatkan diri dari kematian yang sedang mengintai.

Seluruh penumpang kapal tidak berbeda kondisinya dari sang istri. Tapi sang istri terkejut bukan main. Ia menemukan suaminya duduk tenang seperti kebiasaannya. Sang istri bertambah marah dan menuduh suaminya tidak punya perasaan dan kepedulian.

Sang suami memandang istrinya. Dan dengan wajah kering dan pandangan marah, sang suami tiba2 menghunuskan pisau ke dada istrinya. Lalu bertanya dengan suara tegas dan serius :

“Apakah kamu tidak takut dengan pisau ini?”

Dengan penuh keheranan sang istri menjawab : “Tentu saja tidak.”

Suami bertanya lagi : “Kenapa?”

Istri menjawab : ” Karena pisau itu dipegang oleh orang yang ku percayai dan aku cintai “.

Seketika sang suami tersenyum dan berkata pada istrinya : “Begitu juga aku. Ombak-ombak yang sedang mengamuk ini berada di tangan Dzat yang aku percayai dan yang aku cintai. Jadi kenapa aku harus takut? Bukankah Dia berkuasa atas segalanya?”

_________________________

HIKMAH KISAH:

Maka jika ombak kehidupan menyerangmu. Angin kencang dunia menjatuhkanmu...

Janganlah takut !
Janganlah khawatir !

Karena semua yang ada di dunia ini berada dalam genggaman tanganNya, Dia mengetahui dirimu melebihi pengetahuanmu tentang dirimu sendiri. Dia mengetahui segala yang terbuka dan yg tersembunyi.

Jika kamu mencintai dan percaya kepadaNya, maka tidak perlu takut dan khawatir. Karena dia tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya.

Maka sibukkan dirimu dengan memupuk cinta dan kepercayaan kepadaNya. Berjuanglah untuk selalu berada di jalanNya!

Dan saat itu, segala gelombang dan angin topan yang datang dalam kehidupanmu tidak akan membuatmu khawatir apalagi ketakutan. Karena yang perlu kau lakukan hanya bersujud padaNya dan berdo'a :

اللهم مدبر الامر بين السماء والارض دبر امري فاني لا احسن التدبير

"Wahai Dzat yang maha mengurusi segala urusan di bumi dan langit, uruslah urusanku, karena sesungguhnya aku tidak mampu mengurusinya dg baik (segala urusan2ku itu)."

Al-Murobbi

Jumat, 09 Desember 2016

Bagja lara sing jadi jalan tambah iman kanu Maha Kawasa


KH. Khoeruman Azam
Miftahul Huda Mononjaya

Suratan Takdir ti nu Maha Suci ka manusa aya nu karasana alus, kupedah akur (sesuai) jeung naluri insan. Aya nu karasana goreng kupedah teu akur jeung naluri insan. Duanana wajib diimankeun yen papasten alus jeung anu goreng eta teh Minalloh.

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ .... وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى(متن السفينة النجا -12)

Karakter jalma dina menyikapi perjalanan takdir anu katarima :

1. Mun keur narima bentuk takdir nu alus jeung keur narima nu goreng dipake jembatan eling ka Alloh. Bagja eling, lara eling. Ieu nu pangalusna.

2. Ku pinanggih jeung takdir alus dipake poho ka Alloh, nyakitu deui keur narima takdir nu goreng. Bagja lali, lara lali. Ieu nu panggorengna.

3. Nalika narima takdir hade dipake eling, nalika narima takdir goreng dipake poho. Bagja eling, lara lali. Ieu goreng tapi rada leuheung.

