Jumat, 03 Juli 2015
Kajian Kitab Jurumiyyah Bagian 1
Bab Kalam : Bagian 1
ُ
الكلامُ : هو اللفظُ المُرَكَّبُ المُفيدُ بالوَضْع، وأقسامُه ثلاثة: اِسمٌ ، وفعلٌ، وحَرفٌ جاءَ لمَعنى.
فالاسم يُعرَفُ بالخَفضِ، والتنوينِ ،ودخولِ الألف واللام، وحروفِ الخَفضِ وهي: مِن، واِلى ،وعَن، وعلى، وفِي ، ورُبَّ، والباءُ، والكافُ، واللامُ، وحروفِ القَسَم وهي:الواو، والباء، والتاء.
والفعلُ يُعرَفُ بقد، والسِّين، وسَوف،وتاء التأنيث الساكنة.
والحرفُ ما لا يَصلُحُ معه دليلُ الاسم ولا دليل الفعل.
(قوله: الكَلامُ هُوَ اللـَّفظ.......إلخ)
Sebelum kita membahas lebih lanjut. Perlu diketahui bahwa Pembahasan Ilmu Nahwu kali ini secara sistematik akan mengikuti sistematika klasifikasi berdasarkan kitab Jurumiyyah, baik dalam segi klasifikasi bab maupun permasalahannya. Namun, penjelasannya akan diperluas mecakup kitab-kitab lain, meliputi kitab Imrithi, Alfiyah, Nadzmul Maqshud, Qowaa’idul I’rob, bahkan jauharul maknun. Selamat berselancar di samudra ilmu nahwu....!!!
الكلام
Mengapa pembahasan tentang Kalam di dahulukan daripada yang lain?
لِأنَّ الكَلامَ هُوَ مَقصُوْدٌ بعِلمِ النـَّحْوِ ,
artinya, karena kalam sendiri adalah maksud utama dari ilmu nahwu
(قوله: الكَلامُ هُوَ اللـَّفظ.......إلخ)
Dalam bahasa arab, pembacaan tulisan كلام yang mengandung ma’na ada 3 :
1. الكِلامْ : الجراحات artinya luka (jama)
2. الكُلامْ: الأرْضُ الصـُّعْبَة ُ , artinya tanah yang tandus
3. الكَلامْ: القول , artinya ucapan
Selain dalam ilmu Nahwu, istilah kalam juga digunakan dalam disiplin ilmu lainnya. Berikut adalah pengertian kalam menurut berbagai macam disiplin ilmu :
1. Kalam perspektif Lughoh
كُلُّ مَا أفادَ مِنْ كِتابَةٍ أوْ إشَارَةٍ أوْ عُقـَدٍ أوْ نـُصَبٍ أوْ لِسَانٍ حَالٍ
“Segala sesuatu yang berfaidah, baik yang berasal dari tulisan, isyarat, tanda dengan benda mati, maupun ucapan.”
Melambaikan tangan merupakan salah satu contoh isyarat untuk memanggil atau mengisyaratkan sampai jumpa. Menurut Lughoh, hal tersebut disebut Kalam.
2. Kalam Perspektif Fiqh
كُلُّ مَا أبْطلَ الصَّلاة َمِنْ حَرْفٍ مُفهِمٍ كقِ مِنَ الوِقايَةِ وَعِ مِنَ الوِعَايَةِ أوْ حَرْفيْنِ وَإنْ لمْ يُفهَمَا
“Segala sesuatu yang membatalkan shalat yang berupa ucapan dari satu huruf yang difahami seperti قِ dari lafadz وقاية dan ع dari lafadz وعاية atau dua huruf meskipun tidak dapat difahami.”
3. Kalam Perspektif Ushul
اللـَّفظ ُالمُنزَّلُ عَلى مُحَمَّدٍ صَلـَّى اللهُ عَليْهِ وَسَلـَّمَ المُعْجِزُ وَلوْ بأقصَرِ سُوْرَةٍ المُتعَبَّدُ بتِلاوَتِهِ
“Lafadz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berupa mu’jizat meskipun merupakan surat terpendek dari seluruh surat, dan bernilai ibadah dalam membacanya.”
4. Kalam Perspektif Mutakallim/tauhid
صِفة ٌقدِيْمَة ٌقائِمَة ٌبذاتِهِ تعَالى ليْسَ بحَرْفٍ وَلاصَوْةٍ
“Sifat Maha terdahulu yang berlaku pada Allah SWT dengan tanpa huruf dan suara.”
5. Kalam Perspektif Nahwu
مَا اجْتمَعَ فِيْهِ قيُوْدُ الأرْبَعَةِ الـَّتِيْ هِيَ اللـَّفظ ُالمُرَكَّبُ المُفِيْدُ بالوَضْعِ
“Sesuatu yang padanya terkumpul Qoyyid yang empat, yaitu Lafadz, Murokkab, Mufid, dan Wadho.”
Syekh Al-Imrithi dalam Kitabnya,
كـَلامُهـُمْ لـَفظ ٌ مُفِـيْدٌ مُسْنـَدُ * وَالكِلمَة ُاللفظ ُالمُفِيْدُ المُفرَدُ
Syair,
إنَّ الكَلاَمَ لَفِى الفُؤَادِ وَاِنَّمَا * جُعِلَ الِّلسَانُ عَلَى الفُؤَادِ دَلِيْلاَ
Kalam perspektif Nahwu terdapat 4 qoyyid, yaitu :
1. Lafadz
Etimologi : الطـُّرْحُ وَالرَّمْيُ , artinya melempar. Contoh : لـَفظتُ الحَجَرَ , artinya Saya melempar Batu.
Terminologi :
الصَّوْتُ المُشْتَمِلُ عَلى بَعْضِ حُرُوْفِ الهجَائِيَّةِ ,
“Suara yang mencakup terhadap huruf hijaiyyah." Contoh : زَيْدٌ
Apabila ada suara yang mencakup terhadap huruf hijaiyyah yang berasal dari suara hewan atau benda mati disebut Isim Shout (إسم صوت).
Alfiyyah,
وَمَا بهِ خُوْطِبَ مَا لا يَعْقِلُ * مِنْ مُشْبهِ اسْمِ الفِعْلِ صَوْتا يُجْعَلُ
كذا الـَّذِيْ أجْدَى حِكايَة ًكقـــَبْ * وَالزَمْ بـِنا النـَّوْعَيْنِ فـَهْوَ قدْ وَجَبْ
Lafadz terbagi 2 :
a. Musta’mal : مَا يُسْتَعْمَلُ فِي كلامِ العَرَبيَةِ , artinya Lafadz yang biasa digunakan dalam Kalam araby.
Contoh : زَيْدٌ
b. Muhmal : مَا لايُسْتَعْمَلُ فِي كلامِ العَرَبيَةِ , artinya Lafadz yang tidak biasa digunakan dalam Kalam araby. Contoh : Asep, Tejo, Sukiyem, dll.
2. Murokkab
Etimologi : وَضْعُ شَيْئٍ عَلى شَيْئٍ آخَرَ , artinya menempatkan sesuatu terhadap sesuatu yang lain.
Terminologi : مَا ترَكَّبَ مِنْ كَلِمَتيْنِ فأكْثرَ, artinya "Sesuatu yang tersusun dari 2 kalimat atau lebih."
Contoh : زَيْدٌ قائِمٌ
Murokkab terbagi menjadi 3 :
a. Murokkab Isnady :
إسْنادُ شَيْئٍ عَلى شَيْئٍ آخَرَ لِأجْلِ الحُكْمِ
Artinya, “Menghubungkan kalimat terhadap kalimat lain dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah hukum.”
Contoh : زَيْدٌ قائِمٌ, ungkapan ini mengandung ma’na hukum, yaitu إثبات القيام على زيد, artinya Menetapkan hukum berdiri kepada zaid.
Rukun Murokkab Isnady ada 2 :
- مسند : " مَا حَكَمْتَ بهِ عَلَى شيْئٍ "
- مسند اليه : " مَا حَكَمْتَ عَلَيْهِ بِشَيْئٍ "
b. Murokkab Idhofy :
ضَمُّ اسْمٍ إلى اسْمٍ بقصْدِ تَخْصِيْصِهِ أوْ تَعْرِيْفِهِ
Artinya, “Mengumpulkan Isim terhadap Isim yang lain dengan tujuan takhsis dan Ta’rif.”.
Murokkab Idhofy disebut juga Tarkib Idhofah, yang penjelasanya telah dijelaskan pada artikel lalu dalam pembahasan Basmalah.
c. Murokkab Mazji :
جَعْلُ اسْمَيْنِ بمَنزَلـَةِ اسْمٍ وَاحِدٍ
Artinya, “Menjadikan dua isim bertempat pada status satu isim” (Dua Isim menjadi Satu).
Contoh : بَعْلٌ بَكٌ، جدي بَعْلبَكَ
Rukum Murokkab Mazji ada 2 :
- صَدَرْ, merupakan isim pertama
- عَزجَ, merupakan isim kedua
Dari pembagian tersebut, Murokkab terklarifikasi lagi menjadi 2, yaitu :
1. تام (sempurna), yaitu Murokkab Isnady
2. ناقص (Tidak sempurna), yaitu Murokkab Idhofy dan Mazji
Yang menghasilkan kalam adalah Murokkab yang Tam (Isnady) karena murokkabnya menghasilkan sebuah hukum. Sedangkan Murokkab yang Naqis (Idhofy, Mazji) tidak menghasilkan sebuah hukum.
Murokkab Isnady terbagi 2, yaitu :
1. Lafdzi, ada 3, yaitu
- Jumlah Ismiyyah
- Jumlah Fi’liyyah
- Jumlah Syartiyyah
2. Ma’nawi, ada 4, yaitu
- فعل مضارع مفرد مذكر مخاطب
- فعل مضارع متكلم وحده
- فعل مضارع متكلم مع الغير
- فعل امر مفرد مذكر مخاطب
3. Mufid
Etimologi : مَا اسْتُفِيْدَ مِنْ عِلمٍ أوْ مِنْ مَالٍ, artinya sesuatu yang diambil faidahnya, baik berupa ilmu maupun harta.
Terminologi :
مَا أفادَ فـَائِدَة ً تـَامَّة ً بحَيْثُ يَحْسُنُ السُّكُوْتُ مِنَ المُتـَكَلـِّمِ وَالسَّامِعِ عَليْهَا
Artinya, “Sesuatu yang berfaidah sempurna ditandai dengan baiknya respon diantara pembicara dan lawan bicara.”
Deskripsi dari Mufid :
- Fiil lazim mempunyai fail. Contoh : فرح زيد
- Fiil muta’addi mempunyai maf’ul bih. Contoh : ضرب زيد عمرا
- Mubtada mempunyai Khobar. Contoh : زيد فارح
- Syarat mempunyai Jawab. Contoh : إن قام زيد قام عمر
4. Wadho
Etimologi : مُطلـَقُ الوِلادَةِ, artinya Melahirkan. Contoh : وَضَعَتِ المَرْأة ُ, artinya Perempuan itu telah melahirkan.
Terminologi : جَعْلُ اللـَّفظِ دَلِيْلا عَلى المَعْنـَى, Artinya, “Menjadikan lafadz menunjukkan sebuah ma’na.”
