Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2015

Menjadi Kismis Sebelum Menjadi Anggur


Kisah yang akan diceritakan ini berasal dari kitab Al-Asybah wa Al-Naza’ir karangan Ibn Nujaim Al-Hanafi, lalu dikisahkan kembali oleh Syeikh Zahid Al-Kauthari dalam kitabnya Husnu Al-Taqadhi fi Sirah Abi Yusuf Al-Qadhi.
Kisah ini berkenaan dengan Imam Ya’qub bin Ibrahim Al-Ansari; masyhur dengan panggilan Abu Yusuf (w. 182 H).  Beliau murid kesayangan Imam Abu Hanifah.  Beliau sangat bijak, hafalannya kuat dan banyak ilmu. Di antara ramai murid Abu Hanifah yang lain, Abu Yusuf selalu terdepan dalam semua perkara.
Pada suatu hari, Abu Yusuf merasa ilmu yang dimilikinya sudah mencukupi. Saatnya untuk menjadi tokoh ulama yang siap menjawab semua permasalahan umat. Beliau lalu meninggalkan majlis Abu Hanifah dan membuka majelis ilmu sendiri. Dalam majelis itu, Abu Yusuf mempersilakan setiap orang untuk menimba ilmu atau mengajukan soalan kepadanya.
Mengetahui perkara ini, Abu Hanifah berniat menyadarkan muridnya. Diam-diam, beliau mengutus seseorang ke majelis Abu Yusuf dengan beberapa soalan untuk mengujinya.
Orang itu berkata kepada Abu Yusuf: “Saya menyerahkan sepotong kain kepada penjahit untuk dijadikan baju. Apabila saya tanyakan, penjahit itu mengingkari pernah menerima kain daripada saya. Namun esoknya, ia memberi saya kain itu yang telah dijahit menjadi baju. Soalan saya: apakah ia berhak menerima upah?”
Abu Yusuf menjawab: “Ia berhak menerima upah.” Orang itu berkata: “Jawapanmu salah.”
Abu Yusuf merubah jawabannya: “Ia tidak berhak menerima upah.” Orang itu kembali berkata: “Jawapanmu salah.” Abu Yusuf menjadi sangat bingung.
Orang yang telah dilatih Abu Hanifah ini lalu berkata: “Jawaban yang benar adalah: jika baju itu dijahit sebelum ia mengingkari kain, maka ia berhak menerima upah. Namun jika kain itu dijahit setelah ia mengingkari kain, maka ia tidak berhak.”
Orang ini terus mengajukan beberapa soalan lain. Setiap kali Abu Yusuf menjawab, ia menyalahkan jawabannya lalu mengajukan jawaban yang tepat.
Diskusi ini jadi menyadarkan Abu Yusuf akan kejahilan dirinya. Dirinya ternyata belum layak menjadi seorang ulama, malah masih perlu banyak belajar daripada ulama. Akhirnya, beliau memutuskan kembali ke majelis ilmu Abu Hanifah untuk melanjutkan pengajiannya.
Apabila melihat Abu Yusuf, Abu Hanifah tersenyum dan berkata: “Engkau telah menjadi kismis sebelum menjadi anggur.”