4. Nalika narima takdir alus manehna poho, mun keur goreng jadi eling. Bagja lali, lara eling. Ieu ge masih leuheung.

Penjelasan

Sakabeh manusa pasti narima suratan takdir ti Alloh, moal bisa lepas tina ketentuan-Na. kadang-kadang pinaggih jeung nasib alus, kadang-kadang pinanggih jeung nasib goreng. Karasana alus teh pedah akur (sesuai) jeung naluri insan (lelembutan kahayang). Pinanggih jeung rasa senang, rasa bahagia, rasa nikmat, cumpon kabutuh, awak cageur, rizki jeung milik loba, usaha nanjung, pangkat naek, nu karasana teh takdir alus.

Tara salawasna manusa cicing dina nasib nu kitu, dina akhirna bakal jadi robah/beralih moal aya nu salawasna bisa mempertahankeun supaya rasa senang, bahagia, bungah tetep aya di diri. Ari ku Alloh dipengkolkeun mah moal bisa mempertahankeun.

Datang pinanggih jeung nasib goreng ceuk naluri, poe kamari pinaggih jeung rasa senang.. naha ari poe isuk pinanggih jeung rasa prihatin, lara, tunggara. Dina hate nu tadina geunah teh jadi perih karasana, akhiran susah.

Ieu tandaning aya nu ngatur nyaeta Alloh Robbul Alamin. Teu pilih bulu Alloh nangtukeun, teu jadi jaminan bahwa nu beunghar salawasna rasana bungah tur bahagia, nu luhur pangkatna teu jadi jaminan, anu leubeut pangaweruhna teu jadi jaminan, rata kabeh manusa kabagean rasa susah, rasa lara, rasa bungah.

Nu beunghar dibere milik sapoe lima juta ari kabutuhna saratus juta, teu rasa bungah. tapi nu faqir ku Alloh dibere milik sapoe saratus rebu ari kabutuh ngan lima puluh rebu, cukup jeung boga sesa, bungah eta nu faqir. Alloh Maha Kawasa, Alloh Maha Agung.

Rek bentuk takdir nu mana bae sing jadi pangjemput ti Alloh ngajadikeun :

أَنْ تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى
Imankeun yen qodar teh rek hade atawa goreng eta ti Alloh SWT.

Jadikeun pangjemput bahan eling ka Anjeunna, jadikeun alat taroqi/alat “naekna” diri mayun ka Alloh Robbul Alamin. Ku bungahna dipake syukur, ku pinanggih jeung rasa susah prihatinna dijadikeun sabar. Eta nu meunang pangjemput Alloh. Anu jaminan ti Alloh dimana menerima jemputan eta dijadikeun bahan Dzakiron Ilalloh eling ka Alloh, akhirna netepkeun diri dina syukur jeung sobar, surga disadiakeun ku Alloh pikeun eta jalma.

Pidawuh Kangjeng Rosul Saw. nu pihartoseunna :

“Saestuna Alloh moal ngasupkeun jalma ka surga, kajaba pikeun jalma anu sobar jeung nu bisa syukur ka Alloh”.
Ieu nu disebut bagja eling lara eling (pang alus-alusna jalma).

Nu panggoreng-gorengna jalma nyaeta nalika pinanggih jeung rasa bahagia, keur narima خَيْرِهِ: usaha lancar, milik gede, pangkat naek, awak cageur kalah teu dipake syukur ka Alloh, teu dipake eling ka Alloh, teu boga rasa ieu teh Anugrah ti Alloh, teu disambut ku syukur ka Alloh malah jadi ghoflah, kalah jadi fitnah ka dirina lain mawa kana jalan to’at, nu kieu mah akhirna bagja bakal mawa sengsara. Tuluy dimana pinanggih jeung lara.. usaha teu weleh rugi akhirna jatuh miskin, awak keur cageur jadi gering, keur boga pangkat aya nu nyepak, teu dipake eling deuih ka Alloh, kalah aral abrug-abrugan hatena, teu dibalikkeun ka Alloh, teu dileyepkeun ka diri, jeung teu sadar gening si lemah teh teu aya pangawasa teu bisa mempertahankeun ieu kangeunahan, kalah dipake kufuran ka Alloh. Teu jadi jembatan pikeun eling ka Alloh tapi ku kituna teh kalah dipake wasilah kana ghoflah ka Alloh, bagja lali lara ge lali. Ieu mah sengsara membawa kesengsaraan. Jadi double prihatin akhirna, prihatin dunia prihatin akherat.