_____________________________
(قوله: وَأقسَامُهُ ثـَلاثـَة.......إلخ) “Isim”
Wawu pada lafadz وأقسامه disebut واو إستئناف بيانى , yaitu مَا صَحَّ وُقُوْعُهَا جَوَابًا عَنْ سُؤَالٍ مُقَدَّرٍ, artinya wawu yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan yang dikira-kirakan.
Hal ini dikarenakan sebelumnya kita membahas tentang pengertian kalam. Berdasarkan kebiasaan, setelah pengertian dari sebuah hal (dalam hal ini, kalam), maka akan dibahas pembagiannya. Maka secara tidak langsung, dalam pentaqdirannya terdapat pertanyaan yang mempertanyakan pembagian dari hal tersebut (pembagian kalam). Maka wawu ini berfungsi sebagai perantara yang menandakan sebuah pertanyaan sebelumnya.
Bahan Kalam seluruhnya ada 3 :
1. Isim
2. Fiil
3. Huruf
لاسْمٍ وَفِعْلٍ ثمَّ حَرْفٍ تـَنقسِمْ * وَهَذِهِ ثـَلاثـُهَا هِيَ الكـَلِمْ
1. ISIM
Yang akan dibahas dari Isim ada 4 :
A. Pengertian Isim
Etimologi : مَا دَلَّ عَلى مُسَمًّى . Artinya, Sesuatu yang menunjukkan sesuatu yang dinamai
Terminologi :
كَلِمَة ٌ دَلـَّتْ عَلى مَعْنـًى فِيْ نـَفسِهَا وَلمْ تـُقتـَرَنْ بزَمَانٍ وَضْعًا
Artinya, Kalimah yang menunjukkan ma’na dari dirinya sendiri tanpa disertai kaidah zaman.
Qowaidul I’rob,
فالإسْمُ مَا دَلَّ عَلى مَعْنًى يَقعْ * بأزْمَانٍ ثـَلاثـَةٍ قدِ انـْقـَطعْ
B. Hukum Isim
Hukum Isim secara global adalah Mu’rob
Alfiyyah,
وَمُعْرَبُ الأَسْمَآءِ مَا قَدْ سَلِمَا * مِنْ شَبَهِ الحَرْفِ كاَرْضٍ وَسُمَا
Namun, apabila dilihat secara terperinci, hukum isim ada 2 :
- Mu’rob : مَا لاَ يُشْبِهُ الحَرْفَ : Isim yang tidak menyerupai huruf
- Mabni : مَا يُشْبِهُ الحَرْفَ : Isim yang menyerupai huruf
Alfiyyah,
وَالإسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِىْ * لِشَبَهٍ مِنَ الحُرُوفِ مُدْنِىْ
Isim yang dihukumi mabni ada 6, yaitu
- Isim Dhomir
- Isim Isyaroh
- Isim Istifham
- Isim Syarat
- Isim Fiil
- Isim Maushul
Dalam menyerupai huruf, dari isim mabni tersebut terbagi kepada 4 bagian :
- Menyerupai Isim dari segi wadho (penulisannya) : Isim Dhomir (karena jumlah hurufnya minim seperti huruf, mayoritas hanya 1 -3 huruf saja).
- Menyerupai Isim dari segi ma'na (Arti) : Isim Isyaroh, Isim Istifham, Isim Syarat (Karena arti dari isim-isim tersebut tidak sempurna seperti halnya huruf).
- Menyerupai Isim dari segi niyaabah (Penggantian) : Isim Fiil (Isim fiil sendiri mempunyai arti yang berasal dari kalimah lain, seperti halnya huruf).
- Menyerupai Isim dari segi Iftiqoor (Kebutuhan) : Isim Maushul (Karena isim mausul membutuhkan shilah seperti halnya huruf yang membutuhkan madkhul/yang dimasuki huruf tersebut).
Alfiyyah,
كالشبه الوضعيِ فى اسمي جئتنا * والمعنوي فى متى وفى هنا
وكنيابة عن الفعل بلا * تأثر وكافتقار أوصلا
C. Pencetak (Asal Muasal) Isim
Ada 2 pendapat ulama yang menyatakan asal muasal dari kalimat isim, yaitu :
a) Ulama Bashroh
- Shigotnya adalah masdar dari fiil bina naqis wawu ban pertama tsulatsi mujarrod
- Ma’nanya العلوُّ والارتفاع , Tinggi
- Tasrifannya سمى يسمو سموًا
b) Ulama Kuffah
- Shigotnya adalah Masdar dari fiil bina mitsal wawu bab kedua tsulatsi mujarrod
- Ma’nanya العلامة , Ciri
- Tasrifannya وسم يسم سمة ووسماً
Apabila dipilih dari kedua pendapat tersebut, yang paling bagus adalah pendapat ulama bashroh. Hal ini didasarkan pada 2 sebab, yaitu :
- Ketika Jama’
• Bashroh : أسماء
• Kuffah : اوسام
- Ketika Tasghir
• Bashroh : سُمَيٌّ
• Kuffah : وُسَيْمٌ
Dari klarifikasi tersebut, yang sering kita jumpai dalam penggunaannya dalam bahasa arab adalah ulama basroh.
Alfiyyah,
واستقَّ الإسْمَ مِنْ سَمَا البِصْرِيُّ * وَاسْتَقَّهُ مِنْ وَسَمَ الكُوْفِيُُّّ
فَالمَذْهَبُ المُقَدَّمُ الجَلِيُّ * دَلِيْلُهُ الأسْمَاءُ وَالسُّمَيُّ
D. Pembagian Isim
Isim terbagi 3 :
# Isim Dzohir
Pengertiannya,
مَا دَلَّ عَلى مُسَمَّاهُ بلا قـَيْدِ تَكَلـُّمٍ أوْ غائِبٍ أوْ خِطابٍ
Artinya, Isim yang menumjukkan sesuatu yang dinamai tanpa menggunakan qoyyid mutakallim, ghoib, dan mukhottob (tanpa kata ganti, langsung kalimat aslinya).
Isim Dzohir terbagi 2
- Isim Shorih, مَا لاَ يَحْتَاجُ إلَى تَأْوِيْلٍ فِى كَوْنِهِ اسْمًاً , Isim yang tidak membutuhkan penta’wilan (penjelasan) dalam menunjukkan status keisimannya. Contoh : زيدٌ
- Isim Muawwal Bissorih, مَا يَحْتَاجُ اِلَى تَأْوِيْلٍ فِى كَوْنِهِ اسْماً , Isim yang membutuhkan penta’wilan (penjelasan) dalam menunjukkan status keisimannya. Contoh : أعجب أن يشربَ زيدٍ العسلَ
أن يشربَ Merupakan isim yang harus dijelaskan keisimannya, karena secara lafadz adalah fiil mudhore. Namun ternyata secara ma’na, أن يشربَ adalah isim, yaitu شربَ (masdar). Yang menyebabkan fiil mudhore berubah menjadi isim muawwal bissorih adalah أن مصدريّة.
# Isim Dhomir
Pengertiannya,
مَا دَلَّ عَلى مُسَمَّاهُ بقـَيْدِ تَكَلـُّمٍ أوْ غائِبٍ أوْ خِطابٍ
Artinya, Isim yang menunjukkan sesuatu yang dinamai dengan menggunakan qoyyid Mutakallim, ghoib dan mukhottob (Menggunakan kata ganti).
كأنتَ وَهُوَ سَمِّ بالضَّمِيْرِ * فمَا لِذِيْ غَيْبَةٍ أوْ حُضُوْرِ
Isim dhomir terbagi 2 :
- Domir Muttasil
مَا لا يُبْتـَدَءُ بهِ وَلا يَقـَعُ بَعْدَ إلاَّ فِي الإخْتِيَارِ
Artinya, Isim dhomir yang tidak bisa menjadi awal kalam dan tidak pernah jatuh setelah lafadz الا , terkecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
Contohnya (dalam syair) :
وما نبالي إذا ما كنت جارتنا * الا يجاورنا إلّا ك دايار
Alfiyyah,
وَذو اتـِّصَالٍ مِنهُ مَا لا يُبْتدَا * وَلا يَلِيْ إلاّ اخْتِيَارًا أبَدَا
• Dhomir tidak bisa dijadikan awal kalam لأنَّ المُتَّصِلَ لاَ يَكُوْنُ اِلاَّ بَعْدَ المُتَّصَلِ بِهِ, karena yang menempel itu pasti terdapat setelah sesuatu yang ditempeli.
• Dhomir tidak bisa jatuh setelah lafadz الا yaitu, , لان ما بعد الا لايكون الامستثنى، والمستثنى هو مفعول دون، والاصل فى المفعول ان ينفصل , karena kalimat yang jatuh setelah lafadz الا harus berupa mustasna, sedangkan mustasna disebut juga maf’ul duuna, yang mana seluruh maf’ul itu asalnya adalah infishol/terpisah.
Alfiyyah,
وَالأصْلُ فِىْ الفَاعِلِ أنْ يَتَصِّلَ * وَالأصْلُ فِىْ المَفْعُوْلِ اَنْ يَنْفَصِلَ
Dhomir muttashil terbagi 2 :
• Baariz : مَا لهُ صُوْرَة ٌ فِي اللَّفظِ , artinya, dhomir yang lafadznya tergambar ( terlihat/konkrit).
Contoh : نصَرْتَ
• Mustatir: -, artinya, dhomir yang lafadznya tidak tergambar (tidak terlihat/abstrak).