Hukum Kesempurnaan
Kisah ini sangat inspiratif. Seringkali kita melihat diri kita begitu besar dan matang, padahal pada kenyataannya masih begitu kecil dan mentah.
Sebuah kesempurnaan dan kematangan tidak pernah datang begitu sahaja. Ianya merupakan hasil dari suatu proses. Proses ini terdiri dari beberapa tahapan. Antara satu tahapan kepada tahapan yang lain seringkali memerlukan masa yang cukup panjang.
Hukum ini berlaku untuk semua makhluk hidup. Seekor ulat menghabiskan masa berhari-hari di dalam kepompong sebelum menjadi rama-rama yang cantik. Bahkan sebiji anggur sebelumnya mentah, lalu masak, kemudian kering dan menjadi kismis.
Sesiapa yang tidak sabar menjalani semua ini, maka proses kesempurnaan itu akan terbantut. Lalu ia tidak akan pernah sempurna selama-lamanya.
Hukum kesempurnaan ini juga berlaku untuk semua disiplin ilmu atau kerjaya yang kita pilih. Seorang dokter pakar memerlukan masa yang panjang sebelum menjadi spesialis di bidang perubatan. Begitu juga seorang jurutera, penulis, pelakon apalagi ulama Islam yang menjadi rujukan umat.
Jadi, jalan menuju kepakaran sangat panjang. Sesiapa yang menjalaninya dengan sabar, suatu hari akan tampil sebagai pakar yang disegani. Dan pendapatnya dalam disiplin itu diakui sebagai pandangan yang berwibawa.
Sebaliknya, sesiapa yang tak sabar menjalaninya, lalu mendakwa pakar sebelum masanya, maka ia telah kering sebelum matang, menjadi kismis sebelum menjadi anggur. Oleh itu, ucapan dan pendapatnya tidak mengandungi nilai ilmiah sama sekali.
Dalam kaidah fiqh ada disebutkan:

مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ

“Sesiapa yang ingin memiliki sesuatu sebelum masanya, maka ia diharamkan daripada memiliki sesuatu itu.”

Orang seperti ini ibarat pokok yang belum tertanam dengan sempurna, maka buah yang keluar daripadanya pun tidak bermutu tinggi. Berkata Syeikh Ibn ‘Athoillah Al-Sakandari dalam Al-Hikam:

ادْفِنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

“Tanamlah dirimu di dalam tanah kehinaan / kerendahan (khumul). Sebab apa-apa yang tumbuh dari pokok yang tidak tertanam tidak akan sempurna buah/hasil nya.”

Sebelum merusak orang lain, sikap “ingin cepat besar” ini akan merusak dirinya sendiri. Ia akan tersibukkan dengan berbagai perkara sehingga tidak sempat lagi menimba ilmu. Dan, perasaan takut dilihat bodoh dan khuatir ditinggalkan pengikut akan menjauhkan dirinya daripada jalan peningkatan ilmu.
Al-Hafiz Ibn Hajar dalam Fathul Bari menukil ucapan berikut ini dari Imam Al-Syafii:

إِذَا تَصَدَّرَ الْحَدَث فَاتَهُ عِلْم كَثِير

“Apabila orang yang baru belajar telah maju ke hadapan (yakni: hendak menjadi tokoh besar), maka ia terluput ilmu yang sangat banyak.”


Jumat, 20 Maret 2015

Kisah Imam Sibaweh

Siapa yang tidak kenal dengan sang ilmuwan Nahuyang satu ini. Namanya begitu harum dikalangan para ahli bahasa dan sangat familiar sebagai seorang yang ahli dalam ilmu tatabahasa Arab khususnya dalam Fan Ilmu Nahwu. Beliau mempunyai sejarah hidup yang sangat menakjubkan, terlebih dalam perjalanan intelektualnya menggeluti bidang gramatika arab itu. Beliau mempunyai guru yang bernama Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang yang sangat alim dalam bidang Nahu sekaligus pencipta ilmu ‘Aruud (ilmu timbangan syiir) yang popular itu. Imam Khalil juga dikenal sebagai pengarang kitab al- ’Ain, kitab/ kamus bahasa Arab pertama yang muncul di permukaan bumi.



Sibawaihi berguru kepada Imam Khalil selama beberapa tahun lamanya bersama seorang teman seperguruannya yang bernama Asmu’i. Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, terbukti dalam beberapa kesempatan beliau pernah berdebat sengit dengan gurunya dan tak jarang Imam Khalil dibuat kewalahan oleh muridnya yang satu itu.