Aya jalma teh goreng tapi leuheung, nyaeta nu bagja eling lara lali. Ari nalika pinanggih jeung rasa bagja ibadahna getol, naha nalika dibere kasusah mah jadi kabur hatena teh. Kokoloyongan neangan dukun, neangan pakuburan (umpamana), gagarayapan hatena neangan jimat, kana ibadah kebluk, tah eta bagja eling lara lali putus asa akhirna.

Aya nu goreng deui tapi leuheung, nyaeta bagja lali lara eling. Dibere bagja mah poho ka Alloh teh, boga perusahaan maju nepi ka lesot tina pangajian, lesot ti madrasah, lesot ti masjid. Padahal tadina tukang getol ka masjid (umpamana), getol ka pangajian, rajin ibadah ngan gara-gara maju usahana kalah jadi poho ka Pangeran.  Dina hiji waktu rugi deui, jatuh miskin ku kituna teh ngoloyong deui daek ka masjid, daek ka pangajian, daek hudang ti peuting. Leuheung eta mah, bagja lali lara eling.

Alloh mikadeudeuh ka hamba anu nalika menghadapi takdir Alloh ditarima jadi bahan deuheus ka Alloh, jadi bahan eling bisa sobar, bisa syukur. Alloh mikangewa ka jalma nu teu bisa sobar teu bisa syukur (naudzubillah). Dina hadis Qudsi didawuhkeun :

إِنِّي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا, مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلاَئِي وَلَمْ يَشْكُرْنِي عَلَى نَعْمَائِي فَلْيَخْرُجْ مِنْ تَحْتِ سَمَائِي وَلْيَخْتَرْ لَهُ رَبًّا سِوَائِي
"Saetuna Kami Alloh nu teu aya deui Pangeran salian ti Kami, sing saha nu teu narima kana papasten Kami, nu teu bisa sobar kana ujian/bala’i ti Kami teu bisa syukur kana ni’mat ti Kami, pek geura kaluar ti kolong langit Kami, jung teangan pangeran salian ti Kami.

Dina hartos Alloh banget bendu, teu mikarido ka jalma nu kitu. Tapi lamun narima kana ketentuan ti Alloh, maka Alloh mikadeudeuh ka jalma nu kitu.

Tanda ning buleud mangeran ka Alloh, buleud pasrah tawakal ka Alloh. Geuwat balik hate, tekadkeun

لَا اِلَه اِلَّا ٱللَّه, لَامَوْجُوْدَ اِلَّاٱللَّه
Didieu kieu ayeuna, abdi tapak damel Alloh (ngajadi mu’min muwahhid).

Disisi lain, nalika keur narima takdir nu karasana teu hade, kudu bisa introspeksi.

Jadi dina memeh maca لَا اِلَه اِلَّا الله kudu bisa membaca diri yen Alloh teh memberi jalan upaya jeung ikhtiar. Dawuh Alloh SWT. dina surat Ar-Ro’du ayat 11 :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ ... الاية ١١

Bisa berupaya pikeun maca, naon yeuh pinangging jang diri dina وَشَرِّهِ, membaca kesalahan diri. Ieu mangrupakeun jalan eling ka Alloh, supaya lancar jeung terbiasa akhirna kedal lisan nu kadorong ku hate ngucapkeun اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم, yen ieu teh tina ladang kasalahan diri.

Pidauh Nabi dina Hadits Qudsi :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ اَلْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قال : ...فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلَّا نَفْسَه (رواه مسلم)
Dina nalika pinanggih jeung takdir hade segera sambut ku muji/syukur ka Alloh, ngan lamun pinanggih jeung takdir goreng eta mah ti diri anjeun.