Mustatir terbagi 2 :
- Jawaaz : مَا يَحِلُّ مَحَلـَّهُ الظـَّاهِرُ , artinya dhomir yang bisa diganti kedudukannya dengan isim dzohir. Ada 4 tempat :
فعل ماضى وقوع مُفرَدْ مُذكَّرْ غائِبْ. Contoh : نصَرَ
فعل ماضى وقوع مُفرَدَة ْ مُؤنـَّثة ْغائِبَة. Contoh : نصَرَتْ
فعل مضارع وقوع مُفرَدْ مُذكَّرْ غائِبْ. Contoh : يَنصُرُ
فعل مضارع وقوع مُفرَدَة ْ مُؤنـَّثة ْغائِبَة. Contoh : تـَنصُرُ
- Wujuub : مَا لا يَحِلُّ مَحَلـَّهُ الظـَّاهِر , artinya dhomir yang tidak bisa diganti kedudukannya dengan isim dzohir. Ada 4 tempat
فعل مضارع وقوع مُفرَدْ مُذكَّرْ مُخَاطبْ, contoh : تـَنصُرُ
فعل مضارع وقوع مُتكَلـِّمْ وَحْدَهْ, contoh : أنصُرُ
فعل مضارع وقوع مُتكَلـِّمْ مَعَ الغيْر, contoh : نـَنصُرُ
فعل أمر وقوع مُفرَدْ مُذكَّرْ مُخَاطبْ, contoh : أنصُرْ
Selain itu ada 5 tempat lagi, yaitu :
إسم فعل أمر, contoh : صه
إسم فعل مضارع, contoh : أوه
فعل إستثناء, contoh : خلا، عدا، حاش
أفعل تفضيل, contoh : أفعل
فعل تعجب, contoh : ما أجمل زيدا
Alfiyyah,
وَمِنْ ضَمِيْرِ الرَّفعِ مَا يَسْتـَتِرُ * كافعَلْ أوَافِقْ نَغْتـَبـِط ْإذ ْتـَشْكـُرُ
وَسَتْرُ مَرْفُوْعٍ بِأَمْرٍ خُتِمَا * وَدُوْنَ يَا مُضَارِعٍ وَاسْمَيْهِمَا
وَفِعْلُ الإِسْتِثْنَاءِ وَالتَعَجُبِ * وَأَفعَالُ التَفْضِيْلِ فاَحْفَظْ تُوْجِبِ
Dhomir muttasil mempunyai 3 mahaal (tempat i’rob) :
o Mahal Rofa : Jadi Fail/Naibul Fail. Contoh : نَصَرَ / نُصرَ
o Mahal Nashob : Jadi Maf’ul bih/ isim إنّ. Contoh : ضربه / إنّه
o Mahal Jer : Jadi Mudof Ileh/ Jer Majrur. Contoh : غلامه / بِهِ
Alfiyyah,
لِلرَّفعِ وَالنـَّصْبِ وَجَرِّ نا صَلحْ * كاعْرِفْ بنا فإنـَّنا نِلنا المِنـَحْ
- Dhomir Munfashil
مَا يُبْتـَدَءُ بهِ وَيَقـَعُ بَعْدَ إلاَّ
Artinya, Dhomir yang bisa terletak diawal kalam dan bisa jatuh setelah lafadz الا. Contoh : هُوَ
Dhomir munfashil mempunyai 2 mahal i’rob :
o Mahaal Rofa’. Contoh :
هُوَ، هُمَا، هُمْ، هِيَ، هُمَا، هُنَّ، أنتَ، أنتُمَا، أنتـُمْ، أنتِ، أنتـُمَا، أنتـُنَّ، أنا، نـَحْنُ
Alfiyyah,
وَذو ارْتِفاعٍ وَانفِصَالٍ أنا هُوْ * وَأنتَ وَالفـُرُوْعُ لاتـَشْتبـِهُ
o Mahal Nashob. Contoh :
إيَّاهُ، إيَّاهُمَا، إيَّاهُمْ، إيَّاهَا، إيَّاهُمَا، إيَّاهُنَّ، إيَّاكَ، إيَّاكُمَا، إيَّاكُمْ، إيَّاكِ، إيَّاكُمَا، إيَّاكُنَّ، إيَّايَ، إيَّانا
Alfiyyah,
وَذو انـْتِصَابٍ فِي انفِصَالٍ جُعِلا * إيَّايَ وَالتـَّفرِيْعُ ليْسَ مُشْكِلا
# Isim Mubham
مَا ليْسَ بظاهِرٍ وَلا مُضْمَرٍ.
Artinya, Isim selain isim dzohir dan dhomir
Isim Mubham ada 2 :
- Isim Isyaroh :
مَا دَلَّ عَلى مُعَيَّنٍ بإشارة حسّيّة .
Isim yang menunjuk terhadap sesuatu yang ditentukan dengan menngunakan isyarat panca indera.
Contoh :
ذا، ذان، أولاء، تا، تان، أولاء
- Isim Maushul :
مَا دَلَّ عَلى مُعَيَّنٍ بوَاسِطةِ جُمْلـَةٍ أوْ شِبْهِهَا تـُذكَرُ بَعْدَهُ تـُسَمَّى صِلـَة
Isim yang menunjukkan terhadap sesuatu yang ditentukan dengan perantara jumlah/syibeh (yang menyerupai jumlah) yang akan jatuh disebut setelah maushul yang disebut sebagai shilah.
Contoh :
الـَّذِيْ، الـَّذان، الـَّذِيْنَ، الـَّتِيْ، الـَّتان، اللاَّءِ، اللاَّتِ،......إلخ
Identitas isim ada 4, yaitu :
1. Wadho’nya (penulisannya) : Penulisan isim tidak kurang tersusun dari 3 huruf. Apabila mujarrod maksimal hingga 5 huruf, apabila maziid hingga 7 huruf.
Bentuk wazan isim terbagi 3 :
- Isim tsulatsi, ada 12 wazan, yaitu :
فـَعْلٌ فـَعَلْ فـَعُلْ فـَعِلْ فِعْلٌ فِعِلْ * فِعُلْ فِعَلْ فـُعْلٌ فـُعُلْ فـُعَلْ فـُعِلْ
فَلْسٌ فَرَسْ عَدُدْ كَبِضْ عِلْمٌ اِبِلْ * حِبُكْ عِنَبْ كُفْلٌ عُنُقْ صُرَدْ دُئِلْ
Alfiyyah,
وَمُنْتَهَى اسْمٍ خَمْسٌ إنْ تَجَرَّدَا * وَإنْ يُزَدْ فِيْهِ فَمَا سَبْعًا عَدَا
وَغَيْرَ آخِرِ الثُلاَثِى افتَحْ وَضُمْ * وَاكْسِرْ، وَزِدْ تَسْكِيْنَ ثاَنِيْهِ تَعُمْ
- Isim Ruba’i, ada 6 wazan, yaitu :
• فَعْلَلٌ
• فِعْلِلٌ
• فِعْلَلٌ
• فُعْلُلٌ
• فِعَلٌّ
• فُعْلَلٌ
- Isim Khumasi, ada 4 wazan, yaitu :
• فـَعَلـَّلٌ
• فـَعْلـَلِلٌ
• فـُعَلـِّلٌ
• فِعْلـَلٌّ
Alfiyyah,
لاِسْمٍ مُجَرَّدٍ رُبَاعٍ فَعْلَلُ * وَفِعْلِلٌ وَفِعْلَلٌ وَفُعْلُلُ
فَمَعْ فَعَلَّلٍ حَوَىْ فَعْلَلِل * وَمَعْ فِعَلٍّ فُعْلَلٍ، وَإنْ عَلاَ
كَذاَ فُعَلِّلٌ وَفِعْلَلٌ، وَمَا * غَايَرَ لِلزَّيْدِ أَوِ النَقْصِ انْتَمَىْ
2. Hukumnya : Mu’rob
3. Ma’nanya : غنيّ. Artinya, Kaya Ma’na
4. Tabiatnya (wataknya) : تأثر بالعامل . Artinya, Menerima masuknya amil.
___________________
Demikian pembahasan Bab Kalam Bagian 1, Tunggu Pembahasan Bab Kalam Bagian 2 di artikel selanjutnya.
Kamis, 02 Juli 2015
12 Bidang (Fan) Ilmu Alat
Pada Muqoddimah pembahasan Basmallah pernah disinggung tentang Fan Ilmu yang 12. Kali ini saya akan mencoba menguraikan tentang apa saja komponen dari 12 fan ilmu tersebut beserta penjelasannya.
Semoga artikel ini setidaknya mampu memberi gambaran tentang 12 fan ilmu yang masyhur di dunia Pesantren Salaf (ga tau sih kalo pesantren lain, untuk pesantren saya sangat masyhur meski yang dipelajari hanya sebagian kecil dar i 12 fan ilmu yang ada).
12 fan ilmu dirangkum dalam sebuah nadzom (namun kurang tau referensinya, hehe... yg tau mohon bantu). Berikut adalah Nadzomnya :
صرف بيان معانى نحو قفية * شعر عروض إشتقاق خط إنشاء
مناظرة والثانى عشرها لغة * تلك العلوم لها أداب الأسماء
1. Shorof
Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah (kata) dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il (kata kerja) Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar (kata benda), Isim Fa’il (pelaku), Isim Maf’ul (kata benda objek), dan lainnya. Kitab Kuning yang biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu ini adalah Al Amtsilatut tashrifiyyah, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, Zanjani, dan lain-lain.
2. Bayan
Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah (kata) tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya dalam penggunaan lafadh Ashobi’ahum dalam ayatYaj’aluun Ashobi’ahum fi adzaanihim dalam surat Al Baqoroh. Kata ashobi’ahum tersebut tidak dima’nai sebagai “jari-jari mereka”, tapi dima’nai sebagai “ujung jari-jari mereka”. Karena gak mungkin kan memasukkan jari ke telinga, yang mungkin memasukkan ujungnya saja. Dalam ayat tersebut, ilmu Bayan menamainya dengan nama Majas, sering disebut termasuk bab min ithlaaqil kul wairodatil juz , yang disebutkan adalah bentuk keseluruhan (jari-jari), tapi yang dimaksud adalah sebagian (ujung jari-jari).
3. Ma’ani
Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar. Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya pembuangan Mubtada dari struktur Mubatada Khobar dalam bahasa arab. Salah satu ma’na yang timbul adalah untuk Memuliakan objek yang ditunjuk oleh Mubtada tersebut.
4. Nahwu
Ilmu ini mungkin yang lebih sering terdengar berpasangan dengan ilmu Shorof. Biasanya orang bilang ilmu Nahwu Shorof. Memang fenomena itu sudah dari dulu diungkapkan oleh ulama dahulu. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa As Shorfu Ummul ‘Ulum wa Nahwu Abuha. Ilmu Shorof adalah ibunya segala ilmu dan Ilmu Nahwu adalah bapaknya. Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah (kata) dalam suatu kalam (kalimat). Apakah dia menjadi Fa’il (pelaku/subjek), Maf’ul (objek), Na’at (sifat), dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah (Allah). Kitab yang biasa digunakan untuk mengkaji ilmu Nahwu adalah Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah, Kifaayatul Ashab, dan lain-lain.
5. Qofiyah
Fan (ilmu) ini mengatur bagaiman ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm
Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo # Lil ‘ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo
Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda.
6. Syi’ir
Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab.
7. ‘Arudl
Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Salah satu kitab yang saya tahu adalah Mukhtashor Syafi.
8. Isytiqoq
Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain. Dalam pembahasan di bab-bab artikel saya kedepan nanti, ilmu ini juga akan di dapatkan dalam praktiknya.
9. Khot
Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi.
10. Insya’
Ilmu ini membahas bagaiman membuat suatu kalam (kalimat) yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang.
11. Munadzoroh
Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh (argumen) dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini.
12. Lughoh
Ilmu ini membahas tentang mufrodat (kosa kata) dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris.
Itulah sedikit penjelasan mengenai 12 fan ilmu yang saya tahu. Jika ada yang pernah mendengar versi yang lain, silakan ditulis di sini dengan memberi komentar.
Sejatinya, tidak hanya ilmu itu saja yang harus kita pelajari, masih banyak dan tidak akan bisa hitung jumlah ilmu yang harus kita pelajari, baik itu ilmu agama maupun sains. Semoga Allah meng-Istiqomah-kan kita agar tetap setia menjadi Thoolibul ‘Ilmi. Karena keutamaan yang Allah tawarkan sangatlah besar bagi orang pencari ilmu.
وكن مستفيدا كل يوم زيادة * من العلم واسبح في بحور الفوائد
ASAL MULA ILMU NAHWU
Asal mula Ilmu Nahwu dan Penamaannya
Setelah pada artikel sebelumnya (mabadi ilmu nahwu) dijelaskan bahwa Wadhi' dari ilmu nahwu adalah Abu Aswad Addauli dan ilmu tatabahasa arab ini bernama ilmu nahwu, tidak afdhol apabila kita tidak mengetahui latar belakang atau kisah awal mula adanya ilmu nahwu dan authornya tersebut. Agar pemahaman kita dalam mempelajari Stadium general dari ilmu nahwu lebih baik, kita harus mengetahui kisahnya terlebih dahulu. Berikut adalah kisahnya. Selamat membaca....