Dalam sebuah hikayat diceritakan bahwa karena saking jeniusnya, Sibawaihi telah melebihi keilmuan gurunya. Sehingga banyak dari murid-murid Imam Khalil yang berpindah dan lebih memilih berguru kepada Imam Sibawaihi ketimbang dirinya. Hal itu terjadi setelah Imam Sibawaihi pamit kepada Imam Khalil pasca beberapa lama berguru kepada beliau. Hal itu membuat sang guru yang ikhlas itu agak bersedih dan sedikit putus asa. Puncak dari kesedihan tersebut, beliau melarikan diri dari kediamannya lalu mengembara dengan tujuan yang tak jelas. Namun beliau berharap dalam pengembaraan itu, Allah memberikan suatu ilmu baru kepadanya sebagai tambahan ilmu dari ilmu murid yang telah mengalahkannya, yaitu Imam Sibawaihi.



Dalam perjalanan itu, beliau menemukan berbagai pengalaman baru. Banyak peristiwa-peristiwa alam yang terjadi disekitar beliau berupa aneka bebunyian yang beraneka ragam. Seperti bunyi desiran ombak di pantai, bunyi kicauan burung yang bersaut-sautan di udara, bunyi angin yang berhembus dengan lembutnya di telinga orang yangdirundung sedih dan pilu. Dari berbagai bunyian alam itu akhirnya Allah menganugerahkan sebuah ilmu baru kepada Imam Khalil, yaitu ilmu timbangan syair yang diberi nama dengan ilmu ‘Arudh dan Qawafi. Ilmu itu mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat besar, terkhusus dalam dunia sastra Arab yang kebanyakan penduduknya sangat hobi dengan syair. Nah untuk menguji kebenaran syair yang mereka buat agar terasa elegan didengar telinga, maka dibutuhanlah suatu ilmu untuk mengatur dan menyelaraskannya. Ilmu itu tak lain dan tak bukan adalah Ilmu Arudh dan Qawafi, dimana beliau dianggap sebagai orang yang pertama kali menciptakan ilmu tersebut dan tidak dimiliki oleh muridnya. Dengan ini hilanglah segala keputusasaan Imam Khalil yang selama ini menggerogoti hatinya.



Itulah salah satu hikayat kehebatan Imam Sibawaihi. Jarang-jarang seorang murid bisa mengalahkan gurunya dan bahkan sampai “merampas” murid-murid gurunya sebagaimana yang pernah dilakoni oleh Imam Sibawaihi. Akan tetapi jangan disalahpahami, bahwa merampas di sini tidak seperti yang kita bayangkan. Akan tetapi dalam artian adanya kecendrungan dari murid-murid Imam Khalil untuk berguru kepada Imam Sibawaihi, setelah beberapa lama belajar dengan Imam Khalil. Itu sebenarnya adalah wajar, karena menurut satu pepatah “guru yang hebat itu adalah guru yang muridnya bisa melebihi ilmu dankemampuannya”. Selain itumasih banyak hikayat- hikayat lain yang menunjukkan kehebatan Imam Sibawaihi dari gurunya tersebut.

>>>>>>>

Diantara hikayat antara Imam Kholil dan Imam Sibawaih adalah ketika kedua orang guru dan murid tersebut berdebat mengenai a’rifu al-maa’rif atau diantara 6 isim ma’rifah, isim ma’rifah mana yang dianggap paling ma’rifah. Cerita lengkapnya seperti dibawah ini :



Sebagaimana biasa, pada tiap harinya Imam Sibawaihi selalu belajar dengan gurunya yakni Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Kebetulan pada hari itu objek kajian mereka berkenaan dengan isim-isim ma’rifah. Setelah mendengar keterangan dari gurunya yang menjelaskan bahwa isim ma’rifah yang paling ma’rifah itu adalah isim dhomir, muncullah suatu keraguan dihati Imam Sibawaihi. Dia bertanya-tanya dalam hati sembari merenungkan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh gurunya itu. Pas pada waktu gurunya diam, Sibawaihpun angkat bicara seraya berkata “setelah mendengarkan keterangan guru, saya agak ragu apakah benar isim yang paling ma’rifah itu adalah isimdhomir..?”,



Mendengar pertanyaan skeptis darimuridnya itu Imam Khalil mengeluarkan seluruh dalil-dalil dan keterangan-keterangan untuk menjelaskan dan menguatkan pendapatnya. Namun setelah dijelaskan beberapa kali, tetap saja Imam Sibawaihi meragukannya dan malahan menyanggah apa yang disampaikan oleh gurunya itu. Dengan tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap sang guru, Sibawaihi mencoba menyampaikan pendapatnya dengan tenanga dan argumentatif. Sibawaihi lebih setuju kalau isim yang paling ma’rifah ........