Eta teh mangrupakeun adab-adaban/tatakrama, naon yeuh kasalahan diri?. Nalika geus kabaca kasalahan diri maka geuwat istigfar ka Alloh, terus ngarevolusikeun diri ku ngaganti kalakuan nu teu hade jadi hade mungguh Alloh. Dawuh Alloh dina surat Al-Baqoroh ayat 286 :

...لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ...

Maka, nalika keur narima kagorengan leuwih alus dirasakeun eta dosa teh tina ladang laku lampah diri, tah engke sangkan bisa ngarobah sikap ku jalan istighfar ka Alloh.

Numawi dina dzikir teh, sateuacan maca لَا اِلَه اِلَّا الله teh maca Istighfar heula, nembe tos istighfar maca لَا اِلَه اِلَّا الله.

Ieu sikap mu’minin anu bener-bener iman ka Alloh, bisa nempatkeun diri dina posisi terbaik mungguh Alloh, dina nalika kaayaan kumaha bae bisa jadi jembatan tambah iman tambah eling ka Anjeunna. Dawuh Alloh SWT. dina surat Al-Anfal ayat 4

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيم
ٌ
Mudah-mudahan urang sadayana dijemput ku Alloh ngajadi hamba anu nalika tumiba rasa bagja atawa nalika keur aya pilara jadi eling ka Ajeunnna. Aamiin Ya Robbal Alamin

Selasa, 29 November 2016

I'irob Hati


I'ROBNYA HATI MENURUT IMAM HUJJATUL ISLAM AL-GHAZALI

Dinukil dari kitab Minhajul 'Arifin karya Imam Al Ghazzali
باب الأحكام و إعراب القلوب على أربعة أنواع : رفع , و فتح , و خفض ,و وقف .-
I'robnya hati ada empat macam :
1. rofa' (terangkat)
2. fath (terbuka)
3. khofadz (turun)
4. waqf (berhenti/mati)

فرفع القلب : في ذكر الله .و فتح القلب : في الرضاء عن الله تعالى .و خفض القلب : في الاشتغال بغير الله تعالى .و وقف القلب : في الغفلة عن الله تعالى .
Rofa' (terangkat) nya hati adalah ketika dzikir kpd Allah, Fath (terbuka) nya hati adalah ketika ridho kepada Allah, Khofadz (turun) nya hati adalah ketika sibuk dgn selain Allah, Waqof (berhenti/mati) nya hati adalah ketika lalai dari Allah swt .

فعلامة الرفع ثلاثة أشياء : وجود الموافقة , و فقد المخالفة , و دوام الشوق .
Tanda rofa' nya hati ada 3 :
1. ada kecocokan
2. hilangnya penyimpangan
3. kerinduan-

و علامة الفتح ثلاثة أشياء : التوكل , و الصدق , و اليقين .-
Tanda fath nya hati ada 3 :
1. kepasrahan
2. kejujuran
3. keyakinan

و علامة الخفض ثلاثة أشياء : العجب , و الرياء , و الحرص و هو مرعاة الدنيا .
Tanda khofadz nya hati ada 3 :
1. bangga diri
2. pamer
3. tamak yaitu selalu memperhatikan dunia.-

و علامة الوقف ثلاثة أشياء : زوال حلاوة الطاعة , و عدم مرارة المعصية , و التباس الحلال-
Tanda waqof nya hati ada 3 :
1. hilangnya rasa manis dlm ketaatan
2. tiadanya rasa pahit dalam kemaksiatan
3. ketidak jelasan kehalalan.

Wallohu a'lam.
منهاج العارفين للامام أبي حامد الغزالي
Yaa Allah..Semoga Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rob Rofa' dan beri'rob Fath, janganlah Engkau jadikan hati kami menjadi hati yang beri'rob Khofadl

Jumat, 18 November 2016

Mengenal Ilmu Kalam Ahlussunnah


MENGAPA KITAB-KITAB AQIDAH ASY'ARIYYAH YG DIAJARKAN DI PONDOK PESANTREN LEBIH MENGACU KEPADA PENDEKATAN 'AQLI (RASIONAL)... ?????