Pada jaman Jahiliyyah, kebiasaan orang-orang Arab ketika mereka berucap atau berkomunikasi dengan orang lain, mereka melakukannya dengan tabiat masing-masing, dan lafazh-lafazh yang muncul, terbentuk dengan peraturan yang telah ditetapkan mereka, di mana para junior belajar kepada senior, para anak belajar bahasa dari orang tuanya dan seterusnya. Namun ketika islam datang dan menyebar ke negeri Persia dan Romawi, terjadinya pernikahan orang Arab dengan orang non Arab, serta terjadi perdagangan dan pendidikan, menjadikan Bahasa Arab bercampur baur dengan bahasa non Arab. Orang yang fasih bahasanya menjadi jelek dan banyak terjadi salah ucap, sehingga keindahan Bahasa Arab menjadi hilang.
Dari kondisi inilah mendorong adanya pembuatan kaidah-kaidah yang disimpulkan dari ucapan orang Arab yang fasih yang bisa dijadikan rujukan dalam mengharakati bahasa Arab, sehingga muncullah ilmu pertama yang dibuat untuk menyelamatkan Bahasa Arab dari kerusakan, yang disebut dengan ilmu Nahwu. Selaras dengan apa yang disampaikan pada Mabadi Ilmu Nahwu, orang yang pertama kali menyusun kaidah Bahasa Arab adalah Abul Aswad Addauli dari Bani Kinaanah atas dasar perintah Khalifah Ali Bin Abi Thalib.
Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad Ad-Duali, bahwasanya ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anak perempuannya pada malam hari, sang anak mendongakkan wajahnya ke langit dan memikirkan tentang indahnya serta bagusnya bintang-bintang. Kemudian ia berkata,
مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ
“Apakah yang paling indah di langit?”
Dengan mengkasrah hamzah, yang menunjukkan kalimat tanya. Kemudian sang ayah mengatakan,
نُجُوْمُهَا يَا بُنَيَّةُ
“Wahai anakku, Bintang-bintangnya”
Namun sang anak menyanggah dengan mengatakan,
اِنَّمَا اَرَدْتُ التَّعَجُّبَ
“Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”
Maka sang ayah mengatakan, kalau begitu ucapkanlah,
مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ
“Betapa indahnya langit.”
Bukan,
مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِ
“Apakah yang paling indah di langit?”
Dengan memfathahkan hamzah…
****
Dikisahkan pula dari Abul Aswad Ad-Duali, ketika ia melewati seseorang yang sedang membaca al-Qur’an, ia mendengar sang qari membaca surat At-Taubah ayat 3 dengan ucapan,
أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ
Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya di dhommah. Menjadikan artinya “…Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya..” hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak dan menyesatkan.
Seharusnya kalimat tersebut adalah,
أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
Karena mendengar perkataan ini, Abul Aswad Ad-Duali menjadi ketakutan, ia takut keindahan Bahasa Arab menjadi rusak dan gagahnya Bahasa Arab ini menjadi hilang, padahal hal tersebut terjadi di awal mula daulah islam. Kemudian hal ini disadari oleh khalifah Ali Bin Abi Thalib, sehingga ia memperbaiki keadaan ini dengan membuat pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah (penyandaran), kalimat ta’ajjub (kekaguman), kata tanya dan selainnya, kemudian Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad Adduali,
اُنْحُ هَذَا النَّحْوَ
“Ikutilah jalan ini”
Dari kalimat inilah, ilmu kaidah Bahasa Arab disebut dengan ilmu nahwu.
Kemudian Abul Aswad Ad-Duali melaksanakan tugasnya dan menambahi kaidah tersebut dengan bab-bab lainnya sampai terkumpul bab-bab yang mencukupi.
Kemudian, dari Abul Aswad Ad-Duali inilah muncul ulama-ulama Bahasa Arab lainnya, seperti Abu Amru bin ‘alaai, kemudian al Kholil al Farahidi al Bashri ( peletak ilmu arudh dan penulis mu’jam pertama) , sampai ke Imam Syibawaih dan Imam Kisa'i (pakar ilmu nahwu, dan banyak menjadi rujukan dalam kaidah Bahasa Arab).
Seiring dengan berjalannya waktu, kaidah Bahasa Arab berpecah belah menjadi dua mazhab, yakni mazhab Basrah dan Kufah (padahal kedua-duanya bukan termasuk daerah Jazirah Arab). Kedua mazhab ini tidak henti-hentinya tersebar sampai akhirnya mereka membaguskan pembukuan ilmu nahwu sampai kepada kita sekarang.
Demikianlah sejarah awal terbentuknya ilmu nahwu, di mana kata nahwu ternyata berasal dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artikel selanjutnya insyaa Allah pembahasan basmalah dalam pandangan ilmu nahwu....
Mabadi Ilmu Nahwu
Pentingnya memahami Nahwu dan Sharaf
Mempelajari teks-teks yang berbahasa Arab melalui terjemahan memang menjadi tren disaat ini. Akan tetapi keberadaan kitab-kitab terjemahan belum banyak membantu secara signifikan, karena kitab-kitab terjemahan tidak mungkin selamat dari subjektifitas dan intervensi penerjemah.
Terjemahan pada umumnya memakai metode terjemah Tafsiriyah, sehingga selalu terdapat intevensi dan interpretasi penerjemah yang dibatasi oleh Fusion Horizon-nya, belum lagi masalah keterbatasan kosakata dari bahasa kedua (bahasa tujuan dari bahasa arab)
Selain itu, kitab-kitab terjemahan juga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan karya-karya Ulama yang belum diterjemahkan. Sehingga tetap diperlukan penguasaan ilmu Nahwu-sharaf bagi yang ingin meneliti bahasa agama lebih dalam.
Perlu diragukan seorang yang mengaku ilmuwan dalam bidang agama namun nihil dari penguasaan Nahwu-sharaf, mengingat banyak referensi agama yang masih berbahasa Arab.
Untuk memahami Gramatika Bahasa Arab, setidaknya seseorang memahami dua bidang ilmu, yakni Ilmu Nahwu dan Saraf. karena selanjutnya nahwu-sharaf akan menjadikan modal baginya untuk memahami ilmu gramatika bahasa Arab yang lainnya seperti ilmu Badi, Ma’âni dan bayân, atau yang lebih dikenal dengan ilmu Bilâgah.
Minimnya penguasaan Nahwu membuat seseorang kesulitan memahami status sebuah kalimat, dan relasinya dengan kalimat lainnya. Ketidakpahaman ilmu Sharaf mengakibatkan seseorang tidak akan mampu memahami struktur kalimat, sudah barang tentu akan menghambat untuk memahami sebuah teks-teks yang berbahasa Arab.
Oleh karena itu, minat akan mempelajari Nahwu Saraf khususnya di lingkungan akademisi tidak akan ada habisnya. Meskipun tidak jarang dari mereka yang mengeluh dan bersusah payah mendalaminya.
Di Pesantren-pesantren Tradisional, pengajaran kitab-kitab dengan muatan nahwu sharaf marak dilakukan, seperti pengajaran kitab matn Jurûmiyyah, ‘Imriti, Sharaf Kailânî dan Alfiyyah Ibn Malik.
Namun kesuksesan pesantren mentransfer ilmu nahwu-saraf kepada para santrinya tidak sama, karena hal tersebut menuntut kreatifitas, kapasitas dan kapabilitas pengajar yang mumpuni. Masing-masing pesantren mempunyai tradisi dan trik yang berbeda dalam mengajarkan ilmu nahwu saraf kepada para santrinya.
مبادي علم النحو
Muqoddimah : Mabadi Ilmu Nahwu
بسم الله الرمن الرحيم
يَنْبَغِى لِكُلِّ شَارِعٍ فِى فنٍّ مِنْ فُنُوْنِ اثنَىْ عَشَرَ فنًّا أنْ يَعْرِفَ حَدّهُ وَمَوْضوْعَهُ وَثَمْرَتهُ إلَـى آَخِرِ المَبَادِى العَشَرَةِ الـمَشْهُوْرَةِ .
Sebelum kita mempelajari ilmu nahwu, kita disarankan untuk mengetahui terlebih dahulu Stadium General tentang ilmu nahwu tersebut. Dengan mengetahui Stadium general dari ilmu nahwu, baru kita akan mudah mempelajari ilmu nahwu. Tak kenal maka tak sayang, kenalan dulu, baru mendalami, begitu kata pepatah. Is it right? Right wes,,,,
Stadium general nahwu atau dikenal dengan Mabadi Ilmu Nahwu terklarifikasi menjadi 10 bagian, yaitu :
1. Al-Hadd (Definisi) :
Secara Etimologi ;
المثل والجهة والمقدار والقسم والبعض والقصد
artinya contoh, jalan, ukuran, bagian, dan tujuan
Secara Terminologi ;
علمٌ بأصولٍ يعرفُ بها احوالُ اواخرِ الكلم اعرابًا وبنًاء,
artinya, ilmu yang fokus tujuannya adalah mempelajari keadaan/kondisi akhir kalimat bahasa arab baik berupa mu’rob, maupun mabni.
2. Maudhu (Sasaran, Fokus):
موضوعه : الْكَلِمَةُ الْعَرَبِيَّةُ مِنْ حَيْثُ الْبَحْثِ عَنْ أَحْوَالِهَا
Fokus utama ilmu nahwu adalah kalimat arabiyyah dengan batasan berupa mempelajari keadaan-keadaannya (ahwalnya).
3. Tsamroh (Hasil, Manfaat) :
٣. ثمرته : اَلتَّحَرُّزُ عَنِ الْخَطَاءِ في اللسان وَاْلاِسْتِعَانَةُ عَلَى فَهْمِ كَلاَمِ اللهِ وَكَلاَمِ رَسُوْلِ اللهِ
Hasil yang akan diperoleh ketika kita berhasil menguasai ilmu nahwu yaitu, kita akan terbebas dari kesalahan dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits (lebih tepatnya meminimalisir kesalahan, karena hakikat dari manusia itu sendiri).
4. Fadhol (Keutamaan) :
٤. فضله : فوقَنُهُ على سائر العلوم
Keutamaan dari ilmu nahwu sendiri adalah Lebih unggul dari berbagai Ilmu, karena tanpa ilmu nahwu, kita tidak dapat mempelajari ilmu lainnya (dalam hal ini yang berkaitan dengan ilmu-ilmu berbahasa arab).
Syekh Imrithi dalam kitabnya bernadzom:
والنَّحْوُ اَوْلَى أوَّلاً اَنْ يُعْلمَا * اِذِ الكلامُ دُوْنَهُ لنْ يفهما
Ilmu Nahwu adalah ilmu yang harus pertama kali dipelajari, karena tanpa nahwu, kita tidak akan bisa memahami kalam araby
5. Nisbat (Hubungan) :
٥. نسبته : التباين
Hubungan Nahwu dengan Ilmu lain adalah Tabayyun, yaitu Berbeda satu sama lain, dalam artian Ilmu nahwu dan ilmu lain (contohnya Shorof) mempunyai perbedaan yang mutlak (Tabayyun Umum Khusus min Ithlaq), karena mempunyai batasan-batasan tersendiri dalam pembahasannya.