Sibawaihi lebih setuju kalau isim yang paling ma’rifah diantara asmaaul ma’rifah itu adalah isim alam.

Akan tetapi gurunya tidak terima dengan pendapat yang barusan dia utarakan dan bersikukuhn dengan pendapatnya

Tapi Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, dia membuktikan sendiri kebenaran pendapatnya itu dengan pendekatan empiris.

Suatu malam, dia sengaja berkunjung ke rumah gurunya itu. Setelah berada didepan pintu rumah gurunya, Sibawaihi tidak langsung masuk dan menemui Imam Khalil sebagaimana biasanya. Akan tetapi dia mengetok-ngetokpintu rumah gurunya itu beberapa kali dengan harapan beliau akan bertanya siapa sebenarnya yang datang. Setelah beberapa kali diketuk, ternyata gurunya itu belum juga muncul dan bertanya.

Kemudian untuk kesekian kalinya kembali ia mengetuk pintu sampai terdengar daridalam rumah suara Imam Khalil yang bertanya “siapa..?”.

Mendengar suaru tersebut, bukan main senangnya hari Imam Sibawaihi, karena memang pertanyaan itulah yang ia harapkan terlontar dari mulut Imam Khalil. Dengan segera dia menjawab “ana”. Karena merasa belum jelas.

Imam Khalil kembali bertanya “ana siapa.?”

Kemudian dijawab lagi oleh Imam Sibawaih “ana” Mendengar jawaban tersebut Imam Khalil merasa penasaran

siapa sebenarnya orang yang menjawab saya itu. Saking penasarannya, beliau langsung berjalan ke depan pintu dan langsung membukanya. Pada saat pintuterbuka, ternyata orangyang menjawab ana itu tak lain dan tak bukan adalah Sibawaihi murid kesayangan beliau sendiri.

Pada saat yang bersamaan Sibawaihpun tersenyummelihat gurunya yang tengahberdiri didepan pintu sembari berkata, “Bagaimana guru, apakah engkau hingga saatini masih bersekukuhmengatakan Isim dhomirs ebagai isim yang palingma’rifah?

Bukankah ketika saya datang kemudian anda bertanya siapakepada saya,terus saya jawab “ana” (isim dhomir) belum memberikan pengertian yang jelas terhadap Anda?

Belum cukupkah bukti itu menunjukkan bahwa Isim Alam lebih ma’rifah daripada’isim dhomir?”

Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dari muridnya itu, Imam Khalil diam membisu dan tidak bisa berkata apa- apa lagi

Dia telah dikalahkan oleh muridnya sendiri, yaitu Sibawaihi.
>>>>>

Sebagai seorang yang manusia yang mempunyai jatah umur yang terbatas, Sibawaihi akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 180 Hijriah saat berumur 32 tahun.

Usia yang relatif sangat muda untuk standar seorang ulama

Sebelum wafatnya beliau sempat mengasingkan diri di sebuah tempat yang jauh dari keramaian (dalam buku Rahasia Sukses Fuqoha karya M.Ridwan Qayyum Said dikatakan beliau hijrah ke Persia) pasca perdebatan panjang dengan ulama-ulama Kufah yang dipimpin oleh Imam al-Kisa’i bersama sahabat-sahabatnya seperti Imam Al-Farra’ dengan Imam Khalaf.