Kitab-kitab yg diajarkan di ponpes seperti Tijanud Darariy, Jawahirul Kalamiyyah, Fathul Majid, Kifayatul 'Awwam, Jawahirul Kalamiyyah, Ummu Barahin dll dalam memaparkan aqidah materinya lebih didasarkan dengan menggunakan argumen-argumen dan pendekatan rasional, jarang sekali melalui pendekatan tekstual, dimana pemaparan materinya berdasarkan dalil-dalil Al Quran dan hadis. Hal tersebut dikarenakan untuk menghadapi hujjah-hujjah dari golongan non muslim, seperti filosof, atheis, Yahudi, Kristen, dll, juga menghadapi aliran-aliran Islam di luar Ahlus Sunnah seperti Mu'tazilah yg sangat rasional, dimana sudah dimaklumi bahwa mereka menolak mentah-mentah Al Quran dan hadis (bagi Muktzilah, maka hadis sahih yg tidak sesuai dg kefahaman mereka, maka ditolak mentah-mentah, sedang Al Quran mereka palingkan dari maksud literalnya tanpa mengindahkan kaidah ilmiyyah dalam tafsir/takwilnya).

Kita diajarkan untuk berdialog dg orang lain sesuai dg kadar isi otak mereka :

كلموا الناس بقدر عقولهم

Berbicaralah kepada para manusia menurut kadar akal mereka....!!!

Lalu apa gunanya bagi mereka ucapan Allah berfirman, Nabi Saw bersabda begini begini, kalau mereka tidak/belum beriman kepada keduanya ??? Lalu apa kita harus mati kutu dan mendiamkan hujjah-hujjah mereka ???

Maka diperlukan argumentasi rasional yang kuat dan tidak bertentangan dengan kaidah dan prinsip-prinsip syariat yg dibawa oleh Nabi kita Muhammad Saw. Dan jawaban serta solusi tanggap yg diambil oleh para ulama Asy'ariyyah adalah sebagaimana yg tertera di dalam kitab-kitab diatas. Sehingga Madzhab Asy'ariy yg dianut oleh Mayoritas umat Islam dari masa  ke masa itu, tercatat sebagai madzhab yg kokoh dan selalu unggul dalam beragumentasi dan berdialog dalam masalah aqidah, baik berhadapan dg golongan di luar Islam maupun menghadapai sekte-sekte di luar Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Mereka terbukti mampu mengislamkan jutaan umat manusia di dunia dan mampu menyingkirkan sekte-sekte di luar ahlus sunnah yg pernah bercokol dan menjadi madzhab resmi di pemerintahan-pemerintahan Islam hingga sekarang.

Lalu ada sebagian kalangan (diantaranya adalah sekte Wahabi Salafi cabe-cabean) yg berpandangan negatif terhadap methode penalaran rasional dalam aqidah diatas (mereka menyebutnya dengan ilmu kalam yg identik dengan filasafat) dengan berasumsi bahwa argumen rasional tsb mengikuti mainstream dan manhaj filsof Yunani, bukan di dasarkan pada dalil-dalil Al Quran dan hadis. BENARKAH ??

Jawabannya tentu TIDAK BENAR. Asumsi negatif ini berawal dari ketidaktahuan mereka tentang pembagian ilmu kalam yg di cela oleh para ulama dan ilmu kalam yg dipuji oleh ulama, yaitu ilmu kalam yang membantu menegakkan hujjah sunnah dan agama. Sebagaimana kita ketahui dalam kisah-kisah Nabi jaman dahulu di dalam Al Quran, mereka berhadapan dg kaum yg tidak beriman, kaum atheis, paganis penyembah berhala, mereka menghadapinya justru dengan dalil-dalil rasional, bukan dalil- dalil naqli.
Jadi secara global, perbedaan antara ilmu kalam yg tidak dicela oleh ulama dan ilmu filsafat yg dicela oleh ulama meliputi tiga aspek sebagaimana karya ilmiyyah : methodologi (manhaj), karakter penelitian, obyek dan tujuan.