6. Wadhi’ (Author, Pencetus) :
٦. واضعه : أبو الأسود الدؤلى
Pencetus Ilmu Nahmu sendiri adalah “Abu Aswad Addauli”, pada masa Sayyidina Ali (Kisahnya nanti di artikel selanjutnya ya...) .
7. Istimdad (Sumber) :
إستمداده : من القرآن والحديث
Sumber lahirnya ilmu nahwu ini berasal dari Al-Qur’an dan Hadits. (Hakikatnya, semua ilmu yang ada di dunia ini berasal dari Al-Qur’an dan Hadits)
8. Ism (Nama) :
إسمه : علم النـّحو، علم العربيّة، علم قواعد الإعراب
Nama ilmu ini adalah Ilmu Nahwu, ilmu bahasa arab, ilmu qowaidul irob (Kisahnya ntar diartikel selanjutnya ya...)
9. Hukum (Justifikasi) :
٩. حكمه : فرْضُ الكِفَايَةِ عَلَى كُلِّ نَاهِيَةٍ، وَفَرْضُ العَيْنِ عَلَىَ قَارِئِ التـّفْسِيْرِ وَالحَدِيْث
Hukum mempelajari ilmu Nahwu adalah Fardhu Kifayah atas setiap kampung dan fardhu atas orang yang membaca atau mempelajari tafsir/quran dan hadits (Ketika sudah ada yang menguasai ilmu nahwu dalam suatu daerah secara matang, maka gugur ke fardhuan orang lain untuk mempelajari ilmu nahwu. Hukumnya menjadi sunnah).
10. Masa’il (Mas’alah) :
١٠. مسائله : قَضَايَاهُ البَاحِثَةُ عَنْ قَوَاعِدِهِ
Masail ilmu nahwu sendiri adalah Qowaid-qowaid ilmu nahwu itu sendiri.
Nadzom Masyhur mengenai Mabadi
إنّ مَبَادِيَ كُلّ فَنٍّ عَشَرَة * الحَدُّ وَالمَوْضُوْعُ ثمّ الثـّمْرَة
وَالإسْمُ الإسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشّاَرِعُ * وَفَضْلُهُ والنِّسْبَةُ وَالوَاضِعُ
مَسائِلٌ والبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَ * وَمَنْ دَرَى الجَمِيْعَ حَازَ الشّرَفَا
Mabadi dari setiap cabang ilmu (fan) ada 10, yaitu Had, Maudhu, Tsamroh, Fadhol, Nisbat, Wadhi’, Ism, Istimdad, Hukum, dan Masa’il. Masa’ilnya cukup dikuasai sebagian saja, namun orang yang menguasai semuanya, maka ia mendapat kemuliaan (lebih baik).
Setelah kita mengetahui mabadi dari ilmu nahwu tersebut, kita bisa memposisikan diri dalam memandang dan mempelajari Ilmu tersebut.
Selamat Belajar....!!!
Nantikan Artikel Selajutnya
Referensi:
شرح العمريطى
شرح حاشية العلامة ابن حمدون
Pembahasan Basmalah
مباحث البسملة عند النحويين
Mabahits Basmalah perspektif Ahli Nahwu.
Mengapa kalam basmalah perlu dibahas?
يَنبَغِيْ لِكُلِّ شَارِعٍ فِيْ فنٍّ من فنون اثنَيْ عَشَرَ فَنًّا أنْ يَّبْحَثَ البَسْمَلة َ بمَا يُناسِبُ ذلك الفنَّ المَشْرُوْعَ وِفاءً لِحَقـَّيْنِ حَقِّ البَسْمَلةِ وَحَقِّ ذلك الفنِّ المَشْرُوْعِ
Penting bagi orang-orang yang bermaksud untuk mempelajari salahsatu fan ilmu dari 12 fan ilmu yang ada untuk membahas lafadz 'Basmalah' dengan pembahasan yang menurut pespektif fan ilmu tersebut, guna memenuhi hak basmalah dan hak dari fan ilmu yang dipelajari.
بسم الله الرحمن الرحيم
مباحث البسملة عند النحويين
بسم الله: أي أبْتـَدِءُ تـَعَلـُّمَ هَذا الكِتـَابِ المُسَمَّى بالجُرُوْمِيَّةِ حَالَ كَوْنِيْ مُسْتَعِيْنا وَمُتَبَارِكا ببسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Saya memulai untuk mempelajari kitab ini yang dinamakan 'JURUMIAH' (contoh) dengan mengharap diberi kesanggupan dan diberi keberkahan dengan menyebut nama Allah.
إستعانة : مشاركة في الفَعْل لأجل حصوله
Bersama-sama dalam suatu pekerjaan untuk mendapatkan hasil dari pekerjaan tersebut
Kata إستعانة disini adalah استعانه مجازى , dengan ma'na استقدر yang artinya Saya memohon kesanggupan. karena menganggap atau mengartikan إستعانة dengan arti bersama dengan Allah dalam suatu pekerjaan adalah hal yang tabu dan tidak pantas untuk kita.
براكه : ” الزّيادة والنـّمأ في الخير
Bertambah dan meningkat dalam melakukan kebaikan
الرّحمن : ” أي المنعم بجلائل النـّعم أي أصولها في الدّنيا على جميع المخلوقات
Dzat yang memberi ni'mat berupa ni'mat yang besar di dunia kepada seluruh makhluk
Disebut ni'mat yang besar karena cakupannya yang besar, meliputi seluruh makhluk yang ada di dunia. Ni'mat ini terbagi kepada 3 bagian :
1. Ni'mat dijadikan manusia
2. Ni'mat dipanjangkan umur
3. Ni'mat iman dan islam
الرّحيم : أي المنعم بدقائق النـّعم أي فروعها فى الآخرة على المؤمنين فقط
Dzat yang memberi ni'mat berupa ni'mat yang kecil di akhirat kepada orang mu'min saja
Disebut ni'mat kecil, karena cakupannya yang hanya untuk orang mu'min saja. Ni'mat ini berupa :
1. Ni'mat masuk surga
2. Ni'mat melihat Allah
Mengapa kitab-kitab para ulama yang kita temui selalu diawali dengan tulisan basmalah? hal ini didasarkan pada 2 dalil, yaitu :
1. Dalil Aqli : Meneladani Al-Qur'an, karena rujukan utama kita dalam segala hal adalah Al-Qur'an.
2. Dalil Naqli : Al-Qur'an : (An-Naml : 30)
إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم
Hadits :
كُلُّ أمْرٍ ذِيْ بَالٍ لايُبْتَدَءُ فِيْهِ ببسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فهُوَ أقطعُ أوْ أبْتَرُ أوْ أجْدَمُ
"Segala sesuatu yang baik namun tidak diawali dengan "Bismillahirahmanirrahim' maka hal itu tidak berfaidah sama sekali"
مَنْ أرَادَ أنْ يَّحْيَى سَعِيْدًا أوْ يَمُوْتَ شَهيْدًا فليَقـُلْ عِندَ ابْتِدَاءِ كُلِّ شَيْئٍ ببسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
"Barangsiapa yang yang ingin hidup dalam kebahagiaan atau mati dalam keadaan syahid, maka ucapkanlah disetiap memulai sesuatu 'Bismillahirrahmanirrahim"
Yang akan dibahas dari lafadz بسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ada 4 pembahasan :
1. Huruf ب dari lafadz بسْمِ
2. Idofatnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz اللهِ
3. Tarkibnya lafadz الرَّحْمَنِ
4. Tarkibnya lafadz الرَّحِيْمِ
=================
Mabahits Basmalah ( ب dari lafadz بسْمِ. )
Hal yang pertama dibahas adalah mengenai huruf ب dari lafadz بسْمِ.
Pembahasan yang pertama ini terbagi menjadi 3 bahasan, yaitu :
1. Harakatnya ب
2. Ma'nanya ب
3. Muta'allaqnya (ketergantungannya) ب
1. Harakat ب
ب merupakan bagian dari harf, ب diharakati karena ب sendiri terdapat diawal kalam لانـَّهُ وَقَعَ فِى ابْتِدَاءِ الكَلاَمِ . Asal dari ب sendiri adalah berupa huruf, asal hukum dari huruf adalah mabni, sedangkan asal dari mabni adalah sukun. Hal ini selaras dengan opini Syekh Ibnu Malik dalam Kitab Alfiyyahnya :
وَكُلُّ حَرْفٍ مُسْتَحِقٌّ لِلْبِنَاء * وَالأصْلُ فِى المَبْنِيِّ انْ يُسَكَّنَ
Setiap huruf adalah mabni, sedangkan asal dari mabni adalah sukun
Namun ب disni diharakati, dan harakatnya berupa kasroh. Mengapa hal tersebut terjadi? sesuai alasan diatas bahwa ب ini terdapat di awal kalam. Apabila kita tidak memberinya harakat, maka bagaimana kita membacanya?
Kemudian mengapa diharakati kasroh? Karena mencocokkan dengan amalnya, مُنَاسَبَة لِعَمَلِهِ. Seperti kita ketahui bahwa ب ini merupakan huruf jer yang berguna untuk menjerkan isim yang menjadi majrur-nya. Maka agar sesuai dengan amalnya, digunakanlah harakat kasroh untuk mengharakati huruf ب
Selain opini diatas, qowaid lain mengatakan bahwa ketika ada huruf sukun, apabila huruf tersebut hendak diharakati, maka harus diharakati dengan harakat kasroh, لأنَّ حَرْفَ السَّاكِنِ إذا تُحُرِّكَ حُرِّكَ بالكَسْرِ
Namun, qowaid-qowaid diatas yang berkaitan dengan harakat kasroh tidak selalu muttorid (sesuai) dengan fakta yang ada. Tapi ini adalah termasuk qowaid ghoer muttorid (tidak sesuai) dengan fakta yang ada, dalam artian terkadang berlaku terkadang tidak berlaku.
2. Ma'na ب
Dalam kitab Alfiyyah ibnu Malik, Ma'na - ada 10, yaitu :
a). Ma'na Badaliyyah (Pengganti). Contoh : مَا يَسُرُّنِيْ بهَا حُمْرُ النـَّعَم. Taqdirnya : بَدَلهَا
Artinya : Hewan ternak yang merah (baik kondisinya)pun tidak akan membahagiakan kami sebagai pengganti kebahagiaan akhirat.
Syekh Ibnu Malik dalam Kitabnya :
لِلإنتِهَا حَتـَى وَلامٌ وَإلى * وَمِنْ وَبَاءٌ يُفهِمَانِ بَدَلا
Intiha (mengakhiri) adalah ma'na untuk hattaa, lam, dan ilaa, dan dapat difahami bahwa huruf min dan ba mempunyai ma'na Badaliyah (Pengganti).
b). Ma'na Sababiyyah (Sebab). Contoh :
-- فبظـُلمٍ مِنَ الـَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنا عَليْهِمْ طيِّبَاتٍ. --النساء : 160 Taqdirnya, فبـِسَبَبِ ظـُلمٍ.