Perdebatan itu terjadi di Propinsi Baramiqah yang difasilitasi oleh gubernur Yahya bin Khalid

Perdebatan itu melibatkan dua blok besar yang sangat terkenal dalam ilmu lughah, yaitu blok Kufah yang dipimpin oleh Imam al-Kisai dan blok Basrah yang dikomandoi oleh Imam Sibawaih. Perdebatan itu berawal dari perseteruan mereka mengenai pribahasa Arab yang berbunyi

ﻗﺪ ﻛﻨﺖ ﺃﻇﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻘﺮﺏ ﺃﺷﺪ ﻟﺴﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺒﻮﺭ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﻫﻲ – ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺇﻳﺎﻫﺎ

Artinya : Saya mengira bahwa kalajengking itu lebih pedih sengatannya ketimbang kumbang, ketika itu ternyata kumbang itu adalah kalajengking

Imam Sibawaih lebih cendrung berpendapat bahwa bacaan yang benar dan yang diamalkan oleh orang Arab hanyalah bacaan rafa’ saja Akan tetapi Imam al-Kisai bersama teman-temannya memilih bahwa kedua bacaan adalah sama-sama betul dan diamalkan oleh orang Arab

Jadi bacaan yang benar itu boleh rafa’ dan boleh juga Nasab.
Pada hari yang telah ditentukan, perdebatan itupun akan segera dimulai. Mula-mula blok Kufah datang lebih dahulu, kemudian beberapa saat setelah itu blok Basrah dengan dipimpin oleh Imam Sibawaihpun tiba di arena perdebatan

Setelah dibuka secara resmi oleh gubernur Yahya bin Khalid perdebatan itu dimulai.

Sesi pertama maju dari blok Basrah Imam Sibawaihi dan dari blok Kufah imam al-Farra’. Pertama imam Farra’ menghujani Imam Sibawaih dengan puluhan pertanyaan yang beruntun, dan setiap pertanyaan yang diajukan itu dibabat habis oleh Imam Sibawaih dengan jawaban yang sangat memuaskan

Tapi sayangnya sikap Imam Farra’ kurang jantan dan terkesan kurang objektif dalam berdebat. Betapa tidak setiap jawaban yang disampaikan oleh Imam Sibawaihi dengan lantangnya selalu dikatakan salah oleh Imam Farra’. Anehnya beliau tidak memberikan jawaban yang benar versi beliau secara langsung setelah menyalahkan jawaban Imam Sibawaih

Lama-kelamaan karena bosan merasa lawannya kurang sportif dalam berdebat, Imam Sibawaih pun protes untuk menghentikan perdebatan dengannya. Dan meminta supaya utusan Kufah diganti dengan yang lain saja. Akhirnya permintaan beliau diperkenankan oleh panitia, dan langsung Imam Khalaf maju untuk melanjutkan perdebatan

Tidak berbeda dengan pendahulunya, Imam Khalaf juga menghujani Imam Sibawaih dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan njlimet, namun semuanya juga dengan gamblang dijawab tuntas oleh Imam Sibawaih. Namun kekurangsportifan utusan Kufah itu kembali muncul. Kali ini triknya adalah setiap kali Imam Sibawaih menjawab pertanyaan, selalu diminta ulangi oleh Imam Khalaf. Setiap jawaban diulang beberapa kali oleh Imam Sibawaih

Akhirnya lantaran merasa dipermainkan, beliau kembali protes terhadap panitia penyelenggara sambil menunjukkan nada yang sedikit jengkel. Dan beliau memintak agar utusan kali ini juga diganti saja dengan yang lain. Permintaan Sibawaihpun diperkenankan oleh panitia. Kali ini yang tampil langsung Imam Kisa’I sendiri, imamnya orang- orang Kufah.

Setelah berada di arena pertandingan, kedua orang imam besar itu berdialog sejenak mengenai siapa diantara mereka yang akan bertanya lebih dahulu. Imam Sibawaih dengan lantangnya mempersilahkan kepada Imam Kisa’i untuk bertanya duluan dan beliau yang menjawab. Imam Kisaipun menyetujuinya

Lalu dimulailah perdebatan yang menegangkan itu. Acara itu ternyata mendapat antusias yang besar dari anggota masyarakat yang terdiri dari orang-orang Arab sendiri yang berada disekitar arena perdebatan. Pertanyaanpun langsung dilontarkan oleh Imam Kisa’I sembari berkata “Wahai Sibawaih menurutmu kalimat

ﻗﺪ ﻛﻨﺖ ﺃﻇﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻘﺮﺏ ﺃﺷﺪ ﻟﺴﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻧﺒﻮﺭ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﻫﻲ – ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺇﻳﺎﻫﺎ

Yang benar itu apakah bacaan rafa’ saja atau boleh dua-duanya.?