Dari sisi Manhaj dan karakter penelitian, para filosof membahas eksistensi Tuhan, para Malaikat dll hanya murni berlandaskan rasio. Jadi akal adalah acuan pokok dan harga mati bagi keyakinan mereka tanpa pertimbangan dan ikatan syariat sama sekali. Sedang para ulama ilmu kalam (tauhid) melakukan rekonsiliasi dan sinkronisasi antara rasio dan syariat. Mereka menempatkan akal sebagai perangkat untuk membuktikan kebenaran syariat bukan menjadikan akal  berkedudukan sebagai fondasi bagi aqidah.

Dari segi obyek (maudhu') materi yg dikaji oleh para ulama ilmu kalam adalah keyakinan (aqidah) yg bisa diterima atau sesuai dg syariat, jadi aqidah yg memang sudah diterima oleh syariat itulah yg dianggap sebagai suatu aksioma yg menjadi titik permulaan kajian. Sedang para filosof memulai kajiannya dari hal-hal aksioma, karena dalam asumsi mereka, kebenaran itu masih sangat relatif, misterius dan belum pasti ketika memulai kajian, bahkan tidak jarang ada ungkapan tidak ada kata final walaupun pasca kajian. Oleh karena itu mereka membuat perangkat rasional yg mungkin terjadi untuk menelusuri kebenaran versi mereka.

Dari sisi Tujuan, Ahli ilmu kalam memiliki tujuan konkrit yaitu memperkokoh akidah agama, menegakkan sunnah dan menghancurkan pondasi akidah kaum non agamis maupun ahli bid'ah. Sedang para filosof belum jelas tujuannya, mereka hanya mencari dan meneliti kebenaran dari sisi rasionalis yg relatif dan terbatas, seperti apapun bentuknya.

BEDA KHAN ?????

Walohu A'lam.........

By: Dodi Elhasyimi

Jumat, 28 Oktober 2016

Nasehat Buya Hamka


NILAI-NILAI DALAM BERDA'WAH

▫Da'wah itu membina, bukan menghina
▫Da'wah itu mendidik, bukan 'membidik'
▫Da'wah itu mengobati, bukan melukai
▫Da'wah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan
▫Da'wah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan
▫Da'wah itu mengajak, bukan mengejek
▫Da'wah itu menyejukkan, bukan memojokkan
▫Da'wah itu mengajar, bukan menghajar
▫Da'wah itu saling belajar, bukan saling bertengkar
▫Da'wah itu menasehati, bukan mencaci maki
▫Da'wah itu merangkul, bukan memukul
▫Da'wah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar
▫Da'wah itu argumentative, bukan provokatif
▫Da'wah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat
▫Da'wah itu realistis, bukan fantastis
▫Da'wah itu mencerdaskan, bukan membodohkan
▫Da'wah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji
▫Da'wah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan
▫Da'wah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat
▫Da'wah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru
▫Da'wah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan
▫Da'wah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat
▫Da'wah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan
▫Da'wah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya
▫Da'wah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran
▫Da'wah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan
▫Da'wah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis
▫Da'wah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat
▫Da'wah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan
▫Da'wah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran
▫Da'wah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh
▫Da'wah itu mencari teman, bukan mencari lawan
▫Da'wah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran
▫Da'wah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian
▫Da'wah itu menyatukan semua lapisan, bukan memecah belah persatuan
▫Da'wah itu "Saling Islah" bukan "Saling Salah
▫Da'wah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, bukan hanya di pengajian
▫Da'wah itu dengan "Cara Nabi" bukan dengan "Cara Sendiri"

Mari kita coba praktekkan