Artinya : Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik
c). Ma'na Dzorfiyyah (Wadah). Contoh :
--- وَإنـَّكُمْ لتـَمُرُّوْنَ عَليْهِمْ مُصْبـِحِيْنَ وَباللـَّيْلِ. --- الصفاتٍ : 137-138 . Taqdirnya, فِي اللـَّيْلِ
Artinya : . dan Sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam
Syekh Ibnu Malik bernadzom :
وَزِيْدَ وَالظـَّرْفِيَّة َاسْتبـِنْ ببَا * وَفِيْ وَقـَدْ يُبَيِّنانِ السَّبَبَا
Zaidah dan Dzorfiyah termasuk dari ma'na بَ , dan terkadang بَ menjelaskan ma'na sababiyyah.
d). Mana Isti'anah (Meminta tolong). Ciri-ciri ma'na istianah adalah بَ yang selalu masuk pada alat dari sebuah pekejaan. Contoh : كَتبْتُ بالقـَلمِ . Artinya : Saya menulis dengan menggunakan Pulpen
e). Ma'na Ta'diyyah (Menghadirkan Objek). Cirinya adalah بَ selalu masuk pada fiil lazim ( fiil yang tidak membutuhkan maf'ul bih/objek). Contoh :
--- ذهَبَ اللهُ بنـُوْرِهِمْ --- البفرة : 17 . Artinya : Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka.
f). Ma'na Ta'wid (Menggantikan). Contoh : إشْتـَرَيْتُ الفرَسَ بألفِ دِرْهَمٍ . Artinya : Saya membeli kuda (digantikan) dengan 1000 dirham.
g). Ma'na Ilsoq (Menempel). Ilsoq terbagi menjadi 2 :
- Ilsoq Haqiqi : إلصَاقُ مَا قبْلَ البَاءِ بمَا بَعْدَهَا . Artinya, menempelkannya sesuatu sebelum بَ kepada setelahnya. Contoh : قطـَعْتُ بالسِّكِيْنِ . Artinya, Saya memotong dengan Pisau
- Ilsoq Majazi : إلصَاقُ مَا قبْلَ البَاءِ بمُجَاوِرِ مَا بَعْدَهَا . Artinya, menempelkannya sesuatu sebelum بَ dengan melewati sesuatu yang ada setelahnya. Contoh : مَرَرْتُ بزَيْدٍ. Artinya, Saya melewati Zaid.
h). Ma'na مَعَ. Contoh : بعْتـُكَ الثـَّوْبَ بطِرَازِهِ. Taqdirnya, مَعَ طِرَازِهِ
Artinya, Saya menjual kepada anda baju beserta kancingnya
i). Ma'na مِنْ. Contoh : Dalam Syiiran,
شَرِبْنَ بمَاءِ البَحْرِ ثـُمَّ ترَفـَّعَتْ * مَتـَى لـُجَجٍ خُضْرٍ لهُنَّ نئِيْجُ
Taqdirnya, مِنْ مَّاءِ البَحْرِ.
j). Ma'na عَنْ. Contoh : ( سَأَلَ سَائِلٌ بعَذابٍ. (المعارج : 1. Taqdirnya, عَنْ عَذابٍ.
Artinya, Seseorang telah meminta jauh dari azab yang tejadi
بالبَا اسْتـَعِنْ وَعَدِّ عَوِّضْ ألصِقِ * وَمِثلَ مَعْ وَمِنْ وَعَنْ بهَا انطِقِ
Berilah ma'na Isti'anah, ta'diyyah, ta'wid, dan ilsoq terhadap بَ . Dan artikanlah sperti arti dari مَعَ, مِنْ, عَنْ terhadap بَ .
2. Muta'allaq ب
Huruf بَ merupakan salahsatu huruf jer. Dalam Qowaid ilmu nahwu dijelaskan bahwa huruf jer dan dhorof harus mempunyai muta'allaq (ketergantungan), artinya huruf jer dan dhorof dalam sebuah kalam tidak akan pernah bisa berdiri sendiri, melaikan harus bergantung pada yang fiil dan isim atau jumlah yang bisa beramal seperti halnya fiil.
Imam Ibnu Malik dalam Kitabnya :
وعلق الظرف وما ضهاه * بفعل أو ما يحتوي معناه
Dhorof dan Huruf jer harus bermutaallaq terhadap fiil atau sesuatu yang dapat beramal seperti fill
Dalam pembahasan ini, بَ dapat dimutaallaq-kan terhadap 7 bentuk kalimat/jumlah :
1. Terhadap Fiil, taqdirnya
أبتدء بسم الله الرحمن الرحيم
Fiil sah dijadikan mutaallaq ب karena ada suatu qowaid yang menyatakan, ألاصْلُ فى العمَل اَنْ يَكُوْنَ فِعْلاً , artinya, Asal dari amal merupakan fiil
2. Terhadap Masdar, taqdirnya
إبتدائي حاصل بسم الله الرحمن الرحيم
Masdar sah dijadikan mutaallaqnya ب disebabkan 2 faktor :
- Sebuah qowaid menyatakan, الأصْل فِى الكلامِ انْ يَكُونَ اِسْمًا artinya asal dari kalam merupakan isim
- Masdar sendiri dapat beramal seperti halnya fiil. Contoh : عجبت شربا زيد العسل. artinya : saya kagum zaid meminum madu
lafadz زيد العسل merupakan ma'mul (fail dan maf'ul bih) dar lafadz شربا, bukan عجبت, karena ma'mul dari عجبت adalah dhomir mutakallim dan lafadz شربا.
Syekh Ibnu Malik berkata :
بِفِعْلِهِ المَصْدَرَ ألْحِقْ فِىْ العَمَلْ * مُضَافًا أوْ مُجَرَّدًا أوْ مَعَ اَلْ
Masdar dapat beramal seperti fiil, baik masdar itu diidofahkan, tidak diidhofahkan, maupun dimasuki alif lam
3. Terhadap Isim Fail, taqdirnya,
أنا مبتدء بسم الله الرحمن الرحيم
Isim Fail sah dijadikan mutallaqnya ب karena isim fail juga dapat beramal seperti halnya fiil.
Dalam Alfiyyah dijelaskan :
كَفِعْلِهِ اسْمُ فَاعِلٍ فِى العَمَلِ * اِنْ كَانَ عَنْ مُضِيِّهِ بِمَعْزِلِ
Isim fail dapat beramal seperti halnya fiil, -------------
4. Terhadap Jumlah ismiyyah, taqdirnya
أنا مبتدء بسم الله الرحمن الرحيم
Jumlah ismiyyah sah dijadikan mutaallaqnya بَ karena jumlah ismiyyah mempunyai kekuatan amal yang setara dengan mustaq (contoh : fiil madhi, isim fail, isim maf'ul, dll).
Dalam Nadzom Alfiyyah diterangkan :
وَكَوْنُهُ اسْمًا لِلثبُوْتِ وَالدَّوَامْ * وَقَيَّدُوْا كَالفِعْلِ رَعْيًا لِلتَّمَامْ
Jumlah ismiyyah menunjukkan ma'na tetap dan langgeng, namun dia dapat beramal sepeti fiil dan mustaq lainnya.
5. Terhadap Haal yang berasal dari failnya fiil, taqdirnya,
أبتدء مستعينا ومتباركا بسم الله الرحمن الرحيم
6. Terhadap Haal yang berasal dari failnya masdar, taqdirnya,
إبتدائي حاصل مستعينا ومتباركا بسم الله الرحمن الرحيم
7. Terhadap Haal yang berasal dari failnya Isim Fail, taqdirnya,
أنا مبتدء مستعينا ومتباركا بسم الله الرحمن الرحيم
Kemudian dalam pentaqdiran kalimatnya, terbagi kepada 2 kalimat :
1. خاص, yang digunakan untuk pengarang sebuah kitab, dengan mentaqdirkan kalimat أألف.
Contoh :
أألف بسم الله الرحمن الرحيم
2. عام, yang digunakan untuk para pelajar kitab, dengan mentaqdirkan kalimat أبتدء.
Contoh :
أبتدء بسم الله الرحمن الرحيم
Jika dipilih antara kedua kalimat tersebut, yang lebih diutamakan adalah خاص, karena sebuah illat رعَايَةً للمَقامِ, artinya menjaga maqom.
14 belas model yang ada (7 bentuk mutaallaq x 2 bentuk pentaqdiran) ini, dalam penempatan taqdir mutaallaqnya bisa 2 cara, yaitu :
1. مقدم (didahulukan). Contoh : أبتدء بسم الله الرحمن الرحيم
2. مؤخر (diakhirkan). Contoh : بسم الله الرحمن الرحيم أبتدء
Jadi semuanya ada 28. Apabila dipilih antara kedua cara penempatan taqdir muta'allaq tersebut, yang lebih diutamakan adalah مؤخر, karena sebuah qowaid menjelaskan
لان تقديم المعمول على العامل يفيد الحصر والاهتمام
Karena mendahulukan ma'mul dari amilnya menunjukkan kepada kesan singkat dan jelas.
(Disini, ba merupakan ma'mul, dan muta'allaq merupakan amilnya).
Demikian penjelasan mengenai ب dari lafadz بسْمِ, selanjutnya adalah penjelasan mengenai Idofatnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz الله.
===============
Mabahits Basmalah (Idofahnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz الله )
Sebelum kita membahas tentang Idofahnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz الله , terlebih dahulu kita harus mengerti seputar pengetahuan tentang idhofah, meliputi : Pengertian Idhofah, Tujuan Idhofah, Syarat-syarat komponen idhofah, dan Klasifikasi Idhofah.
1. Pengertian Idhofah
Idhofah yaitu,
نِسْبَةٌ تَقْيِيْدِيَّةٌ بَيْنَ الشـّيْئَيْنِ تُوْجِبُ لِثَانِيْهِمَا الْجَرَّ أَبَدًا
"Hubungan taqyidiyyah (bukan hukmiyyah) diantara dua isim yang mewajibkan terhadap ism yang kedua untuk jer selamanya"
Atau,
ضَمُّ اسْمٍ اِلَى اسْمٍ بِقَصْدِ تَخْصِيْصِهِ اَوْ تَعْرِيْفِهِ
"Mengumpulkan isim terhadap isim yang lainnya dengan maksud untuk takhsis atau ta'rif"
Contoh : غلام زيدٍ . lafadz غلام merupakan isim yang pertama, dan زيدٍ merupakan isim yang kedua.
Isim yang pertama disebut Mudhof, dan Isim yang kedua disebut Mudhof Ileh.
2. Tujuan Idhofah
a). Takhsis : إذَا كَانَ المُضَافُ إِلَيْهِ مُنَكرًا , yaitu ketika mudhof ilehnya berupa isim nakiroh.
contoh : غلام رجلٍ
b). Ta'rif : إذَا كَانَ الْمُضَافُ إِلَيْهِ مُعَرَّفاً , yaitu ketika mudhof ilehnya berupa isim ma'rifat
contoh : غلام زيدٍ
3. Syarat-syarat komponen Idhofah (Mudhof dan Mudhof Ileh)
a). Syarat Mudhof : شَرْطُ المُضَافِ أنْ يَكُوْنَ خَالِيًا مِنَ التَّعْرِيْفِ وَالتَنْوِيْنِ
"Syarat Mudhof yaitu tidak boleh dimasuki Alif lam maupun Tanwin (berikut nun talil i'rob)"
Mudhof harus kosong dari tanwin karena,
لأِنَّ الإضَافة تُفِيْدُ التَّعْرِيْفَ أوِ التَّخْصِيْصَ، وَالتَّنْوِيْنُ يُفِيْدُ التَّنْكِيْرَ. التَّعْرِيْفُ وَالتَّنْكِيْرُ ضِدَّانِ، وَالضِّدَّانِ لايَجْتَمِعَانِ.