Setelah diam sejenak Imam Sibawaih dengan tenang menjawab, “Satu-satunya bacaan yang benar pada kalimat tersebut adalah bacaan rafa’ saja, dan saya tidak pernah sekalipun mendengar orang Arab membacanya dengan bacaan nasab

Setelah Imam Sibawaih berhenti, secara langsung Imam Kisai membantah apa yang disampaikan oleh Imam Sibawaih itu. Beliau lebih memilih bahwa kedua bacaan (yaitu bacaan rafa’ dan nasab) adalah benar dan juga dipakai oleh orang Arab dalam keseharian mereka

Berbagai keterangan pembelaan terhadap pendapatnya masing-masing terus bergulir hingga membuat gubernur Baramiqah bingung dan akhirnya mengusulkan adanya voting dan penelitian secara langsung mengenai masalah tersebut kepada orang-orang Arab sendiri, dengan pertimbangan bahwa bahasa itu adalah bahasa mereka dan sudah semestinya mereka lebih tahu dengan bahasa mereka sendiri

Usulan itupun disepakati oleh kedua belah pihak. Panitia yang ditugaskan untuk menelitipun mulai bertugas menanyai setiap orang Arab yang ada di sana, mengenai bacaan mana yang mereka gunakan dari kedua lafazh yang diperdebatkan tadi

Setelah penelitian selesai dan hasilnya diumumkan dihadapan ratusan penonton, akhirnya keberuntungan berpihak kepada Imam Kisai. Mayoritas orang Arab yang ada disana mengatakan bolehnya 2 wajah yaitu bacaan nasab dan rafa’ untuk kalimat :

ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﻫﻲ – ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺇﻳﺎﻫﺎ

Tak pelak jawaban itu membuat Imam Sibawaih terkejut dan merasa heran sekaligus tersudutkan. Karena penelitian yang beliau dapatkan selama ini berkesimpulan bahwa rafa’lah satu-satunya bacaan yang betul terhadapkalimatdiatas. Tapi tak ada gunanya lagi, keputusan hakim telah tetap yaitu memenangkan pendapat Imam Kisai dan menganggap salah pendapat Imam Sibawaih.

Peristiwa itu membuat hati Imam Sibawaih sempat terpukul, kenapa hasil penelitian tersebut bisa berbeda dengan kenyataan yang beliau dapati pada saat perdebatan berlangsung. Usut punya usut, setelah beberapa hari berselang, diketahuilah suatu kebohongan publik yang direkayasa oleh blok Kufah. Kebetulan pada saat itu Imam Kisai yang notabenenya adalah imam orang-orang Kufah di bidang Nahwu merupakan orang dalamnya Khalifah Harun al-Rasyid yang tengah berkuasa pada saat itu. Sementara itu seluruh warga Arab yang berkumpul di arena perdebatan pada saat itu tahu dengan hal tersebut dan tidak berani berbeda pendapat dengan orang dekat khalifah tersebut (Imam Kisa’i), sehingga mereka mau saja menyetujui apa yang disampaikan olehnya walaupun sebenarnya mereka membenarkan pendapat Imam Sibawaih yang mengatakan rafa’lah satu-satunya bacaan yang betul terhadap kalimat tersebut.

Pada saat mengetahui kebohongan itu, Imam Sibawaih merasa sangat kecewa. Kenapa kebenaran itu bisa dikalahkan oleh politik yang sebenarnya tidak pantas untuk ditakuti. Akhirnya karena tidak tahan menahan hati, akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari Bashrah dan mengembara ke daerah Persia. Konon kabarnya perjalanan tersebut menyebabkan beliau sakit-sakitan dan akhirnya wafat beberapa bulan setelah itu.

Kepergian beliau begitu cepat dan tidak disangka oleh kebanyakan masyarakat Bashrah yang ada pada saat itu. Jenazah beliaupun diurus dan diselenggarakanoleh murid-murid serta masyarakat Bashrah dengan penuh dukacita.

Jumat, 30 Januari 2015

Kisah Yang Sangat Inspiratif

أحببت أهديها لمن أحب
Ku ingin hadiahkan kepada orang yang kucinta.
_______________________

كان هناك شيخ يعلم تلاميذه العقيدة
Ada seorang guru agama yang mengajarkan Aqidah kpda murid2nya

يعلمهم لا إله إلا اللـه يشرحها لهم
Dia mengajarkan "La ilaaha illallah" kepada mereka & menjelaskan maknanya

يربيهم عليها أسوة بما كان يفعل رسول الله صلى الله عليه وسلم
Mendidik mereka dengan keteladanan Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-

عندما كان يعلم أصحابه العقيدة ويغرسها في نفوسهم
Ketika mengajarkan aqidah beliau berusaha menanamkanya kedalam jiwa murid-murid nya.

وكان الشيخ يحب تربية الطيور والقطط
Sang guru itu senang memelihara burung dan kucing

فأهداه أحد تلاميذه ببغاء
Lalu seorang muridnya pun menghadiahkan padanya seekor burung kakak tua

ومع الأيام أحب الشيخ الببغاء
Makin hari sang guru pun senang dg burung itu

وكان يأخذه معه في دروسه
Dan sering membawanya pada saat mengajar murid-murid nya

حتى تعلم الببغاء نطق كلمة لا إله إلا الله‼
Sehingga kakatua itu belajar mengucapkan kalimat tauhid "La ilaha illallah"

فكان ينطقها ليلا ونهارا…
Burung kakatua itu pun bisa mengucapkan (laa ilaaha illallah) siang malam

وفي مرة وجد التلاميذ شيخهم يبكي?
Suatu ketika murid-murid mendapati sang guru tengah menangis

وينتحب وعندما سألوه
Ketika ditanya beliau menjelaskan dengan terbata- bata

قال لهم هجم القط على الببغاء وقتله
Kucing telah menerkam kakatua dan membunuhnya

فقالوا له لهذا تبكي ‼
Mereka pun bertanya dgn heran: karena inikah engkau menangis !!

إن شئت أحضرنا لك غيره وأفضل منہ ..
Kalau anda menginginkan kami bisa datangkan burung lain bahkan yg jauh lebih baik

رد الشيخ وقال لا أبكي لهذا …
Sang guru berkata: bukan karena itu aku menangis

ولكن أبكاني أنه عندما هاجم القط الببغاء
Tetapi...Yg membuat aku menangis adalah: ketika diserang kucing

أخذ يصرخ ويصرخ إلي أن مات
Burung itu hanya teriak2 saja sampai matinya

مع أنه كان يكثر من قول لا إله إلا الله
Padahal dia sering sekali mengucapkan kalimat "laa ilaaha illallah"

إلا أنه عندما هاجمه القط نسيها
Tetapi ketika diterkam kucing ia lupa kalimat itu

ولم يقم إلا بالصراخ ‼
Tidak mengucapkan apapun kecuali hanya teriakan & rintihan !!!

لأنه كان يقولها بلسانه
Karena waktu itu ia hanya mengucapkan "laa ilaaha illallah" dg lisannya saja

فقط ولم يعلمها قلبه ولم يشعر بها ‼
Sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya

ثم قال الشيخ :
Sang guru pun berkata

أخاف أن نكون مثل هذا الببغاء
Aku khawatir kalau nanti kita seperti kakatua itu

نعيش حياتنا نردد لا إله إلا الله
Saat kita hidup mengulang-ulang kalimat "laa ilaaha illallah"

بألسنتنا وعندما يحضرنا الموت ننساها
Dg lisan kita, tapi ketika maut datang kita pun lupa

ولا نتذكرها؛ لأن قلوبنا لم تعرفها
Tidak bisa mengingatnya, karena hati kita belum menghayatinya

فأخذ الطلبة يبكون؛ خوفا من عدم الصدق في لا إله إلا اللـه
Kemudian para muridnya pun menangis, khawatir tdk jujur terhadap kalimat tauhid ini

ونحن.... هل تعلمنا لا إله إلا الله بقلوبنا !!!!
Dan kita sendiri .... apakah kita telah menanamkan kalimat "laa ilaaha illallah" ini kedalam hati sanubari kita?