"Idhofah berfaidah untuk mema'rifatkan dan mentakhsiskan, dan tanwin berfaidah untuk menakirohkan. sedangkan ma'rifat dan nakiroh itu berlawanan, sedangkan yang berlawanan tidak akan pernah bersatu"
Mudhof harus kosong dari alif lam, karena alif lam merupakan alat untuk mema'rifatkan, dan idhofah juga merupakan alat untuk mema'rifatkan. Apabila keduanya bergabung menjadi rancu dan berlebihan, maka cukup sekiranya apabila sudah ada idhofah, tidak perlu digunakan alif lam yang fungsinya sama.
b). Syarat Mudhof Ileh : شَرْط ُالمُضَافِ إلَيْهِ أنْ يَكُوْنَ مُخَيَّرًا بَيْنَ التَّعْرِيْفِ وَالتَّنْوِيْنِ
"Syarat Mudhof ileh yaitu harus memilih antara alif lam dan tanwin"
Contoh : Tanwin > غلام رجلٍ, Alif lam > غلام الرجل
Syekh Ibnu Malim dalam Nadzomnya
شَرْطُ المُضَافِ أنْ يَكُوْنَ خَالِيًا * مِنْ ألْ وَالتَّنْوِيْنِ تَكُوْنُ سَاوِيًا
مُخَيَّرًا بَيْنَ التَّعْرِيْفِ وَالتَّنْوِيْنِ * وَالمُضَافُ إلَيْهِ شَرْطُ مَا قُرِنْ
4. Pembagian (Klasifikasi) Idhofah
a). Idhofah Mahdoh (Ma'nawi). contoh :
b). Idofah Ghoir Mahdoh (Lafdzi). contoh :
Dalam Alfiyyah dijelaskan :
وَذِي الإضَافَة ُاسْمُهَا لَفْظِيَّة ْ * وَتِلْكَ مَحْضَة ٌوَمَعْنَوِيَّة ْ
A. Idhofah Mahdoh (Ma'nawi)
Ciri-ciri Idhofah mahdoh ada 3, yaitu :
- Mengandung ma'na مِنَ yaitu, إذا كَانَ المُضَافُ جُزْءً مِنَ المُضَافِ إليْهِ
Contoh : ثَوْبُ خَاجٍ. artinya baju dari sutra
- Mengandung ma'na في yaitu, إذا كَانَ المُضَافُ مَظْرُوْفاً بالمُضَافِ إليْهِ
Contoh : نَوْمُ اللَّيْلِ. artinya tidur di malam hari
- Mengandung ma'na لام yaitu إذا كَانَ المُضَافُ مَمْلُوْكًا بالمُضَافِ إليْهِ
Contoh : ثوب زيدٍ. artinya baju milik zaid.
Nadzom Alfiyyah,
وَالثانِيَ اجْرُرْ وَانوِ مِنْ أوْ فِيْ إذا * لَمْ يَصْلُحْ إلاَّ ذاكَ وَاللاَّمَ خُذا
Dan jerkanlah mudhof ileh dengan meniati salahsatu dari ma'na min, fi, dan lam.
Idhofah Mahdoh ada 3 :
- Idhofah yang mentaqdirkan salah satu ma'na yang dijelaskan diatas.
- Idhofahnya masdar terhadap ma'mulnya. contoh : عَجِبْتُ مِنْ ضَرْبِ زَيْدٍ عَمْرًا
- Idhofahnya isim fail terhadap maf'ulnya yang tidak beramal. contoh : ضارب زيد امس
Tujuan Idhofah mahdoh adalah Takhsis dan ta'rif.
B. Idhofah Ghoir Mahdoh (Lafdzi)
Tujuan Idhofah ghoir mahdoh adalah Takhfif, yaitu agar mudah dalam pembacaannya.
Ciri-ciri Idhofah ghoir mahdhoh ada 2, yaitu :
- Ketika mudhofnya berupa isim sifat dan mudhof ilehnya berupa ma'mul dari isim sifat
- Ketika mudhof ilehnya satu ma'na dengan mudhof.
Nadzom Alfiyyah,
وَإنْ يُشَابِهِ المُضَافُ يَفعَلُ * وَصْفاً فعَنْ تَنْكِيْرِهِ لاَ يُعْزَلُ
كَرُبَّ رَجِيْنَا عَظِيْمِ الأمَلِ * مُرَوَّعِ القلبِ قَلِيْلِ الحِيَلِ
* * *
Idofahnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz الله termasuk idhofah mahdoh yang tujuannya adalah ta'rif. Disisi lain, alif lam juga berfaidah ta'rif. Maka, dalam ma'na antara alif lam dan idhofah juga sama. Alif lam mempunyai 4 ma'na, begitu pula Idofahnya lafadz اسْمِ terhadap lafadz الله mempunyai 4 ma'na, yaitu :
1. للبيان , taqdirnya بسم الله أي بسم هو الله
2. للجنس, taqdirnya بسم الله أي بجنس اسماء الله
3. استغراق لجميع الافراد , taqdirnya أي بكل اسم من اسماء الله
4. استغراق لبعض الافراد , taqdirnya أي ببعض اسم من اسماء الله
Selanjutnya adalah pembahasan mengenai Tarkibnya lafadz الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ.
=========
Mabahits Basmalah (Tarkibnya lafadz الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ)
Tarkib Lafadz الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ adalah sifat/na’at dari lafadz Allah. الرَّحْمَنِ merupakan sifat yang pertama, الرَّحِيْمِ merupakan sifat yang kedua.
Hukum pada sifat ada 2 :
1. Wajib itba’(Mengikuti), maksudnya :
- Apabila mausuf rofa, maka sifat juga harus rofa
- Apabila mausuf nashob, maka sifat juga harus nashob
- Apabila mausuf jer, maka sifat juga harus jer
Tempat wajib itba adalah ketika mausuf ( yang disifati) butuh untuk disifati.
Lafadz الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ tidak wajib itba’ terhadap lafadz Allah, karena Allah pada hakikatnya tidak butuh untuk disifati. Namun, kitalah yang menyifatinya sebagai rasa penghambaan kita kepada-Nya.
Syekh Ibnu Malik bernadzom,
وإنْ نُعُوْتٌ كثُرَتْ وَقَدْ تَلَتْ * مُفْتَقِرًا لِذِكْرِهِنَّ أُتْبِعَتْ
2. Boleh itba’ (Mengikuti), boleh Qotho’ (Putus)
Tempatnya adalah ketika mausuf butuh untuk disifati
Syekh Ibnu Malik dalam Nadzomnya,
وَاقْطَعْ أوْ أتْبِعْ إنْ يَكُنْ مُعَيّنَا * بِدُوْنِهَا أوْ بَعْضَهَا اقْطَعْ مُعْلِنَا
Dikarenakan lafadz Allah tidak butuh untuk disifati, maka lafadz الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ boleh itba dan boleh qotho’.
I’rob untuk Qotho ada 2 :
\
1. Rofa’, dibaca بسم الله الرّحمنُ الرّحيمُ, tarkibnya الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ adalah menjadi khobar dari mubtada yang dibuang, taqdirnya بسم الله هو الرحمنُ هو الحيمُ
Dalam Alfiyyah dinadzomkan,
وَحَذْفُ مَا يُعْلَم ُجَائِزٌ كَمَا * تَقُوْلُ زُيْدٌ بَعْدَ مَنْ عِنْدَ كُماَ
“Boleh hukumnya untuk membuang mubtada, contohnya kalimat زُيْدٌ setelah ditanyakan مَنْ عِنْدَ كُماَ.”
2. Nashob, dibaca بسم الله الرّحمنَ الرحيمَ , tarkibnya الرَّحْمَنِ dan الرَّحِيْمِ adalah menjadi maf’ul bih dari fiil dan fail yang dibuang, taqdirnya بسم الله أمدح الرّحمنَ أمدح الرحيمَ
Alfiyyah menjelaskan,
وَيُحْذَفُ النـَّاصِبُهَا إنْ عُلِمَا * وَقَدْ يَكُوْنُ حَذْفُهُ مُلْتَزَمَا
"Terkadang diperbolehkan bagi kita untuk membuang fiil dan fail dari sebuah maf’ul bih."
Nadzom Alfiyyah tentang pembagian i'rob qotho',
وَارْفَعْ أوِ انْصِبْ إنْ قَطَعْتَ مُضْمِرَا * مُبْتَدَأ أوْ نَاصِبًا لَنْ يَظْهَرَا
“Rofakanlah atau Nashobkanlah apabila dalam keaadaan qotho dengan mentaqdirkan mubtada dan Fiil fail,”
Qotho terbagi 2 :
1. Qoth’ul Jam’i, menghasilkan 4 bentuk pembacaan
2. Qoth’ul Ba’di, menghasilkan 4 bentuk pembacaan
Jadi, cara pembacaan – secara keseluruhan klasifikasi terdapat 9 bentuk, yaitu :
1. Qoth’ul Jam’i (4 bentuk) :
بسم الله الرّحمنُ الرّحيمُ
بسم الله الرّحمنُ الرّحيمَ
بسم الله الرّحمنَ الرحيمَ
بسم الله الرّحمنَ الرحيمُ
2. Qoth’ul Ba’di (4 bentuk) :
بسم الله الرّحمنِ الرّحيمُ
بسم الله الرّحمنِ الرّحيمَ
بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ
بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ
3. Wajib Ithba’ (1 bentuk), yaitu بسم الله الرّحمنِ الرّحيمِ
Namun, ada dua bentuk pembacaan yang tidak perbolehkan. Tempatnya adalah Ketika ithba’ setelah Qotho’, yaitu :
بسم الله الرّحمنَ الرّحيمِ
بسم الله الرّحمنُ الرّحيمِ
Hal ini disebabkan sebuah qowaid menyatakan,
لا يجوز الفصل بين العامل ومعموله بأجنبيّ
Amil dan ma’mul todak boleh terpisah oleh bentuk-bentuk ajnabi ( jumlah, dkk)
Nadzom,
إن يُنْصَبِ الرّحْمنُ أوْ يُرْتَفعَ * فَالجَرّ فِى الرّحيم ِقطعاً مُنِعاَ
وَإنْ يُجَرّ فَأجِزْ فِى الثـَّانِى * ثَلاَثةَ الأوْجُهِ خُذ بَيَانِى
وَجْهاَنِ مِنها فادْرِ هذا واستمع * فهذه تضمّنت تسعاً مُنِعْ
_________________________________________
Demikian penjelasan mengenai Lafadz بسم الله الرحمن الرحيم , semoga bermanfaat,,,, ^_^
Selanjutnya akan dibahas mengenai الكلام , tetap semagat dan tunggu posting selanjutnya,,,,
Rabu, 01 Juli 2015
Prediksi dan Tanda Lailatul qodr
PREDIKSI DAN TANDA-TANDA LAILATUL QADAR
Pertama:
Dalam kitab I’anatuththaalibiin juz II halaman 257, cetakan al ‘Alawiyyah:
قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،
فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.
Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu maka lailatul qodar malam 29
Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21
Jika awal Ramadhan hari Selasa atau Jumat maka lailatul qodar malam 27
Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25
Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 23
Kedua:
Dalam kitab Tafsir Hasyiyah ash Shaawi ‘alal Jalaalain juz IV halaman 337, cetakan Daar Ihya al Kutub a ‘Arabiyyah:
فعن أبي الحسن الشاذلي إن كان أوله الأحد فليلة تسع وعشرين ، أو الإثنين فإحدي وعشري أو الثلاثاء فسبع وعشرين أو الأربعاء فتسعة عشر أو الخميس فخمس وعشرين أو الجمعة فسبعة عشر أوالسبت فثلاث وعشرين
Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 29
Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 21
Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 27
Jika awal Ramadhan hari Rabu maka lailatul qodar malam 19
Jika awal Ramadhan hari Kamis maka lailatul qodar malam 25
Jika awal Raamadhan hari Jumat maka lailatul qadar malam 17
Jika awal Raamadhan hari Sabtu maka lailatul qadar malam 23
Ketiga:
Dalam kitab Hasyiyah al Bajuri ‘ala Ibni Qaasim al Ghaazi juz I halaman 304 , cetakan Syirkah al Ma’arif:
وذكرو لذلك ضابطا وقد نظمه بعضهم بقوله:
وإنا جميعا إن نصم يوم جمعة ¤ ففي تاسع العشرين خذ ليلة القدر .
وإن كان يوم السبت أول صومنا ¤ فحادي وعشرين اعتمده بلا عذر
. وإن هل يوم الصوم في أحد ففي ¤ سابع العشرين ما رمت فاستقر
. وإن هل بالأثنين فاعلم بأنه ¤ يوافيك نيل الوصل في تاسع العشري
. ويوم الثلاثا إن بدا الشهر فاعتمد ¤ علي خامس العشرين تحظي بها فادر .
وفي الإربعا إن هل يا من يرومها ¤ فدونك فاطلب وصلها سابع العشري .
ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد ¤ توافيك بعد العشر
في ليلة الوتر .
Jika awal Ramadhan hari Jumat maka lailatul qodar malam 29
Jika awal Ramadhan hari Sabtu maka lailatul qodar malam 21
Jika awal Ramadhan hari Ahad maka lailatul qodar malam 27
Jika awal Ramadhan hari Senin maka lailatul qodar malam 29
Jika awal Ramadhan hari Selasa maka lailatul qodar malam 25
Jika awal Raamadhan hari Rabu maka lailatul qadar malam 27
Jika awal Raamadhan hari Kamis maka malam ganjil setelah malam 20
============================================================
Tanda-tanda Lailatul Qadar:
Imam Muslim dalam kitab Shahihnya juz I halaman 306, cetakan al Ma'arif :
Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا محمد بن مهران الرازي حدثنا الوليد بن مسلم حدثنا الأوزاعي حدثني عبدة عن زر قال سمعت أبي بن كعب يقول وقيل له إن عبد الله بن مسعود يقول من قام السنة أصاب ليلة القدر فقال أبي والله الذي لا إله إلا هو إنها لفي رمضان {يحلف ما يستثني] والله إني لأعلم أي ليلة هي هي الليلة التي أمرنا بها رسول الله صلي الله عليه وآله وسلم بقيامها هي ليلة صبيحة سبع وعشرين وأمارتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاع لها .
''.......Ubay ibn Ka'b, dia berkata: "... demi Dzat yang tiada tuhan kecuali Dia, sungguh malam (Lailatul Qadar) itu ada dalam bulan Ramadhan. Demi Allah aku sungguh tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah oleh Rasulullah SAW untuk beribadah didalamnya, yaitu malam 27 yang bersinar. Adapun tanda-tandanya adalah matahari terbit pagi harinya dengan cahaya putih namun tidak ada sorotnya
Al Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz IV halaman 846:
ذكر أثر غريب ونبأ عجيب، يتعلق بليلة القدر، رواه الإمام أبو محمد بن أبي حاتم، عند تفسير هذه السورة الكريمة فقال:
حدثنا أبي، حدثنا عبد الله بن أبي زياد القَطواني، حدثنا سيار بن حاتم،
حدثنا موسى بن سعيد - يعني الراسبي- عن هلال أبي جبلة، عن أبي عبد السلام، عن أبيه، عن كعب أنه قال:إن سدرة المنتهى على حد السماء السابعة، مما يلي الجنة، فهي على حَدّ هواء الدنيا وهواء الآخرة، عُلوها في الجنة، وعروقها وأغصانها من تحت الكرسي، فيها ملائكة لا يعلم عدّتهم إلا الله، عز وجل، يعبدون الله، عز وجل، على أغصانها في كل موضع شعرة منها ملك. ومقام جبريل، عليه السلام، في وسطها، فينادي الله جبريل أن ينـزل في كل ليلة قَدْر مع الملائكة الذين يسكنون سدرة المنتهى، وليس فيهم ملك إلا قد أعطى الرأفة والرحمة للمؤمنين، فينـزلون على جبريل في ليلة القدر، حين تغرب الشمس، فلا تبقى بقعة في ليلة القدر إلا وعليها ملك، إما ساجد وإما قائم، يدعو للمؤمنين والمؤمنات، إلا أن تكون كنيسة أو بيعة، أو بيت نار أو وثن، أو بعض أماكنكم التي تطرحون فيها الخبَث، أو بيت فيه سكران، أو بيت فيه مُسكر، أو بيت فيه وثن منصوب، أو بيت فيه جرس مُعَلّق، أو مبولة، أو مكان فيه كساحة البيت، فلا يزالون ليلتهم تلك يدعون للمؤمنين والمؤمنات، وجبريل لا يدع أحدًا من المؤمنين إلا صافحه، وعلامة ذلك مَن اقشعر جلدهُ ورقّ قلبه ودَمعَت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل.
Menuturkan atsar yang gharib yang berkaitan dengan lailatul Qadar yang diriwayatkan oleh Imam Abu Muhammad ibn Abi Hatim ketika memberi tafsir surat ini ("INNAA ANZALNAAHU")
........... dari KA'AB, bahwasanya di malam Lailatul Qadar, Malaikat Jibril tidak menyisakan satupun dari orang-orang mukmin kecuali dia menjabat tangannya. Adapun tanda-tandanya ialah gemetar kulitnya (mrinding.Jw), lembut hatinya dan air matanya mengalir. Itu adalah karena jabat tangan malaikat Jibril
Imam Ibn Khuzaimah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab shahihnya juz VIII halaman 106,
Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا بندار ، حدثني أبو عامر ، حدثنا زمعة ، عن سلمة هو ابن وهرام ، عن عكرمة ، عن ابن عباس ، عن النبي صلى الله عليه وسلم في ليلة القدر : « ليلة طلقة ، لا حارة ولا باردة ، تصبح الشمس يومها حمراء ضعيفة »
"...dari Ibn Abbas,dari Nabi Shollallaahu 'alaihi wasallam, tentang Lailatul Qadar :"Malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan"
. Ath Thobroni meriwayatkan dalam Musnad Syamiyyin juz IV halaman 309 nomor urut 3389, cetakan ke I tahun 1984-1405, Muassasah al Risalah Beirut meriwayatkan:
Sanad dan matannya sebagai berikut:
حدثنا الوليد بن حماد الرملي ثنا سليمان بن عبد الرحمن ثنا بشر بن عون ثنا بكار بن تميم عن مكحول عن واثلة بن الأسقع عن رسول اللهA قال ( ليلة القدر ( ليلة ) بلجة لا حارة ولا باردة ولا سحاب فيها ولا مطر ولا ريح ولا يرمى فيها بنجم ومن علامة يومها تطلع الشمس لا شعاع لها )
"...Dari Watsilah ibn al Asqa' dari Rasulillah Shollallaahu 'alaihi wasallam:
(Lailatul Qadar itu adalah) "Malam yang terang bercahaya, tidak panas, tidak dingin, tiada awan, tiada hujan, tiada angin, dan dimalam itu tiada dilempar dengan bintang. Tanda dipagi harinya adalah matahari terbit tanpa ada cahaya yang bersinar".
Wallaahu A'lamu
Penggunaan biji tasbih termasuk kelakuan ulama salaf
Ini Ibnu Hajar shohibu Fathul Bariy
Dia termasuk hamba - hambaNya yang sholeh dan faham agama, maka ikutilah jejak langkahnya..
قال الإمام جلال الدين السيوطي في الحاوي للفتاوي:
وذكر القاضي أبو العباس أحمد بن خلكان في وفيات الأعيان أنه رئى في يد أبي القاسم الجنيد بن محمد رحمه الله يوما سبحة فقيل له: أنت مع شرفك تأخذ بيدك سبحة؟ قال: طريق وصلت به إلى ربي لا أفارقه، قال: وقد رويت في ذلك حديثا مسلسلا - وهو ما أخبرني به شيخنا الإمام أبو عبد الله محمد بن أبي بكر بن عبد الله من لفظه - ورأيت في يده سبحة، قال: أنا الإمام أبو العباس أحمد بن أبي المحاسن يوسف بن البانياسي بقراءتي عليه ورأيت في يده سبحة، قال: أنا أبو المظفر يوسف بن محمد بن مسعود الترمذي، ورأيت في يده سبحة، قال: قرأت على شيخنا أبي الثناء، ورأيت في يده سبحة، قال: أنا عبد الصمد بن أحمد بن عبد القادر، ورأيت في يده سبحة، قال: أنا أبو محمد يوسف بن أبي الفرج عبد الرحمن بن علي، ورأيت في يده سبحة، قال: أنا أبي ورأيت في يده سبحة، قال: قرأت على أبي الفضل بن ناصر، ورأيت في يده سبحة، قال: قرأت على أبي محمد عبد الله بن أحمد السمرقندي ورأيت في يده سبحة، قلت له: سمعت أبا بكر محمد بن علي السلمي الحداد، ورأيت في يده سبحة؟ فقال: نعم، قال: رأيت أبا نصر عبد الوهاب بن عبد الله بن عمر المقري، ورأيت في يده سبحة، قال: رأيت أبا الحسن علي بن الحسن بن أبي القاسم المترفق الصوفي وفي يده سبحة، قال: سمعت أبا الحسن المالكي يقول: وقد رأيت في يده سبحة، فقلت له: يا أستاذ وأنت إلى الآن مع السبحة، فقال: كذلك رأيت أستاذي الجنيد وفي يده سبحة، فقلت له: يا أستاذ وأنت إلى الآن مع السبحة؟ قال: كذلك رأيت أستاذي سري بن مغلس السقطي وفي يده سبحة، فقلت: يا أستاذ أنت مع السبحة؟ فقال: كذلك رأيت أستاذي معروفا الكرخي وفي يده سبحة، فسألته عما سألتني عنه فقال: كذلك رأيت بشرا الحافي وفي يده سبحة، فسألته عما سألتني عنه فقال: كذلك رأيت أستاذي عمر المالكي وفي يده سبحة، فسألته عما سألتني عنه، فقال: كذلك رأيت أستاذي الحسن البصري وفي يده سبحة، فقلت: يا أستاذ مع عظم شأنك وحسن عبادتك وأنت إلى الآن مع السبحة؟ فقال لي: شيء كنا استعملناه في البدايات ما كنا نتركه في النهايات، أحب أن أذكر الله بقلبي وفي يدي ولساني، فلو لم يكن في اتخاذ السبحة غير موافقة هؤلاء السادة والدخول في سلكهم والتماس بركتهم، لصارت بهذا الاعتبار من أهم الأمور وآكدها".
Langganan:
Postingan (Atom)