ما ارتفع شيء إلى السماء أعظم من الإخلاص ،
Tidak ada sesuatu pun yg naik ke langit yang lebih agung dibanding keikhlasan

و لا نزل شيء إلى الأرض أعظم من التوفيق
Dan tdk ada sesuatu pun yg turun ke bumi yang lebih agung dari taufiq Allah

..و بقدرالإخلاص يكون التوفيق
Sesuai kadar keikhlasan kita, taufiq Allah kita dapatkan

من روائع ما وصلني ..
Ini termasuk hal-hal menarik yg sampai kepadaku

إهداء لمن أحبهم
Hadiah bagi org2 yg kucintai

Sabtu, 08 November 2014

NASHIBAH WANITA PERKASA

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”

Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nasibah….”

“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.

Kamis, 21 Agustus 2014

Mengagungkan Asma Allah




Assalamu alaikum sobat, Sedikit berbagi cerita dari orang yg namanya di harumkan Allah kerna mengharumkan nama Allah swt. berikut kisahnya dalam kitab tobaqotul auliya

بشر الحارث الحافى؛ لقب بذلك لأنه جاء إلى إسكاف يطلب منه شسعاً لأحد نعليه، وكان قد انقطع، فقال له الإسكاف: " وما أكثر كلفتكم على الناس! " فألقى النعل من يده والأخرى من رجله، وحلف لا يلبس نعلا بعدها.
كنيته أبو نصر، أحد رجال الطريقة، ومعدن الحقيقة، مثل الصلحاء وأعيان الورعاء.
أصله من مرو، سكن بغداد. صحب الفضيل بن عياض ورأى سريا السقطي، وغيره.
وسبب توبته أنه أصاب فى الطريق رقعة فيها اسم الله، وقد وطئتها الأقدام، فأخذها واشترى بدرهم كان معه غالية، فطيبها وجعلها في شق حائط، فرأى في المنام كأن قائلا يقول: " يا بشر! طيبت أسمى، لأطيبن اسمك في الدنيا والآخرة!

Bisyri alharits alhafi, Di juluki alhafi (telanjang kaki) karna dia datang pada tukang sol (servis sandal n sepatu) mencari tali (japit) sandal untuk salah satu sendalnya yang putus, tukang sol berkata : saya gak akan banyak memaksa diri untuk melayanimu mengalahkan orang lain, lalu dia alhafi membuang sandal dari tangannya dan sandal lain dari kakinya, dan dia bersumpah tidak akan memakai sandal setelah itu.
Kuniyahnya Alhafi adalah Abu Nasr, dia salah satu penyebar ajaran toriqoh dan ladang hakikat seperti para kaum sholih dan tokoh kaum wira’I, Aslinya beliau dari marwa ( Nama kota terkenal di khurosan) , tinggalnya di Baghdad, dia teman fudhail bin iyyadz dan pernah melihat sirri assaqothi dll.
Sebab taubatbya dia menemukan potongan kertas yang di dalamnya terdapat nama Allah swt dan telah di injak injak kaki, dia mengambil potongan tersebut dan dengan dirham yang dia miliki di belinya gholiyah ( nama minyak wangi) lalu dia meminyaki potongan kertas tersebut dan meletakkan di samping pagar, di suatu malam dia mimpi seakan akan ada suara yang mengucap : hai bisyri, kau telah mengharumkan namaku maka aku akan mengharumkan namamu di dunia dan akhirat.

SEMOGA KITA BISA MENYONTOH SEORANG AHLI HADITS DAN TOKOH SPIRITUAL ALHAFI TERSEBUT, AAMIN